
Sepulang dari acara pernikahan tersebut, keduanya terlihat kebingungan. Dikarenakan, mereka pulang tidak dengan tangan kosong, justru mereka pulang dengan membawa banyak hadiah yang diberikan oleh Pak Broto, putra tunggal dari Pak Broto dan yang lainnya.
Kebanyakan hadiah yang mereka terima adalah pakaian, aksesoris dan ada juga yang memberikan sepaket krim wajah yang tentunya terbilang sangat mahal untuk Asyila.
“Mas, apa ini tidak berlebihan? Kenapa mereka memberikan barang-barang mahal serta krim wajah yang mahal ini,” tutur Asyila.
“Mas juga merasa bahwa ini berlebihan. Akan tetapi, ini sudah menjadi rezeki kita dan rezeki tidak boleh ditolak, betul apa betul?” tanya Abraham sambil senyum-senyum.
“Iya, betul,” balas Asyila singkat, jelas dan padat.
Asyila menghela napasnya dan turun dari mobil, kemudian barulah Abraham yang turun dengan dibantu oleh Pak Udin.
Arsyad dan Ashraf menyambut antusias kedua orangtuanya yang baru saja datang.
“Assalamu'alaikum, kesayangannya Ayah dan Bunda!”
“Wa'alaikumsalam, Bunda sama Ayah kena lama sekali?” tanya Ashraf protes.
“Maaf ya sayang, perjalanan menuju kesana lumayan jauh. Maaf karena telah membuat Ashraf dan juga Arsyad menunggu Ayah dan Bunda terlalu lama,” tutur Asyila.
Untuk membuat suasana kedua buah hatinya, terutama Ashraf membaik. Asyila langsung mengeluarkan aneka macam susu favorit keduanya dan benar saja, keduanya langsung senang.
“Terima kasih, Ayah sama Bunda,” ucap Arsyad dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah bersama-sama.
“Assalamu'alaikum,” ucap Abraham dan Asyila ketika memasuki rumah.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Herwan.
Abraham dan Asyila pun mencium punggung tangan Herwan, keduanya menoleh kompak ke arah belakang dan tak melihat batang hidung Arumi.
“Ayah, Ibu kemana?” tanya Asyila.
“Ibumu sedang berada di kamar mandi, dari tadi Ibumu bolak balik kamar mandi. Katanya sakit perut,” jawab Herwan.
“Sakit perut, memangnya Ibu habis makan apa Ayah?” tanya Asyila dan mengajak yang lainnya untuk duduk di ruang tamu sambil menunggu Arumi datang.
“Ayah juga tidak tahu, satu jam lalu Ibumu keluar karena melihat ada orang berdiri di dekat pagar rumah dan ternyata menawarkan donat serta nasi kuning. Dan yang terjadi malah begini,” terang Herwan yang menganggap bahwa Arumi kebanyakan makan sehingga bolak-balik keluar masuk kamar mandi dan ditambah pagi tadi, Arumi makan sambal terong cukup banyak.
Deg!
Asyila tersadar dan berlari menghampiri Ibunya.
Abraham dan Herwan sontak saja terkejut, Asyila lagi-lagi membuat orang yang melihatnya ketakutan.
“Maaf, ya Nak Abraham. Asyila memang suka begitu, membuat orang lain khawatir,” ucap Herwan pada menantu idamannya.
“Iya, Ayah. Abraham pun sudah mengenal Asyila cukup lama,” balas Abraham.
Asyila masuk ke kamar yang biasa ditempati oleh Ibu serta Ayahnya.
“Astaghfirullahaladzim, Ibu kenapa?” tanya Asyila melihat Ibunya terkulai lemas di tempat tidur.
“Sayang, perut Ibu sakit sekali,” jawab Arumi yang terdengar tak berdaya.
“Jawab dengan jujur, apakah Ibu memakan sesuatu yang diberikan oleh orang tak dikenal sampai habis?” tanya Asyila.
Arumi pun menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada dirinya, tentang seorang wanita yang berdiri di dekat gerbang dan menawarkan donat serta nasi kuning. Karena kasihan, Arumi pun membelinya dan mencoba memakannya. Meskipun begitu, Arumi belum sempat menawarkan donat serta nasi kuning itu kepada yang lainnya.
Akhirnya Asyila tahu apa yang telah terjadi, ia pun segera membawa Ibunya untuk keluar dari kamar. Belum sempat keluar, Arumi muntah-muntah dan seketika itu juga tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Ayah! Ayah!” teriak Asyila panik dan mencoba menyadarkan Ibunya.
Herwan terkesiap dan berlari secepat mungkin ketika mendengar putri kesayangannya memanggil dirinya.
“Ya Allah, astaghfirullahaladzim. Ibumu kenapa Nak?” tanya Herwan panik sambil menggendong tubuh istrinya.
“Ayah, kita harus cepat membawa Ibu ke rumah sakit. Ibu sudah jelas-jelas keracunan makanan!” teriak Asyila panik.
Herwan berlari keluar kamar dengan raut wajah ketakutan serta panik.
“Syila, Ibu kenapa?” tanya Abraham panik.
“Hiks... hiks... Ibu sepertinya keracunan, Mas.”
Asyila menangis histeris, ia berlari keluar rumah dan masuk ke dalam mobil untuk menemani Ibunya ke rumah sakit.
“Nak, kamu jangan ikut. Biar Ayah saja yang menemani Ibumu, kalau kamu ikut siapa yang akan menemani suami dan kedua anakmu?” tanya Herwan yang saat itu telah memangku tubuh Arumi dan bersiap-siap untuk pergi menuju rumah sakit.
Akhirnya, dengan terpaksa Asyila membiarkan Ayahnya seorang diri menemani Ibunya ke rumah sakit.
“Ayo Pak Udin!” perintah Herwan dan dengan cepat mereka pergi menuju rumah sakit.
Melihat Bundanya menangis, Arsyad dan Ashraf pun ikut menangis. Mereka sangat takut melihat Nenek mereka pingsan dan digendong oleh Kakek mereka.
“Bunda, Nenek Arumi tidak apa-apa 'kan?” tanya Arsyad dengan terus meneteskan air matanya.
Asyila tak bisa berkata-kata, ia terus saja menangis dan berlari menghampiri Abraham. Abraham pun sangat panik, istri dan kedua anak mereka pun tak henti-hentinya menangis.
“Arsyad dana Ashraf masuk ke dalam kamar, kalian cepatlah tidur dan berhentilah menangis!” perintah Abraham yang terlihat sangat tegas.
Arsyad dan Ashraf seketika itu juga menghentikan tangisan mereka. Mereka berpikir bahwa Ayah mereka tengah marah dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar.
“Berhentilah menangis!” perintah Abraham.
Sesampainya di dalam kamar, Asyila kembali menangis dan membuat Abraham semakin panik.
“Tolong, berhentilah menangis!” perintah Abraham.
Asyila mendongakkan kepalanya dan terlihat semakin sedih.
“Bagaimana Asyila tidak menangis, Mas? Saat ini Ibu sedang tidak baik-baik saja, Ibu sekarang mengalami keracunan makanan gara-gara orang jahat itu,” terang Asyila yang terlihat sangat marah sampai-sampai ia keceplosan menyebut orang jahat dan membuat Abraham penasaran.
“Orang jahat? Jadi, Asyila mengetahui sesuatu. Pantas saja Asyila langsung berlari menghampiri Ibu ketika mengetahui Ibu memakan donat dan nasi kuning itu,” tutur Abraham.
Asyila tak bisa lagi berbohong, ia pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Menceritakan pesan-pesan berisi ancaman yang terus saja menghantui pikirannya.
Ketika Asyila menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba ponsel Asyila berbunyi dan tanpa pikir panjang Abraham langsung mengambil ponsel istri kecilnya. Kemudian, membaca isi pesan itu yang ternyata isinya mengenai donat dan nasi kuning itu.
“Bagaimana? Apakah sudah takut? Siapapun yang memakannya, sudah pasti nyawanya tidak akan tertolong lagi.”
Abraham terkejut dan ingin sekali marah, akan tetapi ia sudah berjanji kepada istri kecilnya untuk tidak marah dihadapan sang istri.
Kemudian, Abraham menghubungi salah satu sahabatnya dan meminta sahabatnya itu untuk melacak nomor telepon yang sudah membuat Ibu mertua celaka karena keracunan makanan.
Disisi lain.
Herwan telah tiba di rumah sakit yang jauh dari kediaman menantunya, Herwan pun bergegas turun dan menggendong istrinya menuju ruang rawat. Akan tetapi, Herwan langsung dihentikan dan diminta untuk mengantre.
“Tolong, suster! Saya tidak ada waktu untuk menunggu, ini sangat darurat dan dapat membuat istri saya kehilangan nyawa.”
“Maaf, Pak. Tapi, Bapak harus mengikuti peraturan yang ada,” balas si perawat.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, seorang dokter pria tak sengaja melihat Herwan. Dokter itu ternyata mengenali sosok pria tersebut.
“Bukankah itu mertua dari Tuan Abraham?” tanya Sang dokter bermonolog.
Setelah meyakini bahwa benar itu adalah mertua dari Abraham, dokter itu pun cepat-cepat menghampiri Herwan dan memarahi si perawat seketika itu juga.
“Bukankah berkali-kali sudah saya katakan, kalau ada calon pasien yang terlihat sang mengkhawatirkan, langsung bawa ke ruangan dan tidak perlu mengantre. Lain kali, kalau seperti ini lagi kamu akan saya berhentikan,” ucap Dokter dengan nama dada “Faisal”
“Maaf, Dok,” ucapnya.
“Jangan meminta maaf kepada saya, tapi minta maaflah kepada Pak Herwan,” terang Dokter Faisal.
Perawat itu pun meminta maaf sedalam-dalamnya dan berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kepada siapapun yang akan berobat di rumah sakit itu.
“Dokter mengenal saya?” tanya Herwan.
Dokter Faisal mengiyakan dan cepat-cepat membawa masuk Arumi ke dalam ruang rawat.
“Mohon tunggu, diluar Pak Herwan. Pak Herwan tenang saja, saya salah satu teman dari Tuan Abraham dan saya akan berusaha menyelamatkan Ibu Arumi,” terang dokter Faisal dan langsung menutup pintu ruang rawat rapat-rapat.
Herwan duduk di kursi tunggu dengan raut wajah cemas. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena sebelumnya menganggap sakit perut istrinya adalah sakit biasa. Untungnya, Asyila cepat tanggap sehingga Arumi bisa langsung dibawa ke rumah sakit.
“Ya Allah, tolong sembuhkan istri hamba. Tolong ya Allah,” ucap Herwan memohon kepada Sang pencipta untuk menyembuhkan istri tercintanya.
Beberapa jam kemudian.
Dokter Faisal keluar dari ruang rawat Arumi dan mengatakan bahwa Arumi sudah baik-baik saja. Hanya saja, Arumi harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan karena ada beberapa titik racun yang sudah menyebar.
“Alhamdulillah, terima kasih dokter Faisal. Sekali lagi terima kasih,” ucap Herwan berulang kali mengucapkan terima kasih.
“Pak Herwan jangan berterima kasih kepada saya, saya disini hanyalah perantara dari Allah. Allah lah yang berhak menerima ucapan terima kasih dari Pak Herwan,” terang Dokter Faisal.
Herwan pun mengucap syukur karena berkat kuasa Allah, istri tercintanya selamat.
“Kalau begitu, saya permisi Pak. Pak Herwan boleh masuk ke dalam menemani Ibu Arumi,” tutur Dokter Faisal.
“Dokter Faisal!” panggil Herwan menghentikan langkah dokter tersebut untuk kembali ke ruangannya.
“Iya, Pak Herwan. Ada yang ingin Pak Herwan tanyakan ke saya?” tanya Dokter Faisal.
“Bapak tadi buru-buru, bisakah Dokter Faisal menghubungi menantu saya dan menjelaskan kondisi Ibu mertuanya?” tanya Herwan.
“Dengan senang hati saya akan menghubungi Tuan Abraham, Pak Herwan tidak perlu khawatir. Saya pun memiliki nomor telepon tuan Abraham, kalau begitu saya permisi. Wassalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam,” balas Herwan dan bergegas menemani istrinya di dalam.
Disaat yang bersamaan, Abraham menerima telepon dari salah satu temannya yang berprofesi sebagai seorang dokter.
“Hallo, assalamu'alaikum,” ucap Dokter Faisal.
“Wa'alaikumsalam, iya dokter Faisal,” balas Abraham.
“Panggil saja aku dengan nama tidak perlu menggunakan dokter, aku menghubungimu karena ingin memberitahu bahwa Ibu mertuamu sekarang baik-baik saja dan sedang berisitirahat di ruangannya,” terang dokter Faisal.
“Alhamdulillah, jadi kamu yang telah menangani Ibu mertuaku?” tanya Abraham, “Terima kasih, Dokter Faisal. Insya Allah aku dan istriku akan datang ke rumah sakit besok pagi, semoga kita bisa bertemu,” sambung Abraham.
Percakapan itu terus saja berlanjut sampai-sampai membuat Asyila cemberut.
Melihat wajah istri kecilnya yang masam, Abraham pun mengakhiri sambungan telepon dan kini fokus untuk menghibur suasana hati istri kecilnya yang gampang berubah-ubah.
“Sudah, tidak perlu ngambek begitu. Kondisi Ibu sekarang Insya Allah sudah membaik dan kemungkinan akan tetap dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan. Syila sekarang tidak perlu berpikir keras dan tidak perlu takut lagi dengan orang jahat itu, insya Allah kurang dari 24 jam si pelaku teror itu akan tertangkap.”
__ADS_1
Asyila mendongakkan kepalanya dan bertanya apakah perkataan suaminya benar adanya.
“Insya Allah, yang terpenting sekarang kita perbanyak berdo'a. Sekarang bawa Mas ke kamar anak-anak, suamimu ini tadi sempat keras kepada mereka,” ucap Abraham dan dengan cepat Asyila membawa suaminya untuk menemui kedua putra mereka yang kemungkinan sedang ngambek dengan Ayahnya di dalam kamar.