
Pagi hari.
Asyila masih teringat dengan isi pesan berupa ancaman tersebut, sampai-sampai wanita muda itu memutuskan untuk menunggu Arsyad disekolah sampai pulang sekolah.
“Bunda kenapa tidak pulang?” tanya Arsyad ketika baru saja dari kamar mandi dan ingin masuk ke dalam kelasnya.
“Bunda mau menunggu Arsyad sampai pulang sekolah, sekarang Arsyad masuk dan belajar yang serius!” pinta Asyila.
“Arsyad masuk ya Bunda,” tutur Arsyad dan berlari kecil masuk ke dalam kelas.
Asyila menyentuh dadanya yang terasa sesak, kepalanya masih terasa sakit. Akan tetapi, ia bersikeras untuk menunggu Arsyad sampai pulang.
Lalu, bagaimana dengan Abraham?
Tentu saja Abraham di rumah seorang diri, dikarenakan kedua orang Asyila, Rahma dan Ashraf tidak berada di rumah. Mereka berempat sedang pergi menghadiri acara pernikahan saudara jauh Arumi yang jaraknya memakan waktu sekitar 2 jam dari kediaman Abraham Mahesa.
“Kenapa perasaanku lagi-lagi begini, perasaan tak tenang seperti ada hal yang buruk yang akan terjadi,” tutur Asyila bermonolog.
Ketika Asyila tengah duduk di ayunan, tiba-tiba seorang wanita datang dan memberikan roti cokelat.
“Mbak kenapa melamun? Makanlah ini!”
“Ibu siapa ya?” tanya Asyila penasaran.
“Saya Ibunya Lucky, teman sekelas anak Mbak. Ini rotinya jangan ditolaknya!”
Asyila pun menerimanya dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ibu Lucky yang telah memberikan roti cokelat.
“Baru pertama kalinya menunggu disini ya Mbak?” tanyanya.
“Iya, Bu Lucky,” jawab Asyila.
Perbincangan itu terus saja berlanjut dan tak terasa hari sudah semakin siang. Anak-anak pun pulang dan akhirnya perbincangan keduanya berakhir.
“Maaf ya Mbak Asyila, sepertinya perbincangan kita berdua berhenti disini dulu. Kalau ada waktu, saya ingin mengajak Mbak Asyila makan-makan,” terang Ibu Lucky dan melenggang pergi membawa anaknya yang bernama Lucky.
Rupanya, Ashraf dan Lucky cukup dekat. Ketika mereka berpisah, kedua bocah kecil itu saling melambaikan tangan mereka.
“Sayang, bagaimana didalam kelas? Arsyad bisa 'kan?” tanya Asyila penasaran.
“Bisa dong Bunda, ini Arsyad ada PR dari Bunda guru,” jawab Arsyad sambil mengeluarkan sebuah buku yang didalamnya berisi PR menulis.
“Iya sayang, nanti kerjakan di rumah ya. Sekarang kita duduk disini, menunggu kedatangan Pak Udin.”
“Baik, bunda.”
Cukup lama Asyila dan Arsyad duduk menunggu, akan tetapi Pak Udin belum juga datang dan itu membuat Asyila merasa khawatir.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan sempat membuat Asyila terkejut.
“Bunda kenapa?” tanya Arsyad ketika tak sengaja melihat reaksi terkejut dari wajah Bundanya.
“Tidak apa-apa sayang, Bunda hanya terkejut mendengar suara ponsel Bunda,” jawab Asyila dan segera membuka isi pesan singkat tersebut.
Lagi-lagi, Asyila mendapatkan ancaman berisi tentang nyawa Arsyad. Asyila seketika itu memblokir nomor ponsel tersebut dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.
“Sayang, Arsyad pokoknya jangan kemana-mana dan tetap berada didekat Bunda!” perintah Asyila yang terlihat sangat panik dan Arsyad pun bisa merasakan kepanikan Bundanya.
“Bunda kenapa?” tanya Arsyad sambil memeluk Bundanya.
“Bunda tidak apa-apa sayang, pokoknya Arsyad tetap berada disisi Bunda sampai Pak Udin datang menjemput kita!” tegas Asyila.
Arsyad langsung mengiyakan dan terus memeluk tubuh bundanya. Asyila menjadi semakin khawatir karena Pak Udin belum juga tiba, pikiran Asyila pun kemana-mana dan jika dalam waktu 5 menit Pak Udin belum juga datang, Asyila pun memutuskan akan menghubungi polisi.
“Alhamdulillah,” ucap Asyila lega ketika dari kejauhan nampak mobil suaminya.
Asyila kemudian terkesiap dan menggandeng tangan Arsyad menuju pagar depan sekolah.
“Bunda, awas!” teriak Arsyad ketika melihat ada sebuah batu mengarah ke arahnya dan Bundanya.
Asyila terkejut dan refleks melindungi Arsyad dengan tubuhnya.
“Aaakhh!” Asyila berteriak kesakitan ketika merasakan sakit di bagian punggungnya dan ternyata tidak hanya sekali, melainkan dua kali lemparan batu yang sangat menyakitkan.
“Bunda!” teriak Arsyad ketakutan setelah mendengar teriakkan kesakitan dari Bundanya.
“Astaghfirullahaladzim!” Pak Udin cepat-cepat membantu Asyila untuk berdiri, sementara itu Asyila terus merasakan sakit di punggungnya.
“Arsyad tidak apa-apa sayang?” tanya Asyila sambil menahan sakitnya.
“Hiks... hiks... Bunda sakit ya? Maaf ya Bunda,” ucap Arsyad yang terlihat ketakutan dan juga merasa bersalah karena dirinya, Sang Bunda menjadi kesakitan.
Pak Udin benar-benar terkejut, ia tak menyangka bahwa ada orang yang dengan sengaja melempari batu sebesar kepalan tangan ke arah Ibu dan anak tersebut.
“Nona Asyila, ayo ke rumah sakit!” ajak Pak Udin yang terlihat sangat panik.
“Tidak usah, Pak Udin. Kita sebaiknya pulang saja,” balas Asyila yang tidak ingin berlama-lama di luar rumah, karena Sang suami tengah berada di rumah seorang diri.
“Tapi...”
“Tolong, Pak Udin. Mas Abraham saat ini juga sendirian, kalau kita ke rumah sakit yang ada Mas Abraham tambah khawatir dan menjadi tidak tenang berada di rumah,” jelas Asyila.
Pak Udin akhirnya terpaksa mengiyakan apa yang diinginkan oleh Asyila. Dengan berat hati, Pak Udin membawa Asyila serta Ashraf kembali ke rumah.
“Pak Udin apakah melihat wajah orang yang melemparkan batu ke arah kami?” tanya Asyila.
__ADS_1
“Maaf, Nona Asyila. Saya sama sekali tidak bisa melihatnya, bahkan plat nomor kendaraan pun sepertinya sengaja tidak dipasang oleh mereka berdua,” terang Pak Udin apa adanya.
Asyila semakin ketakutan, ia merasa bahwa keluarganya lagi-lagi tidak aman.
“Pak Udin, tolong cepat sedikit! Kita harus segera sampai.”
Pak Udin mengiyakan dan menambah kecepatan agar bisa segera sampai rumah.
Diperjalanan, Asyila masih saja merasa sakit dan sepertinya punggungnya mengalami luka, karena samar-samar Asyila bisa merasakan bahwa punggungnya mengeluarkan darah.
“Masih sakit ya Bunda?” tanya Arsyad yang terus saja memperhatikan wajah Bundanya.
“Tidak sayang, Bunda baik-baik saja,” jawab Asyila dan berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dengan terus tersenyum ke arah putra pertamanya.
“Bunda, besok jangan menunggu Arsyad lagi ya!” pinta Arsyad.
Bocah kecil itu tak ingin kejadian tersebut terulang kembali, ia yakin dengan tidak adanya Asyila semua akan baik-baik saja. Hak tersebut dikarenakan, Arsyad sangat menyayangi Bundanya dan berpikir bahwa orang yang melemparkan batu tersebut sebenarnya untuk dirinya dan bukan untuk Bundanya.
“Tidak sayang, Bunda seterusnya akan menemani Arsyad sampai pulang sekolah,” ujar Asyila sambil menyentuh kedua pipi Arsyad.
Arsyad mengangguk kecil dan memeluk pinggang Bundanya.
Setibanya di rumah, Arsyad dan Asyila bergegas turun. Asyila melangkah masuk ke dalam dengan langkah yang terlihat sangat berat, akan tetapi Arsyad tidak bisa membantu memapah tubuh bundanya dan hanya bisa menggandeng tangan Bundanya untuk masuk ke dalam.
“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila dan Arsyad ketika akan masuk ke dalam rumah.
“Arsyad langsung masuk ke dalam kamar dan jangan lupa ganti bajunya, maaf ya sayang kamu harus makan siang sendirian dulu ya. Bunda harus berisitirahat di kamar dan jangan keluar dari rumah sampai yang lainnya pulang!” perintah Asyila.
Arsyad mengiyakan dan berlari kecil masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
Deg!
Asyila tiba-tiba merasa sesak dan wajah terlihat sangat memucat.
“Ya Allah kenapa ini? Kenapa tubuh hamba terasa sangat lemas,” ucap Asyila dan berjalan dengan langkah kecil sambil memegangi tembok.
Untuk berjalan masuk ke dalam kamar, rasanya begitu berat. Asyila bahkan tidak bisa fokus karena tubuhnya saat itu benar-benar sakit dan kelelahan. Dengan sekuat tenaga, Asyila mencoba masuk ke dalam kamar dan akhirnya berhasil.
Akan tetapi, baru saja melangkah masuk Asyila tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan membuatnya terjatuh.
“Astaghfirullahaladzim!” teriak Asyila terkejut.
Dengan tenaga yang tersisa, Asyila mencoba bangkit dan kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur.
“Syila kenapa?” tanya Abraham panik dan sama sekali tidak bisa turun dari ranjang.
“Asyila tidak apa-apa, Mas. Asyila mau tidur sebentar saja,” ucap Asyila yang kini telah berhasil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
__ADS_1
Abraham merasa ada yang aneh dengan istrinya, ia tahu bahwa istri kecilnya sedang menyembunyikan sesuatu hal.
Abraham ❤️ Asyila