
Ashraf akhirnya keluar dari kelas setelah bel berbunyi, senyumnya yang lebar seketika itu berubah menjadi tangisan histeris.
Bahkan, guru yang berusaha menenangkan Ashraf, akhirnya angkat tangan karena tak sanggup membuat Ashraf berhenti menangis.
Disaat itu juga, Arumi dan Herwan datang untuk menjemput cucu kedua mereka yang sudah selesai belajar.
“Ashraf kenapa?” tanya Arumi ketika melihat cucu menangis histeris.
Sang guru maju dan menjelaskan bahwa Ashraf tiba-tiba menangis ketika baru keluar dari kelas.
Dan Ashraf sama sekali tidak memberitahukan alasannya mengapa ia menangis.
“Ashraf bilang sama Nenek, kenapa Ashraf menangis?” tanya Arumi sedikit mengeraskan suaranya.
“Bunda!” teriak Ashraf.
Bodyguard yang bertugas menjaga Ashraf pun tak luput dari pertanyaan Herwan dan juga Arumi. Akan tetapi, jawabannya sama persis dengan apa yang dikatakan oleh sang guru.
Bahwa, sang bodyguard tidak tahu alasan mengapa Ashraf menangis histeris seperti itu.
“Bunda!” teriak Ashraf lagi sambil menghentakkan kakinya sendiri dengan penuh amarah.
Arumi bingung dengan sikap Ashraf dan memutuskan untuk membawa Ashraf secara paksa masuk ke dalam mobil dengan dibantu oleh bodyguard bernama Jefry.
“Tolong gendong Ashraf dan bawa dia masuk ke dalam mobil!” pinta Arumi.
“Lepas, Ashraf mau Bunda!” teriak Ashraf mencoba melawan agar Jefry tidak membawanya masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di dalam mobil, Ashraf seperti orang kesetanan. Benda yang ada disekitarnya, di lemparkan begitu saja. Sampai-sampai, ponsel milik Arumi dibanting hingga layarnya retak.
“Ashraf, kamu kenapa sayang? Kamu kenapa?” tanya Arumi yang sangat syok melihat sikap Ashraf yang tiba-tiba sangat kasar.
Agar suasana mobil tidak semakin memanas, Pak Udin memutuskan untuk segera kembali ke rumah dengan mengendarai motor kecepatan lumayan tinggi.
“Bunda tadi ada di sekolah, Ashraf mau Bunda. Ashraf mau sama Bunda!” teriak Ashraf.
Seragam sekolah Ashraf terlihat sangat berantakan dan rambutnya yang awalnya rapi kini sudah acak-acakan.
Arumi yang geram dengan tingkah laku cucunya, seketika itu menekan kedua pipi cucunya dengan tangannya.
“Lihat, Nenek sekarang!” perintah Arumi yang ternyata sudah berderai air mata, ”Nenek tahu kalau Ashraf begitu merindukan Bunda Asyila. Akan tetapi, Bunda Asyila sekarang lagi sibuk dan belum bisa datang menemui Ashraf. Ashraf tolong mengertilah maksud Nenek,” terang Arumi berharap Ashraf mengerti maksud dari perkataannya.
“Tadi ada Bunda, Nek. Bunda tadi datang ke sekolah,” ungkap Ashraf.
Dengan suara serak khas menangis, Ashraf terus menceritakan bagaimana wanita yang mirip Bundanya datang menghampiri dirinya.
Arumi mengernyitkan keningnya dan menatap wajah suaminya seakan-akan perkataan Ashraf hanyalah halusinasinya saja.
__ADS_1
“Ashraf tidak boleh bohong sama Nenek dan Kakek. Ingat, bohong itu dosa,” ucap Arumi.
“Ashraf tidak bohong Nek,” jawab Ashraf secara lantang karena apa yang dikatakannya sungguh nyata dan tidak ada unsur kebohongan sama sekali.
Arumi bisa melihat kejujuran dimata cucunya. Akan tetapi, yang membuat Arumi bingung, mengapa putri tunggalnya tidak segera datang menemui mereka?
Mengapa putri tunggalnya tidak mengenakan hijab?
Arumi tenggelam dalam lamunannya dan membuat Herwan khawatir dengan kondisi istrinya itu.
“Tidak, siapapun wanita itu. Ashraf pasti salah mengira, tidak mungkin wanita itu adalah Asyila,” tegas Arumi.
Setibanya di rumah, Arumi membawa paksa Ashraf yang masih saja menangis. Kemudian, membawanya masuk ke dalam kamar dan seketika itu juga, Arumi memandikan cucunya agar sang cucu bisa berpikir jernih.
“Arumi, apa yang kamu lakukan terhadap cucu kita?” tanya Herwan yang tiba-tiba menyebut nama istrinya.
Arumi tersadar atas apa yang telah dilakukan kepada Ashraf dan seketika itu Arumi berlari keluar dari kamar untuk menenangkan dirinya di ruang keluarga.
Apa yang baru saja aku lakukan terhadap cucuku? Ya Allah, maafkan hamba. Hamba benar-benar kehilangan kendali karena apa yang dikatakan oleh Ashraf.
Tidak seharusnya hamba hilang kesabaran seperti ini.
Arumi menangis dan terus menangis di ruang keluarga sambil merenungi kesalahan-kesalahannya.
“Tidak seharusnya aku sebagai Nenek, bersikap kasar kepada cucuku yang kecil dan menggemaskan itu,” tutur Arumi.
“Sudah ya sayang, Ashraf tidak boleh menangis lagi. Sekarang Ashraf makan siang ya sama Kakek!” ajak Herwan.
Ashraf mengangguk kecil menyetujui ajakan kakeknya, Herwan.
“Nenek jahat,” ucap Ashraf sambil memasang wajah cemberutnya.
Arumi tiba-tiba datang dan menghampiri cucu kesayangannya itu.
“Maafkan Nenek ya Ashraf. Nenek menyesal, tidak seharusnya Nenek bersikap jahat sama Ashraf. Tolong maafkan Nenek ya sayang, maafkan Nenek,” ungkap Arumi penuh penyesalan atas apa yang telah ia perbuat kepada cucunya.
Dengan tatapan polos, Ashraf memaafkan apa yang telah diperbuat oleh Neneknya kepada.
“Maafin Ashraf juga ya Nek!” pinta Ashraf.
Akhirnya, mereka berdua berbaikan dan bersama-sama menikmati makan siang mereka dengan penuh senyuman.
Arumi tak ***** dengan makanan dihadapannya, dalam hatinya ia masih bertanya-tanya dengan wanita yang muncul dihadapan Ashraf.
Arumi sangat yakin, bahwa wanita itu bukanlah putri kesayangannya. Tidak mungkin bagi Asyila tetap berada di luaran sana tanpa menemui keluarganya.
Siapa sebenarnya wanita itu? Dan mau apa dia mendekati cucuku. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus waspada dan memperketat pengawasan terhadap Ashraf agar tidak ada orang yang sembarangan mendekati cucuku.
__ADS_1
Setelah makan siang, Arumi meminta Ashraf untuk tidur siang. Arumi tahu bahwa cucunya sangat lelah setelah mengeluarkan air mata cukup banyak.
Ashraf tak membantah, ia pun menuruti perkataan Neneknya dan bergegas masuk ke dalam kamar.
“Nenek, boleh minta es krim?” tanya Ashraf yang sudah lama tidak menikmati es krim.
“Boleh, Ashraf tunggu sebentar di ruang keluarga. Nenek akan menyusul dan membawakan Ashraf es krim kesukaan cucu Nenek yang lucu ini,” balas Arumi.
Ashraf tersenyum lebar dan berlari kecil menuju ruang keluarga.
Arumi tersenyum lega dan membuka kulkas. Akan tetapi, Arumi langsung sedih karena stok es krim di kulkas kosong.
“Mas, stok es krimnya kosong. Bagaimana ini?” tanya Arumi.
“Sebentar, biar Mas keluar bersama Pak Udin dan membeli es krim di minimarket. Adik tolong tahan Ashraf dulu ya,” sahut Herwan.
Tak butuh waktu lama, Herwan dan Pak Udin bergegas menuju minimarket untuk membeli es krim kesukaan Ashraf dengan cukup banyak.
Beberapa saat kemudian.
Herwan datang dengan langkah tergesa-gesa sambil membawa sekantong es krim kesukaan Ashraf. Kemudian, memasukannya ke dalam kulkas agar es krim kembali beku.
“Terima kasih, Mas,” ucap Arumi dan mengambil satu es krim untuk segera dinikmati oleh Ashraf.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Ashraf bisa menikmati es krim keinginannya.
“Habis ini tidur siang ya sayang,” ucap Arumi.
“Iya Nek,” jawab Ashraf.
Es krim pun habis, Arumi langsung membawa Ashraf masuk ke dalam kamar.
Sebelum tidur, Arumi meminta Ashraf untuk cuci tangan, kaki dan gosok gigi.
“Sudah selesai, ayo naik!” panggil Arumi sambil menepuk-nepuk bantal yang biasa digunakan oleh Ashraf.
Ashraf tersenyum manis dan cepat-cepat naik ke tempat tempat tidur.
“Jangan lupa Do'a sebelum tidur,” tutur Arumi.
Ashraf mengiyakan dan melafalkan niat do'a sebelum tidur.
Dan tak butuh waktu lama, bocah kecil itu tertidur dengan pulas.
Arumi kembali meneteskan air matanya, tidak seharusnya ia bersikap kasar terhadap cucu kesayangannya.
“Maafkan Nenek ya sayang, Nenek janji tidak akan mengulangi kesalahan seperti tadi lagi,” ucap Arumi.
__ADS_1