
Beberapa hari kemudian.
Abraham tengah duduk di kursi tunggu sambil menunggu kabar terbaru dari dokter yang menangani Abraham.
Pria itu berharap bahwa Ashraf sembuh dan bisa pulang ke rumah saat itu juga.
Di rumah sakit, tidak hanya ada Abraham dan kedua mertuanya.
Ada Yogi, Ema dan Kahfi yang tengah menunggu kabar baik tersebut.
“Bagaimana, Dok?” tanya Abraham ketika seorang wanita berseragam serba putih keluar dari ruangan buah hatinya.
“Keadaan Ashraf saat ini sudah sangat baik dan sudah boleh pulang,” terang dokter wanita spesialis anak tersebut.
“Alhamdulillah!” seru mereka dengan sangat bahagia ketika tahu bahwa Ashraf sudah boleh pulang dan tidak perlu lagi di rawat di rumah sakit itu.
Dokter itu pun melenggang pergi untuk menangani pasien lainnya.
Dengan langkah lebar, Abraham masuk ke dalam ruangan buah hatinya dan menciumi pipi buah hatinya secara terus-menerus.
“Ayo sayang, kita pulang!” ajak Abraham dan menggendong buah hatinya.
Arumi dan Herwan mengambil seluruh barang yang sebelumnya mereka bawa dari rumah.
Kemudian, Abraham meminta sahabatnya untuk melunasi terlebih dulu tagihan biaya rumah sakit buah hatinya.
Ketika Abraham sedang berjalan menuju area parkir, tiba-tiba seorang wanita berlari dan menabraknya.
“Maaf, maafkan saya,” ucap wanita itu sambil memunguti lembaran kertas miliknya yang berantakan.
Hal tak terduga pun terjadi, ketika wanita itu bangkit untuk melanjutkan langkahnya, Abraham terkejut bukan kepalang.
Wanita dihadapannya saat itu benar-benar mirip dengan Asyila.
“Bunda!” panggil Ashraf dan seketika itu merentangkan tangannya ke arah wanita yang mirip sekali dengan Bundanya tercinta.
Wanita itu refleks menggendong Ashraf.
“Bunda kemana saja?” tanya Ashraf yang tiba-tiba menangis tersedu-sedu meluapkan rasa rindunya kepada wanita yang tengah menggendongnya.
Abraham tersadar dan segera mengambil alih untuk menggendong Ashraf kembali.
“Kamu siapa?” tanya Abraham dengan tatapan terheran-heran.
“Saya Salsa, apa ada yang salah dengan wajah saya?” tanya wanita bernama Salsa dengan penuh pertanyaan.
Arumi dan Herwan datang menyusul keduanya.
“Salsa,” ucap Herwan dengan nada yang sangat terkejut.
Arumi terperangah melihat wanita dihadapannya yang hampir 80% mirip dengan putri kesayangannya.
“Ayah mengenali wanita ini?” tanya Abraham yang sangat terkejut dengan respon Ayah mertuanya.
”Te-tentu saja, kalau tidak ada Nak Salsa, sudah pasti Ashraf tidak ada disini,” jawab Herwan yang terpaksa memberitahukan kejadian yang hampir membuat nyawa Ashraf melayang.
“Maksud Ayah?” tanya Abraham.
Herwan menceritakan kejadian waktu itu secara detail dan Abraham benar-benar terkejut bila mana Salsa tidak datang menolong buah hatinya.
__ADS_1
“Asyila!” Ema seketika itu menghampiri wanita yang diduga sebagai Asyila. Akan tetapi, Ema pun langsung sadar bahwa wanita dihadapannya bukanlah Asyila, “Siapa kamu?” tanya Ema sambil dengan tatapan tak suka dan mendorong tubuh wanita itu dengan sangat kasar.
Wanita itu terjatuh dan dengan cepat Herwan membantunya bangkit.
“Nak Ema, tolong jangan kasar terhadap Nak Salsa!” pinta Herwan.
Bukannya marah, wanita yang bernama Salsa malah tersenyum dan dengan sangat sopan pamit karena ada urusan yang sangat penting.
Setelah Salsa pergi, Ashraf menjerit memanggil Bundanya dan dengan cepat Abraham meminta mertuanya untuk membawanya masuk ke dalam mobil.
“Tinggalkan aku sendiri!” pinta Abraham pada Yogi yang masih berdiri di sampingnya.
Kenapa bisa? Kenapa wanita itu begitu mirip dengan Asyila?
Apa benar di dunia ini ada 7 manusia yang wajah mirip?
Ketika Abraham ingin melangkah menuju parkir, ia tak sengaja menginjak sebuah kertas. Ia pun memungutnya dan ternyata kertas itu adalah data diri dari wanita yang bernama Salsa.
“Salsabila?” Abraham mengernyitkan keningnya ketika melihat data diri tersebut. Kemudian, melipatnya menjadi bagian kecil dan memasukkannya ke dalam kantong celana.
Pria itu pun bergegas menyusul keluarganya yang sudah lebih dulu berada di mobil.
Tanpa sadar, ternyata ada seseorang yang tengah memerhatikan Abraham dari jauh dan terlihat senyum manisnya.
“Ayo, Eko!” perintah Abraham pada sopir pribadinya.
Di dalam mobil, Ashraf masih saja rewel dan tak segan-segan memukul dada kakeknya yang saat itu tengah memangku tubuhnya.
“Lepas! Ashraf mau Bunda!” teriak Ashraf.
Teriakkan Ashraf memenuhi seluruh mobil dan membuat Eko tak fokus mengemudikan mobil.
Beberapa menit kemudian.
Ema turun dari mobil dan membawa Ashraf bersama dengannya. Meskipun Ashraf saat itu tengah menangis histeris, Ashraf sama sekali tak menolak ajakan Ema untuk pindah mobil.
Ashraf tahu, bahwa Ema sudah seperti Ibunya sendiri dan Ema selalu memperlakukan Ashraf seperti buah hatinya sendiri.
“Maaf, merepotkan mu,” ucap Abraham pada Ema yang tengah menggendong Ashraf.
“Pak Abraham tidak perlu minta maaf seperti itu. Justru, saya senang karena Pak Abraham memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjaga Ashraf. Kalau begitu saya permisi,” tutur Ema dan segera membawa masuk Ashraf ke dalam mobil.
Perjalanan pun kembali dilanjutkan dan tak butuh waktu lama, Ashraf sudah mulai tenang dan sudah bisa diajak bicara oleh Kahfi.
Abraham terlihat sedang menikmati sesuatu hal yang begitu menguras pikirannya. Akan tetapi, Arumi maupun Herwan memilih untuk diam karena takut salah bicara dan membuat Abraham semakin sedih.
Salsa? Siapa wanita itu? Kenapa wajahnya hampir mirip dengan istriku, Asyila?
Jika dilihat dari keseluruhan, hanya wajahnya saja yang mirip.
Sesampainya di rumah, Abraham langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Siang itu, Ashraf tak pulang ke rumah. Melainkan, pulang ke rumah orang tua Ema.
Abraham mempercayakan Ema untuk merawat buah hatinya selama beberapa hari ke depan.
Setidaknya, dengan adanya Ema serta keluarga kecilnya, Ashraf bisa lebih rileks dan kerinduannya terhadap Bundanya bisa berkurang. Meskipun, hanya beberapa persen saja.
Abraham teringat dengan kertas yang berada di saku celananya. Ia pun mengambilnya dan memperhatikannya setiap detail data diri dari wanita yang bernama Salsa.
__ADS_1
Malam hari.
Abraham bergerak kesana-kemari seperti ada hal yang tengah mengganggu pikirannya. Akan tetapi, Abraham tak tahu apa yang tengah dipikirkannya. Mungkin, karena terlalu banyak yang ia pikirkan jadinya, ia tidak tahu pikiran mana yang sangat mengganggunya.
Karena hari sudah malam dan ia masih belum mengantuk, Abraham pun memutuskan untuk keluar rumah dan menghirup udara malam yang segar.
“Mau kemana, Tuan Muda Abraham?” tanya Pak Udin ketika melihat Abraham yang ingin keluar dari gerbang dengan berjalan kaki.
“Menenangkan pikiran sejenak,” jawab Abraham dan melenggang keluar dari gerbang rumah.
Salah satu bodyguard memutuskan untuk mengikuti Abraham. Akan tetapi, Abraham dengan cepat memerintahkannya untuk kembali dan tak usah mengikutinya.
Bodyguard itu pun mengiyakan mengikuti perintah Abraham padanya.
Abraham terus berjalan setapak demi setapak sampai akhirnya ia berada di dekat masjid.
Ia pun memilih melaksanakan sholat sunah dua raka'at di masjid yang biasa ia gunakan untuk sembahyang.
Usai sholat dua raka'at, Abraham kembali melanjutkan langkahnya dan tiba-tiba seorang pengendara motor terjatuh tak jauh dari tempat Abraham berdiri.
Abraham seketika itu berlari untuk membantu orang yang terjatuh itu.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Abraham yang lebih dulu menolong pengendara motor yang terjatuh.
“Aakhh... Terima kasih, saya baik-baik saja,” jawabnya yang ternyata adalah seorang wanita.
“Maaf,” ucap Abraham yang mengira bahwa orang yang terjatuh tersebut adalah wanita.
Wanita itu melepaskan helm yang ia kenakan sehingga rambutnya yang panjang terurai dengan sangat indah. Sejenak, Abraham terpana melihat wanita yang ternyata adalah Salsa.
“Kamu,” ucap Abraham.
“Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih. Saya terlalu mengantuk dan tiba-tiba kehilangan kendali, untungnya saja bapak membantu saja,” terang Salsa.
Abraham tersadar dengan pikirannya dan membantu Salsa untuk mendirikan motor yang tergeletak di jalan.
“Sebaiknya anda hati-hati, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas apa yang anda lakukan terhadap putra saya,” tutur Abraham.
Wanita itu tersenyum manis dan kembali mengibaskan rambutnya yang panjang.
“Bapak tidak perlu sungkan. Toh, sebagai manusia kita harus saling tolong-menolong,” jawab Salsa dan kembali menaiki motornya, “Maaf, Pak. Ini sudah malam dan saya harus segera pulang, assalamu'alaikum!”
“Wa’alalaikumsalam,” balas Abraham.
Salsa tersenyum tipis ketika mengingat bagaimana Abraham membantu dirinya yang jatuh dari motor.
“Nak Abraham dari mana saja?” tanya Herwan ketika melihat menantunya baru masuk rumah.
Abraham tersenyum dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Abraham menceritakan semuanya apa adanya dan tak ada hal yang ditutup-tutupinya.
“Lalu, bagaimana dengan Nak Salsa?” tanya Herwan yang terlihat sangat khawatir. Mungkin, karena wajah Salsa mirip dengan putrinya. Sehingga, Herwan khawatir dengan keadaan Salsa.
“Ayah tidak perlu cemas, wanita itu baik-baik saja,” balas Abraham dan memutuskan untuk segera beristirahat agar dapat melaksanakan sholat tahajjud.
Setelah Abraham pergi menuju kamarnya, Herwan memutuskan untuk duduk di kursi teras depan sambil memikirkan putri kesayangannya yang telah tiada.
“Nak, Ayah rindu dengan kamu. Sampai detik ini, Ayah merasa kejadian ini hanyalah mimpi buruk Ayah. Apakah kamu sudah tenang disana, Nak?” tanya Herwan dan meneteskan air matanya manakala mengingat senyum ceria putri kesayangannya itu.
Tanpa Herwan ketahui, ternyata Arumi mendengarkan semua perkataan suaminya yang sangat merindukan buah hati mereka.
__ADS_1
Kepergian Asyila meninggalkan sejuta kenangan yang selamanya tak akan pernah dilupakan oleh Herwan maupun Arumi.