
Jakarta.
Asyila malam itu tidur bersama Arsyad dan Ashraf. Sementara Sang suami sedang bekerja dan dipastikan pulang besok pagi.
Asyila menatap wajah kedua putra kecilnya secara bergantian, ia terlihat sangat sedih ketika mengetahui bahwa sebentar lagi kedua putra kecilnya berpisah untuk sementara waktu.
Dikarenakan, Abraham dan Asyila besok siang akan kembali ke Jakarta.
“Bunda kenapa belum tidur?” tanya Arsyad yang terbangun karena belaian lembut Bundanya.
“Maaf ya sayang, Bunda jadi membangunkan Arsyad. Baiklah Bunda langsung tidur kalau begitu,” tutur Asyila dan segera memejamkan matanya.
Arsyad memandangi wajah Bundanya, ia tahu bahwa Ayah, Bunda dan adiknya besok siang akan kembali ke Jakarta. Meninggalkan dirinya bersama Kakek dan Neneknya di Jakarta.
Akan tetapi, itu sudah menjadi keputusan Arsyad yang ingin bersekolah di Jakarta. Meskipun alasannya dulu adalah ingin menemani Nenek buyutnya, Erna. Namun, Nek Yut nya telah meninggalkan dan tetap saja Arsyad ingin tetap sekolah di Jakarta.
Disaat yang bersamaan, Abraham sedang lembur di kantor miliknya yang berada di kota Jakarta.
Ia harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Ia tidak ingin terlalu sering menyusahkan sahabatnya, Yogi.
“Kamu yakin menyelesaikan semuanya sendirian?” tanya Yogi memastikan.
“Tentu saja. Sekarang kau pulanglah!”
Yogi terpaksa mengiyakan apa yang dikatakan oleh sahabatnya, Abraham.
Ia pun pamit untuk pulang ke rumah mertuanya, Icha.
Kini, Abraham sendirian yang harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
“Hhmmm.. Asyila malam ini sedang ngapain ya? Tiba-tiba aku ingin melihat wajah istriku,” ucap Abraham bermonolog sembari memandangi gambar diri istri kecilnya.
Cukup lama Abraham memandangi istri kecilnya dan ia pun kembali fokus pada pekerjaannya.
****
Pagi hari.
Arsyad telah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Akan tetapi, Abraham belum juga kembali membuat Arsyad kehilangan semangatnya.
“Bunda, kapan Ayah pulang?” tanya Arsyad sambil menarik-narik tangan Asyila.
“Sabar ya sayang, sebentar lagi Ayah sampai,” jawab Asyila.
Disaat yang bersamaan, Abraham tiba dan langsung berlari keluar menghampiri istri dan kedua putra kecilnya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham terlebih dulu mendekati istri kecilnya.
“Wa’alaikumsalam!” seru mereka.
Asyila tersenyum bahagia sembari mencium punggung tangan suaminya dan diikuti oleh kedua putra kecil mereka.
“Ayah kemana saja?” tanya Arsyad yang saat itu terlihat sangat manja dengan Ayahnya.
Abraham menyadari perubahan sikap Arsyad yang tiba-tiba manja.
“Maaf ya sayang, yang penting Ayah sudah datang. Arsyad hari ini yakin mau sekolah?” tanya Abraham sembari menggendong tubuh Arsyad.
“Kata Bunda Kartini, kalau mau pintar harus rajin masuk sekolah,” jawab Arsyad sambil melingkarkan tangannya di leher Abraham.
“Sekolah yang rajin ya sayang!” pinta Abraham.
“Baik Ayah!” seru Arsyad.
“Ayah, gendong!” Ashraf melompat-lompat kecil sambil merentangkan tangannya agar Ayahnya segera menggendong dirinya.
“Kali biar Bunda saja ya yang menggendong Ashraf,” sahut Asyila dan menggendong tubuh Ashraf.
Ashraf tertawa kecil dan memeluk leher Bundanya sama seperti yang dilakukan oleh Kakaknya yang memeluk leher Sang Ayah.
“Pruuuttt!”
Abraham, Asyila dan juga Ashraf terkejut mendengar suara bom yang tiba-tiba keluar dari bokong Ashraf.
__ADS_1
“Bau telur busuk,” celetuk Arsyad dan cepat-cepat menit hidungnya.
Abraham melangkah menjauh sembari menahan tawanya. Jika ia tertawa, sudah dapat dipastikan kalau Ashraf akan menangis.
“Hahaha...” Asyila yang saat itu tengah menggendong Ashraf tak bisa menahan tawanya. Ia benar-benar merasakan udara keluar dari bokong semok putra keduanya.
Abraham yang berusaha menahan tawanya akhirnya menyerah. Tawa Abraham pecah begitu pun dengan Arsyad yang tidak habis pikir dengan adiknya yang sangat suka kentut sembarangan dan tidak tahu tempat.
“Huwaaaa.... huwaaaaa” Dibalik tawa mereka yang pecah, ada Ashraf yang menangis karena malu dengan air yang keluar begitu saja.
Bayangkan saja, jika kalian berada diposisi antara mereka. Tentu saja kalian akan tertawa sekaligus kasihan dengan Ashraf.
“Huwaaaa.... huwaaaaa!” Ashraf menangis sembari terus memeluk Bundanya dengan sangat erat.
Asyila masih tak bisa menghentikan tawanya, sungguh putra kecilnya itu benar-benar membuatnya kewalahan karena terlalu sering tertawa.
“Bunda, hentikan...” Ashraf mencoba menutup mulut Bundanya agar segera berhenti tertawa.
Dengan sekuat tenaga, Asyila mencoba menghentikan tawanya. Ia mendekap erat tubuh putra kecilnya agar Ashraf segera menghentikan tangisannya.
Abraham dan Arsyad masih belum berhenti tertawa. Karena tak ingin Ashraf terus menangis, Abraham pun berlari kecil menuju mobil dan masuk ke dalam mobil.
“Nak, lain kali jangan mengatakan Kentut Ashraf bau busuk!” pinta Abraham sembari tersenyum lebar.
“Baik, Ayah,” jawab Arsyad dan perlahan ia pun menghentikan tawanya.
Beberapa menit kemudian.
Asyila dan Ashraf masuk ke dalam mobil. Namun, wajah Ashraf saat itu terlihat sangat kusut dan pelit senyum.
Tentu saja sikap Ashraf yang seperti itu dikarenakan Ayah, Bunda dan Sang kakak tertawa karena dirinya tak sengaja mengeluarkan gas.
“Telur busuk,” celetuk Arsyad dan segera menutup mulutnya.
Ashraf langsung menoleh ke arah Arsyad dengan tatapan tajam.
“Telur busuk ya kemarin 'kan, memang sudah Ayah buang,” sahut Abraham cepat-cepat mencari kata agar Ashraf tak kembali menangis, “Nanti Ayah yang akan mencari telur yang kualitasnya baik dan tidak busuk seperti kemarin,” imbuh Abraham sembari berharap agar Ashraf tak tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Arsyad.
Mobil pun perlahan meninggalkan halaman rumah untuk menuju sekolah Arsyad.
Ashraf yang terus memeluk Bundanya ternyata sudah tertidur, seperti biasa, Ashraf akan tertidur setelah menangis untuk waktu yang cukup lama.
Di sekolah.
“Sayang, sekolah yang pintar ya,” tutur Abraham sambil menyentuh kedua bahu putra kecilnya.
“Siap, Ayah,” balas Arsyad.
Abraham keluar dari mobil untuk mengantarkan putra pertamanya ke kelas.
“Mas tunggu!”
Asyila dengan hati-hati merebahkan tubuh Ashraf yang saat itu tengah tertidur pulas. Kemudian, ia keluar dari mobil untuk mengantarkan putra pertama mereka.
“Bunda!” Arsyad berbalik dan berlari kecil menghampiri Bundanya, Arsyad kemudian menangis sembari terus memeluk pinggang Asyila.
“Sayang, kenapa menangis?” tanya Asyila sambil mengelus-elus punggung Arsyad.
Abraham tahu alasan Arsyad menangis, tentu saja karena beberapa jam lagi setelah Arsyad pulang sekolah, mereka akan berpisah untuk waktu yang cukup lama.
“Arsyad adalah kesayangan Ayah dan Bunda yang kuat. Arsyad harus menjadi contoh yang baik untuk adik Ashraf, apa Arsyad mau terus menangis seperti ini?” tanya Abraham tanpa melepaskan pelukan Arsyad pada istri kecilnya.
Arsyad terdiam dan segera menghapus air matanya. Ia tidak ingin jika adiknya ikut menangis karena mereka akan berpisah.
“Ayah, Bunda...” Arsyad kini terlihat lebih tenang. Kemudian, ia mencium punggung tangan kedua orangtuanya sebelum masuk ke dalam kelas.
Bunda Kartini yang sedang duduk di dalam kelas bergegas keluar ketika melihat Abraham dan Asyila.
Ia pun menceritakan kepintaran dan keberanian Arsyad selama belajar di kelas.
Abraham dan Asyila sangat bangga dengan putra pertama mereka yang sudah bisa beradaptasi disekolah dengan cukup baik.
Karena masih ada banyak hal yang harus dikerjakan oleh Abraham dan Asyila. Merekapun pamit dan meminta Bunda Kartini untuk terus memantau perkembangan Arsyad selama di sekolah terutama dikelasnya.
__ADS_1
***
Abraham menghentikan mobilnya tepat didepan rumah mertuanya. Setelah mengantarkan Arsyad, Abraham kini menjemput kedua mertuanya untuk membawa mereka ke rumahnya dan juga kedua mertuanya akan tinggal di rumah bersama Arsyad dengan waktu yang cukup lama.
“Terima kasih, Nak Abraham,” ucap Herwan pada Abraham yang telah membawa semua barang-barang yang akan ia gunakan selama tinggal di rumah menantunya tersebut ke dalam mobil.
“Sama-sama Ayah,” jawab Abraham.
Tanpa menunggu lama, Abraham langsung tancap gas menuju kediamannya.
Sesampainya di rumah, Abraham langsung membawa semua barang-barang keperluan Arumi dan Herwan ke dalam kamar mereka.
“Sini sayang!” panggil Arumi pada Ashraf yang hanya diam berdiri dan tak mengeluarkan sepatah katapun.
Ashraf mengangguk kecil dan melangkah menghampiri Neneknya.
“Jangan nakal ya sayang, Nenek dan Kakek pasti akan merindukan Ashraf,” ucap Arumi yang telah menitikkan air matanya sembari mencium kedua pipi Ashraf yang tembam.
“Nenek jangan nangis,” ucap Ashraf dengan begitu polosnya sambil menghapus air matanya neneknya itu.
“Iya sayang, Nenek tidak akan menangis,” balas Arumi dan tersenyum menutupi kesedihannya yang akan berpisah dengan salah satu cucu kesayangannya.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya waktu untuk Arsyad berpisah dengan kedua orangtuanya serta adik kesayangannya, Ashraf.
Arsyad melambaikan tangannya ke arah kedua orangtuanya dan juga adiknya tersayang. Arsyad tersenyum lebar ke arah mereka.
“Kami pergi dulu sayang, jaga diri baik-baik. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!” seru Arsyad, Arumi dan juga Herwan.
Mobil pun perlahan pergi menjauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi.
Dan disaat itu juga, Arsyad menangis sejadi-jadinya.
Ia sudah menahan air matanya sewaktu kedua orangtuanya menjemputnya di sekolah.
Arumi dan Herwan pun ikut menangis melihat Arsyad yang baru saja berpisah dengan kedua orangtuanya serta adiknya.
Tanpa disadari oleh mereka, rupanya Asyila keluar dari mobil dan berlari menghampiri Arsyad.
“Arsyad!” Asyila berteriak sembari merentangkan tangannya.
Arsyad segera menoleh dan berlari menghampiri Bundanya.
“Bunda... Maaf karena Arsyad menangis,” ucap Arsyad dengan suara serak khas orang yang tengah menangis.
Asyila menangis dengan terus mendekap erat tubuh putra pertamanya, Arsyad. Tentu saja Asyila sangat sedih melepaskan putra kecil yang telah memberikannya gelar seorang Ibu untuk pertama kalinya.
“Jangan menangis sayang, Bunda pasti akan selalu melakukan video call dengan Arsyad. Tolong jangan membuat Bunda menjadi susah meninggalkan Arsyad disini!” pinta Asyila.
Abraham sengaja tidak turun dari mobil dan menahan putra keduanya untuk turun. Ia ingin Arsyad dan Asyila berduaan untuk menumpahkan kesedihan mereka yang akan berpisah.
“Arsyad sayang Bunda, Ayah dan juga adik Ashraf,” tutur Arsyad.
Arumi dan Herwan berdiri tak jauh dari Ibu dan anak tersebut. Mereka terus saja menangis sembari memandangi keduanya.
“Iya sayang, kami semua menyayangi Arsyad. Kalau Arsyad tidak betah disini, Arsyad bisa langsung menghubungi Ayah atupun Bunda. Kami akan segera kemari dan menjemput Arsyad.”
Arsyad langsung melepaskan dekapan Bundanya dan menghapus air matanya.
“Bunda jangan sedih, Arsyad harus jadi anak pintar,” tutur Arsyad dengan sangat serius.
“Ya Allah, sayang. Bayi Bunda yang dulu sangat kecil sekarang sudah besar dan sangat dewasa. Kamu benar-benar membuat Bunda terkejut, sayang...”
Arsyad tersenyum dan meminta Bundanya untuk segera kembali masuk ke dalam mobil. Arsyad tidak ingin terus-menerus melihat Bundanya menangis.
Asyila mau tak mau akhirnya berpisah juga dengan Arsyad. Sebelum benar-benar pergi, Asyila tersenyum semanis mungkin dengan teru melambaikan tangannya.
Nak, Bunda sangat menyayangi Arsyad. Semangat ya sayang, do'a Bunda selalu menyertaimu.
Asyila pun masuk ke dalam mobil dan tak butuh waktu lama, mobil itu pun pergi untuk segera meninggalkan Ibu kota Jakarta.
Abraham 💖 Asyila
__ADS_1