
Rumah Sakit
Kondisi Ashraf sudah mulai membaik, demamnya pun sudah mulai turun. Akan tetapi, rasa rindunya kepada Sang Bunda belum juga berkurang. Bocah kecil itu masih saja memanggil Bundanya dan berharap wanita yang telah melahirkannya segera datang memeluk dirinya.
Melihat cucunya dalam kondisi yang tidak baik, Arumi merasa sangat tertampar. Tidak seharusnya ia sebagai Nenek malah berteriak-teriak histeris dan membuat cucunya ketakutan.
Arumi pun menyalahkan dirinya sendiri dan pulang ke rumahnya sendiri untuk menenangkan pikirannya.
Sementara Herwan memilih menemani cucunya di rumah sakit dan berharap ada titik terang dalam menemukan putri tunggalnya, Asyila.
“Pak Herwan, sudah jam segini. Dari tadi saya tidak melihat Pak Herwan makan, Pak Herwan makanlah sedikit. Setidaknya ada nasi yang masuk ke dalam perut Bapak,” tutur Ema.
Herwan menoleh ke arah Ema. Bagi Herwan, Ema adalah putrinya yang lainnya. Tanpa pikir panjang, Herwan mengiyakan dan mencari kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.
Fahmi duduk tepat di samping sang istri yang tengah terlelap.
Tak ada ucapan yang terlontar dari mulut pria itu, dikarenakan Fahmi masih sangat terpukul dan merasa sangat bersalah dengan istri dan Asyila.
“Mas...” panggil Dyah lirih ketika melihat suaminya tengah menitikkan air mata.
Fahmi terkesiap dan segera menghapus air matanya yang sedari tadi mengucur deras.
“Maafkan Dyah, Mas. Maafkan Dyah,” ucap Dyah yang lagi-lagi menyalahkan dirinya sendiri.
“Ssuutttss, sudah jangan bicara seperti itu lagi. Dyah tidak boleh menyalahkan diri sendiri dan tak boleh menangis. Ingat buah hati kita,” balas Fahmi sambil menyentuh perut buncit istrinya.
“Lalu, apakah Dyah harus tertawa disaat Aunty belum ditemukan?” tanya Dyah yang suaranya terdengar meninggi.
“Tolong, berhentilah menangis apalagi sampai menyalahkan diri sendiri. Kita semua disini sangat sedih, kita semua disini sangat hancur. Tapi, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Apakah dengan menangis? Menangis saja tidaklah cukup. Saat ini, Aunty Asyila butuh do'a-do'a dari kita,” terang Fahmi.
Fahmi berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan istrinya. Akan tetapi, di dalam hatinya ia terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
“Mas, kasihan Aunty. Aunty diluar sana sedang dalam bahaya, mereka orang-orang jahat. Dyah harap mereka segera mati dan masuk ke dalam neraka,” tutur Dyah.
Fahmi menghela napasnya dan memberikan obat untuk diminum oleh sang istri.
“Sekarang minumlah obat ini, kemudian beristirahatlah. Bayi kita juga butuh istirahat,” pinta Dyah.
“Mas, apakah Mama dan Papa benar-benar tidak tahu tentang kejadian ini?” tanya Dyah.
“Iya, mereka tidak tahu. Bukankah ini keinginan Dyah untuk tidak memberitahukan Papa dan Mama? Atau, Dyah ingin Mas Fahmi menghubungi Papa dan Mama sekarang juga?”
Dyah dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Jangan, Mas. Pokoknya masalah ini jangan sampai diketahui oleh Papa dan Mama,” tegas Dyah.
Dyah kemudian mengambil obat ditangan suaminya dan meminumnya.
Setelah itu, Dyah kembali memejamkan mata untuk mengistirahatkan pikirannya.
Malam hari.
Abraham akhirnya tersadar setelah tiba-tiba tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Dimana kita?” tanya Abraham ketika melihat dirinya sudah berada di ruangan dengan bau berbagai macam obat.
“Kita ada di rumah sakit, kau tiba-tiba pingsan dan kami langsung membawa anda ke rumah sakit,” terang Dayat.
“Bagaimana dengan Asyila? Apakah kalian sudah menemukan petunjuk mengenai istriku?” tanya Abraham.
“Tolong tenanglah, kami sudah mengutus tim yang lain untuk mencari Nona Asyila. Tolong jangan gegabah, karena kondisi Anda masih belum stabil,” terang Dayat.
Abraham tak bisa diam saja di ranjang itu, dengan sekuat tenaga ia turun dari tempat tidur dan meminta yang lainnya untuk segera pergi mencari istrinya kembali.
Dayat tak bisa menolak apa yang dikatakan oleh Abraham. Meskipun, kondisi Abraham masih sangat lemah.
“Baiklah, ayo kita pergi mencari Nona Asyila,” balas Dayat dan meminta salah satu temannya untuk membayar administrasi.
***
Beberapa hari kemudian.
Pencarian Abraham serta tim yang lainnya belum juga mendapatkan titik terang.
Dan hal itu, membuat Abraham semakin frustasi. Abraham tidak ingin hal-hal buruk terjadi kepada istri dan juga calon buah hati mereka.
Sampai akhirnya, salah satu tim mendatangi Abraham dan memberitahukan bahwa beberapa hari yang lalu ada tiga orang pria menenggelamkan seorang wanita.
“Apa maksudmu?” tanya Abraham dengan sangat syok.
“Tim yang lainnya sudah menangkap para penculik Nona Asyila. Akan tetapi, Nona Asyila tidak bersama mereka. Dikarenakan, Nona Asyila sudah mereka tenggelamkan beberapa hari yang lalu di laut lepas,” terangnya.
Tanpa pikir panjang, Dayat serta yang lainnya bergegas menuju kota Surabaya untuk menemui 3 pelaku yang menculik Asyila dan untuk mengetahui lebih dalam lagi dimana mereka menyembunyikan Asyila.
Mereka pergi menuju Surabaya mengenakan pesawat militer, tentu saja hal itu sudah mendapatkan izin dari atasan. Mengingat jasa-jasa Abraham yang telah banyak membantu mereka untuk menangkap para penjahat.
Tak banyak yang hal yang diucapkan oleh Abraham, pria itu hanya diam sembari terus melafalkan sholawat untuk menemukan titik terang dari semua kejadian yang ada.
Beberapa jam kemudian.
Merekapun tiba di kota Surabaya dan sudah ada mobil yang menjemput Abraham serta yang lainnya.
“Dimana mereka bertiga?” tanya Abraham.
“Mereka sudah di ringkus dan sekarang sedang ditahan di kantor polisi,” jawab salah satu dari mereka yang ditugaskan menyusul Abraham serta tim yang lainnya.
Abraham masuk ke dalam mobil dan terlihat sekali bahwa Abraham tak sabaran untuk bertemu dengan para penculik.
“Apakah masih lama?” tanya Abraham karena perjalanan sudah memakan waktu lebih dari satu jam.
“Kurang dari 1 jam kita akan sampai,” jawab si pengemudi mobil.
Berulang kali Abraham menggerakkan kakinya, terlihat begitu jelas bahwa Abraham tak nyaman duduk di dalam mobil. Rasanya, ia ingin sekali sampai di kantor polisi.
Akhirnya setelah hampir dua jam lamanya, mereka sampai dan dengan cepat Abraham berlari keluar mobil untuk segera bertemu di pelaku.
__ADS_1
“Dimana mereka?” tanya Abraham ketika memasuki kantor polisi.
Dayat berlari mengejar sahabatnya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.
“Apakah kalian semua bisu? Dimana mereka bertiga? Dimana istriku?” tanya Abraham yang tak sabaran untuk mengetahui keberadaan sang istri dari mulut Ket pelaku penculikan.
Dua orang polisi menuntun Abraham menuju sel penjara dan dengan cepat Abraham memberikan tinju mautnya ke wajah mereka secara bergantian setelah sel penjara itu dibuka.
Bughh!
Bughh!
Bughh!
Abraham memukuli mereka tanpa ampun dan dengan cepat Abraham meminta yang lainnya untuk memisahkan Abraham agar tak lagi memukuli mereka.
“Hentikan, Tuan Abraham. Kalau anda terus memukuli mereka, mereka pastinya akan mati dan Nona Asyila tidak dapat kita lacak keberadaannya,” tutur Dayat.
Abraham seketika itu jatuh ke lantai dengan air mata yang terus mengalir.
“Cepat, katakan dimana istriku kalian sembunyikan?” tanya Abraham menarik kerah baju salah satu dari mereka bertiga dengan erat.
“Hahahaha... Hahaha..” Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa keras seakan-akan tengah menghina Abraham.
“Jangan menguji kesabaran ku, cepat katakan dimana istriku kalian sembunyikan!” teriak Abraham dan sekali lagi meninju wajah pria dihadapannya hingga pria itu tersungkur ke lantai dengan darah segar yang terus mengalir di ujung bibirnya.
“Kau mau tahu dimana istrimu berada? Carilah mayat istrimu di laut lepas. Istrimu telah mati tenggelam beberapa hari yang lalu!” teriak si pelaku dan kembali tertawa terbahak-bahak.
“Tidak!” teriak Abraham seperti orang kesetanan, “Katakan bahwa itu hanya tipu muslihat kalian, tidak mungkin istriku kalian bunuh. Apakah kalian tahu bahwa istri tengah mengandung?”
Abraham berteriak dan menangis histeris. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa tiga orang dihadapannya telah membunuh istri kecilnya.
“Untuk apa kami berbohong? Istrimu sudah mati tenggelam dan kami bertiga lah yang telah membunuh istrimu yang cantik itu,” terangnya lagi.
“Sebelum ia mati tenggelam, istrimu terus saja memanggil namamu. Mas Abraham! Mas Abraham! Mas Abraham!”
Salah satu dari mereka mempraktekkan bagaimana Asyila terus memanggil suaminya dengan begitu menyedihkan.
Abraham syok dan dengan gerakan cepat ia mengambil pistol salah satu polisi dan menembakkan kaki mereka bertiga secara bergantian.
Mereka bertiga berteriak kesakitan merasakan sakit serta pedihnya peluru yang merusak tulang kering mereka.
“Dayat! Aku mohon kerahkan seluruh tim dan cari keberadaan istriku,” ucap Abraham memohon kepada sahabatnya.
Dayat benar-benar kesal dengan ketiga pelaku, ingin rasanya ia membunuh ketiganya dengan tangannya sendiri. Dayat tak terima mendapati sahabatnya mengalami hal buruk seperti itu.
“Asyila!” teriak Abraham dengan penuh histeris hingga suaranya terdengar begitu menyedihkan bagi siapa yang mendengarnya.
Abraham ❤️ Asyila
😭😭 Maafkan Author Teman-teman 🙏🙏
__ADS_1