Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Mengorbankan Diri Agar Bisa Diculik


__ADS_3

3 hari kemudian.


Asyila berada di rumah seorang diri, dikarenakan sang suami untuk beberapa hari tidak pulang ke rumah. Disebabkan, urusan kantor yang belum juga terselesaikan.


Ashraf, putra kecilnya pagi itu sudah bermain bersama Kahfi di rumah sebelah.


Untuk mengurangi rasa bosannya, Asyila memilih mengaji membaca Al-Qur'an.


Usai mengaji, Asyila kembali menyalakan televisi untuk mencari berita-berita terkini. Ketika tengah mencari berita, Asyila dikejutkan dengan salah satu berita mengenai orang hilang.


“Aku tahu tempat daerah itu, mungkin hanya 2 kilometer dari perumahan Absyil,” ucap Asyila bermonolog dan bergegas mencari informasi lebih rinci di sosial media.


Asyila mulai membaca berita-berita itu dengan sangat serius, kuat dugaan bahwa wanita yang hilang itu diculik.


“Sebaiknya aku pergi ke lokasi itu, barangkali aku menemukan petunjuk!”


Akhirnya Asyila bertekad untuk mencari serta menemukan wanita yang hilang itu. Asyila akan berusaha untuk menolong orang-orang yang kesusahan karena itu adalah motto hidupnya.


“Bunda!” Ashraf datang dengan membawa kantong plastik ditangannya.


“Iya sayang, ini apa?” tanya Asyila.


“Mama Ema yang memberikannya,” balas Ashraf.


Ashraf memang telah memanggil Ema dengan sebutan “Mama” itu pun atas perintah dari Asyila, dikarenakan ia sudah menganggap Ema seperti saudaranya sendiri.


“Coba Bunda lihat!” Asyila mengambil kantong plastik ditangan putranya dan ternyata isinya adalah buah kelengkeng.


Asyila tersenyum lebar karena sahabatnya itu memberikannya buah kelengkeng.


“Alhamdulillah. Ashraf bilang apa sama Mama Ema?”


“Terima kasih,” sahut Ashraf dengan senyum-senyum.


“Anak pintar,” puji Asyila.


Asyila meminta putra kecilnya untuk duduk disampingnya. Kemudian, Asyila mencoba menghubungi sahabatnya lewat panggilan telepon untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian buah kelengkeng tersebut.


Usai mengucapkan terima kasih dan mengobrol sebentar, Asyila kembali fokus kepada Ashraf yang terlihat tak sabaran ingin menikmati buah kelengkeng.


“Manis sayang?” tanya Asyila ketika melihat Ashraf selesai mengunyah buah kelengkeng.


“Mau lagi Bunda!” pinta Ashraf.


Asyila tertawa mendengar permintaan Ashraf, “Bunda bertanya apakah rasanya manis, sayang. Ya sudah, buka mulutnya!”


“Aaaaa!” Ashraf membuka mulutnya lebar-lebar dan kembali mengunyah buah kelengkeng tersebut.


Malam hari.

__ADS_1


“Memangnya kamu mau pergi kemana, Asyila?” tanya Ema pada Asyila yang malam-malam datang mengantarkan Ashraf dan memintanya untuk menjaga Ashraf selama Asyila tidak berada di rumah.


“Anggaplah aku sedang membantu orang yang membutuhkan. Aku mohon tolong jaga Ashraf ya!” pinta Asyila.


“Apakah suamimu tahu mengenai hal ini?” tanya Ema penasaran.


“Mas Abraham belum tahu. Bila waktunya tiba, aku akan memberitahukannya kepada Mas Abraham,” jawab Asyila.


“Apapun yang ingin kamu lakukan, tolonglah jaga diri baik-baik!” Ema memeluk tubuh sahabatnya itu.


Asyila pun berpamitan kepada Ema.


Wanita muda itu pergi dengan motor matic sang suami, tekadnya sudah bulat dan ia harus menemukan petunjuk tentang penculikan itu.


Sesampainya di tempat kejadian penculikan, Asyila menitipkan motornya di sebuah warung yang memang menerima jasa penitipan motor.


Setelah itu, Asyila memilih duduk dibawah pohon mangga yang sudah mati.


Dari kejauhan, rupanya sudah ada dua orang di dalam mobil yang memperhatikan gerak-gerik Asyila. Mereka berdua menunggu situasi yang aman untuk menculik Asyila.


Aku tahu ini tindakan yang konyol. Akan tetapi, aku harus mengorbankan diriku sendiri supaya tahu lokasi tempat mereka menculik wanita yang ada diberita.


Daerah tempat yang sedang disinggahi Asyila memang sangat sepi. Hanya ada warung dan dua rumah saja di sekitar tempat itu, selebihnya pohon-pohon besar.


Ketika Asyila sedang memperbaiki sepatu yang ia kenakan, dirinya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam mobil.


Tentu saja Asyila terkejut dengan kecepatan mereka. Akan tetapi, Asyila sedikit bisa bernapas lega karena cepat atau lambat ia akan mengetahui alasan dari penculikannya.


“Kamu tidak perlu tahu, salah sendiri malam-malam keluar rumah,” celetuk pria yang tengah mengemudikan mobil.


Pria yang satunya lagi sedang sibuk mengambil sebuah botol dan diluar dugaan, pria itu menyemprotkan sesuatu ke arah wajah Asyila.


Perlahan pandangan Asyila kabur dan akhirnya semuanya menjadi gelap.


****


“Bangun!” Seorang wanita dengan tubuh gemuk mencipratkan air ke wajah Asyila.


Dengan kepala yang masih pusing, Asyila terbangun dan terkejut mendapati dirinya sudah berada di ruangan pengap. Hanya ada satu lubang ventilasi itupun sangat minim.


“Hebat juga Andri dan Dino mencari wanita seperti kamu, sudah cantik, imut lagi,” pujinya menilai wajah Asyila.


Asyila tak menghiraukan ucapan wanita dihadapannya. Ia malah memilih melihat-lihat sekitar dan bertambah terkejutnya Asyila melihat banyak wanita yang juga ada diruangan bersama dirinya. Tidak hanya wanita-wanita dewasa, ada juga remaja-remaja yang mungkin umurnya dibawah 17 tahun.


“Apa yang sebenarnya kalian inginkan?” tanya Asyila.


“Hahaha... Hahaha..” Wanita berbadan gemuk itu tertawa mendengar pertanyaan Asyila.


Wanita gemuk itu, kemudian mengisap rokok miliknya dan menyembulkan asap ke wajah Asyila. Sontak saja, Asyila terbatuk-batuk ketika asap rokok masuk ke lubang hidungnya.

__ADS_1


“Uhuk... Uhuk...”


“Menarik. Bagaimana kalau hijab mu ini aku lepas?”


“Jangan!” tegas Asyila sembari menahan hijab yang menutupi setengah tubuhnya.


“Baiklah, untuk malam ini aku biarkan kamu memakainya. Tapi besok, jangan harap kamu bisa memakainya,” tegasnya dan keluar dari ruangan pengap itu. Kemudian, mengunci pintu itu dari luar.


Ya Allah tolong selamatkan kami!


Asyila mengatur napasnya dan mencoba mendekati para wanita yang terlihat sangat ketakutan.


“Sebelumnya perkenalkan, saya Asyila,” ucap Asyila memperkenalkan dirinya.


Beberapa dari mereka memperkenalkan diri mereka kepada Asyila. Dan sisanya menangis meratapi nasibnya yang sudah diujung tanduk.


“Sebenarnya tempat apa ini?” tanya Asyila.


“Aku tidak tahu ini tempat seperti apa. Akan tetapi, kita disini untuk dijual oleh madam kepada pria hidung belang,” jawab wanita muda yang ternyata sudah bersuami dan diculik sebulan yang lalu.


“Madam? Maksud mbak wanita tadi?” tanya Asyila.


“Iya, aku sudah tidak kuat lagi disini. Rasanya aku ingin secepatnya mati karena aku sudah ternodai,” jawabnya.


Dada Asyila terasa sangat sesak mendengar apa yang dikatakan oleh wanita dihadapannya. Ia pun bertekad untuk segera mengeluarkan mereka dari jeratan kotor orang-orang tak berperikemanusiaan.


“Kalian semuanya tenang saja, kita semua akan keluar dari tempat ini,” tegas Asyila.


Mereka semua langsung menoleh ke arah Asyila dan beberapa dari mereka tak mempercayai apa yang Asyila katakan.


“Jangan bermimpi, kita tidak akan bisa keluar dari sini,” celetuk wanita yang usianya mungkin sekitar 30 tahunan.


Asyila beralih ke arah wanita itu, dan mencoba mendekatinya.


“Kita belum mencobanya, bagaimana bisa Mbak berpikir kita tidak akan keluar?” tanya Asyila, “Saya memiliki kemampuan beladiri untuk bisa keluar dari sini. Akan tetapi, yang lebih saya butuhkan adalah kekompakan kita bersama,” imbuh Asyila.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya wanita itu penasaran.


“Dengan mengandalkan kekuatan kita bersama, kita bisa keluar dari sini dan memenjarakan mereka,” balas Asyila.


Wanita itu terdiam sambil berpikir mengenai ucapan Asyila.


“Baiklah, mari kita lakukan bersama-sama!”


Asyila tersenyum lega dan mencoba mengambil ponsel miliknya. Akan tetapi, tas ransel miliknya tidak ada. Itu artinya, mereka telah membawa tas ransel Asyila.


Tak ingin membuat mereka kecewa, Asyila berpikir keras untuk bisa keluar dari tempat kotor itu.


Abraham 💖 Asyila

__ADS_1


Mohon like 💖 komen 👇


__ADS_2