
Abraham akhirnya tiba di perusahaannya setelah sekian lama tak menginjakkan kakinya di tempat itu.
Para karyawan yang melihat Bos mereka datang, cepat-cepat mencari kesibukan mereka agar Abraham mengira mereka adalah bawahan yang rajin.
“Selamat pagi, Pak Abraham!” sapa mereka dengan senyum yang tak pernah pudar di wajah mereka.
Abraham tersenyum tipis dan bergegas masuk ke dalam ruangannya.
“Abraham, akhirnya kau datang juga,” ucap Yogi yang terlihat sangat lega karena sahabatnya akhirnya kembali menangani pekerjaan di perusahaan.
Ketika Abraham baru saja mendaratkan bokongnya di kursi singgasananya, tiba-tiba ketukan pintu berbunyi.
“Tok... Tok...”
“Siapa?” tanya Yogi penasaran.
“Saya, Pak Yogi. Susi dari bagian pelayanan bawah,” jawabnya.
Yogi menoleh terlebih dahulu ke arah Abraham dan Abraham memberikan anggukkan kecil pada Yogi, tanda bahwa ia mempersilakan wanita bernama Susi untuk masuk ke ruangannya.
“Masuk!” perintah Yogi.
Susi masuk dengan air mata yang mengalir deras, entah bagaimana ceritanya, wanita itu menangis histeris di depan Yogi dan Abraham.
Membuat, kedua pria itu terkejut dengan apa yang dilihat oleh mereka berdua.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Abraham.
“Pak Abraham, maafkan saya atas kedatangan saya yang seperti ini, kedatangan saya kesini adalah untuk meminta keadilan,” terang Susi yang penuh dengan derai air mata.
“kamu sebaiknya duduk dulu dengan tenang dan ceritakan yang menurutmu pantas untuk kamu ceritakan kepada kami,” balas Abraham.
“Suami saya selingkuh dengan wanita dibagian pemasaran dan yang lebih membuat saya sakit hati, wanita yang menjadi selingkuhannya sekarang tengah mengandung,” terang Susi.
Yogi terkesiap dengan wajah yang sangat marah setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Susi.
“Tahan,” ucap Abraham kepada Yogi yang mulai terpancing emosi.
Yogi mengelus-elus dadanya dan kembali mendaratkan bokongnya di sofa.
“Kamu yakin bahwa wanita itu adalah selingkuhan suamimu? Bagaimana, kalau kamu salah mengira?” tanya Abraham.
“Saya sangat yakin, Pak Abraham. Wanita itu, 3 hari yang lalu mendatangi saya dan memberitahukan saya bahwa dia tengah hamil. Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah wanita penggoda itu memberikan beberapa bukti berupa foto dan memperlihatkan isi pesan singkatnya bersama suami saya, akhirnya saya percaya dan saya ingin Pak Abraham memecat wanita itu. Saya mohon, Pak Abraham. Apakah Bapak ingin citra perusahaan ini hancur gara-gara wanita itu?” tanya Susi yang terlihat begitu emosi ketika membahas wanita yang dimaksudkan oleh Susi.
“Siapa namanya dan bagian mana dia?” tanya Abraham penasaran.
“Anggraini, bagian pemasaran dan suami saya Calvin juga bagian pemasaran sama seperti wanita penggoda itu,” terang Susi.
“Kalau begitu, tunggu sebentar,” ucap Abraham dan mulai memeriksa informasi mengenai bawahannya lewat data-data karyawan di laptop miliknya.
Kurang dari 5 menit, Abraham pun berhasil mengantongi identitas wanita dan pria yang dimaksudkan oleh Susi.
“Panggil Anggraini dan Calvin untuk datang ke ruangan saya sekarang juga!” perintah Abraham dan meletakkan kembali telepon kantor yang biasa ia gunakan untuk memanggil bawahannya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Anggraini dan Calvin datang menghadap Abraham yang memerintahkan mereka untuk datang ke ruangan Bos mereka.
“Apakah benar saya berhadapan dengan Saudara Calvin dan Saudari Anggraini?” tanya Abraham dengan ekspresi datar.
“Benar, Pak,” jawab keduanya yang terlihat tegang berhadapan dengan Abraham.
Calvin melirik sekilas ke arah Susi dengan tatapan tak suka.
Sementara Anggraini, mendelik tajam ke arah Susi yang menurutnya sangat menyebalkan.
“Kalian tahu kenapa saya memanggil kalian berdua kemari?” tanya Abraham yang lagi-lagi memasang wajah datar tanpa ekspresi sama sekali.
“Tidak, Pak,” jawab keduanya secara kompak.
“Saudara Calvin, apakah anda mengenal wanita yang duduk itu?” tanya Abraham dan seketika itu juga keduanya menoleh ke arah Susi.
“Iya, Pak. Dia adalah istri saya,” jawab Calvin.
“Kalau begitu, saya ingin melihat kamu memeluk istrimu!” pinta Abraham.
Calvin tak langsung menuruti permintaan Abraham. Akan tetapi, Calvin menoleh terlebih dulu ke arah Anggraini seakan-akan tengah meminta persetujuan dari Anggraini.
Anggraini memberikan tatapan tak setuju dan di detik berikutnya ia memberikan isyarat mata agar Calvin memeluk istrinya.
Abraham dan Yogi bisa melihat jelas bagaimana hubungan antara mereka bertiga.
“Stop!” perintah Abraham ketika Calvin ingin memeluk Susi.
Calvin seketika itu menoleh ke arah Abraham dengan tatapan terheran-heran.
“Tentu saja sangat cocok, Pak Abraham. Selain cantik, Anggraini punya tubuh yang bagus. Saya yakin, penjualan kita akan laku keras ketika Anggraini yang menjadi model iklan perusahaan kita,” ucap Calvin dengan mata berbinar-binar ketika menjelaskan tentang Anggraini di depan Abraham.
Anggraini tersenyum bangga mendengar Calvin memujinya dan melirik ke arah Susi dengan tatapan penuh kemenangan.
Susi hanya bisa diam sambil terus menahan tangisannya.
“Baiklah, untuk itu saya telah memutuskan untuk...”
Belum sempat Abraham mengatakan kalimat selanjutnya, Anggraini sudah lebih dulu bersorak kegirangan. Ia melompat-lompat dan dengan cepat Calvin memegangi tangan Anggraini.
“Alhamdulillah, terima kasih, Pak Abraham. Sekali lagi terima kasih.
Saya akan berusaha keras untuk menjadi model iklan perusahaan ini dengan sangat sempurna,” ucap Anggraini dan kembali melirik ke arah Susi dengan penuh kesombongan.
“Tunggu, siapa yang bilang bahwa kamu akan menjadi model iklan perusahaan ini?” tanya Abraham.
Yogi yang mendengar ucapan Abraham tak bisa menahan tawanya, ia tertawa dan membuat keduanya kebingungan.
“Maksud Pak Abraham?” tanya keduanya yang terlihat begitu kompak.
“Saya hanya bertanya dan bukannya memutuskan bahwa Saudari Anggraini yang menjadi model iklan perusahaan kita,” jelas Abraham.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh pertanyaan. Akan tetapi, mereka memilih untuk mengurungkan niat mereka dan memilih diam.
__ADS_1
“Saat ini juga, kalian berdua saya pecat dan besok terakhir bagi kalian untuk mengumpulkan surat resign,” tegas Abraham.
“Salah saya apa, Pak Abraham?” tanya Calvin yang tak terima dengan keputusan Abraham memecat dirinya.
“Kenapa saya dipecat, Pak Abraham. Selama ini saya sudah berdedikasi tinggi bekerja di perusahaan Bapak,” tutur Calvin yang sangat terkejut dengan keputusan Abraham.
“Kali ini saya sudah sangat yakin dan sangat tepat untuk memecat kalian. Kalian benar-benar pasangan yang tidak tahu diri,” balas Abraham yang tak habis pikir dengan pemikiran Calvin dan juga Anggraini yang sama sekali tidak mengakui kesalahan mereka.
Anggraini kesal dan tiba-tiba mendorong tubuh Susi hingga jatuh ke lantai.
Disaat itu juga, Calvin hanya memperhatikan selingkuhannya daripada istrinya sendiri.
“Usir mereka!” perintah Abraham dan tak butuh waktu lama, dua satpam datang menjemput Calvin dan Anggraini untuk mengeluarkan mereka dari ruangan Abraham.
Susi hanya bisa menangis, suaminya benar-benar sudah tak menganggapnya sebagai seorang istri lagi.
Tak butuh waktu lama, semua orang yang bekerja di perusahaan mengetahui kabar perselingkuhan Calvin dan Anggraini. Kebanyakan dari mereka sangat kecewa dengan pasangan selingkuh itu dan merasa kasihan kepada Susi karena harus mengalami hal menyakitkan seperti itu.
“Mereka berdua sangat tidak tahu diri, seharusnya mereka berdua berpikir jernih dengan apa yang mereka lakukan,” ucap salah satu wanita yang merasa jijik dengan keduanya.
Keduanya dengan kesal melangkah meninggalkan perusahaan dan sebelum meninggalkan perusahaan itu, Calvin mengatakan hal yang sangat menyakitkan kepada Susi.
“Mulai saat ini, kita bukan lagi suami istri. Akan aku antar surat cerai ke rumah orang tuamu,” tegas Calvin.
“Mas, apa kamu serius dengan ucapan kamu?” tanya Susi yang sangat terpukul dengan apa yang dikatakan oleh pria yang sangat dicintainya. Meskipun, pria itu telah berselingkuh dan menghamili wanita lain.
“Gara-gara kamu aku dan Anggraini dipecat dari perusahaan ini!” teriak Calvin didepan semua orang yang menyaksikan adegan menyayat hati tersebut.
Abraham yang tengah melintas dan mendengar teriakkan Calvin kepada Susi, seketika itu mendekat dan menampar wajah Calvin di depan para bawahannya.
“Sebagai pria, saya sangat jijik dengan apa yang kamu katakan. Kamu benar-benar tidak pantas menjadi seorang suami, bagaimana bisa kamu mengatakan kalimat tersebut di depan orang banyak?” tanya Abraham dengan begitu marah.
Calvin tertunduk malu dan sangat malu ketika Abraham menampar pipinya.
“Secepatnya enyah dari sini! Saya tidak ingin melihat kalian berdua di perusahaan ini!” perintah Abraham.
Keduanya pergi dan mendapatkan sorakan hina dari para karyawan karena sangat jijik dengan pasangan selingkuh itu.
“Semuanya diam dan kembali ke tugas kalian masing-masing!” perintah Abraham.
“Baik, Pak Abraham!” seru mereka.
“Oya, kedepannya saya tidak ingin kalian bekerja malas-malasan di perusahaan saya. Jika saya sampai tahu, saya tidak segan-segan memecat kalian,” tegas Abraham.
“Baik, Pak Abraham,” jawab mereka dan pergi mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Kini, hanya ada Abraham, Susi dan Yogi yang masih berdiri di dekat pintu keluar.
“Sudah, jangan kamu tangisan pria seperti itu. Dia telah mengatakan apa yang menurutnya tepat. Kamu adalah wanita yang kuat, sebenarnya bukan urusan saya mencampuri hubungan rumah tangga kalian. Akan tetapi, pria seperti dia tidak pantas mendapatkan istri sebaik kamu. Ini ada uang sedikit, ambillah dan gunakan dengan bijak. Sekarang, pergilah dan ceritakan permasalahan ini dengan orangtuamu. Insya Allah, mereka mengerti dengan apa yang telah terjadi kepada kalian,” terang Abraham.
Susi mengiyakan dan berterima kasih kepada Abraham atas kebaikannya. Kemudian, ia bergegas pulang ke rumah untuk menceritakan apa yang telah terjadi dan bersiap untuk bercerai dengan suami.
Abraham kembali masuk ke dalam ruangannya dan terlihat jelas bahwa ia kesal dengan apa yang terjadi di kantornya.
__ADS_1
“Ternyata masih ada pria brengs#k seperti Calvin,” ucap Abraham dengan sangat geram.
“Rasanya aku ingin membunuhnya seketika itu juga,” ucap Yogi sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat dan membayangkan bagaimana ia menghajar Calvin.