
Beberapa bulan kemudian.
Dyah merasa akhir-akhir ini tubuhnya menjadi cepat lemas, kadangkala ia merengek seperti anak kecil karena sulit berjalan padahal jaraknya berdiri dengan tujuannya tidak sampai 10 meter.
“Mas, temani Dyah ke kamar mandi. Dyah ingin pipis,” ucap Dyah seperti anak kecil.
Dya mencoba membangunkan suaminya yang masih tertidur dengan cara menggoyangkan tubuh suaminya. Bukannya bangun, Fahmi malah mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi dirinya.
“Mas Fahmi, ayo dong bangun. Temani Dyah pipis, udah kebelet nih. Kalau Dyah mengompol di kasur bagaimana?” tanya Dyah.
Dyah berusaha membangunkan suaminya yang tidur dengan sangat nyenyak. Akan tetapi, usahanya sia-sia saja karena sang suami sama sekali tak bangun.
Dyah menggigit bibirnya sendiri dan batas kesabarannya pun sudah habis. Cara terakhir dan paling manjur akan ia keluarkan dan tak peduli bila saat itu sudah tengah malam.
“Mas Fahmi!” teriak Dyah sekencang mungkin.
Seketika itu juga Fahmi terkesiap dan jatuh dari tempat tidurnya dengan cukup keras.
Fahmi tak menghiraukan sakit ditubuhnya, ia mendekati istrinya dan segera memeluk istrinya dengan tubuh gemetar.
“Mas Fahmi jahat, Dyah dari tadi berusaha membangunkan Mas Fahmi dan bukannya bangun Mas Fahmi malah membelakangi Dyah,” terang Dyah sambil memukul dada suaminya berulang kali.
Dyah menangis dan dengan penuh perhatian, Fahmi meminta maaf atas keteledorannya.
“Sekarang Dyah mau apa?” tanya Fahmi.
“Dyah mau pipis, Abang,” jawab Dyah.
“Ayo Mas bantu Dyah ke kamar mandi.”
Fahmi menurunkan kaki istrinya dengan hati-hati dan merangkul pinggang istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
“Hati-hati, pegang tangan Mas Fahmi yang kencang,” tutur Fahmi ketika baru saja melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah cukup lama, Dyah pun merasa sangat lega dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada suaminya karena telah mengantarkan buang air kecil.
Ketika Dyah baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, perutnya tiba-tiba sakit dan seketika itu juga Dyah menjerit kesakitan.
“Aaakkkhh.. Mas, perut Dyah sakit sekali,” ucap Dyah tak kuasa menangis sakit yang tengah dialaminya.
Dyah lagi menjerit dan membuat Fahmi sangat panik.
“Mas, sepertinya Dyah mau melahirkan. Mas tolong bantu Dyah!” teriak Dyah sambil merem*s kencang lengan suaminya.
Keringat dingin mulai bercucuran di area kening Dyah dan dibarengi oleh teriakkan yang menyakitkan.
Fahmi yang panik berusaha menghubungi Ema untuk meminta bantuan Ema yang jaraknya rumah mereka tidak terlalu jauh.
“Assalamu’alaikum, saya Fahmi suami Dyah,” ucap Fahmi yang sangat panik bukan kepalang.
Disaat yang bersamaan, Ema yang baru saja mendapat telepon dari suami Dyah, cepat-cepat mengganti pakaiannya dan menyambar hijab yang sangat tak cocok dengan pakaian yang ia kenakan.
“Adik mau kemana?” tanya Yogi yang tiba-tiba terbangun karena suara berisik yang ditimbulkan oleh istrinya.
“Abang cepat bangun, Dyah malam ini mau melahirkan!” teriak Ema yang begitu panik mengetahui bahwa Dyah akan melahirkan bayi mungilnya ke dunia.
Yogi yang masih menganut seketika itu tersandar dan dengan cepat ia berlari keluar rumah untuk memberitahukan tetangga disebelahnya, yaitu Abraham.
Yang tak lain dan tak bukan adalah Paman dari Dyah.
“Astaghfirullahaladzim, kenapa bagaimana bisa Abang keluar rumah dengan keadaan seperti itu,” ucap Ema dan berusaha mengejar suaminya.
__ADS_1
Yogi mengetuk pintu sahabatnya berulang dengan cukup keras. Tidak hanya mengetuk pintu dengan cukup keras, Yogi bahkan berteriak memanggil Abraham.
Abraham yang belum tertidur, seketika itu berlari untuk membukakan pintu.
Ketika Abraham baru saja membuka pintu, Abraham terkejut dan menarik tubuh sahabatnya masuk ke dalam rumah. Kemudian, menutup pintu itu rapat-rapat.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Dan lihatlah keadaanmu sekarang, hanya menggunakan ****** ***** berlari keluar rumah. Sungguh memalukan,” ucap Abraham yang malu sendiri karena ulah sahabatnya.
“Astaghfirullahaladzim!” teriak Yogi ketika menyadari bahwa ia hanya mengenakan ****** ***** seperti tuyul.
Ema menyusul untuk memberikan pakaian dan juga celana untuk suaminya.
“Abang!” panggil Ema.
Yogi benar-benar malu dan sampai lupa tujuannya untuk menemui Abraham.
“Cepat kau bersembunyi!” pinta Yogi kepada Abraham agar Ema tak bertambah malu dengan apa yang telah terjadi.
Abraham mengerti dan berlari menuju dapur untuk bersembunyi.
Setelah Abraham menjauh, barulah Yogi membuka pintu untuk istrinya.
“Abang ini apa-apaan sih? Lihat keluar rumah hanya mengenakan ****** *****, untung saja masih mengenakannya. Coba kalau tidak? Ini cepat kenakan!”
Yogi dengan wajah malu mengenakan pakaian dan celananya di depan sang istri.
Setelah Yogi selesai mengenakan pakaian lengkapnya, Abraham muncul dengan memasang wajah polos yang tak tahu apa-apa.
“Pak Abraham, ayo ke rumah Fahmi dan Dyah!” ajak Ema dengan wajah paniknya.
Yogi menampar wajahnya sendiri, ia benar-benar lupa dengan alasannya datang menemui sahabatnya.
“Kau kenapa lagi, Yogi?” tanya Abraham terheran-heran dengan sikap sahabatnya itu.
Abraham dengan gesit melepaskan tangan sahabatnya dan kembali masuk ke dalam rumah. Karena ada beberapa barang penting yang harus ia bawa, seperti dompet, ponsel dan juga kunci rumah.
Setelah rumahnya dirasa aman, barulah Abraham berlari ke arah rumah keponakannya.
Ketika Ema ingin ikut berlari, suara tangisan Kahfi terdengar dan menyadarkan Ema seketika itu juga.
“Ya Allah, aku hampir saja mengunci Anakku sendiri di dalam rumah,” ucap Ema yang benar-benar lupa bahwa didalam rumah itu tidak hanya ada dirinya dan sang suami tercinta.
Ema cepat-cepat membuka pintu rumah dan membawa keluar Kahfi saat itu juga.
Kahfi yang masih saja menangis tak dihiraukan oleh Ema. Pikiran Ema saat itu adalah segera sampai untuk menemani Dyah yang kesakitan karena ingin melahirkan.
Sesampainya di rumah Dyah dan Fahmi, Dyah sudah berada di dalam mobil untuk segera pergi ke rumah sakit.
“Fahmi, sebaiknya kamu duduk di belakang. Biar Paman saja yang menyetir,” ucap Abraham yang akan sangat berbahaya jika Fahmi mengemudikan mobil dalam kondisi panik.
Fahmi menuruti ucapan Pamannya dan segera pindah ke kursi belakang menemani istrinya yang terus berteriak merasakan sakit.
“Ayo Ema, kamu juga duduk di samping Dyah,” tutur Abraham dan tanpa pikir panjang lagi, Ema masuk ke dalam mobil bersebelahan dengan Dyah.
Yogi masuk dengan memangku Kahfi yang ini sudah tak menangis lagi.
Mobil pun melaju meninggalkan perumahan Absyil menuju rumah sakit.
“Mas Fahmi, perut Dyah rasanya sakit sekali. Apakah perut Dyah akan robek seperti di film-film horor?” tanya Dyah yang sudah panik duluan.
“Dyah kenapa malah berpikiran seperti itu, tentu saja tidak. Sekarang Dyah banyak berdo'a memohon keselamatan sama Allah!”
__ADS_1
“Mas, tolong bersholawat!” pinta Dyah.
Fahmi pun mulai bersholawat diikuti pula oleh Abraham, Yogi dan juga Ema.
Tak butuh waktu lama, merekapun sampai di rumah sakit.
“Suster, tolong bantu kami. Keponakan saya akan melahirkan!” panggil Abraham sambil melambaikan tangannya agar tenaga medis segera datang untuk membawa Dyah masuk ke ruang bersalin.
Para suster pun berlari secepat mungkin dan malah salah mengangkat pasien. Bukannya mengangkat Dyah, para perawat malah mengangkat tubuh Ema.
“Bagaimana kalian ini? Yang mau melahirkan Dyah, kok malah saya yang diangkat?” tanya Ema yang tak habis pikir dengan para perawat.
Para perawat hanya bisa menahan tawa mereka karena salah mengangkat pasien yang ingin bersalin.
“Nah, ini baru benar,” ucap Ema ketika Dyah dibawa oleh mereka masuk ke dalam ruangan bersalin.
Yogi tak habis pikir dengan perubahan istrinya yang semakin hari semakin cerewet dan juga galak.
“Abang kenapa melihat adik dengan pandangan seperti itu?” tanya Ema dan memasang wajah cemberutnya.
“Tidak ada apa-apa, hanya saja semakin hari adik semakin cantik saja,” balas Yogi.
Abraham dan Fahmi duduk bersebelahan dengan wajah yang sangat tegang.
“Paman, saya merasa sangat tegang,” ucap Fahmi yang terlihat pucat.
“Tidak hanya kamu saja, Paman pun merasa sangat tegang karena sebentar lagi Paman akan menjadi seorang Kakek,” terang Abraham.
Ema mengernyitkan keningnya ketika merasakan ada sesuatu yang kurang. Ia pun berusaha memikirkan apa yang kurang dan ternyata....
“Abang, Kahfi mana?” tanya Ema karena buah hatinya tak berada bersama mereka.
“Astaghfirullahaladzim, sepertinya tertinggal di dalam mobil,” ucap Yogi dan berlari menuju area parkir.
Yogi berlari begitu saja, sementara kunci motor berada pada Abraham.
“Mau kemana Yogi?” tanya Abraham pada Ema.
“Mau mengambil Kahfi, Pak Abraham. Kahfi rupanya tertinggal di dalam mobil,” terang Ema.
“Lalu, bagaimana caranya Yogi mengambil Kahfi?” tanya Abraham dengan serius.
“Pak Abraham ini malah ngajak bergurau. Ya tentu saja tinggal buka pintunya dan keluarkan Kahfi. Kemudian, menutup pintunya kembali dan selesai,” jawab Ema panjang lebar.
“Lah ini kuncinya bagaimana?” tanya Abraham mengeluarkan kunci mobil di saku celana dan memperlihatkannya kepada Ema.
Mata Ema terbelalak lebar dan segera menyambar kunci yang berada di tangan Abraham.
Lalu, Ema berlari secepat mungkin ke area parkir.
Sesampainya di sana, Ema melihat suaminya tengah berdiri di dekat jendela mobil sambil menemani putra kecil mereka yang tengah menangis di dalam mobil.
“Ya Allah, Abang,” ucap Ema sambil membuka pintu mobil dan secepat mungkin Kahfi keluar dengan tangisan tersedu-sedu.
“Maafin Abang ya, Abang benar-benar lupa dan yang Abang pikirkan tadi adalah menemani Kahfi meskipun hanya dari luar mobil,” terang Yogi merasa bersalah dan ingin mengambil alih menggendong putra kecil mereka.
Kahfi menangis dan menepis tangan Papanya yang ingin menggendongnya.
“Ka-kahfi tidak mau sama Papa!” teriak Kahfi dengan tersedan-sedan.
“Maafin Papa ya sayang, sini biar Papa yang gendong. Kasihan kalau Mama terus yang gendong,” terang Yogi agar Kahfi mau mengerti maksudnya.
__ADS_1
Kahfi mengangguk kecil dan akhirnya Yogi bisa bernapas lega karena Kahfi mau digendong olehnya.