Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Asyila Menyelamatkan Abraham Dan Edi


__ADS_3

Asyila bisa bernapas lega mendengar perkataan Akbar, ia pun masuk ke dalam kamar dan bergegas untuk pergi ke lokasi tempat Suaminya berada.


Jika suaminya dalam keadaan baik, Asyila akan langsung pulang. Akan tetapi, bila sebaliknya, Asyila akan menyelamatkan suaminya tersebut.


Asyila keluar dari kamarnya sembari menggendong tas ransel miliknya dan memutuskan untuk tidak mengganti pakaian serba hitamnya di rumah. Takutnya, identitasnya sebagai wanita bercadar diketahui oleh orangtuanya dan juga Akbar.


“Sudah mau berangkat, Asyila?” tanya Arumi.


“Iya, Ibu. Asyila berangkat dulu ya Ayah, Ibu! Tidak perlu mengantarkan Asyila sampai keluar, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati ya sayang,” balas Arumi dan juga Herwan.


Akbar mencium punggung tangan Bundanya dan melambaikan tangan ke arah Bundanya yang perlahan meninggalkan ruang keluarga.


Arumi dan Herwan sama sekali tak menaruh curiga dengan Asyila. Apa yang dilakukan Asyila, mereka selalu mempercayakannya kepada putri tunggal kesayangan mereka.


Asyila berjalan menuju garasi dan bergegas mengendarai motor tersebut. Saat itu, Eko sedang tidak ada di Perumahan Absyil dan membuat segala urusan Asyila lebih mudah bila tak ada Eko.


Sekarang aku harus pergi secepat mungkin dan sampai di tempat itu. Bagaimanapun, aku harus segera memastikan apakah Mas Abraham baik-baik saja atau tidak.


Wanita itu mulai menyalakan mesin motor dan perlahan meninggalkan Perumahan Absyil untuk segera menuju ke lokasi Abraham saat ini.


Disaat yang bersamaan, mereka kembali menertawakan ketidakberdayaan Edi dan juga Abraham yang sudah tidak bisa melakukan apapun.


Edi bahkan, sudah menyerah dan berpikir bahwa malam itu ada malam terakhirnya di dunia.


“Melihat mereka yang seperti ini, sebaiknya kita tinggalkan mereka dulu. Barangkali mereka berdua ingin berbicara sejenak,” tutur Pria berkalung rantai yang ingin membiarkan ke-duanya berbincang-bincang sejenak, sebelum akhirnya mereka meninggal dunia ini selamanya.


Satu-persatu mereka pergi keluar dari ruangan pengap tersebut, meninggalkan Abraham dan Edi yang terbaring lemas tak berdaya di lantai.


Para penjahat tersebut, sengaja tak mengikat atau memasung Abraham dan Edi seperti sebelumnya. Karena mereka tahu, bahwa kedua pria itu sudah tak bisa lagi lari kemana-mana. Untuk beranjak saja, mereka sudah tak mampu dan mungkin hanya tinggal menunggu malaikat mau mendatangi mereka. Kemudian, mengambilnya nyawa mereka secara bergantian.


Edi berusaha menoleh ke arah Abraham, air mata Edi terus saja mengalir. Hanya itu yang bisa ia lakukan, untuk membuka mulutnya saja dia sudah tak sanggup lagi.


“Ya Allah, aku me-memohon pertolongan Engkau, Ya Allah,” tutur Abraham dengan suara yang sangat lirih dan mungkin hanya bisa di dengar oleh nya saja.


Edi memejamkan matanya dan ia pun akhirnya tak sadarkan diri. Mungkin itu lebih baik, daripada Edi dalam keadaan sadar dan merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya.


Abraham tersenyum tipis sembari mengingat-ingat kebahagiannya bersama istri dan juga para buah hati mereka yang lucu-lucu serta menggemaskan.


Mungkin dengan membayangkan kebahagiaan bersama dengan keluarga kecilnya, sakit di seluruh tubuh Abraham sedikit berkurang.


Pria berkalung rantai, sedang duduk di luar sembari menyesap kopi hitam kesukaannya.


“Hahaha... Hahaha... Kali ini, kita berhasil dan mereka tidak akan lagi mengacaukan rencana kita. Aku sudah tidak tahan lagi dengan mereka, setiap apa yang kita lakukan selalu di hancurkan. Terlebih lagi, ketika Adikku ditangkap oleh mereka dan sampai sekarang masih mendekam di penjara,” tuturnya yang sangat dendam dengan Abraham serta yang lain karena selalu mengagalkan aksi mereka dan juga telah mengirim adik kesayangannya ke dalam penjara 2 tahun yang lalu perihal masalah narkoba.


“Bos, apakah mereka akan mati malam ini?” tanya salah satu dari mereka.


“Haha.. haha.. haha... Kalaupun mereka berdua mati malam ini juga tidak apa-apa, setelah mereka benar-benar telah mati. Kirim mayat mereka ke depan rumah mereka masing-masing, biarkan keluarga mereka menangis darah dan ketakutan melihat pria lemah seperti mereka mati mengenaskan,” terangnya dan kembali tertawa terbahak-bahak.


***


Asyila terus mengendarai motor tersebut dalam kecepatan yang cukup tinggi. Akan tetapi, Asyila mendadak menghentikan laju motornya ketika melihat sebuah gang kecil dan Asyila maju mundur untuk melewatinya, dikarenakan terdapat jembatan kecil yang gelap.


Asyila mengatur napasnya terlebih dahulu sembari mengumpulkan keberanian untuk melewati jembatan kecil tersebut.


Mesin motor kembali dinyalakan dan dengan perlahan Asyila melewati jembatan gantung tersebut yang dibawahnya terdapat sungai yang cukup luas dan juga deras.


Ia berusaha untuk melewati sungai tersebut dengan kondisi tubuh gemetar cukup hebat. Bila melihat air yang banyak seperti itu, Asyila teringat akan laut lepas yang dulu hampir membunuhnya dan juga janin yang dikandungnya, yang janin itu kini sudah menginjak umur 4 tahun lebih, siapa lagi kalau bukan Akbar Mahesa, putra kecilnya yang begitu pintar sekaligus menggemaskan.

__ADS_1


“Aakkkhhh!” Motor yang Asyila kendarai saat itu, hampir saja terpeleset dan untungnya Asyila dengan cepat menyeimbangkan posisi tubuhnya.


Kini, Asyila sudah berhasil melewati jembatan tersebut, ia harus mengganti pakaian terlebih dahulu karena posisi suaminya tidak kurang dari 50 meter.


Asyila menoleh ke arah sekitar dan ternyata ada kamar mandi umum. Tanpa pikir panjang, Asyila bergegas menuju kamar mandi umum tersebut untuk mengganti pakaiannya. Untungnya, di lokasi tersebut tidak ada orang yang menjaga.


Asyila bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam miliknya dan memasukkan pakaiannya sebelumnya ke ransel hitam miliknya.


Setelah berhasil mengganti pakaiannya, Asyila tiba-tiba merasa lapar. Akan tetapi, ia berusaha untuk menahan rasa lapar tersebut dan bergegas untuk menuju tempat suaminya berada.


Ketika baru mengendarai motor sekitar 15 meter, Asyila melihat sebuah warung dan entah kenapa Asyila tiba-tiba berhenti di depan warung makan tersebut.


“Assalamu’alaikum, Teteh,” ucap pemilik warung dengan begitu ramah.


“Wa’alaikumsalam, Ibu ada makanan? Saya pesan 1 bungkus ya!” pinta Asyila pada wanita tua yang umurnya sekitar 50 tahun ke atas.


“Sebentar ya Teteh geulis, lauknya mau apa? Teteh dari mana? Dari pengajian ya?” tanya wanita tua itu.


“Saya lauknya ayam goreng ya Ibu. Iya, kebetulan saya dari pengajian,” jawab Asyila yang terpaksa berbohong, karena wanita tua itu mengira bahwa Asyila baru saja pulang dari pengajian.


Melihat ayam goreng yang tersisa 1 potong lagi, Asyila pun kembali memesan lagi 1 bungkus nasi beserta ayam gorengnya.


“Ibu, saya pesan satu lagi ya nasi ayam gorengnya!” pinta Asyila.


Wanita tua itu mengangguk dan mulai membungkus nasi serta ayam goreng tersebut.


Asyila tersenyum dan mengambil dua botol air mineral dan setelah itu, ia memberikan selembar uang kertas berwarna merah.


“Maaf, Teteh. Ada uang kecil saja, tidak? Ibu tidak ada kembaliannya,” ujarnya sembari menyerahkan uang tersebut kepada Asyila.


“Tidak perlu dikembalikan, Ibu. Ini sudah rezeki Ibu dari Allah melalui saya, kalau begitu saya permisi dulu. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


Asyila memasukkan kresek kecil tersebut ke dalam tasnya dan melanjutkan perjalanannya. Ia akan makan, setelah memastikan bahwa suaminya baik-baik saja.


“Haaaa?” Asyila terkejut dan segera mematikan mesin motor tersebut.


Dada Asyila tiba-tiba menjadi sesak, ia melihat sebuah gudang pabrik dan di depannya banyak sekali orang-orang yang tengah mengobrol sembari tertawa terbahak-bahak.


Asyila sangat penasaran, perlahan ia berjalan mendekat untuk mendengarkan perbincangan mereka. Barangkali, mereka sedang berbincang-bincang masalah hal yang penting.


“Jam 11 nanti, kita akan kembali masuk ke dalam. Aku ingin melihat diantara mereka berdua siapa yang sudah mati terlebih dahulu, polisi itu ataukah pria sok berani itu,” ujar Pria berkalung rantai dan kembali tertawa terbahak-bahak.


Deg!!!!


Saat itu juga, Asyila menyimpulkan bahwa pria yang mereka maksud adalah Abraham dan salah satu sahabat dari suaminya.


Asyila mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meneteskan air matanya di balik cadar yang ia kenakan.


Tidak bisa, bagaimana aku harus segera menyelamatkan Mas Abraham. Ya Allah, tolonglah kami.


Asyila bergeser menjauh, sembari memantau pergerakan mereka selanjutnya. Melihat banyaknya mereka yang sekitar 15 orang, Asyila sedikit ragu. Karena jika dirinya salah sedikit saja, ia pasti tidak selamat. Terlebih lagi, badan mereka begitu besar dan otot mereka begitu kekar.


Asyila menoleh ke arah sekitar dan tiba-tiba muncul ide di otaknya ketika melihat beberapa minuman bir. Dengan hati-hati Asyila mendekat, ternyata bir tersebut masih utuh dan tutupnya memang sudah dibuka. Asyila mengeluarkan bubuk tidur yang sebelumnya ia bawa, kemudian dengan cepat ia menaruh bubuk tidur tersebut ke dalam minuman bir itu.


Setelah berhasil mencampurnya, Asyila bergeser menjauh ke arah semak-semak. Asyila berharap, tak ada kodok yang tiba-tiba muncul di dekatnya. Karena kalau itu terjadi, Asyila pasti akan berteriak ketakutan.


Ia terus mengamati dan perlahan senyum Asyila merekah ketika melihat salah satu dari mereka mengambil botol minuman tersebut dan meneguknya.


“Hai, botak! Jangan kamu minum semuanya, bagi-bagi lah dengan kami,” ujar salah satu dari mereka dan berebutan mengambil botol minuman tersebut.

__ADS_1


“Kalian kenapa harus ribut begini? Malam ini kita berpesta, ambilah minum itu dan minumlah sepuas kalian, karena malam ini adalah malam terakhir untuk mereka berdua,” ujar pria berkalung rantai tersebut.


Bagus, minumlah secepat mungkin agar efek samping dari obat itu cepat bereaksi dan aku akan segera menyelamatkan Mas Abraham dan sahabat dari Mas Abraham.


Akan tetapi, sebelum Asyila masuk ke dalam ruangan tersebut. Asyila masih harus mengurus para penjahat yang nantinya akan tertidur, jika dilihat dari banyaknya mereka, Asyila harus cepat memikirkan cara dan ia berharap ada sebuah tali atau apapun yang bisa mengikat mereka.


10 menit kemudian.


Mereka akhirnya tertidur, dosis obat tidur tersebut, cukup ampuh dan mereka tidak akan bangun selama 10 jam ke depan. Meskipun begitu, Asyila harus tetap berjaga-jaga.


Perlahan, ia mendekat dan menampar salah satu wajah dari mereka yang sama sekali tidak merespon. Asyila menghela napasnya dan tiba-tiba ide kembali muncul di otaknya.


Ia mengambil pisau yang berada di diantara para penjahat tersebut, kemudian Asyila merobek pakaian yang mereka gunakan dan mengikatnya. Setelah semuanya terikat, Asyila tidak langsung menyelamatkan suaminya. Ia lebih dulu memukuli tangan mereka secara bergantian dengan sebuah kayu yang sepertinya dikhususkan untuk memukul seseorang.


Asyila mengarahkan kayu tersebut ke arah tangan dan juga kaki mereka dengan sekuat tenaga. Itu semua Asyila lakukan, agar mereka tidak memiliki tenaga untuk melepaskan kain yang terikat di tangan serta kaki mereka.


Asyila mengatur napasnya yang sesak dan perlahan berjalan masuk ke dalam. Ia melihat seperti sebuah kamar yang tidak terkunci dan hanya tertutup saja, Asyila pun perlahan masuk ke dalam dan saat itu juga ia terkulai lemas di lantai melihat Edi serta suaminya sudah babak belur.


Wanita itu menangis di balik cadarnya tanpa mengeluarkan suara. Asyila sengaja menangis tanpa mengeluarkan suara, jika sampai suaranya terdengar, sudah pasti Sang suami mengenali dirinya.


Edi maupun Abraham tak mengetahui kedatangan Asyila. Dikarenakan, mereka berdua sudah benar-benar tak berdaya.


Asyila perlahan bangkit dengan kaki yang gemetar hebat. Ia berjalan mendekat suaminya dan berusaha mengeluarkan air minum di ranselnya dengan tangan gemetar.


Abraham perlahan membuka matanya dan samar-samar ia melihat wanita bercadar berada tepat dihadapannya. Kemudian, Abraham merasakan ada air segar yang membasahi tenggorokannya. Saat itu juga, Abraham tahu bahwa wanita bercadar datang untuk menyelamatkannya.


Asyila membantu suaminya minum air dan setelah suaminya benar-benar bisa meneguk air minum yang diberikan olehnya, Asyila sangat senang dan bergantian membantu Edi menyegarkan tenggorokannya itu.


Setelah itu, Asyila melubangi sarung tangan miliknya dan terlihatlah ujung jari telunjuknya. Kemudian, ia mengoleskan salep ke tubuh suaminya secara perlahan.


Abraham ingin sekali menolak apa yang dilakukan oleh wanita bercadar tersebut, karena yang hanya boleh menyentuhnya apalagi bagian dadanya adalah Sang istri, Asyila. Akan tetapi, Abraham tak bisa karena untuk berdiri saja ia tak sanggup.


Setelah mengolesi dada suaminya dengan salep, Asyila mengambil nasi bungkus yang sebelumnya ia beli. Kemudian, mengambil sendok miliknya yang entah kenapa sebelum berangkat ia masukkan ke dalam ranselnya.


Perlahan dengan air mata yang terus mengalir di balik cadarnya, Asyila menyuapi makanan ke dalam mulut suaminya dengan sangat hati-hati.


Usai menyuapi makanan pada suaminya, Asyila bergantian menyuapi makanan kepada Edi. Bagaimanapun, Edi juga harus diberikan makanan agar cepat memiliki tenaga.


Abraham lagi-lagi berhutang Budi kepada wanita bercadar tersebut. Abraham seperti melihat malaikat di dalam dirinya dan ingin sekali mengucapkan beribu-ribu terima kasih.


Akan tetapi, Abraham belum mampu melakukannya karena kondisinya yang sekarang benar-benar tak memungkinkan.


Ya Allah, tolong kuatlah Mas Abraham dan Pak Edi. Ya Allah, rasanya sangat sesak melihat mereka dalam kondisi yang benar-benar menyedihkan dan juga menderita.


Asyila yang telah selesai menyuapi Edi, saat itu bangkit dengan kaki gemetar hebat. Ia berjalan dan menoleh ke arah ruangan tersebut. Sampai akhirnya, Asyila melihat ponsel suaminya.


Asyila mengambil ponsel tersebut dan menyalakannya. Akan tetapi, ponsel tersebut menggunakan kata sandi. Asyila mengetahui dengan jelas kata sandi suaminya. Akan tetapi, ia tidak mungkin membuka kata sandi tersebut, dikarenakan jika sampai Asyila melakukannya, sudah pasti Abraham tahu siapa dirinya.


Ia pun menoleh ke arah sekitar dan akhirnya melihat sebuah ponsel yang tergeletak di lantai. Ia memungut ponsel tersebut dan untungnya tidak memiliki kata sandi.


Asyila melihat kontak telepon tersebut dan ternyata memang benar, itu adalah milik Edi. Asyila kemudian, mengirim pesan kepada Dayat agar segera datang ke lokasi dimana Abraham serta Edi di sekap.


Saat Asyila sibuk mengirim pesan, tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam sembari membawa sebuah kayu dan ketika pria itu ingin memukul kepala Asyila, Abraham berusaha sekuat mungkin untuk memberitahukan wanita bercadar tersebut.


“Awass!” teriak Abraham dengan sisa tenaga yang ia punya.


Asyila menoleh dan dengan cepat menghindar dari pukulan kayu tersebut. Kemudian, Asyila bergerak dengan sangat gesit, memukul bagian dada pria tersebut dan meninju kuat bagian perut pria itu, sampai akhirnya pria jahat itu jatuh ke lantai.


Karena hampir dirinya celaka, Asyila menarik rambut pria itu kuat-kuat dan meraih sebuah gunting yang tak jauh dari tangan Asyila. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Asyila memotong rambut tersebut dengan gunting, sampai akhirnya rambut pria itu botak tak beraturan karena ulah dari Asyila.

__ADS_1


Tak hanya sampai disitu, Asyila memberikan tinju mautnya ke wajah pria tersebut, sampai akhirnya pria itu pingsan tak sadarkah diri.


__ADS_2