
Sepulangnya dari rumah sakit, Abraham dan Asyila nampak sangat bahagia. Mengetahui bahwa janin yang tengah dikandung oleh Asyila begitu sehat, janin yang saat ini berusia 6 Minggu.
“Ayah! Bunda!” Arsyad dan Ashraf dengan kompak berlari mendekati orang tua mereka yang baru tiba dari rumah sakit.
“Assalamu’alaikum, kesayangan Ayah dan Bunda,” ucap Abraham dan Asyila.
“Wa’alaikumsalam,” jawab keduanya.
Arumi yang sedang menyapu lantai, bergegas keluar dari rumah ketika mendengar suara Abraham dan juga Asyila.
“Wa’alaikumsalam, bagaimana hasilnya Nak?” tanya Arumi sambil menuntun Asyila masuk ke dalam rumah.
Abraham merasa sangat diabaikan, meskipun ia tahu bahwa Ibu mertuanya penasaran dengan usia kehamilan sang istri.
“Ayo kita ngobrol-ngobrol di ruang keluarga!” ajak Arumi dengan membawa Asyila menuju ruang keluarga.
Abraham memutuskan untuk masuk ke dalam kamar bersama dengan kedua buah hatinya dan membiarkan kedua wanita itu berbincang-bincang berdua saja.
“Ayah, mana pie susu nya?” tanya Ashraf menagih janji Ayahnya yang ingin membelikannya pie susu.
Abraham tersenyum lebar dan meminta keduanya mengikutinya masuk ke dalam kamar.
“Kalian berdua duduklah disini!” perintah Abraham setelah mengelar matrasnya di lantai.
Keduanya dengan semangat duduk dan Abraham langsung memberikan pie susu tersebut kepada kedua putranya.
“Kakek kalian kemana?” tanya Abraham karena tak melihat batang hidung Ayah mertuanya.
“Kakek pergi bersama Kakek ikhsan,” jawab Arsyad yang belum juga menikmati pie susu yang dibeli oleh Abraham.
Abraham mengangguk mengerti dan meminta Arsyad untuk segera menikmati pie susu yang dibelinya.
“Kenapa diam saja? Makanlah pie susu itu!”
“Tapi, ini'kan punya Ashraf,” jawab Arsyad yang merasa tidak nyaman jika harus memakan pie susu milik adiknya.
“Ayah tidak hanya membelikan pie susu ini untuk Ashraf. Tapi, untuk Arsyad juga,” terang Abraham.
Arsyad yang mendengar keterangan Ayahnya tanpa pikir panjang langsung menikmati pie susu tersebut.
“Terima kasih, Ayah,” ucap Arsyad yang tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ayahnya.
“Iya sama-sama, Nak,” balas Abraham.
Abraham tersenyum dengan penuh kelegaan melihat kedua buah hatinya.
“Kalian duduk saja disini dan jangan sampai makanannya berceceran di lantai!” perintah Abraham.
Keduanya kompak mengiyakan dan kembali melanjutkan kegiatan mereka untuk mengunyah pie susu.
Abraham mengganti pakaiannya sembari membayangkan bagaimana bayi mungilnya yang menggemaskan itu lahir.
Nak, Ayahmu ini tak sabar ingin melihat wajahmu. Ya Allah, tolong berikan kesehatan untuk istri hamba, Asyila.
Dan lancarkan lah proses kelahirannya kelak, Aamiin.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, Asyila masuk ke dalam kamar dengan dituntun oleh Ibunya, Arumi.
“Syila kenapa Ibu?” tanya Abraham ketika melihat wajah sang istri pucat dan langsung mengambil alih merangkul sang istri.
“Mual-mual istrimu kumat lagi, sebaiknya harus banyak istirahat,” balas Arumi.
Abraham mengiyakan dan dengan hati-hati membawa sang istri ke tempat tidur.
“Syila sebaiknya beristirahat dan kalau bisa langsung tidur,” tutur Abraham sambil membelai pipi sang istri.
“Mas juga temani Asyila tidur,” balas Asyila lirih dan hanya bisa di dengar oleh Abraham.
Melihat putri kesayangannya butuh istirahat, Arumi cepat-cepat memanggil kedua cucunya untuk ikut bersamanya dan membiarkan sepasang suami istri itu di dalam kamar berdua saja.
“Arsyad dan Ashraf sini ikut Nenek!” panggil Arumi yang berdiri di tengah pintu tanpa berniat masuk ke dalam.
Arsyad mengiyakan dan menggandeng adiknya mendekati Nenek mereka.
Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan Abraham serta Asyila yang memang sangat butuh waktu berduaan.
“Mas, besok bagaimana?” tanya Asyila yang tiba-tiba menangis.
Abraham mengernyitkan keningnya dan mulai panik ketika melihat sang istri menangis.
“Syila kenapa menangis?” tanya Abraham sembari menghapus air mata sang istri yang terus mengucur deras.
“Apakah Arsyad harus kembali ke pesantren?” tanya Asyila.
Abraham akhirnya tahu alasan sang istri yang tiba-tiba menangis.
“Asyila paham maksud dari perkataan Mas Abraham. Akan tetapi, kita baru saja bertemu dengan Arsyad dan harus kembali berpisah,” keluh Asyila.
Abraham tersenyum tipis dan menciumi perut buah hatinya yang tengah berada di dalam kandungan sang istri.
“Sayang, tolong beritahu Bundamu agar tak menangis!” pinta Abraham.
Senyum perlahan mengembang sudut bibir Asyila.
“Terima kasih, Mas. Sekarang Asyila sudah tidak apa-apa,” tutur Asyila yang sudah terlihat baik-baik saja.
Abraham bernapas lega, ia tahu bahwa suasana hati yang berubah-ubah seperti itu termasuk dari hormon Ibu hamil.
Baru saja Abraham bernapas lega, sang istri kembali menangis dan seketika itu juga Abraham kembali panik.
“Cup... Cup... Kenapa menangis lagi?” tanya Abraham yang kini tengah memeluk tubuh istri kecilnya.
“Kalau Arsyad kembali ke pesantren, bagaimana dengan Ashraf?” tanya Asyila.
“Ashraf pasti sudah paham masalah Kakak nya yang kembali ke pesantren,” balas Abraham apa adanya.
Asyila terus saja meneteskan air matanya dan Abraham kembali terkejut ketika wajahnya mendapat lemparan bantal dari sang istri.
“Ada apa?” tanya Abraham yang baru saja menangkap lemparan bantal dari sang istri.
“Mas sebaiknya pergi dari sini! Asyila mau tidur dan jangan dekati Asyila,” ucap Asyila.
__ADS_1
Abraham terdiam sejenak sambil terus menatap sang istri dengan tatapan kebingungan.
“Uwek... Uwek...” Asyila tiba-tiba mual dan dengan cepat ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Abraham memanyunkan bibirnya dengan tatapan sedih.
“Yakin tidak mau ditemani sama Mas?” tanya Abraham.
“Mas jangan dekat-dekat, Mas bau,” keluh Asyila dari balik selimut.
Ini anak baru beberapa Minggu saja sudah banyak maunya, aku sebagai Ayahnya tak diberi kesempatan untuk dekat dengan Bundanya.
Apa mungkin calon bayi kami adalah jagoan lagi?
Abraham mendengus kesal karena sang istri tak ingin dekat-dekat dengan dirinya.
Asyila menurunkan selimut dan hanya memperlihatkan setengah wajahnya.
“Mas kenapa masih disitu? Cepat keluar!” perintah Asyila dan kembali menutup seluruh wajahnya.
Abraham hanya bisa mengelus-elus dadanya sendiri.
“Baiklah, Mas pergi. Kalau kangen, jangan sungkan-sungkan panggil atau temui Mas di ruang keluarga,” balas Abraham.
“Iya,” jawab Asyila singkat.
Mulut Abraham seketika itu menganga lebar mendengar jawaban singkat dari sang istri.
“Tidak biasanya Syila menjawab ucapan ku dengan sangat singkat begitu, sudah dipastikan anak ini nanti adalah anak yang sangat cuek,” ucap Abraham bermonolog dan dengan terpaksa meninggalkan sang istri yang tengah sendirian di dalam kamar.
Beberapa menit kemudian.
Asyila menghempaskan selimut yang menutup tubuhnya ke sisi lain untuk segera menemui suaminya.
“Mas Abraham jahat,” rengek Asyila.
Asyila sendiri tidak tahu dengan perasaannya yang mudah berubah. Ada kalanya ia senang ada kalanya dirinya menangis.
“Nak, jangan rewel ya di dalam perut Bunda!” pinta Asyila sambil mengelus-elus perutnya yang masih rata.
Di ruang keluarga, Abraham terlihat tengah melamun. Ketika sang istri hamil muda seperti itu, Abraham harus benar-benar sabar menghadapi sikap sang istri yang berubah-ubah tak menentu.
“Kenapa kamu duduk disini?” tanya Arumi yang melihat menantunya tengah duduk seorang diri.
“Asyila tidak ingin dekat-dekat dengan Abraham, Bu,” jawab Abraham yang terlihat seperti anak kecil yang tengah mengadu pada Ibunya.
Arumi terdiam sejenak dan beberapa detik kemudian, wanita itu tertawa kecil.
“Iya, Ibu tahu maksud Nak Abraham. Ibu minta kamu sebagai suami harus bersabar menghadapi wanita hamil seperti Asyila,” tutur Arumi.
“Ibu tenang saja, Insya Allah Abraham akan terus mendampingi Asyila sampai buah hati kami lahir. Bahkan, sampai Abraham dipanggil oleh Allah,” terang Abraham.
Arumi tersenyum lebar dan mengucap syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah mengirimkan sosok Abraham dihidup putri tunggalnya itu.
Abraham ❤️ Asyila
__ADS_1