
Abraham bangun dari tidurnya dan bergegas membersihkan diri untuk bersiap-siap melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid yang letaknya tak jauh dari rumah.
Tentu saja, Abraham berangkat ke masjid tidak seorang diri. Ia akan mengajak Ayah mertuanya serta yang lainnya. Dan menyisakan para wanita di rumah.
Asyila terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara air, ia pun dengan hati-hati turun dari ranjang untuk menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh suaminya untuk sholat subuh.
“Syila,” tutur Abraham setengah terkejut mendapati sang istri sudah bangun dan telah menyiapkan pakaian untuknya.
Asyila menoleh dan memberikan senyuman terbaiknya kepada Abraham.
“Pagi ini, Mas mau Asyila masakin apa?” tanya Asyila.
“Apapun, asal itu buatan Asyila,” jawab Abraham.
“Asyila buatkan sambal goreng saja kalau begitu,” ucap Asyila yang terlihat tak senang dengan jawaban suaminya.
“Sekalian sama ikan goreng ya!” pinta Abraham.
Senyum Asyila kembali merekah dan dengan penuh semangat ia mengiyakan permintaan suaminya yang ingin ikan goreng.
Abraham bernapas lega dan cepat-cepat mengenakan pakaian untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid.
“Sudah selesai, kalau begitu Mas akan keluar dari kamar dan mengajak yang lainnya untuk sholat berjamaah,” terang Abraham.
Abraham melenggang keluar dari kamar dan memutuskan untuk memanggil Ayah mertuanya, Yogi, Fahmi, Ashraf dan juga Kahfi.
Ketika Abraham tengah berjalan menuju kamar sahabatnya, Yogi. Abraham terkejut mendapati Yogi yang tidur di sofa dan terlihat begitu kasihan.
“Bangun, ayo sholat subuh!” ajak Abraham, “Kau kenapa tidur disini?” tanya Abraham.
Dengan mata yang masih mengantuk, Yogi pun terduduk dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Abraham.
Abraham menepuk pundak sahabatnya, “Sabar. Wanita memang seperti itu, sangat sulit ditebak. Kadang menggemaskan seperti kucing dan kadang pula menyeramkan seperti harimau,” ungkap Abraham.
“Kau memang benar sahabatku, kau sangat mengerti apa yang aku alami,” ucap Yogi dan memeluk sekilas tubuh sahabatnya.
“Abang!” teriak Ema dan kembali memasang wajah ngambeknya.
Abraham dan Yogi terkesiap mendengar teriakkan Ema.
“Abang masih normal'kan?” tanya Ema dengan tatapan membunuh.
Abraham menepuk dahinya sendiri melihat kedua pasangan suami istri itu.
Entah apa drama yang tengah dimainkan oleh keduanya.
“Cepat mandi, sudah jam segini. Kita harus sholat berjamaah di masjid!” perintah Abraham.
Yogi mengiyakan dan berlari kecil untuk segera mandi. Yogi bahkan meninggalkan istrinya begitu saja yang sepertinya masih ingin mengomel.
__ADS_1
“Paman,” ucap Fahmi yang ternyata sudah siap untuk berangkat ke masjid.
Ema memanyunkan bibirnya dan menyusul suaminya yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
“Kalian sudah siap?” tanya Herwan yang juga sudah siap untuk melaksanakan sholat subuh.
“Alhamdulillah, sudah,” jawab Abraham dan Fahmi kompak.
Beberapa saat kemudian.
Yogi keluar dari kamar bersama dua bocah. Yaitu, Arsyad dan Kahfi yang sudah rapi dengan baju Koko mereka masing-masing.
“Ayo kita berangkat!” ajak Abraham.
Merekapun bergegas berangkat menuju masjid dan tak lupa berpamitan dengan istri mereka masing-masing.
Setelah para suami pergi, para istri pun bersiap-siap untuk melaksanakan sholat berjamaah di rumah.
“Uwek... Uwek...” Asyila kembali mual-mual dan dengan cepat ia berlari masuk ke dalam kamar.
Karena tak ingin sesuatu buruk terjadi kepada buah hatinya, Arumi cepat-cepat menyusul Asyila untuk menemani Asyila masuk ke dalam kamar mandi.
“Uwek... Uwek...” Asyila terlihat begitu kesakitan. Akan tetapi, Asyila berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapan Ibunya.
“Sini Ibu bantu,” ucap Arumi menggandeng tangan Asyila.
Asyila kembali mengambil air wudhu dan dengan hati-hati melangkah keluar dari kamar mandi.
Mereka kompak bersama-sama menyibukkan diri di dapur untuk memasak sarapan keinginan suami mereka masing-masing.
Asyila tidak sepenuhnya memasak sendiri masakan keinginan suaminya, ada kalanya Sang Ibu membantu memasak. Hal tersebut, dikarenakan Asyila mengalami mual-mual ketika mencium bau bumbu masak yang menurutnya begitu memabukkan.
Makanan belum juga selesai, para suami sudah datang dan menghampiri istri mereka masing-masing.
Dari empat pasangan itu, hanya Abraham dan Asyila lah yang paling romantis.
Meskipun mereka tak berbicara dan hanya menatap, itu saja sudah membuat pasangan yang lainnya iri pada pasangan Absyil.
“Maaf ya Mas, Asyila tidak sepenuhnya memasak masakan keinginan Mas dengan tangan Asyila sendiri,” ucap Asyila.
Abraham tersenyum sembari menyentuh pipi sang istri dihadapan pasangan yang lainnya.
“Sudah tidak apa-apa, sekarang temani Mas duduk di depan saja!” ajak Abraham.
“Tapi, masakan Asyila belum selesai,” ucap Asyila.
“Sudah tidak apa-apa, kalian pergilah. Biar Ibu yang melakukannya,” sahut Arumi.
“Terima kasih, Ibu,” ucap Asyila dan mengikuti suaminya yang ingin menikmati pagi di teras depan rumah.
__ADS_1
Kedua duduk bersampingan dan terlihat jelas wajah pucat Asyila.
“Kita ke rumah sakit lagi ya!” ajak Abraham yang ingin mengetahui kondisi kesehatan sang istri.
Asyila menggelengkan kepalanya tanda penolakan.
“Tidak perlu, Mas. Dokter pasti mengatakan kalau ini adalah kondisi Ibu hamil,” jawab Asyila apa adanya.
“Sebenarnya ada yang mau Mas katakan kepada Asyila dan bisa dibilang ini sangat penting,” tutur Abraham.
“Penting? Tolong Mas jelaskan secara detail agar Asyila tidak memikirkan hal yang tidak-tidak,” pinta Asyila.
“Kurang dari seminggu, kita akan kembali ke Bandung dan otomatis kita akan kembali meninggalkan Ashraf disini bersama Ayah dan Ibu,” jawab Abraham.
Asyila terdiam sambil menggigit bibirnya sendiri.
“Dan, untuk menjaga keselamatan keluarga kita terutama Ashraf, Mas kembali menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga rumah ini. Insya Allah besok pagi para bodyguard sudah mulai bekerja,” jelas Abraham.
Asyila bernapas lega, ia yakin para bodyguard yang dipilih oleh suaminya adalah pria-pria tangguh.
“Terima kasih, Mas,” tutur Asyila dengan mata berkaca-kaca.
Keduanya terus saja berbincang-bincang, sampai akhirnya Dyah datang dan memberitahukan keduanya untuk segera sarapan karena hidangan sudah siap untuk dinikmati.
“Aunty, Paman! Ayo sarapan, yang lainnya sudah menunggu,” ajak Dyah.
Abraham dan Asyila kompak beranjak dari duduk mereka untuk segera menikmati sarapan bersama-sama.
Ketika Asyila ingin duduk di tikar, tiba-tiba ia merasa mual dan dengan sangat terpaksa ia meninggalkan ruang makan tersebut.
Melihat sang istri yang pergi dengan langkah terburu-buru, Abraham pun cepat menyusul sang istri.
“Kenapa Syila?” tanya Abraham panik.
“Mas, sepertinya Asyila tidak bisa sarapan bersama. Sebab, ada bau yang begitu menyengat dan Asyila tidak tahan dengan bau masakan itu,” terang Asyila sambil menutup hidungnya, ”Begini saja, Mas ikut sarapan bersama mereka dan Asyila akan menunggu di depan,” imbuh Asyila.
“Bagaimana mungkin Mas sarapan bersama mereka, sementara istri Mas sedang menahan mual-mual nya disini sendirian?” tanya Abraham terheran-heran.
“Ayolah, Mas. Tolong sekali ini saja turuti permintaan Asyila!” pinta Asyila memohon pada suaminya.
Abraham langsung menolak permintaan sang istri dengan tegas dan akhirnya keduanya duduk bersebelahan di kursi teras depan rumah dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
Meskipun tangan mereka saling menggenggam erat satu sama lain. Akan tetapi, tak ada obrolan yang terlontar dari mulut keduanya.
Mereka diam mematung seribu bahasa.
Di ruang makan, mereka semua menikmati sarapan dengan begitu lahap dan mengerti alasan mengapa pasangan Absyil tidak ikut sarapan dengan mereka.
“Mama, Ashraf tambah!” pinta Ashraf sambil mengarahkan piring kosong pada Ema.
__ADS_1
Ema tersenyum dan kembali mengambil nasi serta lauk untuk buah hati dari sahabatnya.
Meskipun tidak ada ikatan darah, Asyila dan Ema sudah seperti saudara kandung. Bahkan, buah hati mereka memanggil mereka dengan panggilan Mama dan Bunda.