Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Membahas Mengenai Pernikahan


__ADS_3

Bandung.


Dyah, Fahmi dan kedua orang Dyah sedang berada di ruang keluarga. Mereka berempat terlihat sangat serius karena ada suatu hal yang ingin disampaikan oleh Fahmi.


Beberapa hari terakhir, hubungan Dyah dan Fahmi semakin dekat. Mungkin bisa dikatakan lebih dekat dari biasanya dan sudah waktunya bagi mereka untuk menikah.


Sebenarnya, keluarga di Bandung belum dikabarkan oleh Abraham mengenai kehamilan istri tercintanya yang ketiga.


Justru Pak Broto lah yang lebih dulu tahu, karena Abraham sempat memberitahukan kehamilan Asyila kepada istri dari Pak Broto.


Dan menyebar luas ketika acara pernikahan anak tunggal dari Pak Broto.


“Bismillahirrahmanirrahim, hari ini Fahmi ingin membahas perihal hubungan Fahmi dengan Dyah kepada Papa dan Mama. Fahmi ingin, secepat mungkin kami membina rumah tangga. Insya Allah, Fahmi akan menjadi suami serta imam yang baik untuk Dyah,” jelas Fahmi yang sudah yakin 100% untuk menikahi Dyah.


Dyah menangis terharu, akhirnya Fahmi mengatakan hal yang selama ini dinantikan oleh Dyah. Dyah menangis di pelukan Mamanya, Yeni.


Temmy terdiam sejenak dan memeluk tubuh calon menantunya.


“Terima kasih telah memilih putri kami yang banyak kekurangannya. Jika suatu saat nanti Dyah melakukan kesalahan, tolong tegur Dyah secara baik-baik.” Temmy menangis terharu, ia sangat yakin bahwa Fahmi akan menjaga putri tunggalnya itu.


Beberapa menit kemudian.


Suasana ruang keluarga itu kembali serius dan membuat Fahmi panas dingin.


“Untuk masalah pernikahan, Nak Fahmi ingin pernikahan yang seperti apa? Apa kita menyewa gedung untuk acara pernikahan kalian?” tanya Temmy.


“Masalah acara pernikahan, Fahmi ingin meminta pendapat dari Dyah. Apapun keinginannya, Insya Allah Fahmi penuhi,” balas Fahmi yang sangat serius dengan ucapannya.


“Mas Fahmi tidak usah pusing-pusing mengenai pernikahan kita, Dyah ingin kita menikah ijab qobul saja dan tidak perlu mengadakan resepsi,” terang Dyah yang memang sejak dulu ingin menikah tanpa harus mengadakan resepsi.


Bukan karena tak mampu untuk mengadakan resepsi pernikahan, hanya saja Dyah lebih senang jika pernikahannya dihadiri oleh keluarga inti dan beberapa orang dekat. Tidak perlu wah, asal sah menurut agama dan juga hukum.


“Jangan seperti itu, Dyah. Apa kamu pikir Mas tidak mampu?” tanya Fahmi.


“Mas Fahmi jangan salah paham, Dyah memang ingin konsep pernikahan yang seperti itu. Bukankah Mas Fahmi mengatakan akan mengabulkan keinginan Dyah, apapun itu?”


Temmy dan Yeni saling tukar pandang, mereka bangga dengan pemikiran putri mereka yang ternyata sangat dewasa.


“Papa, Mama. Apakah Papa dan Mama setuju dengan apa yang diinginkan oleh Dyah?”


“Kami setuju!” seru mereka berdua.


Antara senang dan terharu, Fahmi pun mengucapkan syukur. Sebenarnya, ia sama sekali tidak keberatan dengan keinginan Dyah yang semisalnya menginginkan pernikahan mewah. Toh, uang tabungannya selama ini sangatlah cukup untuk mengadakan resepsi pernikahan dan juga masih tersisa cukup banyak untuk kedepannya.


“Jadi, kapan kalian berdua menikah?” tanya Yeni semakin penasaran.


“Dua Minggu lagi,” jawab Fahmi dan membuat yang lainnya terkejut.


“Ini namanya kebelet kawin,” celetuk Yeni.


Dyah langsung menyenggol bahu Mamanya yang sangat senang membuat Dyah merasa malu.


“Salah ya?” tanya Fahmi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Bagaimana kalau dua Minggu lagi?” tanya Yeni yang tentu saja pertanyaannya hanya untuk memancing reaksi dari putri tunggalnya itu.


“Tidak mau!” teriak Dyah dan membuat ketiganya terkejut dengan reaksi berlebihan dari Dyah.


“Mama 'kan, cuma bercanda saja. Kenapa reaksi kamu berlebihan sekali,” ucap Yeni dan semakin membuat Dyah malu.

__ADS_1


“Mas...” Dyah pun menoleh ke arah Fahmi untuk mendapatkan pembelaan dari calon suaminya.


“Mas Fahmi ikut Dyah saja, Dyah maunya kita menikah kapan?” tanya Fahmi penasaran.


“Secepat mungkin, Mas Fahmi,” jawab Dyah malu-malu.


“Kalau begitu, besok langsung ijab qobul,” celetuk Yeni dan tertawa lepas.


“Mama kok hari menyebalkan,” keluh Dyah.


Yeni seketika itu menghentikan tawanya dan menatap Dyah dengan begitu serius. Perlahan, Yeni kembali menangis tentu saja tangisan itu adalah tangisan kebahagiaan. Anak gadisnya sebentar lagi akan menikah dan kemungkinan besar, Yeni akan berpisah dengan putri tunggalnya itu.


“Mama kenapa malah menangis?” tanya Dyah yang tanpa sadar ikut menangis.


“Mama sebenarnya belum bisa melepaskan kamu, sayang. Mama sendiri sadar, dari kamu kecil sama sekarang Mama dan Papa sangat sibuk bekerja. Dan kini, Mama dan Papamu harus menerima kenyataan bahwa dalam hitungan hari kamu akan menikah. Bahagia ya sayang, maaf karena selama ini Mama dan Papa belum bisa memberikan yang terbaik buat kamu, sayang.”


“Mama.... hiks.. hiks..” Yeni dan Dyah saling berpelukan dengan tangisan yang begitu menyedihkan.


“Kalau kamu bahagia, Mama dan Papa juga bahagia sayang. Ingat pesan Mama dan Papa, ketika telah menikah seluruh jiwa dan ragamu adalah milik suamimu, sayang. Kamu tidak boleh ngambek seperti anak kecil, patuhi apa yang dikatakan dan diperintahkan suamimu kelak, ingat!”


“Iya, Ma. Terima kasih untuk semuanya Ma, Maafkan Dyah yang memiliki banyak kesalahan ini, maaf karena sering membuat Mama dan Papa kesal dengan tindakan-tindakan dyah.”


****


Fahmi pun pamit setelah membahas tentang pernikahan yang dua Minggu lagi akan dilaksanakan dikediaman orang tua Dyah.


“Hati-hati, Mas Fahmi. Kabari Dyah jika sudah sampai rumah!” pinta Dyah sambil melambaikan tangannya dan dengan memberikan senyum terbaiknya kepada calon suaminya itu.


“Iya, kamu jangan menangis lagi,” balas Fahmi yang juga tersenyum membalas senyuman manis dari calon istrinya itu.


Fahmi akhirnya benar-benar pergi dengan motornya, disaat itu juga Dyah merasa ada sesuatu yang hilang dan membuatnya ingin cepat-cepat bersatu dengan calon suaminya itu.


“Ehem... Sabar, dua Minggu lagi 'kan kalian sudah menikah,” ucap Yeni sambil senyum-senyum.


“Ya jelas dong. 'kan, Nak Fahmi calon menantu Mama dan Papa!” seru Yeni dengan penuh semangat karena memang calon suami dari putri tunggalnya tampan.


Dyah tersenyum puas dan masuk ke dalam rumah dengan penuh kebahagiaan. Ia merasa, seluruh sudut rumah itu ada bayangan calon suaminya, Fahmi.


Ya Allah, apakah ini benar?


Sebentar lagi hamba akan menyandang status sebagai istri Mas Fahmi? Ya Allah, hamba benar-benar bahagia. Terima kasih, Ya Allah.


Dyah masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Ia menyentuh dadanya yang terus saja berdetak tak karuan.


Tiba-tiba, bayangan Fahmi datang kembali dan membuat Dyah semakin salah tingkah.


“Keluarga di Jakarta secepatnya harus tahu mengenai hubunganku dan Mas Fahmi. Hhmmm.. Aku menghubungi Paman sekarang apa besok ya?” tanya Dyah yang telah bersiap-siap untuk menghubungi nomor telepon Pamannya.


Cukup lama Dyah berpikir, akhirnya Dyah mencoba menghubungi Pamannya dan ternyata, Nomor telepon Sang Paman tidak aktif.


“Tiada biasanya, Nomor telepon Paman tidak aktif. Apa Paman sedang sibuk? Tapi, Paman sekarang 'kan, sedang sakit dan rasanya sedikit aneh kalau Paman sedang sibuk. Atau mungkin, Paman sedang beristirahat?”


Dyah menghela napasnya dan meletakkan ponselnya di nakas. Kemudian, ia memejamkan matanya dan berharap calon suaminya menghubungi dirinya secepat mungkin.


Malam hari.


Abraham dan yang lainnya baru saja selesai melaksanakan sholat isya di ruang sholat, mereka dengan serius memanjatkan Do'a bersama untuk keselamatan mereka sekeluarga.


“Ya Allah, besok Ashraf mau main,” ucap Ashraf dengan begitu polosnya.

__ADS_1


Siapapun yang mendengarnya pasti akan tertawa geli. Ashraf benar-benar pintar membuat suasana tegang menjadi rileks.


“Ashraf besok memangnya mau main apa?” tanya Asyila penasaran.


“Kelereng, Bunda,” jawab Ashraf.


“Mainnya di belakang rumah, bagaimana?”


“Boleh Bunda?” tanya Ashraf.


“Tentu saja boleh sayang, asal mainnya jangan lama-lama,” jawab Asyila.


“Arsyad juga boleh, Bunda?” tanya Arsyad.


“Iya sayang. Kalau tidak boleh, siapa nanti yang akan menemani adik Ashraf bermain?” tanya Asyila balik.


Arsyad dan Ashraf tersenyum dengan penuh semangat. Meskipun tidak bisa main di depan rumah, setidaknya mereka bisa main di belakang. Walaupun, tidak boleh lama-lama.


Setelah itu, mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Arumi dan Herwan kembali ke kamar mereka, Arsyad dan Ashraf juga kembali ke kamar mereka. Sementara Abraham dan Asyila memilih untuk menonton televisi terlebih dahulu.


“Mas, besok Mas Abraham ingin dimasakin apa?” tanya Asyila.


“Apapun itu, asalkan yang memasak itu Syila,” jawab Abraham.


“Mas selalu seperti ini, dasar tukang gombal,” balas Asyila.


Abraham tertawa kecil dan menarik tubuh istri kecilnya ke atas pangkuannya.


“Mas, lepaskan Asyila. Bagaimana jika nanti ada yang melihat kita?” tanya Asyila.


“Sudah disini saja, Mas ingin Asyila duduk dipangkuan Mas,” terang Abraham.


“Tapi, Mas...”


“Sssuuutt, tidak ada yang namanya tapi. Syila takut sesuatu hal buruk terjadi pada kaki Mas, Bukan? Syila tenang saja, hanya karena Mas memangku tubuh Asyila belum tentu Mas langsung kesakitan. Ini juga termasuk bukti dari rasa cinta Mas untuk Syila,” jelas Abraham.


Asyila geleng-geleng kepala mendengar penjelasan dari suaminya. Semakin hari, suaminya semakin pintar membual.


“Dasar tukang gombal,” celetuk Asyila.


Abraham gemas dengan istrinya dan refleks mencium leher istri kecilnya. Asyila terkejut dan refleks mencubit bibir suaminya.


“Aaaww...”


“Maaf, sakit ya Mas?” tanya Asyila sambil menggigit bibir sendiri.


“Ayo ke kamar!” ajak Abraham sambil berpura-pura menguap tanda bahwa ia mengantuk.


Asyila mengangkat sebelah alisnya, ia tahu bahwa suaminya tengah berakting.


Didalam kamar, Asyila langsung merebahkan tubuh suaminya di tempat tidur dan seketika itu juga Abraham menarik tubuh istri. Asyila pun terjatuh tepat di atas tubuh suaminya itu.


“Mas, genit,” celetuk Asyila ketika sang suami menyentuh bokongnya.


Ketika Abraham ingin menjawab celetukan dari sang istri, dengan cepat Asyila menutup mulut Abraham dengan telapak tangannya.


“Mas mau bilang kalau genit dengan istri sendiri boleh dan justru mendapat pahala, 'bukan?” tanya Asyila sambil mengangkat sebelah alisnya.


Dengan santainya, Abraham mengangguk karena tangan istri kecilnya masih menutup mulutnya.

__ADS_1


“Mas, i love you,” ucap Asyila berbisik di telinga Abraham dan menjauhkan tangannya yang sebelumnya menutup mulut suaminya.


“I love you too, Syila ku,” balas Abraham.


__ADS_2