
Abraham menangis di dalam kamar sambil membayangkan bagaimana sang istri sedih karena mengetahui bahwa suami yang dicintainya menikah lagi.
Rasanya pasti sangat sakit, Abraham sama sekali tak ingin menduakan sang istri. Meskipun, sang istri sudah berada di surga sekalipun.
Beberapa jam kemudian.
Abraham keluar dari kamarnya dengan mata sembab. Kemudian, ia pamit untuk kembali ke Bandung karena ada urusan yang sangat penting.
Arumi lagi-lagi mempertanyakan keputusan Abraham untuk menikahi Salsa. Dan Abraham, meminta waktu berpikir dan akan memberitahukan keputusan beberapa hari kemudian.
Ashraf kembali menangis, ia belum sempat bermanja-manja dengan ayahnya dan ternyata ayahnya sudah akan kembali ke Bandung.
“Ayah, Ashraf mau ikut teriak Ashraf yang sangat ingin ikut pergi ke Bandung bersama Ayahnya dan sangat ingin bertemu dengan Bundanya tersayang.
Abraham menghela napasnya ketika masuk ke dalam mobil. Kemudian, meminta Eko untuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Eko tak banyak bertanya, ia pun melakukan tugasnya sesuai dengan perintah Abraham.
Malam hari.
Dyah bersama dengan Fahmi sedang bermesraan di dalam kamar sambil memperhatikan wajah putri kecil mereka yang sangat menggemaskan.
“Ya ampun, kenapa putri kita kalau sering dilihat-lihat semakin cantik. Dyah jadi iri,” ucap Dyah yang iri dengan kecantikan putri mereka.
Fahmi tertawa kecil dan mencium sekilas kening istrinya.
Ketika tengah bersantai-santai di dalam kamar, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.
Fahmi mengernyitkan keningnya karena saat itu sudah menunjukkan pukul 22.16 wib.
“Siapa orang yang bertamu malam-malam seperti ini?” tanya Fahmi terheran-heran dan memeriksa siapa yang datang.
“Tok... Tok.. tok.. tok..”
“Iya, sebentar. Lagi jalan,” sahut Fahmi dan bergegas membuka pintu.
Baru saja membuka pintu, tubuh Fahmi tiba-tiba didorong dan entah bagaimana ia pun pingsan.
Dyah merasa ada sesuatu yang aneh karena samar-samar ia mendengar suara keributan.
Ia pun meletakkan buah hatinya dan memutuskan menyusul suaminya.
“Mas Fahmi!” panggil Dyah dan bergegas menyusul suaminya.
Mata Dyah terbelalak lebar ketika melihat suaminya sudah pingsan di lantai.
__ADS_1
“Mas Fahmi, Tol....”
Ketika Dyah ingin berteriak meminta tolong, tiba-tiba sebuah tangan menutup mulutnya dan perlahan ia pun tak sadarkan diri setelah mencium obat bius yang terhirup oleh hidungnya.
Beberapa jam kemudian.
Dyah bangun dengan kepala yang sangat pusing kemudian menyadari bahwa buah hatinya sedang berada di dalam kamar seorang diri.
“Ya Allah!” teriak Dyah sambil berlari masuk ke dalam kamar.
Dyah terkejut bukan main ketika melihat buah hatinya yang tidak ada di tempat tidur.
“Mas Fahmi!” teriak Dyah dan teriakkan Dyah pun di dengar oleh tetangga sekitar.
Tak butuh waktu lama, rumah pun penuh dengan para tetangga yang ingin mengetahui alasan mengapa Dyah berteriak.
Fahmi yang masih pingsan, perlahan mulai sadar dan seketika itu ia terkejut ketika melihat para tetangganya sudah memenuhi rumahnya.
“Hiks... Hiks...” Dyah menangis dengan begitu menderita ketika mengetahui bahwa buah hatinya yang masih bayi telah diculik.
“Ini ada apa, kenapa ramai-ramai kemari? Dimana Asyila kecil?” tanya Fahmi pada Dyah yang terus saja menangis.
“Asyila kita, Mas. Asyila kita tidak ada di kamar. Asyila kita diculik,” terang Dyah.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Yogi panik.
Dyah dan Fahmi sibuk menangis. Sehingga salah satu tetangga menjawab mewakili Dyah dan juga Fahmi yang kehilangan bayi mereka yang usianya baru beberapa hari.
“Apa? Astagfirullahaladzim,” ucap Yogi dan segera menghubungi Abraham. Akan tetapi, nomor Abraham tidak aktif.
Yogi tak kehabisan akal, ia pun menghubungi nomor polisi kenalannya dan meminta para polisi untuk segera menemukan keberadaan buah hati Dyah dan juga Fahmi.
“Ya Allah, kenapa ada orang yang tega seperti itu terhadap bayi kami, kenapa?” teriak Dyah.
Karena kejadian itu benar-benar menghebohkan, Yogi pun meminta yang lainnya untuk segera bubar meninggalkan rumah tersebut.
Ema menyusul suaminya yang belum juga kembali dari rumah pasangan Dyah dan juga Fahmi.
“Assalamu’alaikum,” ucap Ema dan tak ada satupun yang menjawab salam darinya.
Ema mendekat dan terkejut melihat sepasang suami istri menangis.
“Kalian kenapa menangis? Dimana Asyila kecil?” tanya Ema penasaran.
Yogi mendekat ke arah istrinya dan memberitahukan sang istri bahwa bayi mungil itu telah diculik oleh sekelompok orang yang tak dikenal.
__ADS_1
Ema sangat syok dan hampir saja pingsan. Untungnya, ada Yogi yang sigap menahan tubuh ema yang hampir tumbang.
Keesokan paginya.
Abraham baru saja menyalakan ponselnya yang sengaja ia nonaktifkan. Hal tersebut, untuk menghindari pertanyaan dari ibu mertuanya yang sebelumnya selalu menghubungi dirinya soal keputusan pernikahan dirinya dan juga Salsa.
Abraham membuka pesannya yang menurutnya sangat penting. Kemudian, matanya terbuka lebar dengan jantung yang berdebar kencang ketika membaca isi pesan yang sungguh memilukan.
Bayi mungil yang usianya baru beberapa hari telah menghilang.
“Kurang ajar, beraninya mereka menculik Asyila ku,” teriak Abraham dengan sangat geram.
Abraham seketika itu membeli tiket untuk penerbangan menuju Bandung.
Akan tetapi, sebelum terbang, ia menghubungi sahabatnya untuk mencari keberadaan Asyila kecil secepat mungkin.
“Dasar pengecut, berani-beraninya kalian menculik bayi yang baru dilahirkan ke dunia ini. Lihat saja kalian, akan aku buat kalian menyesal seumur hidup kalian,” tegas Abraham.
Beberapa hari telah berlalu dan sampai saat itu juga Dyah maupun Fahmi belum mendapat kabar baik soal putri kecil mereka.
Hati orang tua mana yang tak sedih ketika bayi yang baru saja dilahirkan telah direnggut oleh mereka.
Apalagi, bayi itu butuh ASI yang sangat penting untuk pertumbuhannya.
“Mas, bagaimana ini? Kenapa putri kita masih belum ditemukan? Dyah takut Asyila disana tidak dalam keadaan baik-baik saja, Mas.”
Dyah tiba-tiba pingsan dan dengan cepat Abraham membawa keponakannya ke rumah sakit.
Abraham menangis ketakutan, ia sangat marah dengan keadaan yang selalu mempersulit mereka.
“Ya Allah, tolong selamatkan lah cucu hamba, Asyila.
Jangan biarkan cucu hamba bernasib sama seperti istri hamba ya Allah, tolong kasihanilah kami meskipun hanya sedikit!” teriak Abraham.
Yogi segera memeluk sahabatnya dan berusaha menenangkan sahabatnya yang tengah kalut dengan keadaan yang benar-benar membuat siapapun akan menjadi gila bila berada di posisi Abraham.
“Jangan berteriak-teriak disini, Abraham. Ayo kita naik ke gedung paling atas dan kita berteriak bersama-sama diatas sana!” ajak Yogi.
Kedua pria itu pun bersama-sama naik ke gedung paling atas untuk menumpahkan kesedihan mereka.
“Aaaaakhh... Aakhhh aakkhh!!” teriak Abraham dengan sekeras mungkin.
“Aakkhh. Akhh.. akhh. Akhh!” Yogi pun berteriak dengan air mata yang terus mengalir.
Masa bodo dengan mereka yang menganggap bahwa Abraham dan Yogi adalah pria lemah. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi kepada kedua pria itu dan ujian mana yang telah berhasil keduanya lewati selama ini.
__ADS_1