
Arumi dan Rahma beriringan menuju ruangan Asyila, akan tetapi Rahma seketika itu menghentikan langkahnya ketika Arumi memegang gagang pintu untuk bergegas masuk.
Arumi menoleh dan menatap heran gadis muda yang berdiri sedikit menjauh darinya.
“Kenapa malah diam disitu? Nak Rahma tidak ingin bertemu dengan Asyila?” tanya Arumi.
“Bu-bukan begitu, Ibu. Akan tetapi, sepertinya di dalam ada banyak orang dan Rahma malu masuk ke dalam dengan tampilan Rahma yang berantakan serta kucel begini,” terang Rahma yang memang terlihat sedikit berantakan.
“Nak, apa kami ini adalah orang seperti itu? Ayo masuk! Asyila pasti sangat senang melihat kamu datang menjenguknya,” tutur Arumi dan menggandeng tangan Rahma untuk membawa wanita itu masuk ke dalam.
Arumi dan Rahma akhirnya pun masuk ke dalam, tak lupa mereka mengucapkan salam ketika memasuki ruang rawat Asyila.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!” seru mereka.
Asyila tersenyum lebar ketika mengetahui bahwa Rahma datang menjenguk dirinya. Setelah cukup lama, ia bisa melihat wanita yang usianya tak jauh darinya.
“Mbak Rahma apa kabar?” tanya Asyila yang dengan semangat menanyakan kabar Rahma.
Rahma merasa tak enak hati, seharusnya dia lah yang bertanya mengenai kondisi Asyila dan bukan Asyila yang menanyakan kondisinya.
Bibir Rahma tak bisa digerakkan, ia benar-benar bingung dan mati gaya ketika tahu bahwa mereka menatapnya dengan begitu serius.
“Mbak Rahma bawa apa itu?” tanya Asyila penasaran sekaligus untuk memecah keheningan di dalam ruangan itu.
Rahma tersadarkan dan memberikan kotak makan yang di dalamnya ada nasi ayam bakar buatannya sendiri kepada Asyila.
Sementara kotak nasi yang lainnya, Rahma berikan kepada Arumi untuk membagikannya kepada mereka yang lain.
“Nona Asyila apa kabar? Ini untuk Nona Asyila, semoga suka,” ucap Rahma dan memberikannya kepada Asyila.
Asyila menerimanya dengan senyum yang terus mekar di bibir manisnya.
“Terima kasih, Mbak Rahma beli dimana ini?” tanya Asyila.
“Ini saya yang membuatnya. Alhamdulillah, sekarang Asyila memiliki usaha catering sendiri,” balas Rahma.
Dyah dan lainnya hanya diam sambil terus memperhatikan Asyila yang tengah berbincang-bincang dengan Rahma.
Dyah sendiri tidak tahu banyak mengenai wanita yang bernama Rahma, yang ia tahu bahwa Rahma adalah wanita yang dibawa pulang oleh Asyila.
__ADS_1
“Tante Rahma!” Arsyad berlari kecil dan memegangi tangan kiri Rahma dengan cukup erat. Terlihat jelas, bahwa Arsyad merindukan sosok wanita yang sudah dianggap seperti tantenya sendiri.
Ashraf dan Kahfi ikut mendekat, bahkan mainan mereka ditinggalkan begitu saja.
Rahma tersenyum lebar dan menyapa para bocah kecil itu.
“Bu Arumi, siapa wanita itu?” tanya Yeni penasaran karena sebelumnya tidak mengetahui sosok wanita muda itu.
Arumi tersenyum sambil memberikan nasi kotak itu kepada Yeni.
“Namanya Rahma, anak angkat Ibu,” jawab Arumi memperkenalkan Rahma sebagai putri angkatnya kepada Yeni.
Yeni tak lagi bertanya, baginya jawaban Arumi sudah lebih dari cukup.
Asyila mencicipi masakan Rahma dan setelah merasakan rasa masakan Rahma, Asyila langsung memujinya.
“Mbak, ini enak sekali. Setelah Syila pulang dari rumah sakit, Mbak Rahma mau 'kan, membuatkan nasi ayam bakar seperti ini? Asyila mau mengadakan syukuran di rumah, bagaimana?” tanya Asyila.
Rahma terdiam sejenak sambil berpikir apa yang baru saja dikatakan oleh Asyila.
“Ayolah Mbak!” Asyila berusaha membujuk Rahma agar mengiyakan keinginannya.
“Terima kasih, Mbak Rahma!” Asyila menyentuh tangan Rahma dengan begitu gembira.
Rahma mengangguk kecil sambil menoleh sekilas ke arah Arsyad dan juga Ashraf yang tengah bermain bersama Kahfi.
“Nona Asyila harus makan banyak, hitung-hitung untuk kesehatan calon bayi,” ucap Rahma.
Deg!
Asyila seketika itu langsung menoleh ke arah Rahma dan begitu juga yang lainnnya yang sangat terkejut dengan ucapan Rahma.
Dyah, Fahmi serta yang lainnya terheran-heran dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Rahma.
Rahma mengernyitkan keningnya, ia menyadari bahwa mereka semua menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. Dan itu membuat Rahma tak nyaman sama sekali.
“Terima kasih atas perhatiannya, Mbak Rahma,” ucap Asyila yang justru terlihat baik-baik.
Ketika Abraham ingin membuka mulutnya, Asyila cepat-cepat memberikan isyarat mata agar suaminya tak mengeluarkan sepatah katapun. Asyila tidak ingin Rahma menjadi sedih tentang ketidaktahuannya terhadap calon bayi Asyila yang sudah keguguran.
“Maaf semuanya, waktu sudah sangat sore dan kami memutuskan untuk segera kembali ke hotel,” ucap Temmy yang sebenarnya merasa sedikit aneh jika berlama-lama di ruang rawat Asyila.
__ADS_1
“Kenapa buru-buru pulang?” tanya Herwan.
“Masih ada hari besok, Insya Allah kami akan kemari lagi,” balas Temmy.
Karena kedua orangtuanya ingin kembali ke hotel, Dyah pun akhirnya ikut dan Fahmi juga ikut serta mengantarkan calon istrinya dan juga calon mertuanya itu sampai ke hotel.
Beberapa saat kemudian.
Ema dan Yogi pun pamit pulang, tak lupa mereka mengucapkan terima kasih atas nasi kotak ayam bakar pemberian Rahma.
Tak butuh waktu lama, ruangan itu akhirnya sepi. Hanya tersisa Asyila, Abraham, kedua buah hati mereka, kedua orang tua Asyila dan juga Rahma.
“Mbak Rahma sukses terus, Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan selalu bersama orang-orang yang bersyukur. Mau berapapun uang yang didapat, tugas kita adalah bersyukur,” terang Asyila.
Rahma terus saja mendengarkan apa yang dikatakan oleh Asyila, sedikitpun Rahma tak merasa jenuh. Justru wanita muda itu sangat senang, karena Asyila ada orang yang sangat peduli dengannya.
“Maaf semuanya, saya harus undur diri dan Insya Allah saya akan datang kemari mengunjungi Nona Asyila,” terang Rahma.
Rahma akhirnya meninggalkan ruangan itu. Setelah kepergian Rahma, Asyila terlihat sangat bahagia. Wanita muda itu bahagia karena Rahma telah memiliki kesibukan, yaitu berjualan catering. Setidaknya dengan kesibukan yang seperti itu, Rahma bisa hidup normal kembali dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
“Kesayangan Ayah dan Bunda sini!” panggil Asyila.
Keduanya kompak berlari kecil dan dengan bantuan Herwan, keduanya naik ke tempat tidur Bunda mereka.
“Bunda kapan pulang?” tanya Ashraf.
“Bunda tidak tahu saya, do'akan saja Bunda cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kalian berdua!” pinta Asyila.
Arsyad terus saja mengoceh dan itu membuat Asyila terkejut sekaligus terheran-heran. Arsyad sebenarnya bukan tipe anak yang suka banyak omong, lain halnya dengan Ashraf yang memang sangat banyak bicara apalagi dengan orang yang sudah mengenalnya dan ia pun telah mengenalinya.
Asyila tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Arsyad.
“Bunda jangan tertawa!” pinta Arsyad.
Asyila berdehem dan mengubah tampilan dengan tatapan serius.
“Bunda, Arsyad sayang Bunda selamanya,” jelas Arsyad.
Mata Asyila seketika itu berkaca-kaca, apa yang dikatakan oleh Arsyad langsung membuatnya terharu.
“Sini peluk Bunda!” pinta Asyila dan seketika itu juga Arsyad memeluk tubuh Bundanya tersayang.
__ADS_1