Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Menyelamatkan Rahma


__ADS_3

Asyila terbangun dari tidurnya dan melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ia merasa gerah dan memutuskan untuk mencari udara segar di sekitar luar rumah sakit, kebetulan malam itu Abraham tengah tertidur dan Asyila tidak ingin membangunkan suaminya.


“Mas, Asyila keluar sebentar ya,” ucap Asyila menggunakan bahasa bibir dan dengan langkah hati-hati meninggalkan ruang inap suaminya.


Asyila berjalan dengan langkah santai, ia berkali-kali menghirup udara segar di malam hari dan tiba-tiba ada kejadian yang tak terduga dari kejauhan.


Asyila samar-samar melihat seorang pria yang yang tengah menarik paksa seorang wanita.


“Ya Allah, itu kenapa?” tanya Asyila dan mencoba mengejar dua orang yang ia lihat tersebut.


Asyila mengikuti dua orang tersebut sampai akhirnya ia tidak sadar bahwa sudah berada di halaman belakang rumah sakit.


“Lepaskan wanita ini, kamu siapa?” tanya Asyila dan mencoba menarik wanita tersebut yang wajahnya terlihat babak belur bekas pukulan.


Bugh! Asyila merasakan sakit di tengkuknya dan perlahan penglihatannya gelap hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.


“Bagaimana dengan wanita ini?” tanya pria yang baru saja memukul tengkuk leher Asyila.


“Satu saja sudah sangat merepotkan apalagi dua. Tapi, kita tidak mungkin membiarkan wanita ini disini, sebaiknya kita bawa saja siapa tahu dia bisa menghasilkan uang,” ucap pria lainnya.


“Lepas, kamu kenapa sangat tega dengan aku Mas? Bayi kita baru saja meninggal dunia dan baru kemarin aku melahirkan, tolong Mas jangan siksa aku lagi!” pinta si wanita memohon kepada suaminya agar segera melepaskan dirinya.


Plak! Plak! Dua tamparan keras mendarat di pipi wanita tersebut, hingga akhirnya ia pingsan karena seluruh tubuhnya sakit disiksa oleh suaminya.


***


Asyila terbangun dan tengkuk lehernya terasa sangat sakit. Lagi-lagi ia mengalami kejadian yang terduga, yaitu bangun di tempat tak selayaknya.


Asyila semakin terkejut melihat wanita dihadapannya sudah tergeletak dan daster bagian bawahnya dipenuhi oleh darah.


“Mbak, bangun Mbak!” Asyila panik sambil menggoyangkan tubuh wanita dihadapannya dan tak butuh waktu lama wanita itu pun terbangun.


Wanita itu hanya bisa membuka matanya tapi, tak bisa bangun. Perutnya terasa sakit dan ia merasa bahwa waktunya untuk hidup di dunia tinggal sedikit.


Asyila mencoba untuk menyemangati wanita itu dan meminta wanita itu untuk tetap berpikir positif.


“Mbak, tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada saya. Insya Allah saya bisa membantu,” ucap Asyila..

__ADS_1


“Nama saya adalah Rahma, sebenarnya orang yang membawa kita kemari adalah suami saya dan Kakak ipar saya. Saya memang wanita bodoh, tidak seharusnya saya menikah dengan pria kejam seperti Mas Wahyu yang terkenal ringan tangan. Pernikahan kami baru berjalan dua tahun dan hari Rabu kemarin, saya melahirkan akan tetapi bayi kami sudah meninggal di dalam kandungan. Mbak, saya tidak meminta banyak. Akan tetapi, saya ingin suami serta kakak ipar saya masuk penjara,” ucap Rahma.


“Lalu, Kenapa Kakak ipar mbak Rahma juga terlibat?” tanya Asyila dengan air mata yang terus mengalir.


“Sebenarnya, kakak ipar saya ada pencandu narkoba dan harta peninggalan orang tua saya dihabiskan oleh Mas Toni,” jawab Rahma dan kembali tak sadarkan diri.


Asyila mencoba menggeser tubuh Rahma ke tempat yang aman, ia berharap Wahyu dan juga Toni tidak datang.


“Huh... huh...” Asyila mengatur napasnya yang terdengar sangat berat, entah kenapa perutnya cepat sekali merasa sakit dan ia berharap agar dirinya dan juga Rahma baik-baik saja.


Asyila melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati, ia takut tiba-tiba Wahyu maupun Toni datang secara mendadak dan ia belum mempersiapkan diri.


“Mas Toni, bagaimana dengan wanita itu? Rahma pokoknya harus cepat kita singkirkan dan wanita itu bagaimana?” tanya Wahyu suami dari Rahma.


“Kalau dilihat-lihat wanita tadi sangat cantik, bagaimana kalau kita....” Toni menggantungkan perkataannya dan merangkul pundak Wahyu serta menuntunnya masuk ke dalam ruangan dimana Asyila dan Rahma diletakkan.


Wahyu dan Toni sangat terkejut ketika tak menemukan dimana Asyila maupun Rahma. Mereka kompak berteriak dengan sangat marah karena keduanya menghilang.


“Sial, sepertinya mereka sudah kabur,” ucap Toni.


“Tidak, mereka berdua tidak akan pergi secepat itu. Mereka pasti masih berada disekitar sini, lagipula istrimu sedang mengalami pendarahan dan jika memungkinkan untuk berjalan, wanita itu pasti akan sangat lambat,” ucap Wahyu yang pikirannya lebih cerdik dan pintar dari adiknya, Toni.


Jantung Asyila berdetak kencang, ia pun merasakan sakit di perutnya.


“Ya Allah, kenapa hamba merasa sangat lelah. Tolong ya Allah, berikan hamba kekuatan. Mbak Rahma saat ini sangat membutuhkan pertolongan,” ucap Asyila.


Asyila tiba-tiba memiliki ide dan kedua tangannya mengambil pasir untuk melemparkan pasir tersebut ke mata mereka.


“Hei!” teriak Asyila yang sudah berdiri tepat belakang Wahyu dan juga Toni.


Mereka pun berbalik dan seketika itu juga Asyila melemparkan pasir ke wajah mereka, sehingga mengenai mata mereka. Wahyu dan Toni menjerit kesakitan dan disaat itu juga, Asyila memukul mereka dengan menggunakan kayu yang ia temui di depan pintu.


Asyila memukul mereka berkali-kali dengan menggunakan kayu, dikarenakan saat itu Asyila tidak kuat jika harus memukul menggunakan tangannya dan apalagi kakinya untuk menendang.


Asyila memukul mereka hingga mereka tak sadarkan diri, bahkan darah segar keluar dari kulit mereka.


“Kalian memang pantas mendapatkan hal seperti ini, kalian seharusnya lebih menghargai wanita. Kalian memang pria yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri,” ucap Asyila setengah berteriak.

__ADS_1


Asyila mengambil salah satu ponsel mereka dan segera menghubungi polisi, wanita muda itu tak sabar ingin melihat mereka berdua masuk ke dalam jeruji besi.


“Mbak Rahma yang tenang ya, aku sudah menghubungi polisi. Sebentar lagi mereka akan datang,” ucap Asyila sambil memangku kepala Rahma di pahanya.


Asyila menangis sambil membelai lembut rambut Rahma, ia sangat sakit melihat tubuh Rahma yang lebam dan tidak hanya di satu tempat. Melainkan, di banyak tempat.


“Ya Allah, Astaghfirullahaladzim,” ucap Asyila ketika mengangkat pakaian Rahma yang ternyata dipenuhi oleh lebam-lebam.


Asyila terus saja menangis dan kembali menurunkan pakaian Rahma. Hingga akhirnya, polisi datang dan langsung meringkus pelaku penculikan serta penganiayaan.


“Ya ampun, ini anda Nona Asyila!” Ternyata salah satu dari polisi tersebut mengenali Asyila.


“Iya Pak, ini saya istri Mas Abraham. Tolong tangkap mereka, mereka ada manusia keji yang tega menyiksa wanita. Pak, tolong bawa mbak Rahma secepatnya ke rumah sakit!” pinta Asyila yang malah memikirkan Rahma.


Para polisi secara kompak mengangkat tubuh Rahma dan membawa Rahma masuk ke dalam mobil untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit.


“Pak, tolong bawa Mbak Rahma hati-hati,” ucap Asyila yang sangat peduli dengan Rahma, “Pastikan mereka masuk ke dalam penjara dengan hukuman seberat-beratnya, orang seperti mereka tidak pantas keluar dari penjara,” sambung Asyila.


Mobil pun bergegas ke rumah sakit tempat dimana Abraham di rawat.


Beberapa saat kemudian.


Akhirnya Rahma sudah ditangani oleh dokter ahli kandungan, Asyila sangat berharap bahwa Rahma tidak mengalami sakit yang serius.


“Ya Allah, Nak. Kamu kemana saja? Suamimu sekarang sangat panik karena kami tidak ada diruangan, ini kenapa? Kenapa baju kamu berdarah?” tanya Arumi yang sebelum subuh sudah ditelpon oleh Abraham karena Asyila tiba-tiba menghilang.


Asyila segera berlari menuju kamar inap suaminya, ia berharap suaminya tidak marah karena ia sebelumnya tidak melaporkan kepada Abraham bahwa ia ingin keluar mencari udara segar..


“Ya Allah, Asyila. Kamu kemana saja? Apa ini?” tanya Abraham panik.


Asyila pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mulai dari dia keluar kamar inap suaminya sampai ia kembali lagi ke rumah sakit.


Abraham terkejut dan segera menghubungi rekannya untuk mengetahui lebih lanjut masalah dua orang tersebut yang berani-beraninya kasar dengan wanita.


“Mas sekarang beristirahatlah, Asyila akan segera mandi dan melaksanakan sholat subuh,” ucap Asyila dan tidak ingin memperkeruh keadaan.


Abraham mengernyitkan keningnya, ia benar-benar takjub dengan keberanian istri kecilnya. Akan tetapi, sampai saat itu Abraham masih belum tahu bahwa istri kecilnya memiliki ilmu beladiri yang bisa dikatakan cukup hebat.

__ADS_1


__ADS_2