Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Makan Malam Bersama Dikediaman Yogi


__ADS_3

Setelah sarapan siang bersama, Mbok Num dan beberapa pekerja yang lain bersama-sama membersihkan meja makan serta mencuci alat makan.


Sementara Abraham dan Asyila memutuskan untuk bersantai-santai sejenak di ruang keluarga sembari berbincang-bincang sebelum keduanya berpisah.


“Mas, Asyila mau buat es teh tarik. Mas mau juga?” tanya Asyila yang tiba-tiba ingin menikmati es teh tarik yang segar.


“Boleh,” balas Abraham.


“Baiklah, Mas tunggu disini. Asyila akan membuat es tarik,” tutur Asyila dan menoleh ke arah Bela. “Bela juga mau?” tanya Asyila.


“Mau, Aunty!” seru Bela.


“Baiklah, Bela tunggu dulu ya. Aunty akan membuatkan teh tarik!”


Asyila berjalan menuju dapur dengan langkah lebar untuk membuat teh tarik.


Asyila yang telah sampai di dapur, langsung menyeduh teh untuk ia buat menjadi teh tarik.


“Mbok Num, susu yang Asyila taruh disini Mbok Num lihat, tidak?” tanya Asyila sembari menunjuk ke arah dimana ia meletakkan susu tersebut.


“Mbok letakkan di dalam kulkas, Nona Asyila. Takutnya kalau ditaruh disitu, tak sengaja tersenggol dan malah tumpah,” terang Mbok Num.


Asyila mengangguk kecil dan berjalan menuju kulkas. Ia mengambil susu serta es batu.


Teh yang Asyila seduh terlihat sudah mulai menghitam, perlahan Asyila menuangkannya ke dalam sebuah cangkir dan tak butuh waktu lama teh tarik buatannya jadi.


“Mbok Num, kalau mau buat es ambil saja ya di dalam kulkas. Ada sirup juga kalau mau,” tutur Asyila dan perlahan melenggang pergi menuju ruang keluarga dengan membawa nampan.


Asyila tersenyum lebar dan meletakkan teh tarik buatannya itu ke meja.


“Mas, Bela! Teh tarik sudah jadi, ayo kita nikmati bersama-sama!”


Abraham mengucapkan terima kasih begitu juga dengan Bela.


“Bagaimana, Mas? Apakah Mas suka?” tanya Asyila yang sangat penasaran dengan pendapat dari suaminya mengenai teh tarik buatannya.


“Aahhhh! Segar sekali,” ucap Abraham dengan ekspresi penuh kelegaan.


“Alhamdulillah, dihabiskan ya Mas.”


“Tentu saja, Mas akan menghabiskan teh tarik yang Asyila buat ini,” balas Abraham.


Asyila tersenyum dan mengambil cangkir miliknya untuk segera meminum teh tarik hasil buatannya itu.


Disaat yang bersamaan, Ema dan Yogi tengah berbincang-bincang di tempat tidur. Mereka berdua terlihat sangat bahagia karena tak sabar ingin menggendong calon buah hati mereka yang tengah berada di dalam rahim Ema.


“Abang, sepertinya Mama dan Ibu telah tiba. Lihatlah, ini pesan dari Mami kalau mereka sudah ada di depan rumah,” ucap Ema sembari memperlihatkan isi pesan yang baru saja ia terima dari Maminya.


Saat itu juga, Ema turun dari tempat tidur untuk segera menyambutnya kedatangan Mami Icha dan Ibu Wati.

__ADS_1


“Adik sayang, jangan buru-buru. Ingat, adik masih hamil muda,” ucap Yogi pada istrinya.


Merekapun berjalan bersama-sama menuju ruang depan untuk menyambut dua wanita yang sangat berjasa bagi Ema maupun Yogi.


“Assalamu’alaikum!” Icha dan Wati dengan kompak mengucapkan salam sembari mengetuk pintu.


“Wa’alaikumsalam,” balas Ema dan Yogi.


Setelah saling menyapa dan mencium tangan para orang tua, Ema serta Yogi mempersilakan kedua wanita itu untuk segera masuk ke dalam.


“Dimana cucu kami?” tanya Icha ketika tak melihat batang hidung Kahfi.


“Mami, Kahfi kebetulan saat ini sedang tidur dikamarnya,” terang Ema.


“Ema sayang, sekali lagi selamat ya atas kehamilan kedua kamu. Mami dan juga Ibu sangat bahagia, akhirnya kamu kembali hamil dan sebentar lagi anggota keluarga kita akan bertambah satu orang lagi,” ucap Icha pada putri tunggal kesayangannya.


“Ibu sangat senang ketika mendengar kalau kamu hamil lagi, Ema. Sudah sangat lama Ibu ingin memiliki cucu lagi dan sebentar lagi keinginan Ibu akan terkabulkan,” ujar Icha pada menantunya.


Ema tersenyum lebar melihat dua wanita dihadapannya.


“Mami, Ibu! Beristirahatlah di dalam kamar, biar koper ini Yogi yang membawanya masuk ke dalam kamar!” Yogi mengambilnya dua koper tersebut dan membawa koper tersebut menuju kamar.


“Ema sudah makan? Mau Mami buatkan sesuatu?” tanya Icha yang memang sangat perhatian dengan putri tunggal kesayangannya.


“Ema masih kenyang, Mami. Kalau Mami dan Ibu mau makan, biar Ema siapkan makanan untuk Mami dan juga Ibu,” tutur Ema.


“Tidak usah repot-repot, Ema. Kami bisa mencari makan sendiri, sebaiknya kamu beristirahat,” sahut Wati yang tidak ingin menantunya kelelahan karena tengah hamil muda.


Abraham dan Asyila mendapatkan undangan makan malam bersama di rumah Yogi.


“Syila sudah siap?” tanya Abraham pada istri kecilnya yang tengah bercermin.


“Alhamdulillah, sudah Mas,” balas Asyila.


“Ya sudah, ayo kita berangkat ke rumah sebelah. Ema dan Yogi pasti sudah menunggu kita.”


Malam itu, bayi Akbar tidak ikut dan untungnya ada Mbok Num serta Bela yang siap menjaga Bayi Akbar.


“Mbok Num, kami pergi dulu ke rumah sebelah. Tolong jaga bayi Akbar ya, kalau seandainya Akbar rewel tolong telepon saya!” pinta Abraham sembari memberi ponsel Sang istri bila nanti bayi Akbar rewel, Mbok Num hanya tinggal menghubungi Abraham.


“Nona Asyila dan Tuan Abraham tidak perlu khawatir, saya dan Mbak Bela akan menjaga Mas Akbar sebaik mungkin,” balas Mbok Num.


“Mbok Num, Bela! Kami pergi dulu,” tutur Asyila dan mengucapkan salam sebelum pergi untuk makan malam bersama dengan keluarga kecil Yogi.


Abraham dan Asyila berjalan sembari bergandengan tangan dengan sangat mesra. Tak terasa, mereka sudah tiba di depan pintu rumah sahabat mereka.


“Assalamu'alaikum,” ucap Abraham dan Asyila sembari mengetuk pintu.


Selang beberapa detik, Yogi membukakan pintu untuk sepasang kekasih halal tersebut.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam, mari masuk!” Yogi mempersilakan keduanya masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga untuk berbincang-bincang sejenak sebelum makan malam bersama.


Setelah saling menyapa satu sama lain, Abraham dan Asyila ikut berbincang-bincang di ruang keluarga.


Yang lebih banyak bicara adalah Icha dan Wati. Sementara Ema serta yang lain sesekali berbicara dan lebih banyak mendengar obrolan dari Icha serta Wati.


Sekitar 30 menit lamanya, Yogi pun akhirnya mengajak mereka untuk segera menikmati makan malam yang sebelumnya dimasak oleh Ibunya dan juga mertuanya.


Meskipun Asyila saat itu terlihat bahagia, akan tetapi di dalam hatinya ia agak sedih karena besok pagi dirinya dan Sang suami tercinta akan berpisah.


“Syila, kamu kenapa?” tanya Ema ketika melihat wajah Asyila yang terlihat menyembunyikan sesuatu.


“Aku tidak apa-apa, Ema,” balas Asyila dan tersenyum manis ke arah Ema.


Makan malam bersama pun akhirnya berlangsung.


“Mama, minta ikan tongkol!” pinta Kahfi pada Ema.


“Mau satu apa dua sayang?” tanya Ema.


“Satu saja, Mama!” seru Kahfi.


Abraham dan Asyila saling tukar pandang satu sama ketika mereka mengunyah makanan tersebut.


Meskipun keduanya terlihat bagaimana, sebenarnya dihati mereka masing-masing ada kesedihan ketika akan berpisah.


“Asyila, ayo makan beberapa suap lagi!” pinta Abrahams yang saat itu tengah menyuapi makanan pada Sang istri.


“Asyila sudah kenyang, Mas saja yang habiskan,” balas Asyila.


Abraham akhirnya menghabiskan bener suap makanan tersebut hingga akhirnya habis tak tersisa di piring mereka berdua.


Kedekatan Abraham dan Asyila sudah bisa menjadi makan sehari-hari bagi pasangan Ema dan Yogi. Akan tetapi, pemandangan sepiring berdua itu membuat Icha dan juga Wati terkejut dengan keromantisan sepasang suami istri tersebut.


Usai menikmati makan malam, Abraham izin pulang dan mengatakan bahwa besok pagi dirinya harus pergi.


Yogi serta yang lainnya pun mengiyakan, memaklumi kesibukan dari sosok Abraham Mahesa.


Abraham dan Asyila pun bergegas pamit meninggalkan rumah keluarga kecil Yogi.


“Mas, malam ini dingin sekali ya udaranya,” tutur Asyila yang berhenti tepat di depan gerbang rumah mereka sembari menoleh ke arah langit yang dipenuhi oleh taburan bintang.


Abraham perlahan mendongakkan kepalanya melihat cantiknya bintang.


“Mas, pulanglah dengan selamat ya!” pinta Asyila menoleh ke arah suaminya.


Abraham tersenyum sembari menoleh ke arah Sang istri tercinta.


“Insya Allah, Mas akan pulang ke dalam pelukan Asyila,” balas Abraham dan memeluk istri kecilnya sembari bersama-sama melihat cantiknya bintang di malam hari.

__ADS_1


Cukup lama mereka berdiri di depan gerbang rumah, sampai akhirnya Eko membuat suara keributan dengan nyanyiannya. Abraham dan Asyila seketika itu memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah karena tak tahan dengan suara nyanyian Eko yang membuat telinga mereka terganggu.


__ADS_2