Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Misi Selesai


__ADS_3

Malam hari.


Asyila tak bisa tidur, ia terus saja memikirkan alasan mengapa suaminya belum juga kembali. Ditambah lagi, Sang suami belum juga memberi kabar mengenai permasalahan tersebut.


“Sudah jam 10 malam, kenapa Mas Abraham belum juga kembali?” tanya Asyila yang terlihat gusar.


Untuk menenangkan pikirannya, Asyila memutuskan pergi ke dapur. Ia berjalan dengan langkah kecil sambil terus berdo'a berharap kebaikan selalu menyertai keluarganya.


Ketika sedang meneguk segelas air, Asyila samar-samar mendengar suara mobil suaminya.


“Sepertinya itu Mas Abraham,” ucap Asyila dan berlari kecil menuju ruang tamu.


Asyila mengintip dari balik jendela dan ternyata suaminya kembali seorang diri.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham.


Asyila yang memang tidak mengenakan hijab, cepat-cepat membukakan pintu untuk suaminya.


“Wa’alaikumsalam, Mas kenapa hanya pulang sendirian?” tanya Asyila sambil membawa suaminya masuk ke dalam rumah dan segera mengunci pintu rapat-rapat.


Di dalam rumah, Asyila segera mencium punggung tangan suaminya dan mendekapnya dengan sangat erat.


“Apa yang sebenarnya telah terjadi, Mas?” tanya Asyila.


“Semuanya berjalan dengan lancar, sekarang ini Nek Inem sudah baik-baik saja. Orang-orang yang berlaku semena-mena kepada Nek Inem dan orang-orang lemah sudah ditangkap,” terang Abraham.


“Ditangkap? Maksud, Mas?” tanya Asyila.


“Ternyata, anak-anak muda yang suka mengganggu Nek Inem adalah pengguna barang haram. Tidak hanya mereka berlima, bahkan orang tua mereka juga menggunakan barang haram tersebut. Karena sudah seperti itu, tentu saja mereka segera di ringkus saat itu juga,” terang Abraham.


Asyila bernapas lega, ketika Abraham ingin melanjutkan ceritanya, Asyila meminta suaminya untuk duduk santai terlebih dahulu. Kemudian, membawakan air minum untuk suaminya.


“Terima kasih,” ucap Abraham ketika sang istri memberikannya segelas air.


Asyila tersenyum dan mengiyakan ucapan suaminya.


Abraham meneguk segelas air putih itu sampai habis dan kembali melanjutkan ceritanya.


Asyila yang mendengar hal tersebut sangat senang, akhirnya kejahatan dari orang-orang yang mendzolimi Nek Inem serta warga lemah lainnya akhirnya tertangkap juga.


“Alhamdulillah, terima kasih Mas. Terima kasih Ya Allah,” ucap Asyila penuh syukur.

__ADS_1


Abraham menyentuh bibir istri kecilnya dan menciumnya dengan sangat lembut.


“Terima kasih atas kebaikan Syila yang sangat peduli dengan orang-orang lemah seperti Nenek Inem. Suamimu ini sangatlah beruntung memiliki istri seperti Syila,” ungkap Abraham dan kembali menciumi bibir istri kecilnya dengan penuh cinta.


Asyila tersenyum malu-malu setelah mendapatkan ciuman mesra dari suaminya.


“Mas genit,” ucap Asyila sambil menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


“Genit-genit begini ya suamimu,” celetuk Abraham.


Asyila memanyunkan bibirnya sambil mencubit lengan suaminya dengan gemas.


“Awww!” Abraham berpura-pura merasakan sakit di lengannya setelah mendapatkan cubitan dari istri kecilnya.


“Maaf, Mas. Asyila terlalu kuat ya?” tanya Asyila sambil mengelus-elus lengan suaminya.


“Tidak sama sekali,” jawab Abraham dan tertawa kecil.


“Mas ini sangat senang membuat istri khawatir,” ucap Asyila dan berpura-pura ngambek.


“Itu artinya, Asyila sangat menyayangi dan mencintai Mas.”


Abraham sekali lagi memberikan ciuman mesra di bibir sang istri dengan penuh cinta.


“Lalu, bagaimana dengan Nek Inem? Kenapa Nek Inem tidak pulang bersama Mas?” tanya Asyila.


“Nek Inem memutuskan untuk tinggal di rumah itu. Dan mengatakan, bahwa Nek Inem sudah aman,” jawab Abraham dan menjelaskan secara detail alasan mengapa Nek Inem tidak ikut pulang bersama Abraham.


Asyila benar-benar tenang, akhirnya Nek Inem sudah bisa merasakan bagaimana hidup dengan nyaman. Ditambah, Sang suami telah memberikan cukup uang untuk Nek Inem. Sehingga, Nek Inem tidak perlu lagi bekerja menjadi buruh cuci piring.


“Mas tadi mengatakan bahwa rumah Nek Inem porak-poranda karena ulah anak buah dari Pak Woto, kalau begitu kenapa Nek Inem untuk sementara waktu tidak tinggal disini sampai rumah Nek Inem diperbaiki?” tanya Asyila.


“Sebenarnya Mas sudah meminta Nek Inem untuk tinggal disini. Akan tetapi, Nek Inem menolak dan tetap ingin tinggal di rumahnya. Tapi, Asyila tidak perlu khawatir karena besok Insya Allah akan ada beberapa orang yang bekerja di rumah Nek Inem untuk memperbaiki rumah tersebut.”


“Sekali lagi terima kasih, Mas,” ucap Asyila yang terlihat begitu senang.


“Sama-sama, lagipula semua ini berkat Asyila dan Misi kita akhirnya selesai,” jawab Abraham.


“Alhamdulillah. Ngomong-ngomong Pak Eko kemana? Kenapa Mas pulang sendirian?” tanya Asyila yang menyadari bahwa Eko tidak pulang ke perumahan Absyil.


“Tadi sore, setelah mengantarkan mobil Eko langsung pulang ke rumahnya dengan menggunakan ojek,” jawab Abraham.

__ADS_1


Asyila mengangguk kecil dan memilih untuk tidak bertanya lagi. Kemudian, mengajak suaminya ke ruang makan.


“Masya Allah, terima kasih istriku,” ucap Abraham ketika melihat hidangan makanan kesukaannya.


“Ini semua adalah makanan kesukaan Mas, Asyila harap masakan Asyila tidak mengecewakan lidah Mas Abraham.”


“Syila ini bicara apa? Dari dulu sama sekarang rasa masakan Asyila tiada duanya,” puji Asyila.


****


Pagi hari.


Abraham dan Asyila baru saja tiba di rumah mereka, beberapa saat yang lalu keduanya tengah melakukan olahraga lari mengitari perumahan Absyil yang cukup luas.


“Ternyata capek juga ya Mas,” ucap Asyila sambil menyeka keringatnya.


“Ya lumayan, besok pagi kita akan olahraga lagi,” balas Abraham.


“Siap!” seru Asyila sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


Abraham mengeluarkan kunci rumah disaku celananya dan segera membuka pintu rumah. Kemudian, keduanya masuk ke dalam dan memilih bersantai-santai di ruang keluarga.


“Mas, nanti ke rumah Nek Inem ya!” pinta Asyila.


“Untuk sementara ini Asyila tetap berada di rumah, biar Mas yang lebih sering mengontrol kediaman Nek Inem,” tutur Abraham.


“Asyila juga ingin kesana, Mas.”


“Iya, Mas tahu. Akan tetapi, tidak dalam waktu dekat ini. Tunggu sampai rumah Nek Inem selesai direnovasi.”


Asyila mengalah dan mengiyakan ucapan suaminya.


Disaat yang bersamaan, Nek Inem tengah duduk bersantai dengan para tetangga. Pagi itu Nek Inem terlihat sangat berbeda, ada tawa lepas yang terlihat jelas darinya. Hidupnya yang suram perlahan mulai membaik setelah ia bertemu dengan keluarga kecil Abraham.


Para tetangga pun banyak yang memuji kebaikan Abraham serta rekannya yang sudah datang ke daerah mereka. Terlebih lagi, menangkap Pak Woto serta yang lainnya.


“Saya sangat senang Pak Woto dan yang lainnya sudah masuk penjara. Terlebih lagi anak-anak mereka yang sangat kurang ajar. Kedatangan orang-orang baik kemarin telah membuat Pak RT sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Hanya karena hutang pribadi, kita yang malah menjadi sasarannya,” ucap salah satu warga yang sangat geram dengan tingkah orang-orang kaya yang semena-mena terhadap para masyarakat kecil.


“Kedatangan Pak Abraham dan yang lainnya kembali menyakinkan saya bahwa di dunia ini masih ada orang baik,” sahut yang lainnya.


Nek Inem mengiyakan apa yang dibicarakan oleh mereka. Apalagi ketika Abraham dan lainnya memberikan bantuan berupa uang untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2