Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Persiapan Ijab Qobul


__ADS_3

Bandung.


3 hari setelah acara Do'a bersama yang dilakukan oleh Pamannya, akhirnya Dyah dan Fahmi kembali melanjutkan pernikahan mereka yang tertunda. Hari baik tersebut pun telah ditentukan dan jatuh pada hari Jum'at.


“Hari pernikahan sudah ditentukan, sekarang Papa mau tanya ke kalian berdua, kalian akan melangsungkan pernikahan dimana?” tanya Temmy yang sepenuhnya menyerahkan tempat acara dilangsungkannya pernikahan kepada kedua calon mempelai.


Fahmi seketika itu menoleh ke arah Dyah, karena yang lebih berhak menentukan tempat berlangsungnya pernikahan adalah calon istrinya, Dyah.


“Sebenarnya, Dyah mau melaksanakan ijab qobul di tempat Paman. Di Jakarta, dikarenakan Dyah tidak ingin Paman dan Aunty repot-repot kemari,” terang Dyah.


“Ok!” seru Temmy, “Bagaimana dengan Nak Fahmi?” tanya Temmy.


“Mau dimanapun tempatnya, Fahmi setuju-setuju saja Pa,” jawab Fahmi.


Mereka terus saja membahas mengenai pernikahan yang kemungkinan akan berlangsung dalam waktu dekat.


“Dyah, Mas tanya sekali lagi! Apa kamu benar-benar yakin, pernikahan kita hanya ijab qobul saja?” tanya Fahmi memastikan sekali lagi kepada calon mempelai wanita.


“Tentu saja, Dyah sama sekali tidak ragu hanya karena kita melakukan pernikahan ijab qobul saja. Lagipula, inti dari pernikahan adalah sah,” jawab Dyah.


Temmy dan Yeni saling tukar pandang, mereka bangga dengan jawaban Dyah yang sangat bijak.


Beberapa saat kemudian.


Fahmi akhirnya pamit untuk kembali ke perumahan Absyil karena hari sudah malam.


“Ma, Pa! Fahmi pulang dulu, Insya Allah Fahmi besok akan kemari,” tutur Fahmi.


“Iya, nak Fahmi hati-hati di jalan,” ucap Yeni.


Fahmi tersenyum dan kini mendekat ke arah calon istrinya.


“Dyah, Mas pulang dulu. Jangan tidur malam-malam,” ucap Fahmi mengingatkan calon istrinya agar segera tidur.


“Baik, Mas. Kalau sudah sampai rumah, jangan lupa hubungi Dyah!” pinta Dyah.


Fahmi dan Dyah terus saja berbincang-bincang, membuat kedua orang tua Dyah geleng-geleng kepala.


“Dyah, kalau kamu terus seperti ini, bagaimana Nak Fahmi bisa pulang?” tanya Yeni dan tertawa kecil.


Dyah tersadar dan meminta Fahmi untuk segera pulang.


“Mas Fahmi pulang sana!”


“Loh, kok malah seperti mengusir?” tanya Yeni.


Dyah kebingungan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tertutup hijab.


“Salah ya Ma?” tanya Dyah dengan menampilkan ekspresi kebingungan.


Temmy dan Yeni tak bisa menahan tawa mereka, mereka tertawa lepas melihat wajah putri kesayangan mereka.


Fahmi tersenyum canggung dan akhirnya pamit untuk kembali ke perumahan Absyil.

__ADS_1


Setelah Fahmi benar-benar pergi, Dyah dan kedua orangtuanya bergegas masuk ke rumah karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


“Ma, Pa! Terima kasih,” ucap Dyah dengan tatapan bahagia.


Temmy dan Yeni seketika itu juga menoleh ke arah putri mereka.


“Sayang, sini peluk Mama!” pinta Yeni.


Dyah mengangguk dan segera memeluk tubuh Yeni. Gadis itu menangis terharu, sebentar lagi dirinya akan menikah dan dapat dipastikan setelah pernikahan, ia akan tinggal dengan suaminya.


“Mama berharap kamu terus bahagia ya sayang, apapun yang dikatakan oleh suamimu, kamu harus menurut dan tidak boleh membantah.”


“Ma, sekali lagi Dyah mengucapkan terima kasih. Maafkan Dyah yang masih banyak kekurangan ini, Dyah selamanya sayang Mama dan Papa,” ucap Dyah.


Temmy tak bisa menahan air matanya, ia pun menangis dan memeluk keduanya.


“Sudah jangan menangis,” ucap Temmy.


Seketika itu juga, Dyah dan Yeni mendongakkan kepalanya mereka menoleh ke arah Temmy.


“Papa juga jangan menangis,” sahut Dyah dan Yeni kompak.


“Iya deh, Papa tidak menangis lagi,” balas Temmy.


Mereka bertiga kemudian bergegas masuk ke kamar untuk segera berisitirahat, karena besok mereka akan sangat sibuk untuk persiapan Ijab Qobul yang akan diselenggarakan dalam hitungan hari.


Keesokan pagi.


Dyah merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, senyumnya perlahan mengembang dengan begitu cantik.


Usai mandi, Dyah cepat-cepat mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hair dryer, agar rambutnya cepat kiri dan tidak lembab ketika mengenakan hijab.


“Sayang, udah bangun belum? Nak Fahmi sudah datang,” ucap Yeni tanpa berniat masuk ke dalam kamar Dyah.


Dyah tak mendengar ucapan Mamanya, karena suara hair dryer yang begitu berisik.


“Tok! Tok!”


“Dyah! Sayang!” panggil Yeni sekali lagi dengan terus mengetuk pintu kamar putri tunggalnya.


Dyah telah selesai mengeringkan rambut dan mendengar suara ketukan pintu.


“Siapa?” tanya Dyah sambil mendekat ke arah pintu untuk membuka pintu kamarnya, “Iya ma, ada apa?” tanya Dyah.


“Kamu dari tadi tidak mendengar Mama memanggil?” tanya Yeni.


“Hhhmm, tidak Ma. Soalnya Dyah lagi mengeringkan rambut dengan hair dryer,” jawab Dyah.


“Pantas saja kamu tidak dengar, ya sudah cepat siap-siap. Nak Fahmi sudah datang.”


“Yang benar, Ma?” tanya Dyah memastikan dengan penuh semangat.


“Tentu saja, ya sudah cepat sana pakai hijab!”

__ADS_1


Dyah mengangguk dengan penuh semangat dan kembali menutup pintunya.


“Aku pakai hijab warna apa ya? Seharusnya aku tadi bertanya mengenai pakaian yang dikenakan Mas Fahmi,” ucap Dyah bermonolog.


Cukup lama Dyah mengacak-acak isi almarinya, sampai akhirnya ia memilih hijab bersama cokelat muda.


“Yang ini seperti bagus, warnanya kalem dan tidak norak,” ucap Dyah yang telah mengenakan hijab.


Gadis itu cepat-cepat keluar kamar dengan senyum yang terus mengembang sempurna.


“Selamat pagi!” sapa Dyah dengan malu-malu.


Fahmi seketika itu menoleh ke arah Dyah yang ternyata, hijab yang dikenakan oleh Dyah berwarna senada dengan pakaian yang Fahmi kenakan.


“Cantik.” Tanpa sadar Fahmi memuji calon istrinya di depan calon mertuanya.


“Mas Fahmi bisa saja,” balas Dyah.


Fahmi tersadar dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Apakah benar, Dyah putri kami cantik?” tanya Yeni menggoda Fahmi.


Fahmi dengan malu-malu mengiyakan pertanyaan dari Yeni.


“Mama apa-apaan sih? Te-tentu saja Dyah cantik,” terang Dyah dengan penuh percaya diri.


“Iya, putri Mama dan Papa 'kan, memang cantik. Sekarang kamu pergilah ke ruang makan, bukankah kamu belum sarapan?”


“Nanti saja deh Ma,” balas Dyah.


“Dyah, sebaiknya kamu sarapan dulu. Mas juga ingin membahas hal penting dengan Mama dan Papa,” ucap Fahmi.


Dyah yang memang lapar akhirnya bergegas pergi ke ruang makan seorang diri, hal tersebut dikarenakan kedua orangtuanya dan juga calon suaminya telah sarapan.


“Kira-kira Mas Fahmi membicarakan hal penting apa ya dengan Papa dan Mama? Entahlah, lebih baik aku mengisi perut dulu. Oya, ternyata aku memang sudah sehati dengan Mas Fahmi, buktinya saja hijab pilihanku berwarna senada dengan pakaian Mas Fahmi,” ucap Dyah bangga.


Beberapa saat kemudian.


Dyah telah selesai mengisi perutnya dan kini waktunya untuk mereka membahas masalah pernikahan.


“Kalau soal makanan, lebih enak masak sendiri atau catering?” tanya Yeni.


“Catering saja, Ma!” seru Dyah yang kini sudah berada di ruang tamu.


“Catering? Hmmm, sepertinya bagus juga,” ucap Yeni.


“Untuk urusan catering, biar Nenek Arumi dan wanita itu saja yang mengurusnya,” tutur Dyah.


“Wanita itu? Maksud kamu wanita yang tempo hari datang ke rumah sakit bersama dengan Ibu Arumi?” tanya Yeni memastikan.


“Iya, Ma. Bukankah masakannya juga enak, selain itu kalau pakai jasa catering lain, tidak enak dengan Aunty Asyila,” terang Dyah yang sangat menghargai perasaan istri kecil Sang Paman.


“Kamu benar, sayang. Putri Mama dan Papa ini kalau diperhatikan, semakin hari semakin terlihat dewasa. sepertinya memang sudah siap untuk menjadi seorang istri,” ucap Yeni sambil senyum-senyum.

__ADS_1


“Mama, berhenti menggoda Dyah,” balas Dyah kesal.


__ADS_2