
Sore hari.
Dyah merasa takut untuk keluar dari kantornya, entah kenapa ia berharap bahwa Fahmi lah yang datang menjemput dirinya dan bukan Kevin.
“Pokoknya, orang pertama yang aku lihat ketika keluar adalah orang yang akan mengantarkan aku pulang ke rumah,” ucap Dyah dan dengan langkah ragu-ragu ia berjalan keluar.
Deg!
Dyah tertegun melihat Fahmi yang telah berada dihadapannya untuk menjemput dirinya, tanpa sadar Dyah tersenyum lebar sampai-sampai Fahmi menjadi salah tingkah.
“Mas Fahmi!” teriak Dyah kegirangan dan di detik berikutnya Dyah berubah menjadi sedikit lebih serius untuk menjaga citranya agar terlihat seperti gadis dewasa.
Fahmi menepuk-nepuk jok motornya agar Dyah segera naik. Dyah pun mengangguk kecil dan naik ke atas motor Fahmi.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Fahmi dan mulai mengendarai kendaraannya menuju rumah calon istrinya.
“Ya begitulah, hampir setiap hari ada saja yang harus dikerjakan. Belum lagi, ketika ada yang komplain,” jawab Dyah setengah berteriak agar pria yang duduk didepannya mendengar ucapannya.
“Kamu yang semangat,” ucap Fahmi memberikan semangat untuk calon istrinya.
“Tentu saja!” seru Dyah.
Dyah tiba-tiba ingin menikmati es krim, ia pun meminta Fahmi untuk berhenti di tempat orang yang menjual es krim.
Fahmi mengangguk kecil dan membawa Dyah ke tempat usahanya yang berada di sekitar daerah tersebut.
“Loh, kita mau kemana Mas Fahmi?” tanya Dyah yang sebelumnya belum pernah melewati tempat yang kini sedang lewati olehnya.
“Nanti juga akan tahu sendiri,” jawab Fahmi dan semakin membuat Dyah penasaran.
Dyah tersenyum lebar, entah kenapa berada di dekat Fahmi seperti sedang dilindungi. Ya hampir sama ketika dirinya bersama Sang Paman, Fahmi terlihat sangat dewasa bagi Dyah dan itu juga yang membuat Dyah nyaman berada di dekat seorang Muhammad Fahmi.
“Sebentar lagi kita akan sampai,” ucap Fahmi.
2 menit kemudian.
Motor Fahmi berhenti tepat disebuah kedai makanan dan ternyata ada menu es krim juga disana.
Ada satu hal yang membuat Dyah terkejut, yaitu ada nama Fahmi yang terukir di tembok dengan sangat jelas.
“Fahmi? Namanya sama seperti nama Mas Fahmi,” ucap Dyah.
Dua pelayan kedai makanan itu datang dan dengan sangat ramai menyapa Fahmi.
“Selamat sore, Pak Fahmi,” ucap mereka setengah menunduk yang terlihat begitu menghormati Fahmi.
“Mas Fahmi sudah biasa membeli makan disini?” tanya Dyah.
Fahmi mengangguk kecil dan tak mengatakan bahwa ia adalah pemilik kedai tersebut.
“Kamu mau pesan es krim rasa apa?” tanya Fahmi pada calon istrinya.
“Mau tiga rasa. Yaitu, strawberry, vanilla dan cokelat,” jawab Dyah, “Oya, sama tambahkan choco chips ya!”
Fahmi mengiyakan dan dengan semangat mengambil es krim yang diinginkan oleh Dyah seorang diri.
__ADS_1
“Calon istrinya ya Pak?” tanya karyawan Fahmi.
“Insya Allah,” jawab Fahmi.
Ternyata, dari kejauhan ada seorang gadis yang terus memperhatikan Dyah dengan tatapan tak suka. Gadis itu sebenarnya menyimpan perasaan kepada Fahmi saat pertama kali bekerja di kedai milik Fahmi.
“Permisi,” ucapnya saat membawa es teh untuk pelanggan lain dan dengan sengaja menyenggol tubuh Dyah.
Sampai akhirnya hal tak terduga pun terjadi, gelas beling yang dibawa oleh Desi seketika itu jati dan pecah. Dyah terkejut dan tak sengaja menginjak pecahan kaca tersebut, untungnya ia memakai sepatu sehingga tidak sampai melukai kaki Dyah.
“Dyah tidak apa-apa?” tanya Fahmi dengan begitu khawatir.
Desi yang melihat Fahmi begitu perhatian dengan Dyah, langsung melukai tangannya hingga tangannya berdarah.
“Awwww!” teriak Desi yang terdengar begitu kesakitan.
Fahmi menoleh sekilas dan memanggil karyawan lainnnya untuk membantu Desi yang tengah terluka.
Dyah sendiri tahu bahwa Desi sengaja melakukan hal tersebut. Karena Dyah buka tipe wanita yang sabaran, ia pun mendekati Desi dan melotot tajam.
“Trik murahan,” ledek Dyah dan Fahmi pun mendengar apa yang dikatakan oleh Dyah.
Desi mengangkat sebelah alisnya dan berpura-pura terjatuh seakan-akan Dyah baru saja mendorong dirinya.
Fahmi tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Desi, dalam sekejap ia memecat Desi dan meminta Desi masuk ke dalam ruangan.
Disaat itu juga, Dyah tahu bahwa ternyata Fahmi adalah pemilik dari kedai makanan tersebut.
“Pak, saya tidak salah yang salah itu wanita ini,” ucap Desi yang masih membela diri.
Desi berjalan mengikuti Fahmi sambil melirik tajam ke arah Dyah yang telah membuatnya dipecat.
Untungnya, kedai makanan saat itu tidak terlalu ramai. Pecahan gelas yabg berserakan di lantai pun sudah bersih dan salah satu karyawan Abraham yang lain kembali membuatkan test teh untuk pelanggannya.
Beberapa menit keluar.
Desi keluar dengan tatapan yang semakin tajam ke arah Dyah, Dyah pun menatap santai wanita yang sengaja ingin mengkambing hitamkan dirinya dihadapan Fahmi.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Fahmi kepada Dyah dengan memberikan tatapan cemas.
Dyah akhirnya menyadari bahwa Fahmi pun memiliki perasaan untuknya. Akan tetapi, hal itu juga yang membuat Dyah menjadi bingung.
“A-ku ti-tidak apa-apa,” balas Dyah yang malah menjadi gagap.
Fahmi terkekeh geli mendengar ucapan Dyah.
“Kamu kenapa tiba-tiba menjadi gagap begini?” tanya Fahmi penasaran.
Dyah tak menjawab, gadis itu malah menoleh ke arah lain dan dengan santainya ia membuka roti kemudian, melahapnya.
“Kalau lapar lebih baik makan nasi saja,” ucap Fahmi dan memanggil salah satu karyawannya untuk menyiapkan makanan.
Tak butuh waktu lama, makanan pun datang dan Dyah terlihat sangat senang dengan makanan dihadapannya.
“Ini semua gratis 'kan?” tanya Dyah dan berharap kalau Fahmi memberikan makanan tersebut secara cuma-cuma.
__ADS_1
“Hhhmm.... Sepertinya begitu, pokoknya kalau kamu ingin lagi tinggal bilang saja,” jawab Fahmi.
Entah mengapa, Dyah merasa sangat cocok dengan Fahmi. Dikarenakan, Dyah adalah gadis yang suka makan dan ternyata, Fahmi adalah pemilik kedai makanan.
Kalau begini, boleh lah makan disini tiap hari. 🤤😅
“Mas, kalau Dyah makan kesini lagi gratis 'kan?” tanya Dyah yang tanpa ada rasa malu sedikitpun jika membahas soal makanan.
“Tentu saja, asal kamu perginya sama aku,” jawab Fahmi menggoda calon istrinya.
“Oke kalau begitu!” seru Dyah.
Dyah membaca Do'a terlebih dahulu dan kemudian, menikmati makanannya.
Ya ampun, ternyata menu makanan disini enak-enak. Kalau begini, sia-sia saja kalau aku diet.
Para karyawan dan karyawati terus saja memperhatikan bos mereka serta Dyah yang terlihat sangat serasi.
“Kalau dilihat-lihat, mereka agak mirip ya,” ucap salah satu karyawan
“Kalau kata orang, jodoh itu mirip. Ya mungkin saja keduanya berjodoh. Tapi, kasihan juga ya dengan Desi. Seharusnya Desi tadi jangan seperti itu, ternyata benar ya. Cemburu itu mengalahkan segalanya.”
“Sok tahu, padahal kamu jomblo,” celetuk yang lainnnya.
Dyah terus menikmati makanannya sampai akhirnya ia bersendawa di depan Fahmi dengan cukup keras.
“Eeeuukkk!”
Dyah terdiam mematung sambil menutup mulutnya, rasanya ia ingin segera mengubur tubuhnya dalam-dalam agar tak dilihat oleh Fahmi.
“Sudah, tidak apa-apa. Santai saja, yang penting lain kali tidak boleh seperti tadi,” ucap Fahmi berbicara dengan selembut mungkin.
Dyah hanya mengangguk dengan raut wajah yang sangat malu. Jika kemarin-kemarin ia akan menganggapnya biasa, tapi beda dengan hari itu. Ia benar-benar malu karena bersendawa di depan pria yang ia sukai dan juga Fahmi pun menyukai dirinya.
Tidak mungkin 'kan, aku yang bilang duluan.
Dyah menggelengkan kepalanya dan menyeruput es teh sampai habis.
“Mas Fahmi kenapa tidak makan?” tanya Dyah.
“Masih kenyang,” jawab Fahmi.
“Pasti gara-gara melihat Dyah,” jawab Dyah dengan penuh percaya diri.
“Kalau boleh,” celetuk Fahmi dan seketika itu juga Dyah tersedak.
“Uhuk... uhuk... uhuk ..”
Dyah terbatuk-batuk dan berlari kecil mencari toilet atau kamar mandi.
“Disana,” ucap Fahmi sambil menunjuk ke arah plang bertuliskan toilet.
“Terima kasih, uhuk... uhukk!”
Dyah masuk ke dalam toilet dan segera membasuh wajahnya, ia benar-benar canggung dihadapan Fahmi.
__ADS_1
“Kenapa aku malah seperti orang linglung begini? Mas Fahmi benar-benar membuatku menjadi salah tingkah,” ucap Dyah bermonolog dan setelah itu bergegas keluar dari toilet untuk segera pulang.