
Asyila terus mengendarai motor milik sang suami, angin malam yang begitu dingin tak mematahkan semangat Asyila.
Semangat Asyila! Kamu bisa.
Sesekali Asyila menoleh pada jam kecil di pergelangan tangannya, ia sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa waktu sudah sangat malam.
Beberapa saat kemudian.
Akhirnya perjalanan Asyila untuk menyusul sang suami sampai juga. Dengan sangat hati-hati, Asyila meletakkan motor di dekat pohon yang ukurannya cukup besar. Ada sekitar 5 mobil terparkir rapi di daerah tersebut.
“Semoga saja tidak ada yang mengetahui kedatanganku,” ucap Asyila bermonolog dan segera mengeluarkan ketapel yang ia miliki di dalam tas ransel miliknya. Yang tentu saja sang suami tidak pernah mengetahui ransel milik Asyila tersebut.
Sekitar 10 menit Asyila berjalan menelusuri jalan kecil yang kira-kira hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua saja. Ia berjalan dengan sangat teliti karena takut jika ada hewan kecil (kodok) yang melompat ke tubuhnya itu.
“Ya Allah, lindungilah hamba dari makhluk ciptaan Mu yang lainnya,” ucap Asyila yang dimaksudkan nya adalah hewan kodok.
Asyila berjalan dengan hanya bermodalkan penerangan senter di ponsel miliknya. Langkahnya perlahan melambat ketika telinganya menangkap suara dari beberapa pria termasuk suara sang suami.
Itu suara Mas Abraham, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang serius.
Asyila kembali melangkahkan kakinya dengan begitu pelan, jantungnya pun berdetak sangat kencang ketika merasakan suasana malam itu berubah menjadi tegang.
Disaat yang bersamaan, Abraham serta yang lainnya tengah bersiap-siap untuk menangkap para anak punk yang tengah bersembunyi di dalam hutan.
“Anda kenapa Tuan Abraham?” tanya Dayat ketika melihat ekspresi wajah Abraham yang tiba-tiba tersenyum.
“Aku tidak tahu, hanya saja aku merasa ada Asyila di sampingku,” balas Abraham.
Dayat dan lainnya kompak geleng-geleng mendengar balasan dari Abraham.
“Sudah punya anak dua masih saja seperti pengantin baru,” celetuk Eko.
Mendengar perkataan Eko, sontak saja semuanya menoleh ke arah sopir pribadi dari Abraham Mahesa, termasuk Abraham yang setengah terkejut mendengar perkataan Eko.
“Hebat,” puji Dayat dengan setengah bertepuk tangan agar tidak terdengar oleh anak-anak punk yang sedang bersembunyi.
“Terima kasih,” tutur Abraham dan tertawa kecil.
Mereka yang mendengar suara tawa Abraham akhirnya ikut tertawa.
Sementara Eko hanya bisa garuk-garuk kepala melihat ekspresi wajah dari Abraham.
Tawa mereka tidak berlangsung lama, mereka dengan kompak dan sigap melanjutkan langkah kaki mereka.
Tanpa mereka sadari, Asyila ternyata sudah bersiap-siap memantau dari kejauhan.
Meskipun malam, tempat tersebut tidak begitu gelap. Hal itu dikarenakan, ada terang bulan yang menyinari malam nan dingin tersebut.
“Hattchii!” Asyila tiba-tiba bersin dan segera bersembunyi di balik pohon agar yang lainnya tak mengetahui kedatangannya.
“Apa kalian mendengarnya?” tanya Abraham yang baru saja mendengar suara seseorang yang sedang bersin.
“Tidak,” jawab mereka.
“Mungkin aku salah dengar,” sahut Abraham dan kembali fokus pada apa yang akan mereka tangkap.
__ADS_1
Dibalik pohon, Asyila mengelus-elus dadanya yang sedikit sesak karena hampir saja dirinya ketahuan.
Terima kasih Ya Allah, untungnya saja Mas Abraham tidak sampai menghampiri hamba disini. Kalau tidak, sudah pasti Mas Abraham mengetahui bahwa istrinya kemari di tengah malam seperti ini.
30 menit berlalu, Abraham serta rekan yang lainnya belum menemukan di mana anak-anak punk yang kabur masuk ke dalam hutan tersebut.
Sedikit ada kesal pada hati Abraham karena tidak bisa pulang cepat untuk kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya di rumah.
Asyila yang berada tidak jauh dari sang suami serta yang lainnya, secara tidak sengaja menangkap gerak-gerik yang aneh dari sebelah pohon sebelah barat yang jaraknya kurang lebih 50 meter dari tempat Asyila berpijak.
Ia pun menajamkan penglihatannya dan mengetahui orang-orang tersebut adalah anak-anak punk yang dicari oleh sang suami serta rekan lainnya.
Tak kehilangan akal, asyik mengambil sebuah batu yang ukurannya cukup besar dan melempar batu tersebut ke arah sebelah barat.
Usaha Asyila tentunya tidak sia-sia, Abraham dan lainnya langsung berlari ke arah suara benda terjatuh tersebut.
“Mereka disana!” teriak Dayat dan mempercepat langkahnya berlari mengejar anak-anak punk yang sangat meresahkan.
Asyila tersenyum lebar karena apa yang dia lakukan membuahkan hasil.
“Tidak sia-sia aku menyusul Mas Abraham kemari,” ucap Asyila lirih sembari memantau sang suami dari belakang.
Samar-samar Abraham mencium bau tubuh sang istri. Namun, dengan cepat Abraham menyangkal pemikirannya itu, karena ia pikir itu hanya halusinasinya saja.
Beberapa saat kemudian.
Setelah kejar-kejaran yang begitu sengit, akhirnya para anak punk berhasil di lumpuhkan. Beberapa dari mereka bahkan mengantongi barang haram di saku celana mereka.
“Sekarang kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian,” tegas Dayat dengan tatapan tajamnya.
“Jangan kabur!” teriak salah satu polisi pemilik senjata api.
Beberapa dari mereka panik melihat anak punk sedang bersiap-siap menembaki mereka, termasuk Abraham.
“Akhhhh!”
“Akhhhh!”
Senjata api yang di pegang oleh salah satu anak punk terlepas dari tangannya setelah mendapatkan lemparan batu dikepalanya, bahkan lemparan batu itu mengenai tengkuk belakangnya yang otomatis membuatnya tak bisa berdiri.
Seakan mendapat kesempatan yang tepat, Abraham langsung melumpuhkan anak punk itu dengan cara menendang kedua kakinya.
“Apa kamu tahu, hal seperti tadi itu sangat berbahaya jika kamu sampai menembak salah satu dari kami,” ucap Abraham sembari membantu anak punk yang kesakitan itu berdiri.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju mobil, melihat semuanya sudah baik-baik saja, Asyila langsung berlari menuju motor yang ia parkir kan di dekat pohon.
“Siapa disana?” tanya salah satu dari rekan tim yang tak sengaja melihat cahaya motor yang perlahan bergerak pergi.
“Kamu kenapa Anton?” tanya Dayat pada Anton yang terlihat sedang mencari sesuatu.
“Aku sepertinya melihat cahaya dari motor,” jawab Anton.
“Mungkin kamu salah lihat, siapa tahu itu kunang-kunang,” celetuk salah satu tim mereka.
“Mungkin saja,” tutur Anton yang malas mempersoalkan cahaya tersebut.
__ADS_1
Para anak punk akhirnya telah masuk ke dalam mobil. Itu artinya, Abraham akan segera kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya.
Di perjalanan pulang, Asyila hampir saja tersesat. Untungnya saja, ia tidak terlalu takut jika sampai tersesat. Toh, ia sendiri sudah mengantongi bekal ilmu bela diri yang ia pelajari sehingga ia tidak perlu takut jika ada orang yang berniat macam-macam padanya di perjalanan pulang.
Terima kasih Ya Allah, akhirnya hamba bisa membantu Mas Abraham.
Rasa bangga pada diri Asyila tidak membuatnya menjadi sombong, justru ia ingin ilmu bela diri yang ia punya dapat digunakan untuk membantu orang-orang yang kesusahan.
****
Asyila sampai rumah pukul 03.00 WIB.
Pak Udin yang tak lain penjaga gerbang terkejut ketika melihat istri kecil dari tuan mudanya berada di luar gerbang.
“Nona Asyila dari mana?” tanya Pak Udin dengan begitu penasaran sekaligus khawatir.
“Tadi Asyila ada urusan, Pak. Tolong jangan beritahu Mas Abraham, ya Pak!” pinta Asyila setengah memohon.
“Baik, Nona Asyila. Tapi, kenapa Nona Asyila berpakaian seperti ini?” tanya Pak Udin keheranan.
“Jam segini, kan' dingin. Jadi, Asyila berpakaian seperti ini, Pak.”
Pak Udin mengangguk dan segera mempersilahkan Asyila untuk masuk.
Ia tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga majikannya. Toh, ia sendiri tahu bahwa keduanya sangatlah cocok.
Asyila bernapas lega karena Arsyad dan Ashraf tertidur dengan begitu pulas. Tak ingin berlama-lama, Asyila pun bergegas mengganti pakaiannya.
“Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Arumi yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara almari pakaian.
Asyila yang sudah berganti pakaian bergegas mendekat pada ibunya tercinta.
“Alhamdulillah sudah, Bu. Terima kasih Ibu karena sudah menjaga Arsyad dan Ashraf selama Asyila keluar rumah,” ucap Asyila.
“Iya sama-sama, kenapa baru pulang?”
Asyila tak bisa menjawab pertanyaan Arumi dengan begitu detail, karena jika ia menjelaskan secara detail dan rinci akan menimbulkan kekhawatiran pada Arumi.
“Intinya Asyila sedang berusaha membantu Mas Abraham, Bu. Ibu tolong percaya pada Asyila!” pinta Asyila.
Arumi mengangguk dan mencium kening putri tunggal kesayangannya.
“Karena kamu sudah kembali, Ibu akan kembali ke kamar!”
“Baik, bu.”
Asyila berjalan mengikuti Arumi dan ketika Arumi sudah keluar dari kamar, barulah Asyila mengunci pintu kamar tersebut.
“Cepat pulang Mas! Asyila sangat merindukan dekapan Mas Abraham,” ucap Asyila sembari merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
💖💖💖
Terima kasih untuk dukungan dan semangat kalian!
Like ❤️ komen 👇 🙏
__ADS_1