Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Makan Bersama Sekaligus Do'a Bersama


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian.


Kediaman Abraham Mahesa.


Asyila terbangun dari tidurnya ketika merasakan tangan suaminya yang terus saja membelai pipinya.


“Mas, geli,” ucap Asyila sambil menahan tangan suaminya yang terus saja membelai lembut pipinya.


Abraham tak membalas perkataan sang istri, pria itu terlalu fokus memandangi wajah sang istri yang terlihat semakin cantik.


Yang terdengar malah suara napas mereka yang saling bersahutan satu sama lain.


Ketika Abraham ingin mencium pipi mulus Asyila, tiba-tiba suara ketukan mengangetkan mereka.


“Tok! Tok!” Suara ketukan pintu yang cukup keras.


Abraham dan Asyila seketika itu menoleh ke arah pintu.


“Siapa?” tanya keduanya penasaran.


“Bunda, buka...”


Abraham dan Asyila seketika itu bernapas lega, ternyata itu adalah Ashraf.


“Sebentar sayang!”


Asyila turun dari tempat tidur sembari melirik sekilas ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 23.12 WIB.


“Krekk!” Suara pintu yang terbuka.


Asyila tersenyum lebar sambil menggandeng tangan Ashraf untuk segera masuk ke dalam kamar.


“Ashraf mau tidur disini?” tanya Asyila.


Ashraf yang belum sepenuhnya sadar hanya bisa mengangguk setuju dan Asyila langsung membaringkan tubuh putra kecilnya ditempat tidur.


“Bunda...” Ashraf menyentuh tangan kanan Asyila dan menuntun tangan Asyila untuk membelai lembut rambutnya.


Sontak saja hal itu membuat Abraham dan Asyila senyum-senyum melihat tingkah putra kecil mereka yang lucu.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Ashraf tertidur bersamaan dengan dengkuran halus yang ditimbulkan oleh Ashraf.


“Ashraf sudah tidur, sebaiknya Syila juga harus tidur. Ingat pesan dokter!”


“Iya, Mas. Asyila tahu benar bahwa istri Mas ini belum sepenuhnya pulih,” balas Asyila dan mulai memejamkan matanya.


“jangan lupa wudhu dan Do'a sebelum tidur,”” ucap Abraham mengingatkan istri kecilnya untuk berwudhu terlebih dahulu.


Asyila memanyunkan bibirnya dan bergegas turun dari tempat tidur.


“Terima kasih,” ucap Abraham karena telah dibantu oleh istri kecilnya untuk duduk di kursi roda.


Usai berwudhu, keduanya bergegas kembali ke tempat tidur.


“Syila langsung naik tempat tidur saja, bukankah Mas sudah sering naik ke tempat tidur sendiri?”


“Hm... baiklah,” jawab Asyila ragu-ragu dan bergegas naik ke tempat tidur.


Asyila terus saja memperhatikan suaminya, barangkali suaminya nanti meminta bantuannya. Akan tetapi, Abraham sudah berhasil naik ke tempat tidur dengan senyum sok kerennya.


“Lihatlah! Suamimu bisa,” tutur Abraham.


“Iya, Asyila tahu Mas bisa dan pandai segalanya,” terang Asyila dan segera memejamkan mata.


“Baca Do'a dulu,” ucap Abraham.

__ADS_1


“Kalau begitu, Mas yang memimpin Do'a sebelum tidur!” pinta Asyila.


Abraham mengiyakan dan mulai membaca Do'a sebelum tidur bersama-sama.


Kemudian, keduanya secara kompak memejamkan mata untuk kembali melanjutkan istirahat mereka.


Keesokan pagi.


Abraham dan Asyila keluar dari kamar mereka untuk menyapa embun pagi yang masih suci. Semakin hari, cinta keduanya semakin besar dan membuat siapapun yang melihat mereka pasti mengira bahwa keduanya adalah pengantin baru.


“Melihat kalian berdua seperti ini, Ibu sangat senang,” ucap Arumi ketika berpapasan dengan keduanya di ruang tamu.


“Ibu dari mana?” tanya Asyila ketika melihat Sang Ibu baru saja masuk ke dalam rumah.


“Ibu membeli kentang,” balas Arumi sambil memperlihatkan kresek putih yang isinya adalah kentang.


“Ibu kenapa beli sedikit?” tanya Asyila.


“Ini sudah banyak, 5 kilogram,” jawab Arumi memberitahukan berat dari kentang yang ia beli pada penjual sayur yang lewat.


“Lalu, kita akan memasak apa untuk acara nanti?” tanya Asyila.


“Jam 7 nanti, Rahma akan datang kemari membawa ayam bakar dan juga beberapa lalapan mentah. Pokoknya urusan dapur biar Ibu dan Nak Rahma yang menanganinya,” jelas Arumi.


“Baiklah, Ibu. Asyila dan Mas Abraham ke depan dulu,” tutur Asyila dan kembali mendorong kursi roda suaminya untuk segera ke halaman rumah depan.


Sesampainya di halaman depan rumah, Asyila langsung merentangkan tangannya lebar-lebar. Ia memejamkan kedua matanya sembari menghirup embun segar di pagi hari.


“Mas, segar sekali,” ucap Asyila.


Abraham tersenyum bahagia melihat sang istri yang juga terlihat sangat bahagia.


“Terima kasih, Mas. Terima kasih karena Mas selalu mencintai Asyila,” ucap Asyila yang kini sudah mendekat ke arah suaminya.


“Suamimu inilah yang seharusnya berterima kasih, terima kasih telah menerima Mas sebagai Suami Syila. Meskipun, usia kita berbeda belasan tahun,” terang Abraham.


Keduanya terus saja berbincang-bincang, sampai akhirnya Arumi memanggil keduanya untuk segera sarapan.


Asyila memukul kepalanya sendiri dan berlari kecil menghampiri Ibunya. Sementara sang suami Asyila tinggalkan begitu saja.


“Ibu, maafkan Asyila. Asyila lupa tidak membantu Ibu menyiapkan sarapan,” ucap Asyila merasa bersalah.


“Sudah tidak apa-apa, Ibu malah sangat senang kalau kamu dan Nak Abraham mengobrol bersama di depan rumah. Sekarang pergilah menyusul suamimu!”


Asyila sekali lagi memukul kepalanya sendiri karena meninggalkan suaminya begitu saja.


“Maaf,” ucap Asyila.


Abraham memanyunkan bibirnya dan mencubit sekilas hidung sang istri yang mancung itu.


“Mas jangan ngambek,” tutur Asyila.


“Tidak. Untuk apa suamimu ngambek dengan masalah sepele, ayo sarapan!” ajak Abraham.


***


Seperti yang sudah dijanjikan, Rahma akhirnya tiba dengan membawa ranjang yang cukup besar ditangannya. Kemungkinan, di dalam ranjang itu berisi ayam bakar serta lalapan.


“Assalamu’alaikum,” ucap Rahma yang baru saja tiba dengan menggunakan jasa antar jemput roda empat.


Arumi yang tengah berada di ruang tamu sedang menata ruangan, seketika itu menghampiri sumber suara.


“Wa’alaikumsalam, Nak Rahma ternyata sudah datang. Mari masuk!” ajak Arumi dan membantu Rahma membawa ranjang.


Rahma masuk dengan senyum yang terus mengembang sempurna.

__ADS_1


“Yang lain pada kemana, Ibu?” tanya Rahma karena suara di dalam rumah itu sangatlah sepi.


“Arsyad dan Ashraf sedang keluar dengan kakek mereka. Sementara Asyila dan Abraham sedang berada di halaman belakang rumah,” terang Arumi.


Arumi dan Rahma akhirnya tiba di dapur, sesampainya di dapur mereka langsung menyibukkan diri untuk persiapan makan-makan bersama sekaligus Do'a bersama.


Cukup banyak yang datang ke rumah itu, diperkirakan sekitar 200 orang dan mungkin bisa lebih. Karena siapapun boleh datang untuk menikmati hidangan yang ada.


“Ini ayam bakarnya, Nak Rahma bawa berapa potong?” tanya Arumi.


“Sekitar 350 potong, Ibu,” jawab Rahma.


Arumi berterima kasih dan tak lupa memeluk sekilas wanita muda yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


“Mbak Rahma!” Asyila berlari kecil menghampiri Rahma dan terlihat jelas sorotan mata Asyila begitu bahagia, “Mbak Rahma kapan sampai kesini?” tanya Asyila.


“Mungkin sekitar 20 menit, Nona Asyila apa kabar?” tanya Rahma dengan ramah.


“Alhamdulillah, kondisi Asyila sekarang jauh lebih baik.”


Asyila menoleh sekilas ke arah suaminya dan ternyata sang suami terus saja memperhatikan dirinya.


“Sebentar, ya mbak,” ucap Asyila lirih dan berjalan mendekati suaminya.


Abraham berbisik di telinga Asyila dan meminta sang istri untuk segera membawanya ke kamar. Asyila mengiyakan dan bergegas membawa suaminya ke dalam kamar.


“Sekarang, pergilah ke dapur. Bantulah apa yang bisa dibantu, kalau kekurangan sesuatu katakan saja kepada Pak Udin!”


“Baik, Mas. Asyila ke dapur dulu ya.. Muaacchh!”


Kini, Asyila, Arumi dan Rahma sangat sibuk di dapur. Kurang dari dua jam, akan banyak orang yang berdatangan. Mulai dari tetangga, saudara, kerabat, dan masih banyak lainnya yang turut hadir untuk melakukan Do'a bersama.


“Mbak Rahma, sekarang terlihat sangat berbeda. Semakin manis saja,” tutur Asyila memuji Rahma.


“Tetap saja, yang paling cantik adalah Nona Asyila,” balas Rahma yang berbalik memuji kecantikan Asyila.


Beberapa saat kemudian.


Herwan dan anak-anak telah kembali membawa banyak sekali makanan, ada roti cokelat dan ada beberapa keripik untuk cemilan orang-orang yang hadir dikediaman Abraham.


“Sayang!” Asyila dengan penuh semangat melambaikan tangan ke arah kedua buah hatinya yang tengah memasuki rumah.


“Bunda!” teriak mereka dengan penuh semangat dan berlari kecil mendekati Bunda mereka.


“Wah, anak-anak Bunda terlihat sangat bahagia. Memangnya kalian dari mana saja?” tanya Asyila penasaran.


“Keliling-keliling,” jawab Arsyad.


“Iya Bunda, seru sekali,” sahut Ashraf.


Rahma mendekat dan seketika itu juga kedua bocah kecil itu menoleh ke arah Rahma.


“Tante Rahma!” sapa mereka sambil melambaikan tangan ke arah Rahma.


Rahma mengangguk kecil dan membalas lambaian tangan mereka dengan begitu ramah.


Disaat yang bersamaan, orang-orang mulai berdatangan masuk ke dalam rumah. Asyila serta yang lainnya bergegas mempersilakan mereka masuk dan mengambil tempat untuk duduk.


Tak butuh waktu lama, acara Do'a bersama pun berlangsung. Do'a bersama biasanya dipimpin oleh Abraham, akan tetapi kali ini Abraham memilih untuk memanggil ustadz yang akan memimpin Do'a bersama.


Hati Asyila begitu damai, ia yakin bahwa semua kesulitan di dalam rumah tangganya akan segera berhasil.


Hamba percaya kepada Engkau Ya Allah, semoga setelah ini ada pelangi yang indah untuk keluarga kami. Aamiin ya Allah..


Abraham ❤️ Asyila

__ADS_1


Thanks, jgn lupa like ❤️ komen 😘


__ADS_2