Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Sangat Rindu


__ADS_3

Asyila sudah tak bisa menahan rindunya yang sangat besar kepada Sang suami tercinta. Setiap malam dirinya terbayang-bayang dengan sosok dari Abraham Mahesa, hingga akhirnya Asyila memutuskan untuk pagi itu juga dirinya pergi ke Jakarta menemui Sang suami serta buah hati tercintanya.


“Sayang, apakah kesayangan Ayah dan Bunda sudah sembuh?” tanya Asyila sambil menyentuh kedua bahu putra kecilnya.


Ashraf dengan polosnya mengangguk pelan tanda bahwa dirinya sudah sembuh.


“Sebentar lagi kita akan ke Jakarta menemui Ayah dan Kakak Arsyad,” tutur Asyila.


Mendengar penuturan Bundanya, Ashraf langsung meloncat kegirangan. Ia sudah sangat lama ingin bertemu dengan Sang Ayah sekaligus dengan Sang Kakak tercinta.


“Jangan lompat-lompat sayang! Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo sini Bunda mandikan!”


Ashraf dengan cepat menolak, dengan penuh semangat ia mengatakan akan mandi sendiri. Asyila pun setuju dan memilih untuk memasukkan pakaian ke koper selagi Ashraf masih mandi.


Namun, sebelum memasukkan pakaian ke dalam koper, Asyila lebih dulu meminta Eko untuk datang ke Perumahan Absyil.


“Bunda! Pakai baju baru ya!” pinta Ashraf didalam kamar mandi.


“Iya sayang!” seru Asyila.


Asyila cepat-cepat mencari pakaian yang terlihat bagus saat dikenakan oleh Ashraf. Ia tidak mau jika nanti buah hatinya mengoceh karena pakaiannya tidak terlihat baru.


Beberapa menit kemudian.


“Sudah Bunda,” tutur Ashraf yang baru selesai mandi.


Asyila beranjak dan cepat-cepat memberikan handuk untuk buah hatinya yang baru saja selesai mandi.


“Mau Bunda pakaikan baju sayang?” tanya Asyila.


Ashraf cepat-cepat menggelengkan kepalanya, “Ashraf pakai sendiri, Bunda.”


Asyik setengah membungkuk dan mencium kening buah hatinya.


“Anak pintar, ya sudah pakai ini,” tutur Asyila sambil memyerahkan pakaian milik Ashraf.


“Terima kasih, Bunda.”


“Sama-sama sayang!” seru Asyila.


Asyila telah selesai memasukkan pakaian ke dalam koper, tidak hanya pakaiannya dan pakaian Ashraf saja yang Asyila masukkan. Tetapi, pakaian suami pun Asyila masukkan karena Asyila tahu bahwa Pakaian suaminya sangat sedikit di rumah kedua orangtuanya.


“Sayang, Bunda mandi dulu ya. Ashraf diam di kamar dan jangan kemana-mana selama Bunda Mandi!” perintah Asyila.


“Baik, Bunda,” jawab Ashraf menuruti perintah dari Bundanya.


1 jam kemudian.


Eko telah tiba dan disaat yang bersamaan, Asyila dan Ashraf telah berada di depan rumah untuk segera pergi ke Ibukota Jakarta.

__ADS_1


“Selamat pagi, Nona Asyila dan bos kecil!” sapa Eko pada Asyila dan juga Ashraf.


“Selamat pagi juga Pak Eko, bagaimana kabar anak dan istri Pak Eko di rumah?” tanya Asyila.


Eko pun menjawab bahwa anak serta istrinya di rumah baik-baik saja. Kemudian, Eko balik tanya mengenai kabar Asyila maupun Ashraf.


“Alhamdulillah kami sekarang baik-baik saja,” balas Asyila.


Eko tersenyum dan mengangkat koper berukuran jumbo ke dalam bagasi mobil.


“Terima kasih, Pak Eko,” ucap Asyila yang tak lupa mengucapkan terima kasih setiap apa yang Eko lakukan serta kerjakan. Hal itu juga adalah suatu bentuk rasa terima kasih untuk menghargai setiap pekerjaan yang dilakukan oleh sopir pribadi Sang suami tercinta.


Kini istana keluarga kecil Abraham untuk sementara waktu kembali kosong. Dikarenakan, semuanya untuk beberapa waktu akan tinggal di kediaman Abraham mahesa yang berada di Jakarta.


“Bunda, mau jajan!” pinta Ashraf sambil memasang wajah cemberut.


Asyila tersenyum dan ia pun mengeluarkan cemilan di tas yang sudah ia masukkan beberapa cemilan selama berada diperjalanan menuju Jakarta.


“Ini sayang, makan pelan-pelan ya!”


“Iya Bunda,” balas Ashraf dan langsung menikmati cemilannya.


Asyila tak lupa memberikan Eko cemilan yang sebelumnya sudah ia buka untuk mempermudah Eko menikmatinya.


“Pak Eko, silakan dimakan!”


Eko menganggukkan kepalanya sembari mengucapkan terima kasih kepada Asyila.


Senyum tampan suaminya terus saja terbayang-bayang dibenak Asyila, sampai-sampai Asyila malu dibuatnya.


Ya Allah, hamba benar-benar gugup ketika ingin bertemu dengan Mas Abraham. Ya Allah, hamba mohon segera sembuhkanlah Mas Abraham, agar kami bisa berkumpul seperti kemarin.


Rindunya Asyila tak bisa di definisikan, seakan-akan keduanya tengah mengadakan pertemuan. Sungguh, Cinta keduanya benar-benar membuat orang iri.


“Pak Eko, nanti mampir di tempat kemarin ya!” pinta Asyila.


“Tempat oleh-oleh itu, Nona Asyila?” tanya Eko memastikan.


“Iya, Pak Eko,” balas Asyila.


“Ok, siap!” seru Eko.


Asyila setengah terkejut ketika ia menoleh ke samping, ternyata buah hatinya yang tadi masih sibuk mengemil sekarang malah tertidur pulas dengan posisi duduk dan tangan yang masih menggenggam cemilannya.


Asyila geleng-geleng kepala dengan senyum manis menghiasi bibirnya, ia pun dengan hati-hati mengambil cemilan di tangan Ashraf dan meletakkan kepala Ashraf di pahanya.


“Tidur yang nyenyak sayang,” ucap Asyila lirih sambil membelai lembut rambut Ashraf.


Perjalanan yang *** menyita waktu membuat Asyila ikut mengantuk, ia pun tertidur sembari menyandarkan kepalanya pintu mobil.

__ADS_1


Eko melirik lewat kaca mobil dan tersenyum bahagia. Sebenarnya, ia sangat rindu dengan Tuan Mudanya. Ada rasa sedih yang mendalam ketika mengetahui bahwa Tuan Mudanya mengalami kecelakaan beruntun dan kecelakaan itu sempat menjadi berita utama media cetak maupun elektronik seluruh Indonesia.


“Mas Abraham!” teriak Asyila dan seketika itu Asyila terbangun dari mimpinya.


Eko refleks menghentikan laju kendaraan dan untungnya dibelakang tidak ada kendaraan lainnya.


“Nona Asyila kenapa?” tanya Eko.


Asyila menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Kemudian, Asyik menoleh ke arah buah hatinya yang untungnya masih tidur.


Eko pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat oleh-oleh yang kurang dari 30 menit akan sampai di tempat.


Sesampainya di tempat khusus menjual aneka oleh-oleh khas Jawa barat, Asyila pun bersiap-siap untuk turun dan terlebih dahulu menggeser posisi tidur buah hatinya.


Akan tetapi, Eko dengan cepat menawarkan diri agar dirinya lah yang masuk ke tempat tersebut.


Akhirnya, Asyila setuju dengan menyebutkan apa saja yang ingin ia beli.


“Ini Pak Eko uangnya,” ucap Asyila sambil mengeluarkan uang kertas berwarna merah sebanyak 5 lembar kepada Eko.


Eko mengiyakan dan bergegas masuk ke tempat khusus menjual oleh-oleh.


Di dalam mobil, Asyila kembali membayangkan wajah suaminya. Tak terasa air matanya menetes, ia ingin sekali memeluk serta mencium suaminya. Menumpahkan rasa rindu yang sudah terpendam cukup lama.


“Mas, tunggu Asyila ya! Sebentar lagi kita akan bertemu dan Asyila akan selalu berada disisi Mas Abraham,” tutur Asyila sambil berlinang air mata.


Ashraf tiba-tiba terbangun dan tidurnya ketika merasakan ada tetesan air mata yang jatuh ke pipinya.


“Bunda jangan menangis,” ucap Ashraf dan bergegas bangkit dari tidurnya. Kemudian, memeluk tubuh Sang Bunda.


Asyila tersentuh dengan perhatian putra kecilnya.


“Maaf ya sayang, tidak seharusnya Bunda mengganggu Ashraf tidur,” ucap Asyila sambil menghapus air matanya yang berada di pipi kiri buah hatinya.


Ashraf menoleh ke sekitar dan bertanya kepada Bundanya kenapa mereka berhenti. Asyila pun menjawab bahwa ia harus membeli oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta.


Cukup lama Asyila dan Ashraf menunggu, sampai akhirnya Eko datang dengan membawa kresek jumbo berwarna merah dengan sangat penuh.


“Ramai ya Pak Eko?” tanya Asyila.


“Sebenarnya tidak terlalu ramai, Nona Asyila.. Hanya saja mereka membelinya cukup banyak,” jawab Eko dan menyerahkan uang kembalian kepada Asyila.


“Sudah, tidak usah dikembalikan,” tutur Asyila.


“Terima kasih, Nona Asyila.”


“Asyila juga mengucapkan terima kasih karena Pak Eko telah turun membeli oleh-oleh ini,” sahut Asyila.


Eko mengiyakan dan perjalanan pun kembali dilanjutkan.

__ADS_1


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2