
“Sudah tidak apa-apa, kalung ini juga sangat cantik,” balas Abraham.
“Disimpan saja ya Mas, Asyila sedang tidak ingin mengenakannya,” tutur Asyila.
Abraham mengangguk kecil dan meletakkan kalung tersebut ke dalam laci almari pakaian.
“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila.
“Kembali kasih, istriku yang sangat cantik,” puji Abraham.
“Ayo Mas kita tidur, besok Ashraf akan sibuk mengajak kita untuk menemaninya membuka kado-kado itu.”
“Syila tidur duluan ya. Mas mau sholat sunah dua raka'at dulu,” terang Abraham.
“Baik, Mas,” balas Asyila dan perlahan memejamkan mata untuk segera beristirahat.
Abraham tersenyum tipis melihat istri kecilnya yang begitu cantik. Kemudian, masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Beberapa saat kemudian.
Abraham telah selesai melaksanakan sholat sunah dua raka'at dan tak langsung tidur, justru ia ingin ke lantai bawah melihat yang lainnya sedang melakukan apa.
Dengan masih mengenakan sarung, Abraham turun ke bawah.
“Nak Abraham kenapa belum tidur?” tanya Arumi ketika melihat menantunya yang baru saja menuruni anak tangga.
“Sebentar lagi, Ibu. Sini biar Abraham saja yang membawa piring-piring kotor ini!”
“Tidak usah, ini hanya pekerjaan kecil saja,” balas Arumi yang tak ingin menantu idamannya membantu mengangkat piring-piring kotor.
Abraham dengan gerakan cepat mengambil alih dan membawa piring-piring tersebut ke dapur.
Arumi tertawa kecil melihat tingkah menantunya yang begitu menggemaskan.
“Loh, kok Paman disini?” tanya Dyah yang saat itu tengah menata piring bersih.
“Kamu juga kenapa disini? Sudah tahu punya bayi malah sibuk di dapur, sana masuk kamar!” perintah Abraham dengan tatapan serius.
Dyah terkejut dan tanpa pikir panjang meninggalkan dapur.
“Punya Paman satu, galaknya minta ampun,” gumam Dyah.
“Sini, biar saya saja yang mencucinya,” ucap Abraham pada Ema dan mengambil alih untuk mencuci piring, “Ini sudah malam, pulanglah!”
Ema tak bisa menolak perkataan Abraham karena Ema pun segan dengan suami sahabatnya itu.
“Baik, Pak Abraham,” balas Ema dan dengan cepat ia berlari menjauh.
Abraham di dapur dengan cepat mencuci piring dan juga meletakkannya di rak piring.
Arumi terperangah dengan apa yang dilakukan oleh menantunya itu.
Belum sampai 10 menit, alat makan yang kotor sudah bersih kinclong.
“Sudah selesai,” ucap Abraham kemudian melenggang menuju kamar.
Arumi sangat takjub dengan Abraham yang bisa dengan mudahnya menyelesaikan pekerjaan wanita.
“Yang pakai sarung jangan sampai lepas,” ucap Arumi bermonolog kemudian tertawa kecil.
Di dalam kamar, Abraham melepaskan sarung yang ia kenakan untuk segera tidur. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk kembali mengambil air wudhu, kemudian setelah itu ia merebahkan diri di tempat tidur dan perlahan tertidur dengan tangan yang menggenggam erat tangan istri kecilnya.
__ADS_1
Keesokan paginya.
Ema dan Dyah setelah melaksanakan sholat subuh, memutuskan untuk berkeliling Perumahan Absyil. Mereka keluar hanya berdua saja dan akan kembali ke rumah pukul 07.00 WIB.
“Ya ampun, rasanya sangat nyaman menghirup udara segar di kota Bandung. Kalau di Jakarta udaranya sudah tidak alami lagi,” tutur Dyah yang saat itu bertelanjang kaki agar semakin menikmati kesegaran udara di pagi hari.
“Kamu benar sekali Dyah, udara disini sangatlah segar. Oya, hari ini kamu mau masak apa?” tanya Ema.
“Sepertinya aku tidak masak, lagipula di rumah Aunty banyak makanan. Kemungkinan, kami akan memasak bersama karena persediaan di kulkas masih sangat banyak,” terang Dyah.
Suasana hati Dyah yang bahagia mendadak hancur ketika melihat wanita yang mulutnya sangatlah kejam.
Wanita itu tentu saja Ibu Ti.
“Kenapa Dyah?” tanya Ema ketika melihat perubahan ekspresi wajah Dyah.
“Lihat Ibu-ibu disana, apalagi yang pakai daster warna merah itu,” jawab Dyah sambil menunjuk ke arah Ibu Ti.
“Oh Ibu-ibu yang mulutnya seperti ember pecah itu,” sahut Ema.
Dyah mengangkat kedua alisnya dan mengajak Ema untuk sedikit lebih dekat tanpa diketahui oleh Keempat Ibu-ibu yang terlihat sedang bergosip.
“Kalian datang ke rumah Tuan Abraham kemarin?” tanya Ibu Ti pada tiga wanita dihadapannya.
“Kami bertiga kebetulan tidak datang karena sedang berada di luar kota. Memangnya kenapa Bu Ti?”
“Sini deh saya kasih tahu ya, bayi yang namanya Akbar itu bukan anak kandung dari Tuan Abraham loh,” ucap Bu Ti.
“Bu Ti jangan asal bicara, bagaimana mungkin itu bukan bayi Tuan Abraham?” tanya salah satu dari mereka dengan sangat penasaran.
“Saya ini tidak asal bicara, buktinya saja kita tidak pernah melihat Nona Asyila selama beberapa bulan dan datang-datang malah membawa bayi. Habis itu ya, pas kemarin saya lihat wajah bayi itu sama sekali tidak mirip dengan Tuan Abraham,” ungkap Bu Ti.
Dyah dan Ema tak bisa menahan kekesalan mereka ketika mendengar kebohongan Ibu Ti yang sudah sangat keterlaluan.
Dyah dengan kesal berlari dan seketika itu memberi tamparan keras di wajah Ibu Ti yang sudah sangat keterlaluan memfitnah keluarga Pamannya.
“Hei bocah, beraninya kamu menampar saya!” teriak Ibu Ti.
“Iya, kalian ini siapa sih datang-datang malah menampar Ibu Ti?” tanya salah satu dari mereka dengan sangat terkejut.
“Pernah mendengar kalimat mulutmu harimaumu? Kalau pernah dengar, kalimat itu sangat pantas untuk wanita seperti Ibu ini,” ucap Dyah sambil menunjuk ke arah Ibu Ti.
“Orang tua kamu apa tidak pernah mengajarkanmu sopan santun?” tanya Ibu Ti sambil mendorong Dyah dan untungnya Ema dengan sigap menahan tubuh Dyah yang hampir jatuh.
“Dan anda, apakah orang tua anda tidak pernah mengajarkan anda dengan berkata jujur?” tanya Dyah.
Dyah dengan berani mendorong Ibu Ti sampai terjatuh.
“Aakkhhh...” Dengan cepat, Ibu Ti terjatuh je tanah.
“Berhenti! Jangan membantu wanita yang tak takut dosa ini!” tegas Dyah setengah berteriak.
Dyah dengan berani, melotot tajam ke arah tiga wanita yang ingin membantu Ibu Ti.
“Apakah kalian orang baru di sini? Apakah kalian sudah pernah bertemu langsung dengan Paman Abraham dan juga Aunty Asyila? Dan apakah pernah kalian melihat tampang menggemaskan adikku Akbar? Kalau kalian belum, kenapa kalian sok membela wanita jahat ini?” teriak Dyah pada tiga wanita dihadapannya.
Teriakkan Dyah memancing orang-orang yang mendengarnya untuk segera keluar dari rumah dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Wanita ini kemarin sudah memfitnah adikku Akbar dan meragukan fakta bahwa Akbar adalah anak kandung Paman Abraham. Belum puas mendapat tamparan dari Aunty Asyila kemarin, maka aku yang menambahkan tamparan tadi!” teriak Dyah dengan penuh amarah, siapa yang akan terima jika ada orang yang memfitnah keluarganya, begitu juga dengan Dyah yang sangat marah dengan fitnah kejam dari seorang wanita yang jelas-jelas tidak dekat dengan keluarganya.
Dyah menoleh ke arah sekitar dan ternyata sudah banyak orang yang mengerumuni mereka.
__ADS_1
“Karena disini sudah ramai, bolehkah aku bertanya kepada kalian semua? Apakah kalian datang ke acara keluarga kami dan melihat wajah adikku Akbar yang tidak mirip dengan Paman?” tanya Dyah.
Tanpa pikir panjang, mereka berseru bahwa wajah bayi Akbar sangat mirip dengan Ayahnya, Abraham Mahesa.
“Atau diantara kalian juga merasa ragu bahwa adik Akbar bukan anak kandung dari Paman, majulah sekarang!” pinta Dyah.
Mereka kembali mengatakan dengan tegas bahwa wajah bayi Akbar begitu mirip dengan Abraham Mahesa.
“Dengarlah apa yang mereka katakan! Apakah Ibu Ti masih tak mempercayai fakta yang ada?” tanya Dyah yang sudah banjir air mata karena kemarahannya yang menggebu-gebu, “Baiklah, kalau anda ini masih tidak percaya. Maka kami akan melakukan tes DNA dan jika hasilnya adalah positif bahwa bayi itu adalah bayi Paman Abraham, maka anda harus siap-siap mendekam di penjara!” tegas Dyah.
Dyah berbalik badan dan bergegas meninggalkan Ibu Ti yang terlihat sangat ketakutan, ia tidak berpikir sampai sejauh itu dengan apa yang telah ia lakukan.
“Ibu Ti ini sudah saya peringatkan dari kemarin, kenapa malah semakin menjadi-jadi. Sekarang, Ibu Ti akan merasakan akibatnya,” ucap Ridha dengan sangat geram.
“Untung saya tidak termakan dengan ucapan Ibu Ti, kalau iya haduh sudah pasti saya akan bernasib buruk seperti Ibu Ti,” sahut wanita yang sebelumnya diajak berbicara oleh Ibu Ti.
“Semuanya, ayo kembali masuk ke dalam rumah. Kita sebagai manusia yang punya hati nurani tidak boleh mengatakan hal yang tidak-tidak, apalagi sampai memfitnah,” ucap Ridha.
Satu-persatu para penghuni Perumahan Absyil yang sempat mengerumuni Ibu Ti, perlahan pergi meninggalkan Ibu Ti dan masuk ke dalam rumah mereka masing-masing.
Kini, Ibu Ti baru menyadari bahwa ia sangatlah salah. Ia sangat takut jika dirinya sampai masuk ke dalam penjara akibat mulutnya yang tidak bisa di rem.
Disaat yang bersamaan, Dyah dan Ema tiba dikediaman keluarga Abraham Mahesa.
“Masalah tadi jangan memberitahukan kepada Paman ya, biar aku saja yang memberitahukannya,” ucap Dyah setengah berbisik.
“Tenang saja, aku akan diam. Oya, tadi itu kamu sangat hebat. Aku berharap setelah kejadian ini, wanita itu bisa diam dan tak lagi membicarakan hal yang tidak-tidak,” tutur Ema.
“Oh tentu saja, wanita seperti Ibu Ti memang harus diberi pelajaran. Dan aku, sama sekali tak menyesali apa yang telah aku lakukan,” tegas Dyah.
Abraham tiba-tiba muncul dan sempat mendengar keponakannya membahas masalah Ibu Ti.
“Kenapa dengan wanita itu?” tanya Abraham.
“Pa-paman, kenapa Paman bisa tiba-tiba muncul?” tanya Dyah terbata-bata.
“Ini rumah Paman, sudah seharusnya Paman ada disini. Sekarang jawab, apa lagi yang telah dilakukan oleh wanita bernama Ibu Ti?” tanya Abraham sembari berkacak pinggang.
Dyah menggigit bibirnya sendiri dan bingung harus memulainya dari mana.
“Ta-tadi Dyah menampar wajah Ibu Ti, Paman. Karena ucapannya yang sangat keterlaluan,” terang Dyah.
Abraham terkejut mendengar keterangan dari Dyah yang telah menampar wajah Ibu Ti.
“Jelaskan kepada Paman dengan sangat detail!” perintah Abraham.
Dyah tertunduk diam karena dibelakang Pamannya ada Aunty-nya.
“Ada apa ini?” tanya Asyila dan seketika itu Abraham menoleh ke belakang.
Dyah dan Ema saling tukar pandang, mereka tak ingin jika Asyila sampai tahu masalah tersebut.
Karena jika Asyila tahu, Asyila pasti sangat sedih dan mereka tak ingin membuat Asyila sedih.
“Tidak ada apa-apa, ayo masuk!” ajak Abraham menoleh ke arah Dyah dan Ema agar segera masuk ke dalam.
Asyila menyadari ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh ketiganya. Akan tetapi, ia memilih untuk tak bertanya.
“Biar Akbar Mas yang gendong,” ucap Abraham mengambil alih mengendong bayi mungil mereka yang saat itu tidak tidur.
Abraham ❤️ Asyila
__ADS_1
Kalau ada tetangga yang seperti Ibu Ti, langkah apa yang akan kalian ambil? komen dibawah 👇