
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Abraham dan Asyila pun tiba. Hari itu sudah waktunya bagi mereka untuk kembali ke Jakarta.
Asyila bahkan sudah membeli cukup banyak keperluan dapur untuk stok di Jakarta.
“Mas, Syila beres-beres rumah sebentar ya,” tutur Asyila yang ingin merapikan rumah sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan Perumahan Absyil.
“Mas ikut,” sahut Abraham yang juga ingin membantu istri kecilnya beres-beres rumah.
“Mas diam disini saja, jagain bayi kita. Tenang saja, Asyila tidak akan lama dibawah. Sudah dulu ya Mas, waktunya nanti tidak cukup kalau Asyila tidak bergegas membersihkan serta beres-beres lantai bawah,” terang Asyila dan melenggang pergi keluar dari kamar tersebut.
Ketika baru saja menuruni anak tangga, Asyila terkejut melihat Bela yang tengah mengepel lantai.
“Bela sedang apa? Sini biar Aunty saja yang mengepel lantai!”
Asyila tidak ingin membuat Bela merasa bahwa gadis kecil itu harus membantunya beres-beres rumah.
Yang Asyila inginkan adalah Bela nyaman selama tinggal bersama dirinya.
“Tidak usah, Aunty. Yang ini biar Bela saja,” jawab Bela yang kembali fokus mengepel lantai.
“Tetapi....”
“Kalau Bela hanya berdiam diri saja, itu akan membuat Bela menjadi anak malas. Bela tidak mau menjadi seperti Bapak dan Ibu yang kata orang-orang mereka adalah pemalas,” terang Bela sembari menundukkan kepalanya karena sangat sedih dengan nasib hidupnya.
“Bela, bukan maksud Aunty seperti itu. Ya sudah, terserah Bela saja. Akan tetapi, kalau Bela lelah langsung berisitirahat ya, Aunty tidak mau Bela kelelahan,” ujar Asyila.
Bela mendongakkan kepalanya dan kembali bersemangat untuk mengepel lantai.
“Karena Bela sudah memutuskan untuk mengepel lantai, Aunty mau ke ruang keluarga dulu ya. Mau bersih-bersih,” tutur Asyila yang senyumnya tak pernah luntur bila sedang berbicara dengan Bela.
Ketika Asyila baru saja melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, Bela tiba-tiba menghentikannya.
“Aunty!” panggil Bela.
Seketika itu juga Asyila menoleh ke arah gadis kecil yang memanggil dirinya.
“Iya Bela, kenapa?” tanya Asyila dengan senyum manisnya.
“Ruang keluarga sudah Bela bersihkan,” jawab Bela sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Asyila tercengang sekali lagi, Bela benar-benar membuatnya takjub. Meskipun begitu, Asyila tidak terlalu senang karena yang Asyila inginkan adalah kenyamanan Bela.
“Bela sayang, Aunty tidak ingin Bela bersih-bersih rumah. Ok lah kalau sekedar membantu, tapi jangan seperti ini. Aunty tidak ingin menyusahkan Bela, tugas Bela disini hanyalah tinggal serta belajar agar cita-cita Bela untuk menjadi guru TK tercapai,” ungkap Asyila yang kini sudah berada dihadapan Bela sembari menyentuh kedua bahu gadis kecil itu.
“Aunty, Bela suka dengan apa yang Bela kerjakan,” jawab Bela dengan mata berkaca-kaca.
Asyila seketika itu memeluk tubuh Bela dan mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih ya sayang,” ucap Asyila yang akhirnya pasrah dengan keinginan Bela itu.
Setelah memeluk tubuh Bela, Asyila pun memutuskan untuk menyiram tanaman hias miliknya di halaman depan rumah.
“Hai Asyila!” Ema melambaikan tangannya ke arah Asyila yang baru saja keluar dari pintu rumah.
Asyila menoleh dan membalas lambaian tangan sahabatnya, Ema.
“Apakah kamu hari ini akan berangkat ke Jakarta?” tanya Ema yang sudah berdiri di dekat tembok dengan menaiki sebuah batu agar bisa dilihat oleh Asyila dengan jelas.
Asyila tak langsung menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, Asyila lebih dulu tertawa karena kelakuan menggemaskan kelakuan seorang Ema.
“Kamu kenapa malah tertawa begitu?” tanya Ema mengernyitkan keningnya.
“Habisnya kelakuan kamu itu begitu menggemaskan, kenapa tidak sekalian lompat saja?” tanya Asyila.
Ema memanyunkan bibirnya dan memutar matanya dengan kesal.
“Ok baiklah, hari ini kami akan melakukan perjalanan ke Jakarta,” terang Asyila yang sesekali menoleh ke arah tanaman hias miliknya yang belum ia siram.
“Serius, lalu bagaimana aku dan juga Dyah?” tanya Ema dengan tatapan penuh kebingungan.
“Ayolah Ema, kita sudah memiliki keluarga. Apa kamu mau menikmati sahur pertama di Jakarta? Maksudku, apakah kamu tidak pulang?” tanya Asyila penasaran.
“Aku sebenarnya ingin pulang, hanya saja tidak bisa hari ini. Kemungkinan, 3 hari kemudian baru kami bisa pulang,” jawab Ema apa adanya.
“Ema, pagi-pagi begini seharusnya kamu banyak-banyak tersenyum. Kamu tidak usah sedih, yang terpenting kamu bisa pulang ke Jakarta.”
“Oya Asyila, apakah Bela juga ikut ke Jakarta?” tanya Ema penasaran.
“Soal itu aku sudah menanyakannya dari semalam, hanya saja Bela masih bingung untuk menjawabnya. Ya mungkin nanti kami akan mendapatkan jawaban dari Bela,” jawab Asyila.
__ADS_1
Ema menganggukkan kepalanya berulang kali dan memutuskan untuk melanjutkan aktivitasnya menyapu serta beres-beres rumah.
Asyila mengiyakan dan tak lupa melambaikan tangannya ke arah sahabatnya, Ema.
“Sekarang waktunya bagi ku untuk menyirami tanaman-tanaman hias ini. Kalian semua harus sehat, semoga saja kalian tidak ada yang kekeringan. Dikarenakan, selama bulan puasa kami akan tinggal di Jakarta dan akan kembali setelah lebaran,” tutur Asyila berbicara kepada tanaman-tanaman hias miliknya yang dibeli oleh Sang suami tercinta.
Cukup lama Asyila menyirami seluruh tanaman hias miliknya, sampai akhirnya ia menyudahi aktivasinya dan bergegas masuk ke dalam untuk melihat bayi mungilnya.
“Aunty!” panggil Bela pada Asyila yang saat itu akan menaiki anak tangga.
Asyila menoleh dan mendekat ke arah Bela yang baru saja memanggil dirinya.
“Iya sayang, ada apa?” tanya Asyila yang seakan-akan bertanya kepada anak kandungnya sendiri.
“Bela mau ikut ke Jakarta,” jawab Bela malu-malu.
“Benarkah?” tanya Asyila yang terlihat sangat senang dengan jawaban dari Bela.
Bela dengan malu-malu mengiyakan dan seketika itu Asyila memeluk tubuh Bela sebagai tanda terima kasih karena Bela akan ikut bersamanya ke Jakarta.
“Bela, terima kasih ya sayang.”
“Bela yang seharusnya terima kasih kepada Aunty dan juga Paman. Terima kasih sudah membawa Bela ke dalam kehidupan Aunty dan juga Paman,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu ini ternyata pintar berbicara juga ya, sangat cocok kalau menjadi seorang guru TK,” puji Asyila sembari menyentuh dagu Bela.
Bela hanya tersenyum mendengar Asyila memuji dirinya.
“Bela sudah mandi?” tanya Asyila pada gadis kecil dihadapannya.
Bela dengan penuh semangat menggelengkan kepalanya.
“Karena Bela belum mandi, sekarang pergilah mandi. Habis itu kita sarapan dan berangkat ke Jakarta!”
“Baik, Aunty!” seru Bela dan berlari untuk segera membersihkan diri.
Asyila geleng-geleng kepala sembari tertawa kecil melihat tingkah laku Bela yang menggemaskan.
Kemudian, Asyila kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
“Mas...” Asyila yang baru saja masuk ke dalam kamar, seketika itu memanggil suaminya yang tak berada di dalam kamar. Bahkan, bayi mungil merekapun juga tak berada di dalam kamar.
“Kemana Mas dan bayi Akbar? Kaki Mas Abraham belum sembuh, kenapa malah keluar dari kamar,” ucap Asyila bermonolog dan bergegas keluar kamar untuk mencari Ayah dan anak tersebut.
Ketika Asyila ingin menuruni anak tangga, samar-samar Asyila mendengar suara Abraham yang tengah berbicara di kamar Arsyad dan juga Ashraf.
“Mas Abraham!” Asyila bernapas lega ketika tahu bahwa suami serta bayi mereka ada di dalam kamar tersebut.
Abraham seketika itu menoleh dan tersenyum lebar ke arah istri kecilnya.
“Ya ampun Mas, Syila hampir saja panik karena Mas dan bayi Akbar tidak berada di kamar,” tutur Asyila dan mengambil alih menggendong bayi mungil mereka.
Abraham mencubit pelan hidung mancung istri kecilnya dan merekapun bergegas keluar dari kamar buah hati mereka.
“Mas, Bela mau ikut ke Jakarta,” tutur Asyila.
“Alhamdulillah kalau Bela mau ikut kita ke Jakarta,” balas Abraham.
Keduanya berjalan memasuki kamar mereka untuk bersiap-siap diri.
“Mas pakai baju yang ini ya?” tanya Asyila memperlihatkan pakaian pilihannya.
“Boleh, apapun yang Asyila pilihkan Mas akan setuju,” jawab Abraham.
Asyila tersipu malu, suaminya itu benar-benar membuat Asyila seperti terbang bebas.
***
Beberapa saat kemudian.
Eko berlari kecil masuk ke dalam rumah dan mengangkat semua barang-barang yang akan dibawa menuju Jakarta.
“Pak Eko sudah sarapan belum?” tanya Asyila pada Eko, sopir pribadi suaminya.
“Alhamdulillah, saya sudah Nona Asyila,” jawabnya dan membuka pintu mobil untuk Asyila.
Asyila masuk ke dalam mobil dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Kemudian, disusul oleh Abraham dan juga Bela.
__ADS_1
Eko pun masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan mobil yang ia kendarai dari area halaman rumah. Kemudian, ia bergegas keluar mobil dan mengunci rapat gerbang rumah milik keluarga kecil Tuannya.
“Bismillahirrahmanirrahim, semoga sampai dengan selamat,” ucap Abraham.
Mobil itupun perlahan meninggalkan area Perumahan Absyil menuju Ibukota Jakarta.
“Bela sudah pernah ke Jakarta?” tanya Asyila penasaran.
“Jakarta itu seperti Bandung, bukan?” tanya Bela.
“Hhmm.. Mungkin sama seperti Bandung. Akan tetapi, Bandung lebih sejuk kalau menurut Aunty ya begitu. Kalau Jakarta jalannya macet, tapi tidak setiap saat macetnya,” terang Asyila.
Bela hanya manggut-manggut saja mendengar apa yang dikatakan oleh Asyila.
Abraham tersenyum tipis sembari terus saja memandangi wajah istri kecilnya yang setiap hari membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
“Mas, tolong jangan melihat Asyila dengan tatapan seperti itu,” ucap Asyila berbisik.
“Memangnya kenapa? Melihat wajah Asyila seperti vitamin untuk Mas,” jawab Abraham yang juga berbisik.
“Mas ini ada-ada saja,” ucap Asyila yang kini tertawa lepas.
Abraham, Bela dan juga Eko seketika itu menoleh ke arah Asyila.
Deg!
Asyila langsung menghentikan tawanya dan menundukkan kepalanya karena malu.
Melihat istri kecilnya yang sudah kikuk, Abraham pun tertawa lepas dan membuat suasana di dalam mobil sedikit terasa aneh.
Disisi lain.
Arumi dan Herwan tengah sibuk membersihkan rumah mereka sendiri, dikarenakan mereka akan lama tinggal dikediaman menantu mereka, Abraham Mahesa.
“Nenek, kapan kita ke rumah Ayah?” tanya Ashraf yang saat itu tengah duduk di kursi sembari menikmati cemilan yang dibuat oleh Sang Nenek untuknya seorang.
“Sebentar lagi ya sayang, tidak sampai 20 menit kita sudah berangkat. Lagipula kita juga sedang menunggu Pak Udin untuk menjemput kita,” jawab Arumi.
Ashraf mengangguk kecil dan kembali menikmati cemilannya.
“Mas, sekarang bagaimana ya dengan cucu kita Akbar? Jadi kangen ingin menggendong cucu kita,” tutur Arumi pada suaminya.
“Pasti semakin lucu dan juga menggemaskan,” balas Herwan.
“Tin... Tin... Tin..” Suara klakson mobil berbunyi yang artinya Pak Udin sudah sampai di depan rumah.
Ashraf seketika itu berlari keluar dan tak sabar ingin ke rumah orangtuanya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Pak Udin.
“Wa’alalaikumsalam,” jawab Ashraf dengan penuh semangat.
“Wa’alaikumsalam,” balas Arumi dan juga Herwan.
Pak Udin mengangguk kecil dengan sangat sopan kepada mertua dari majikannya.
“Ibu dan Bapak apa kabar?” tanya Pak Udin para Arumi dan juga Herwan.
“Alhamdulillah kami baik, Pak Udin apa kabar?” tanya Herwan balik.
“Alhamdulillah saya juga baik, Pak Herwan,” jawab Pak Udin.
Ashraf mendekat dan menggerakkan tangannya Pak Udin.
“Ayo kita pulang!” pinta Ashraf yang terlihat tak sabaran.
Mereka bertiga pun tertawa melihat kelakuan mengemaskan Ashraf.
“Ashraf masuk duluan ya, Nenek mau mengambil tas dulu di kamar,” tutur Arumi dan kembali masuk ke dalam untuk mengambil tas yang tentu saja di dalamnya ada pakaian sehari-hari selama tinggal di kediaman menantunya.
Tak butuh waktu lama, Pak Udin pun mulai mengendarai mobil milik Abraham untuk segera tiba dikediaman Abraham Mahesa.
“Nenek, Ayah kesini sama Bunda 'kan?” tanya Ashraf memastikan.
“Tentu saja, Bunda sekarang tidak kemana-mana dan akan terus bersama kita,” jawab Arumi.
Arumi sangat mengerti mengapa Ashraf bisa bertanya seperti itu. Kejadian yang menakutkan itu sampai sekarang masih membekas di hati Arumi, rasanya sangat sakit ketika melihat video dimana putri kesayangannya diperlakukan dengan sangat kejam.
Akan tetapi, sekarang Asyila sudah baik-baik saja dan bahkan membawa anggota baru yang begitu menggemaskan.
__ADS_1