Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Membeli Baju Lebaran


__ADS_3

Pukul 20.45 WIB.


Seluruh keluarga tengah berkumpul di ruang keluarga dan tengah bersenda gurau dengan begitu bahagia.


Ashraf tiba-tiba teringat dengan janji Ayahnya yang akan memberikannya hadiah karena telah berhasil memancing ikan Lele paling banyak.


Ashraf beranjak dari duduknya dan seketika itu duduk dipangkuan Ayahnya. Abraham sangat peka dengan apa yang dilakukan oleh Ashraf, Abraham menduga bahwa Ashraf ingin meminta sesuatu darinya.


“Ayah!” panggil Ashraf dengan suara yang begitu lembut.


Abraham mengangkat sebelah alisnya mendengar panggilan lembut dari putra keduanya.


“Iya Ashraf sayang, ada apa?” tanya Abraham yang suaranya tak kalah lembut dari putra keduanya itu.


“Ayah!” panggil Ashraf sekali lagi.


“Oya Ashraf sayang, Ashraf mau minta apa dari Ayah?” tanya Abraham penasaran.


“Ayah, kemarin Ashraf menang memancing ikan Lele paling banyak. Hadiah buat Ashraf mana?” tanya Ashraf menagih janji Ayahnya.


“Oh, jadi itu alasannya. Besok ya sayang, kita semua keluar mencari baju lebaran sekaligus membeli sesuatu yang Ashraf inginkan,” terang Abraham.


“Ayah serius?” tanya Ashraf memastikan.


“Iya sayang, Ayah serius,” jawab Abraham.


“Asik, akhirnya Ashraf punya hadiah,” ucapnya dengan penuh bahagia.


Ashraf turun dari pangkuan Ayahnya dan berjoget-joget dengan penuh gembira.


Apa yang dilakukan Ashraf, menjadi hiburan tersendiri untuk keluarganya. Kedua orangtuanya serta yang lain tertawa lepas melihat Ashraf yang dengan semangat berjoget, hingga bokongnya bergerak-gerak menggemaskan.


Ashraf pun akhirnya berhenti setelah lelah berjoget karena kesenangan. Ia pun mengantuk dan mengajak Kakaknya untuk segera tidur sekaligus menemaninya tidur.


Arsyad mengiyakan dan pamit kepada yang lainnya karena akan tidur lebih dulu.


“Aunty, Bela juga mau tidur ya,” ucap Bela dan setelah mendapat respon dari Asyila, Bela pun bergegas pergi menuju kamar untuk segera tidur.


“Besok, kita akan pergi berbelanja. Semua pakaian atau barang yang Ayah, Ibu, Dyah, Fahmi, Abang Temmy, Mbak Yeni serta yang lainnya akan ditanggung oleh aku,” terang Abraham.


Mereka semua bertepuk tangan karena Abraham akan membelikan mereka pakaian serta apapun yang mereka inginkan persiapan lebaran idul Fitri.


“Mas, Asyila tidak usah beli baju baru ya. Soalnya pakaian Asyila masih banyak yang belum Asyila kenakan, Asyila mohon pengertian dari Mas Abraham,” tutur Asyila lirih dan hanya di dengar oleh Abraham.


“Kalau itu maunya Asyila, Mas tidak memaksa. Selagi Asyila nyaman, kenapa tidak?”


“Terima kasih, Mas Abraham,” ujar Asyila yang sangat senang memiliki suami yang begitu pengertian.


Setelah mengucapkan terima kasih, Asyila pamit untuk kembali ke kamarnya. Ia ingin beristirahat dikarenakan bayi mungilnya tidak dapat diprediksi, kadang bayinya tidur tenang dan kadang pula bayi mungilnya tiba-tiba menjadi rewel.


Karena Asyila sudah masuk ke dalam kamar, Abraham pun memutuskan untuk ikut beristirahat. Sampai pada akhirnya, ruang keluarga itu kosong karena semuanya memutuskan untuk tidur.


Keesokan paginya.


Dyah dan Asyila tengah menikmati mentari pagi sembari menjemur bayi mungil mereka untuk mendapatkan vitamin yang dipercaya bagus untuk kulit serta kesehatan.

__ADS_1


“Aunty!” panggil Dyah pada Asyila yang tengah berdiri tak jauh darinya.


“Iya, Dyah. Ada apa?” tanya Asyila menoleh ke arah Dyah.


“Sebenarnya Dyah mendengar rumor, mengenai rumah tangga Kevin dan juga Rahma,” tutur Dyah.


“Rumor? Memangnya kamu mendengar rumor apa?” tanya Asyila sedikit penasaran.


“Kalau tidak salah, Kevin dan Rahma sudah bercerai,” jawab Dyah.


“Astaghfirullahaladzim, kamu mendapatkan rumor itu darimana, Dyah? Tolong, jangan membahas masalah mereka lagi. Mungkin saja itu hanya rumor yang dibuat-buat oleh mereka yang tak suka dengan pernikahan Kevin dan Mbak Rahma,” tegas Asyila.


Dyah hanya mengiyakan dan memutuskan untuk tak memikirkan rumor tersebut.


“Mas Abraham mau kemana?” tanya Asyila pada suaminya yang telah berpakaian rapi.


“Ada urusan penting, Asyila,” jawab Abraham.


“Maaf, Mas. Kalau boleh tahu urusan penting apa?” tanya Asyila penasaran.


“Begini, Mas harus pergi ke perusahaan yang ada di Jakarta. Asyila tentu tahu kalau Mas jarang sekali mengunjungi perusahaan Mas yang lainnya, apa Asyila mau ikut dengan Mas?” tanya Abraham.


“Tidak, Mas. Asyila di rumah saja menemani anak-anak dan keluarga yang lainnya,” jawab Asyila.


“Syila tidak perlu khawatir, sebelum jam 12 siang Mas sudah kembali,” ujar Abraham.


Setelah berbincang-bincang sedikit, Abraham bergegas pergi menuju perusahaannya yang berada di Jakarta. Untungnya, lokasi perusahaan Abraham tak terlalu jauh. Sehingga, sebelum jam 12 siang dirinya bisa kembali pulang ke rumah.


Asyila melambaikan tangannya ke arah mobil yang perlahan meninggalkan halaman rumah sampai akhirnya tak terlihat lagi.


“Ashraf yang tenang ya sayang, Ayah sedang ada pekerjaan penting. Kalau pekerjaan Ayah sudah selesai, Ayah langsung pulang dan kita berbelanja baju lebaran,” terang Asyila.


Ashraf bernapas lega dan melenggang pergi melanjutkan aktivitasnya yang sedang bermain bersama Bela dan juga Arsyad di teras depan rumah.


Sore hari.


Ashraf terlihat sangat senang dan tak terlihat seperti orang yang tengah berpuasa, hal tersebut dikarenakan mereka semuanya tengah bersiap-siap untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di ibukota Jakarta tercinta.


“Asik, Ashraf punya baju baru dan hadiah,” terangnya sedikit pamer.


“Ashraf, tidak boleh berbicara seperti itu,” sahut Abraham mengingatkan putra keduanya.


Ashraf meminta maaf dan berjanji tidak akan banyak bicara seperti yang sebelumnya.


“Ayah sama sekali tidak marah, Nak. Ayo naik ke mobil, keburu Maghrib!” ajak Abraham.


Pusat perbelanjaan yang mereka tuju tentulah tidak jauh. Yang membuat perjalanan lama adalah macet yang memang cukup parah dan berharap kedepannya Jakarta bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.


Perjalanan yang seharusnya tidak sampai 30 menit, karena macet menjadi hampir 1 jam lamanya.


“Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga,” tutur Abraham.


Fahmi, Dyah serta kedua orangtuanya bergegas berkumpul pada keluarga Abraham.


Sebelum masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut, Abraham meminta yang lainnya mengucapkan Basmallah sebelum masuk. Hal tersebut, agar mereka tak khilaf. Dikarenakan, Allah tak suka dengan orang-orang yang berlebihan dalam berbelanja.

__ADS_1


“Bismillahirrahmanirrahim,” tutur mereka secara kompak.


Mereka berjalan melangkah bersama-sama memasuki area pusat perbelanjaan itu. Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka tertarik dengan sebuah tempat yang menjual berbagai macam pakaian muslim.


“Ayo kita masuk ke sini saja!” ajak Abraham.


Abraham bergantian menggendong bayi mungil mereka. Seperti itulah yang terus mereka lakukan selama berada di tempat tersebut.


“Bela mau yang mana sayang? Bilang tidak perlu sungkan-sungkan sama kami, ambil saja pakaian yang Bela inginkan. Nenek sebelumnya sempat berjanji akan membelikan Bela pakaian lebaran, jadi sekaranglah waktunya Bela memilih. Jadi, hari ini yang membelikan pakaian tidak hanya Paman Abraham, tetapi Nenek Arumi juga akan membelikan Bela pakaian,” ungkap Arumi dengan sangat senang.


“Terima kasih, Nenek,” balas Bela dengan senyum manisnya.


Abraham geleng-geleng kepala melihat keluarganya yang ternyata cukup lama dalam memilih pakaian yang cocok.


Untungnya, ada istri kecilnya yang selalu menghiburnya agar tak jenuh karena untuk memilih pakaian yang cocok membuat waktu cukup lama.


“Ayah, Arsyad pilih baju Koko yang ini saja. Ini bisa Arsyad gunakan di pondok,” terang Arsyad.


“Bagus, Nak. Itu pilihan yang sangat tepat,” sahut Abraham.


“Pintarnya Bunda memang hebat dalam memilih pakaian,” puji Asyila.


Arsyad meletakkan pakaian yang ia pilih dalam sebuah keranjang belanja. Kemudian, ia duduk bersama Ayah dan Bundanya di kursi yang memang telah disediakan oleh pemilik tempat tersebut.


“Ayah, Ibu dan Bela juga sudah selesai memilih pakaian. Salah satu pakaian Bela biar ibu saja yang bayar,” terang Arumi.


“Tidak usah, Ibu. Biar Abraham saja yang membayarnya,” balas Abraham.


“Jangan, Nak Abraham. Bagaimanapun Ibu sebelumnya sudah berjanji bahwa akan membelikan Bela pakaian baru,” jelas Arumi dan memberikan uang tunai seharga salah pakaian yang dipilih oleh Bela.


Mau tak mau Abraham pun menerima uang tersebut untuk menghargai kebaikan Ibu mertuanya terhadap Bela.


“Akhirnya ketemu juga pakaian yang pas untuk Dyah,” terang Dyah dan meletakkan pakaiannya di keranjang belanja yang sebelumnya sudah diisi oleh pakaian Arsyad, Arumi, Herwan dan juga Bela.


Beberapa saat kemudian.


Waktu hampir mendekati Maghrib dan untungnya mereka telah selesai memilih pakaian, Abraham membayar semua harga pakaian tersebut dan bergegas untuk segera meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.


“Mas, sepertinya kita buka puasa diluar saja ya! Soalnya, Asyila tidak memasak tadi,” terang Asyila.


Abraham tersenyum lebar sembari menyentuh sekilas pipi istri kecilnya.


“Syila tidak perlu khawatir, kita akan makan diluar. Ada tempat rekomendasi yang cocok untuk kita berbuka puasa?” tanya Abraham.


“Paman, saya ada tempat yang sangat cocok untuk kita berbuka puasa. Bagaimana kalau kita pergi ke kedai makanan milik saya sendiri?” tanya Fahmi.


“Wah itu ide yang sangat bagus, ayo kita berangkat kesana!” ajak Abraham.


Dyah tersenyum lebar pada suaminya, ia senang karena suaminya akan membawanya ke tempat usaha Sang suami.


“Mas malu kalau Dyah menatap Mas dengan begitu intens,” terang Fahmi yang salah tingkah karena tatapan dari istrinya.


Dyah segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Mas Fahmi narsis banget sih, siapa juga yang menatap Mas Fahmi secara intens?” tanya Dyah yang tak menoleh ke arah suaminya itu.

__ADS_1


Like ❤️


__ADS_2