
Bandung.
Abraham turun dari mobil dengan dipapah oleh sopir pribadinya, Eko. Malam itu, Abraham terlihat sangat lelah karena telah berhasil menangkap para mucikari yang menjual remaja-remaja yang berumur dibawah 17 tahun untuk dijadikan sebagai pemuas ***** para pria hidung belang.
“Tuan Muda Abraham sebaiknya beristirahatlah untuk sementara waktu. Tolong jangan pergi untuk menangkap mereka!” pinta Eko yang sangat kasihan dengan Abraham yang sekarang.
“Jangan menggurui ku, biarkan aku menjalani kehidupan yang sekarang dengan seperti ini. Kalau bukan gara-gara penjahat di luar sana, tidak mungkin istriku menghilang seperti ini,” tegas Abraham dan setengah mendorong tubuh Eko agar menjauh darinya.
Abraham berjalan gontai masuk ke dalam rumah dan sampai masuk ke dalam kamar.
Eko yang melihat majikannya hanya bisa mengelus dada sembari berdo'a agar majikannya kembali seperti semula.
Di dalam kamar, Abraham langsung melepaskan pakaiannya yang dibeberapa titik terdapat noda darah. Noda darah dari para penjahat yang berusaha ingin membunuhnya.
“Asyila!” teriak Abraham dan tiba-tiba menangis histeris.
Kepergian Asyila, membuat hidup Abraham menjadi berantakan. Meskipun, sampai sekarang Abraham tak pernah meninggalkan sholat sunah dan wajibnya.
Yang membedakannya adalah tidak ada lagi yang memasakkan makanan kesukaan, membangunkannya, tersenyum manis padanya dan suara-suara lembut yang sering dilontarkan oleh istrinya sudah tak pernah didengarnya lagi.
Eko menarik napasnya yang panjang dan menghela napasnya setelah mendengar teriakkan Abraham yang sungguh memilukan. Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Eko mengenai kematian Asyila yang secara tiba-tiba itu.
“Tidak hanya Tuan Muda Abraham saja yang tidak bisa menerima kematian Nona Asyila. Aku yang hanya seorang sopir, begitu sedih mengetahui kematian menyedihkan Nona Asyila. Ya Allah, kenapa harus selalu keluarga ini yang ditimpa musibah? Kenapa tidak memberikan musibah ini kepada pasangan yang kurang ajar diluar sana?” Protes Eko.
Keesokan paginya.
Abraham yang baru saja melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid, langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Pria itu memutuskan untuk mendengarkan lagu yang biasa diputar ketika bersama dengan istrinya.
“Kau, jaga selalu hatimu.. Saat jauh dari ku, tunggu aku kembali.
Ku, mencintaimu selalu.. Menyayangimu sampai, akhir menutup mata,” tutur Abraham yang ikut serta dalam menyanyikan lagu favoritnya.
Tanpa sadar, air mata Abraham menetes ketika menyanyikan lagu tersebut.
Eko yang sedang melintas, hanya bisa berdo'a agar rasa sedih dihati majikannya bisa segera hilang dan kembali beraktivitas seperti biasanya.
“Tok... Tok...”
Suara ketukan pintu terdengar oleh Eko dan cepat-cepat Eko melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
“Tok... Tok...”
__ADS_1
“Iya, sebentar!” seru Eko sambil memperkeras suaranya agar orang yang mengetuk pintu itu segera berhenti.
“Ceklek!” Suara pintu terbuka.
“Assalamu’alaikum, Paman ada di dalam?” tanya Fahmi.
“Wa’alaikumsalam, kebetulan Tuan Muda Abraham ada di dalam. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa?” tanya Eko penasaran, “Soalnya, Tuan Muda Abraham saat ini lagi sedih di ruang tamu,” imbuhnya menjelaskan suasana hati Abraham yang tengah sedih teringat dengan sosok wanita yang dicintainya, Asyila.
“Sebenarnya ini bisa dikatakan tidak penting. Akan tetapi, Dyah...” Fahmi bingung harus menjelaskan mengenai kedatangannya setelah tahu suasana hati Paman dari istrinya sedang tidak baik.
Tiba-tiba Abraham datang dan membuka pintu rumah itu lebar-lebar.
“Ada apa, Fahmi?” tanya Abraham datar.
Fahmi mengulum bibirnya sendiri dan malah tenggelam dalam lamunannya.
“Mas, kenapa malah bengong?” tanya Eko sambil mengibaskan tangannya ke arah wajah Fahmi. Akan tetapi, tak sampai mengenai wajah Fahmi.
“Hah? Maaf-maaf,” ucap Kahfi dan mengusap wajahnya sendiri, “Begini, Dyah tiba-tiba menangis dan ingin tidur di kamar yang biasa menjadi tempat Dyah tidur. Apa boleh untuk beberapa hari Dyah tidur di kamar yang dimaksudkan oleh Dyah?” tanya Fahmi berharap Abraham mengizinkannya.
Abraham tertawa kecil dan langsung mengiyakan permintaan Dyah lewat Fahmi.
“Tentu saja boleh, dimana Dyah? Aku sangat ingin mencubit pipinya,” ucap Abraham.
“Astaghfirullahaladzim, sejak kapan keponakan Paman menjadi cengeng seperti ini?” tanya Abraham dan dengan gemas mencubit pipi keponakannya.
“Siapa juga yang cengeng? Ini itu gara-gara kemasukkan debu,” tegas Dyah yang menyembunyikan kesedihannya.
Abraham geleng-geleng kepala melihat ekspresi wajah Dyah dan mata Abraham tiba-tiba menangkap sesuatu hal yang membuatnya seketika itu tertawa lepas.
Dyah, Eko dan Fahmi seketika itu menoleh ke arah Abraham yang ternyata bisa juga tertawa lepas.
“Ya ampun, ini mau tidur disini selama beberapa hari atau beberapa tahun?” tanya Abraham ketika melihat beberapa koper yang sudah siap untuk dimasukkan ke dalam rumah
“Paman tidak usah rewel, wanita kalau sedang hamil itu cepat sekali panasnya. Meskipun, sudah menggunakan AC,” balas Dyah dan melenggang masuk ke dalam rumah dengan menarik salah satu koper dari dua koper menuju kamar.
“Astaghfirullahaladzim, ini kenapa main nyelonong masuk?” tanya Abraham geleng-geleng kepala melihat keponakannya yang begitu menjengkelkan.
“Hehe... Harap maklum ya Paman, Dyah akhir-akhir suasana hati sering berubah,” sahut Fahmi yang bisa dikatakan tengah membela istrinya dan ikut nyelonong masuk dengan menggeret koper masuk ke dalam kamar mengikuti istrinya.
Abraham menepuk dahinya sendiri dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Lalu, aku sibuk ngapain?” tanya Eko dan ia pun memutuskan untuk menyeduh kopi hitam kesukaannya.
Beberapa jam kemudian.
Abraham keluar dari kamarnya dengan setelan rapi. Pagi itu, ia akan berangkat ke kantor setelah sekian lama tidak mengurusi pekerjaannya.
“Ayo, Ko! Kita berangkat sekarang!” perintah Abraham.
“Kita mau kemana, Tuan Muda Abraham?” tanya Eko yang masih belum apa-apa.
“30 menit lagi kamu harus sudah rapi, cepat!” perintah Abraham yang tiba-tiba galak dengan sopir pribadinya.
Eko pun ketakutan dan cepat-cepat merapikan diri untuk mengantarkan Majikannya pergi ke mana saja.
“Paman tidak sarapan?” tanya Dyah ketika melihat Pamannya akan keluar rumah.
“Tidak. Paman akhir-akhir ini tidak ***** makan,” balas Abraham apa adanya.
Dyah menunduk sedih, ia tahu alasan mengapa Pamannya tidak ***** makan.
“Sudahlah, Dyah tidak boleh banyak berpikir. Kasih cucu Paman yang masih di dalam perut,” ucap Abraham dengan sangat serius. Kemudian, melenggang keluar dari rumah dan memilih menunggu Eko di dalam mobil.
Setelah 30 menit lamanya, Eko pun masuk ke dalam mobil dengan napas terengah-engah.
“Maaf, saya terlambat,” ucap Eko meminta maaf atas keterlambatannya yang lebih dari 30 menit.
“Ya. Sekarang kita ke perusahaan!” perintah Abraham.
“Siap!” seru Eko dan perlahan meninggalkan perumahan Absyil.
Fahmi mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara mobil dan perlahan mobil itu meninggalkan halaman rumah.
“Itu Paman mau kemana?” tanya Fahmi penasaran.
“Melihat dari pakaian yang dikenakan Paman, sepertinya Paman pergi ke perusahaan,” jawab Dyah.
“Paman sudah makan?” tanya Fahmi.
Dengan sedih Dyah menggelengkan kepalanya, “Paman bilang tidak ***** makan,” jawab Dyah.
Fahmi mengangguk kecil dan seketika itu menutup pintu rumah rapat-rapat serta menguncinya.
__ADS_1
“Ayo ke kamar, Mas kangen,” ucap Fahmi tersenyum genit karena semalaman dirinya tidak mendapatkan jatah dari Dyah. Dikarenakan, takut di dengar oleh Abraham maupun Eko.
Dengan malu-malu Dyah mengiyakan ajakan suaminya untuk menikmati pagi mereka dengan penuh cinta di atas tempat tidur.