
Tiba bagi Abraham dan Asyila yang harus kembali berpisah dengan putra pertama mereka untuk kembali melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren.
Ashraf yang baru beberapa saat lalu mengetahui bahwa Kakaknya akan kembali ke pondok pesantren, langsung diam seribu bahasa. Seakan-akan, bocah kecil itu tengah berusaha menahan dirinya untuk tidak menangis dan terlihat biasa-biasa saja.
“Ashraf, kenapa diam saja?” tanya Abraham.
Ashraf mendongakkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya ke arah Sang Ayah.
Naluri Asyila sangat kuat, Asyila tahu bahwa Ashraf tengah bersedih.
“Sini peluk Bunda, kalau Ashraf mau menangis maka menangis lagi,” tutur Asyila.
Ashraf yang awalnya menyembunyikan kesedihannya akhirnya menangis juga. Bocah kecil itu menangis sesenggukan mengetahui bahwa Kakaknya akan pergi meninggalkan dirinya lagi.
Arsyad yang baru saja datang, cepat-cepat menghampiri adiknya yang tengah menangis.
“Adik Ashraf kenapa menangis?” tanya Arsyad yang belum mengetahui bahwa penyebab dari tangisan adiknya adalah dirinya sendiri.
“Hiks... Hiks.... Kak Arsyad jangan pergi,” ucap Ashraf yang meminta agar Arsyad tak pergi meninggalkan dirinya.
“Kak Arsyad harus sekolah, Dik,” balas Arsyad yang memang alasan kepergiannya adalah untuk sekolah di pondok pesantren.
“Huwwaaa... Huwaaaa...” Tangisan Ashraf semakin menjadi-jadi. Bocah kecil itu melepaskan pelukan Bundanya dan berlari masuk ke dalam kamar untuk meneruskan tangisannya.
Melihat Ashraf yang seperti itu, Abraham, Asyila dan juga Arsyad langsung menyusul Ashraf ke kamar.
“Kak Arsyad jahat,” ucap Ashraf.
Ashraf terus saja menangis sambil mengomel karena Arsyad pergi meninggalkan dirinya.
Abraham dan Asyila memutuskan untuk tak mendekati Ashraf, sampai Ashraf benar-benar tenang dan tak menangis lagi.
“Arsyad!” panggil Abraham ketika Arsyad ingin melangkah mendekati adiknya, “Biarkan adik Ashraf tenang dulu,” imbuh Abraham.
Arsyad mengulum bibirnya dan memutuskan mengikuti langkah kedua orangtuanya meninggalkan kamar.
Sekitar 5 menit Ashraf menangis dan akhirnya tangisan Ashraf benar-benar reda.
Sepertinya, apa yang dikatakan oleh Abraham ada benarnya juga.
Kaki kecil Ashraf turun dari ranjang dan bergegas mencari kedua orangtuanya serta Kakaknya, Arsyad.
“Bunda! Ayah! Kak Arsyad!” panggil Ashraf sambil terus melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
Sesampainya di ruang keluarga, Ashraf tak menemukan keberadaan mereka bertiga dan dengan mata yang berkaca-kaca, Ashraf berlari ke arah halaman belakang rumah.
Ternyata, dugaan Ashraf benar. Tidak hanya ada kedua orangtuanya serta Sang Kakak, disana juga ada Nenek dan Kakeknya.
“Sini sayang!” panggil Asyila sambil menggerak-gerakkan tangannya memberi isyarat agar Ashraf segera mendekat.
Ashraf mengangguk kecil dan berlari kecil menghampiri mereka yang tengah duduk di atas tikar.
__ADS_1
“Sini duduk dipangkuan Ayah,” tutur Abraham sambil menepuk-nepuk pahanya.
Ashraf mengiyakan dan duduk dipangkuan Abraham sembari menatap kesal ke arah Kakaknya.
“Ashraf tidak boleh seperti itu,” ucap Asyila ketika melihat mata Ashraf yang terus mendelik tajam ke arah Arsyad.
“Kak Arsyad jahat,” celetuk Ashraf yang masih tak terima karena Sang Kakak akan kembali ke pondok pesantren.
Abraham menarik napasnya dalam dan mengeluarkan dengan begitu lembut. Kemudian, dengan hati-hati dirinya menjelaskan kepada Ashraf mengenai Arsyad yang akan kembali ke pondok pesantren.
Awalnya Ashraf tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayahnya dan perlahan bocah kecil itu mulai menerima perkataan Ayahnya dengan sangat baik.
“Kalau sudah saatnya, Ashraf bisa bertemu kembali dengan Kak Arsyad. Ashraf tidak boleh cengeng, karena sebentar lagi Ashraf akan menjadi kakak,” ucap Abraham.
“Ashraf memang sudah jadi kakak, Ayah. Ashraf punya adik Azzam,” balas Ashraf yang ingat dengan adiknya yang belum sempat dilahirkan oleh Bundanya.
Asyila menangis terharu, mendengar perkataan Ashraf yang begitu mengharukan.
“Sini sayang, peluk Bunda!” pinta Asyila.
Ashraf terkesiap dari duduknya dan mendekati Bundanya tersayang.
“Bunda jangan nangis!” pinta Ashraf yang tak ingin melihat Bundanya banjir air mata.
“Terima kasih sayang, Adik Azzam disurga pasti sedang melihat kita,” tutur Asyila.
Arsyad mendekat dan juga memeluk tubuh Bundanya.
Arumi dan Herwan yang melihat adegan itupun ikut menangis terharu.
“Semoga Allah selalu menyertai kebahagiaan mereka ya Mas,” ucap Arumi pada suaminya yang tengah memeluk tubuhnya.
“Aaminnn,” balas Herwan.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 13.15 WIB. Itu artinya, Arsyad sudah harus masuk ke dalam mobil untuk melakukan perjalanan menuju pondok pesantren.
“Adik Ashraf jangan nangis, bulan depan kita akan bertemu lagi,” ujar Arsyad yang mencoba menenangkan adiknya yang terlihat menahan tangisnya.
“Sudah dong sayang, kenapa masih diam berdiri disitu? Ayo kita masuk ke dalam mobil, untuk mengantarkan Kak Arsyad kembali ke pondok pesantren,” tutur Asyila dan masuk ke dalam mobil yang lebih dulu dimasuki oleh Arsyad.
Tidak hanya Abraham, Asyila dan Ashraf yang mengantarkan Arsyad sampai ke pondok pesantren. Akan tetapi, Nenek Arumi dan juga Kakek Herwan ikut serta dalam mengantarkan cucu pertama mereka.
“Bismillahirrahmanirrahim, semoga sampai tujuan dengan selamat,” tutur Asyila yang tengah memangku tubuh Ashraf.
Mobil pun melaju menuju pondok pesantren, hanya tersisa Pak Udin yang menunggu di rumah.
“Bunda...” Arsyad memeluk tubuh Bundanya dari samping dengan begitu erat.
Asyila berusaha menahan tangisannya dan berharap sesampainya di pondok pesantren, dirinya tidaklah menangis.
__ADS_1
“Iya sayang,” balas Asyila.
Arsyad mendongakkan kepalanya dan memutuskan untuk bersandar di lengan Bundanya.
“Arsyad mau tidur,” tutur Arsyad sambil memejamkan mata.
Asyila mengiyakan dan tak butuh waktu lama, Arsyad pun tertidur dengan bersandar di lengan Bundanya.
Melihat posisi Arsyad yang tidur seperti itu, Abraham jadi tak tega. Abraham kemudian, mengambil alih memangku Ashraf dan membiarkan Asyila lebih dekat dengan putra pertama mereka.
“Terima kasih, Mas,” tutur Asyila.
Asyila mengubah posisi tidur Arsyad dengan cara memangku kepala Arsyad di pahanya.
Arumi dan Herwan yang menyaksikan adegan itu, merasa sangat sedih sekaligus bahagia.
Mereka sedih karena Arsyad akan berpisah, akan tetapi mereka juga senang karena perginya Arsyad adalah untuk mempelajari ilmu agama Islam lebih dalam lagi.
“Tidur yang nyenyak ya sayang, maafin Bunda ya sayang,” tutur Asyila sembari membelai lembut rambut buah hatinya.
Arsyad terlihat begitu nyaman tidur di pangkuan Bundanya. Akan tetapi, rasa nyaman itu akan berkurang setelah mereka sampai di pondok pesantren.
“Ayah...” Ashraf mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Abraham dengan tatapan sedih.
“Ashraf jangan bersedih seperti ini,” tutur Abraham sambil menggerakkan bibir buah hatinya agar tersenyum.
Beberapa jam kemudian.
Mobil berhenti tepat disebuah gerbang tinggi berwarna hitam.
Dibalik gerbang yang tinggi itu, ada bangunan yang begitu besar dan didalamnya banyak para penghafal Al-Qur'an.
Abraham beserta yang lainnya bersama-sama keluar dari mobil.
“Bunda, Ayah!” Arsyad langsung memeluk tubuh Bundanya dengan begitu erat.
Abraham mengatur napasnya dan ikut memeluk tubuh Arsyad.
“Arsyad jangan nangis,” tutur Abraham.
Arsyad mengangguk kecil dan segera menghapus air matanya.
Cukup lama mereka berdiri di depan gerbang, sampai akhirnya ada seorang penjaga gerbang menghampiri Arsyad dan meminta Arsyad untuk segera masuk ke dalam.
Dengan berat hati, Asyila melepaskan pelukan putra pertamanya dan akhirnya mereka benar-benar berpisah untuk sementara waktu.
Karena tak ingin sang istri berlarut-larut dalam kesedihan, Abraham cepat-cepat mengajak istri serta yang lainnya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Asyila terus saja meneteskan air matanya. Begitu juga dengan Ashraf yang merasa sangat sedih karena Arsyad telah berpisah darinya, meskipun hanya sementara waktu.
❤️❤️
__ADS_1
Selamat pagi para pembaca, apakah disini ada buah hatinya yang bersekolah di pondok pesantren? komen dibawah ya 🙏😘