
Abraham membawa bayi mungilnya ke ruang tamu, sementara Asyila, Dyah dan Ema memilih untuk menyibukkan diri mereka di dapur.
“Pak Yogi sarapan disini saja, Ema. Lumayan biar lauk-pauk ini segera habis,” ucap Asyila.
“Astaghfirullahaladzim, aku lupa bilang ke Abang Yogi,” tutur Ema dan lari terbirit-birit untuk kembali ke rumah.
Asyila dan Dyah tertawa kecil melihat tingkah Ema yang menggemaskan.
“Ternyata Ema masih sama seperti yang dulu,” celetuk Asyila.
Arumi datang bersama dengan Yeni dan membawa dua botol susu yang mereka beli di minimarket terdekat Perumahan Absyil.
“Ibu dari mana saja?” tanya Asyila ketika melihat Ibunya tersayang.
“Dari ruang tamu, habis memberikan Ashraf dan Kahfi susu,” jawab Arumi dan meletakkan satu botol yang sudah berkurang isinya di meja, sementara yang masih utuh Arumi masukkan ke dalam kulkas.
“Ini Ibu tadi beli dimana?” tanya Asyila karena ia baru melihat botol susu tersebut.
“Oh itu, tadi Ibu dan Mbah Yeni beli di minimarket depan gang,” balas Arumi.
“Memangnya jam segini sudah buka?” tanya Asyila karena waktu belum ada jam 7 pagi.
“Buka sedikit dan untungnya diperbolehkan membeli,” jawab Arumi.
Arumi tak ingin ambil pusing dan mengangguk tanda mengerti.
“Ibu, ini kita mau buat apa ya? Asyila bingung mau membuat menu sarapan untuk kita,” terang Asyila.
Asyila sendiri merasa sedikit gelisah, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya.
“Urusan makanan biar Ibu dan Mbak Yeni yang mengurusnya. Kalian berdua lebih baik temani suami kalian di ruang tamu!” perintah Arumi seakan-akan ratu yang berkuasa di area dapur serta ruang makan.
Asyila hanya tertawa kecil melihat tingkah Ibunya.
“Siap koki dapur!” seru Asyila dan menggandeng tangan Dyah agar segera pergi ke ruang tamu.
Abraham dan Fahmi saat itu sedang berbincang-bincang sembari menggendong buah hati mereka masing-masing. Kemudian, datanglah para istri dan duduk bersebelahan dengan suami mereka masing-masing.
“Paman, yuk kapan-kapan kita liburan bersama!” ajak Dyah.
“Liburan? Liburan kemana?” tanya Abraham.
“Ya kemana gitu, siapa tahu ada tempat yang ingin Paman kunjungi,” balas Dyah.
Abraham mengernyitkan keningnya dan menoleh ke arah Sang istri.
“Syila mau jalan-jalan?” tanya Abraham.
Tanpa pikir panjang, Asyila langsung menggelengkan kepalanya.
“Kalau boleh usul, Asyila ingin kita kemah di depan rumah. Lagipula, halaman kita luas Mas, jadi tidak perlu pergi jauh-jauh,” ungkap Asyila.
“Wah, Aunty memang sangat pintar. Dyah setuju dengan usulan Aunty!” seru Dyah bersemangat.
“Kalau kamu Fahmi?” tanya Abraham.
“Kalau istri suka, Fahmi pun suka Paman,” jawab Fahmi.
Abraham tersenyum lebar dan mengiyakan usulan dari istri kecilnya.
“Horeee... Jadi tidak sabar untuk berkemah,” ucap Dyah.
Beberapa saat kemudian.
Arumi datang menghampiri Abraham serta yang lainnya yang masih di ruang tamu untuk mengajak mereka sarapan bersama.
“Sarapan sudah siap, ayo kita sarapan bareng-bareng!”
Mereka pun bergegas menuju dapur untuk segera menikmati sarapan bersama.
Ashraf dan Kahfi terlihat bersemangat untuk segera menikmati hidangan di atas meja.
“Aunty kenapa tidak duduk?” tanya Dyah.
“Sebentar, kita harus menunggu Ema dan Pak Yogi. Mungkin sebentar lagi mereka akan kemari,” tutur Asyila.
“Assalamu’alaikum,” ucap Ema dan juga Yogi.
Asyila tersenyum lebar dan cepat-cepat menyambut kedatangan sepasang suami istri itu.
“Wa’alaikumsalam, ayo masuk. Yang lain sudah ada di ruang makan,” tutur Asyila sembari menggandeng tangan sahabatnya agar segera masuk ke dalam.
Yogi benar-benar merasa terabaikan oleh keduanya yang setiap bertemu pasti akan nempel layaknya perangko.
“Ayo silakan duduk!” panggil Arumi sambil menggerakkan tangannya ke arah Ema dan juga Yogi.
“Maaf semuanya, Abang Yogi tadi lama banget mandinya,” ungkap Ema.
“Loh? Kok jadi Abang yang dibawa-bawa?” tanya Yogi.
Ema melotot ke arah suaminya.
__ADS_1
“Iya deh, Abang tadi yang lama mandi,” ujar Yogi pasrah.
Melihat ekspresi wajah Yogi yang sangat tertekan, Arumi serta yang lainnya pun tertawa.
“Nak Yogi, kalau wanita sudah mengatakan A lebih baik mengikut saja,” celetuk Arumi.
Yogi dengan semangat mengiyakan celetukan Arumi dan berlari kecil untuk segera mendaratkan bokongnya di kursi.
Ema memanyunkan bibirnya dan ikut duduk bersebelahan dengan Sang suami.
“Awas ya kalau macam-macam, kalau sampai Abang macam-macam nanti malam Abang tidak dapat jatah,” bisik Ema.
Yogi langsung kikuk mendengar bisikan istrinya. Ia pun mengangguk kecil karena tak ingin jika jatah malamnya tak diberi.
“Nah, pintar. Itu baru namanya suami penurut,” bisik Ema kembali.
Tak butuh waktu lama, sarapan pun berlangsung dan Do'a sebelum makan kali ini dipimpin oleh Fahmi.
***
Sore hari.
Abraham, Asyila serta yang lainnya tengah berkumpul di halaman rumah. Sore itu, Yeni dan Temmy akan kembali ke rumah mereka karena besok pagi harus kembali bekerja.
Melihat kedua orangtuanya yang akan kembali, Dyah mulai merasakan sedih. Akan tetapi, kesedihannya tidak akan berlangsung lama. Karena ia masih ada Aunty kesayangannya yang sudah pasti akan selalu menemani dirinya.
“Sayang, kami pulang dulu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi Papa dan juga Mama. Ingat, cucu kami harus dijaga dengan baik. Mama tidak mau kalau Lala sampai langsing, kalau bisa Lala harus sama dengan kamu,” terang Yeni.
“Mama meledek ya?” tanya Dyah.
Pertanyaan Dyah seketika itu membuat yang lainnya tertawa lepas.
“Tidak, kalau kamu merasa ya Alhamdulillah,” celetuk Yeni dan membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
“Astaghfirullahaladzim,” tutur Dyah sembari mengelus dada dengan apa yang dikatakan oleh Mamanya, Yeni.
Suasana tiba-tiba hening ketika mereka melihat seorang wanita yang berjalan memasuki area halaman rumah Abraham.
“Anda mau apa datang kemari?” ketus Dyah yang sangat muak dengan wanita dihadapannya.
Wanita itu tiba-tiba bersimpuh dihadapan semua orang yang berada di kediaman Abraham dan terang-terangan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan.
“Saya mohon, maafkanlah saya. Saya memang wanita bodoh yang tak bisa menjaga ucapan saya. Tolong, jangan masukkan saya ke dalam penjara,” ungkapnya.
Melihat Ibu Ti yang bersimpuh seperti itu, Asyila sama sekali tak tega. Asyila pun perlahan mendekat untuk membantu Ibu Ti bangkit.
“Ibu tidak seharusnya seperti ini, bangunlah,” ucap Asyila sembari membantu Ibu Ti bangkit.
Abraham menoleh ke arah keponakannya.
Dyah hanya tersenyum lebar ketika Pamannya menoleh ke arahnya.
“Ibu Ti tolong jangan seperti ini,” ucap Asyila dan dengan sekuat tenaga membantu Ibu Ti untuk bangkit.
“Tolonglah saya, maafkan atas ucapan saya yang benar-benar tidak tahu malu ini. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tolong jangan masukkan saya ke dalam penjara,” terang Ibu Ti memohon ampun kepada keluarga Abraham Mahesa.
Abraham menatap tajam ke arah Ibu Ti dan perlahan mendekat. Melihat Abraham yang perlahan berjalan ke arahnya, wanita itu dengan cepat berjalan mundur.
Sungguh, Ibu Ti sangat takut dengan sosok Abraham Mahesa dan sangat menyesal karena telah bermain-main dengan keluarga mereka.
“Berhenti!” teriak Abraham.
Ibu Ti seketika itu berhenti mematung dan untuk bernapas pun ia sangat takut.
“Sekarang anda takut?” tanya Abraham.
Bukannya menjawab, Ibu Ti malah menangis histeris. Ia menangis dengan penuh ketakutan karena berhadapan langsung dengan sosok Abraham yang sangat disegani.
“Jangan menangis!” teriak Abraham.
Lagi-lagi Ibu Ti terdiam dan tak lagi menangis.
“Saya tanya, apakah anda sudah takut?” tanya Abraham yang tatapannya begitu mematikan.
Asyila ingin sekali meminta suaminya untuk tidak marah-marah. Akan tetapi, Asyila tahu bahwa apa yang suaminya lakukan saat itu adalah untuk memberikan pelajaran kepada Ibu Ti yang sungguh keterlaluan.
“Sekarang saya tanya, seandainya itu terjadi kepada putri anda, apakah anda tidak akan sakit hati?” tanya Abraham.
Wanita itu langsung kikuk dan tak berani mengatakan apapun lagi.
“Kalau sudah seperti ini, anda menyesal, bukan? Sekarang minta maaflah kepada istri saya dan setelah itu anda harus angkat kaki dari Perumahan Absyil!”
“Tidak bisa, saya sudah membayar uang muka dan itu sudah berjalan hampir dua tahun,” ucap Ibu Ti.
Abraham tertawa kecil mendengar ucapan Ibu Ti.
“Anda tenang saja, saya akan memulangkan uang anda selama hampir dua tahun itu. Anggap saja saya memberi anda tumpangan di Perumahan Absyil selama hampir dua tahun,” tegas Abraham.
Ibu Ti benar-benar sangat malu dan rasanya ia tidak ingin muncul dihadapan semua orang. Ia merasa dirinya sangat bodoh karena membuat orang-orang baik seperti keluarga Abraham kecewa terhadap dirinya.
“Nona Asyila, dari lubuk hati saya yang paling dalam saya benar-benar menyesal dan saya berjanji tidak akan membicarakan hal-hal buruk mengenai keluarga Tuan Abraham. Demi Allah, saya berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi,” ungkapnya.
__ADS_1
“Apakah anda tidak akan mengulangi kesalahan ini dikemudian hari. Maksud saya, ketika anda sudah pindah dan anda tinggal di suatu tempat, apakah anda akan mengulangi hal sama untuk bergosip dan memfitnah orang lain?” tanya Asyila.
“Tidak. Sama sekali tidak, saya akan bertobat dan tidak akan mengulangi kesalahan yang bodoh ini,” jawabnya.
Asyila bisa melihat ketulusan dan kejujuran di mata Ibu Ti. Ia berharap kedepannya wanita dihadapannya tidak akan lagi mengulangi hal yang sama, yang jelas-jelas akan merusak dirinya sendiri serta membuat orang lain sakit hati.
“Saya memaafkan, Ibu Ti,” tutur Asyila.
Dengan lembut, Asyila memberikan pelukan hangat dan berharap agar Ibu Ti dapat menemukan tempat tinggal yang jauh lebih baik dari Perumahan Absyil.
Ibu Ti menangis terharu, ia menyesal karena telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Ibu Ti perlahan menghampiri mereka satu-persatu dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan. Kemudian, ia pamit untuk kembali ke rumah karena ia harus meninggalkan Perumahan Absyil. Baginya, hal tersebut sudah lebih dari cukup. Ia lebih memilih pergi dari Perumahan Absyil daripada harus masuk ke dalam penjara.
Asyila menghampiri suaminya dan mengucapkan terima kasih atas apa yang telah suaminya lakukan.
Bahkan, suaminya begitu baik untuk mengembalikan uang yang sudah dibayar oleh Ibu Ti.
“Nak Abraham tidak apa-apa mengembalikan uang sebanyak itu untuk wanita jahat itu?” tanya Arumi.
“Ibu, kita sudah memaafkan Ibu Ti. Dan masalah uang, anggap saja kami beramal untuk Ibu Ti. Lagipula, Allah tidak tidur. Insya Allah, ada rezeki lainnya yang datang kepada kami dan kita semua,” ungkap Abraham yang sama sekali tak mempermasalahkan uang yang akan ia berikan kepada Ibu Ti.
Yeni dan Temmy memuji kebaikan hati Abraham, mereka bertepuk tangan dan berharap keturunan Abraham Mahesa bisa mengikuti sikap kedua orang tua mereka.
“Sudah saatnya kami pulang,” ucap Temmy.
Yeni dan Temmy pun akhirnya meninggalkan Perumahan Absyil.
Dyah menitikkan air mata dan berlari kecil memeluk Aunty-nya.
“Semoga kedepannya hati Dyah bisa seperti Aunty,” tutur Dyah.
Ema pun mendekat dan ikut memeluk tubuh sahabatnya.
“Ya ampun, tadi itu kamu benar-benar hebat Asyila. Aku bangga punya sahabat seperti kamu,” puji Ema.
Melihat cuacanya yang mulai gelap karena akan hujan, Abraham pun mengajak yang lainnya untuk segera masuk ke dalam rumah dan melanjutkan perbincangan mereka di ruang keluarga.
“Syila, Mas keluar dulu ya,” ucap Abraham.
“Memangnya Mas mau kemana? Asyila ikut ya Mas!” pinta Asyila.
“Mau mencari sate sekitar sini saja. Hitung-hitung buat cemilan kita,” jawab Abraham.
“Asyila ikut ya Mas!” pinta Asyila yang ingin ikut keluar bersama suaminya.
“Kalau Syila ikut, yang jaga bayi kita siapa?” tanya Abraham selembut mungkin.
“Nak Abraham tidak perlu khawatir ada Ibu yang bisa menjaga Akbar,” sahut Arumi.
“Ayah, Ashraf juga ikut ya!” pinta Ashraf.
“Kahfi juga mau ikut Ayah!”
Abraham tertawa kecil dan mengiyakan permintaan Ashraf serta Kahfi.
“Giliran mereka boleh, Asyila tidak boleh,” celetuk Asyila.
“Siapa yang tidak memperbolehkan? Ayo kalau mau ikut,” ajak Abraham.
Senyum Asyila tiba-tiba merekah sempurna dan bergegas beranjak dari duduknya.
“Sayang, Bunda pergi dulu ya. Jangan nakal, Ok,” tutur Asyila pada bayi Akbar yang saat itu berada di gendongan Arumi.
Abraham, Asyila dan kedua bocah itu pun pergi bersama dengan Pak Udin yang mengemudikan mobil.
“Sambil menunggu sate datang, enaknya ngemil apa ya?” tanya Dyah.
Fahmi geleng-geleng kepala mendengar ucapan istrinya.
“Itu perut masih muat?” tanya Fahmi meledek Dyah.
“Kok Mas Fahmi jahat sih? Awas ya nanti malam,” ucap Dyah dan didengar oleh yang lainnya.
Fahmi kelimpungan dan meminta maaf kepada istrinya.
“Uuhh.. Langsung cepat minta maaf rupanya,” celetuk Dyah.
Arumi dan Herwan tertawa geli melihat sepasang suami istri itu.
“Tuh dengar, kalau Abang juga meledek Adik, Abang tidak akan mendapatkan jatah,” bisik Ema.
Disaat yang bersamaan, Asyila tersenyum senang karena akhirnya bisa keluar rumah, meskipun hanya pergi mencari sate ayam dan juga kambing.
“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila sambil memeluk lengan suaminya tercinta.
“Ciumnya mana?” tanya Abraham yang ingin menggoda istri kecilnya.
“Ssuuttss... Nanti saja kalau sudah di kamar. Kalau disini bahaya, ada anak-anak,” jawab Asyila.
Abraham ❤️ Asyila
__ADS_1