
Beberapa hari kemudian.
Aktivitas Asyila berjalan seperti biasanya, ia menjadi istri sekaligus Bunda yang baik untuk Ashraf. Abraham pun telah mengetahui alasan mengapa sang istri diculik, setelah menonton berita di televisi mengenai orang-orang yang menculik dan memaksa para wanita untuk melakukan pekerjaan kotor nan hina itu.
Meskipun demikian, Abraham masih belum mengetahui bahwa istrinya sengaja ingin diculik serta memiliki keahlian dalam bidang ilmu beladiri.
“Mas kenapa dari tadi hanya duduk dan tak meminum air putih yang Asyila suguhkan?” tanya Asyila penasaran dan mendaratkan bokongnya di kursi samping sang suami.
Asyila menyentuh tangan kanan suaminya dan menggenggamnya dengan erat.
“Apa Mas mau Asyila buatkan kopi atau teh?” tanya Asyila barangkali sang suami ingin menikmati salah satu dari dua tawaran tersebut.
Abraham menggelengkan kepalanya dan membelai dagu sang istri dengan tatapan penuh cinta.
“Bukankah Syila tahu Mas tidak menyukai kopi ataupun teh. Daripada itu, bisakah Mas menikmati Syila?” tanya Abraham penuh harap.
“Ini masih sangat pagi, Mas. Bukankah sebelum subuh kita sudah....” Asyila sangat malu meneruskan ucapannya dan memilih meninggalkan sang suami di teras depan rumah dengan langkah tergesa-gesa.
Abraham tertawa kecil melihat reaksi dari sang istri yang masih nampak malu-malu kepada dirinya.
“Istriku ini memang selalu menggoda,” ucap Abraham dan segera meneguk habis air minum yang disediakan oleh Asyila.
Asyila berlari kecil menuju dapur dan tak sengaja menabrak tubuh kecil Ashraf. Untungnya saja, Asyila segera menangkap tubuh Ashraf yang hampir saja jatuh.
“Bunda!” Ashraf setengah berteriak karena terkejut.
”Kamu membuat Bunda kaget, sayang. Ashraf cari apa di dapur?” tanya Asyila dan berjongkok tepat dihadapan putra kecilnya, Ashraf.
“Mau minum susu, bunda.”
”Ohh, jadi kesayangan Bunda ini mau minum susu? Mau minum susu rasa apa sayang?”
“Vanilla, Bunda,” jawab Ashraf.
“Ya sudah, kalau begitu Bunda akan membuatkan susu untuk Ashraf. Ashraf temani Ayah di depan ya!” pinta Asyila.
Ashraf mengiyakan dan segera menghampiri Ayahnya yang masih duduk di depan teras dengan terus memandangi tanaman hias milik sang istri yang terawat dengan baik.
“Loh, Anak Ayah dan Bunda sudah bangun ya! Sini Ayah naik dipangkuan Ayah!” Abraham begitu senang melihat wajah putra kecilnya yang baru saja bangun dari tidur. Diangkatnya tubuh Ashraf ke atas pangkuannya itu.
“Muachh... Muacchh!” Abraham dengan gemasnya mencium pipi Ashraf berulang kali dan terlihat jelas kalau Ashraf tak menyukai apa yang dilakukan oleh Abraham.
“Jangan Ayah!” pinta Ashraf dengan mata berkaca-kaca seakan ingin bersiap untuk menumpahkan air matanya itu.
“Maaf-maaf, kalau Ashraf tidak suka Ayah cium,” ucap Abraham dan segera menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya.
Ashraf turun dari pangkuan Ayahnya dan bergegas mendekati kran air. Dihidupkan kran air itu dengan cara diputar dan segeralah ia membasuh wajahnya untuk membersihkan sisa-sisa air liurnya yang masih menempel di seputar mulutnya.
“Anak pintar,” puji Abraham yang sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Ashraf.
Usai membasuh wajahnya dan dirasa cukup, Ashraf kembali mendekati Ayahnya dan naik dipangkuan Sang Ayah.
“Sekarang Ayah boleh cium Ashraf lagi!” tanya Abraham.
__ADS_1
“Boleh,” jawab Ashraf dan menyodorkan pipinya di bibir Abraham.
Asyila baru saja tiba dengan secangkir susu rasa vanilla putra kecilnya, ia tersenyum lebar ketika melihat suami serta putra kecilnya saling mencium pipi satu sama lain.
“Hhhmmm... Bunda kok tidak diajak?” tanya Asyila berpura-pura cemburu.
“Terima kasih, Bunda!” Ashraf dengan hati-hati mengambil susu yang dibuatkan oleh Bundanya tersayang dan mulai menikmati.
“Sama-sama sayang,” balas Asyila dan ikut duduk bergabung dengan Abraham.
Suasana pagi hari di hari Minggu benar-benar hangat karena mereka bertiga bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Arsyad, putra pertama mereka pun telah bersekolah di salah satu taman kanak-kanak kota Jakarta yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman orang tua Asyila.
“Mas, Asyila sangat rindu dengan Ashraf,” ucap Asyila dengan kembali menggenggam erat tangan suaminya yang duduk di sisi kirinya.
“Baiklah, ayo kita pergi hari ini!” ajak Abraham yang tak bisa menolak keinginan dari sang istri.
“Benarkah? Terima kasih, Mas!” Asyila terlalu senang, sampai-sampai ia refleks mencium pipi suaminya dihadapan Ashraf.
Ashraf yang melihat wanita yang telah berjasa melahirkan serta membesarkannya itu, ikut bahagia dan meminta agar Bundanya juga mencium pipinya.
“Ayo Bunda!” ajak Ashraf sambil menarik-narik tangan Asyila.
“Mau kemana sayang? Susu Ashraf sudah habis?” tanya Asyila dan memeriksa cangkir susu putra kecilnya, “Oh, ternyata sudah habis. Memangnya Ashraf mau kemana ajak Bunda?” tanya Asyila penasaran.
“Mandi, Bunda. Biar cepat ketemu Kak Arsyad,” jawabnya dengan sangat polos ditambah tatapan yang membuat Asyila maupun Abraham tak bisa mengabaikan putra kecil mereka.
Asyila menoleh ke arah Abraham dan Abraham memberikan anggukan kecil.
Keduanya pun bergegas menuju kamar untuk segera mandi. Sementara Abraham, masih duduk santai di teras depan rumah.
“Tin.. tin...” Disaat yang bersamaan, Eko datang dengan membawa mobil Abraham.
“Selamat pagi, Tuan muda!” sapa Eko sambil melebarkan senyumnya.
“Bagaimana? Apakah istrimu sudah membaik?” tanya Abraham yang ingin mengetahui kondisi istri dari sopir pribadinya.
Eko berjalan mendekat tanpa berniat duduk di kursi kosong dekat Abraham.
“Alhamdulillah, istri saya sudah mulai membaik. Insya Allah nanti sore sudah boleh pulang,” jawab Eko jujur.
“Syukurlah, karena istrimu hari ini akan keluar dari rumah sakit. Maka, kamu tidak usah ikut ke Jakarta,” tutur Abraham.
“Tuan muda mau ke Jakarta hari ini?”
“Iya, Asyila rindu dengan Arsyad dan waktunya bagi kami untuk mengunjungi Arsyad,” jelas Abraham. Kemudian, ia masuk ke dalam rumah.
Eko sebenarnya ingin mengantarkan Tuan mudanya ke Jakarta. Tapi, apa boleh buat?
Di dalam kamar.
Ashraf telah selesai mandi dan Asyila tengah berusaha memakaikan pakaian untuk Ashraf yang tak bisa diam. Seperti biasa, Ashraf sedikit susah jika harus mengenakan pakaian. Asyila harus kejar-kejaran terlebih dahulu agar bisa mengenakan pakaian kepada Ashraf.
__ADS_1
“Dapat! Sekarang Ashraf tidak bisa kemana-mana!” Dengan cepat Asyila mulai mengenakan pakaian tersebut dan akhirnya selesai.
“Tidak mau, Bunda,” tolak Ashraf ketika melihat Asyila bersiap-siap untuk memakaikan bedak tabur ke wajahnya.
“Sayang, kenapa tidak mau? Ashraf pakai ini biar wangi,” ucap Asyila dan segera memakaikannya di wajah Ashraf.
Abraham masuk ke dalam kamar dan tersenyum melihat wajah putra kecilnya sudah belepotan bedak.
“Hiks... Hiks....” Ashraf tiba-tiba menangis ketika melihat senyum Abraham yang terlihat seperti meledek dirinya.
Bukannya berusaha menenangkan Ashraf yang menangis, Abraham dan Asyila malah tertawa terpingkal-pingkal.
“Huwaaa... Huwaaaa!” Tangis Ashraf semakin menjadi-jadi. Ia menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut karena malu.
“Mas ini seharusnya menghibur Ashraf,” ucap Asyila setengah mengomel.
Abraham menggaruk-garuk kepalanya dan mendekati putra kecilnya. Pertama-tama, ia menjauhkan selimut dari tubuh Ashraf dan kemudian menggendong tubuh Ashraf tinggi-tinggi.
Nyatanya usaha Abraham langsung berhasil, Ashraf tertawa lepas ketika dirinya diangkat tinggi-tinggi oleh Abraham.
“Masya Allah, Mas ini pintar sekali,” puji Asyila.
“Suami siapa dulu dong? Suami Asyila!” seru Abraham dan membawa putra kecilnya keluar kamar.
“Mas!” Asyila membuntuti suaminya dari belakang dengan hati berbunga-bunga.
Mereka bertiga akan sarapan bersama dan tak lupa mengajak Eko yang kebetulan sudah berada di kediaman mereka.
“Sayang, tolong panggilkan Pak Eko ya!” pinta Abraham.
Ashraf mengiyakan dan dengan kaki kecilnya, ia berlari mencari Eko yang ternyata sedang duduk sambil mengisap rokok.
“Pak Eko kenapa bakar kertas? Nanti mulutnya kebakar loh...” Ashraf memang tak pernah melihat pria manapun merokok termasuk Ayahnya. Sehingga, ia berpikir bahwa rokok dapat membuat mulut terbakar.
Eko terkejut dan dengan cepat mematikan rokok miliknya.
“Bos kecil kenapa disini?” tanya Eko yang merasa sangat bersalah karena membiarkan Ashraf mengetahui bahwa dirinya perokok.
“Ayo sarapan!” Ashraf dan menggandeng tangan sopir pribadi Sang Ayah.
Sesampainya di ruang makan, Ashraf mengadukan apa yang ia lihat. Ia mengatakan bahwa Eko ingin membakar mulutnya.
Abraham dan Asyila terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ashraf. Karena selama ini, Abraham melarang Eko untuk merokok di sekitar rumahnya.
“Maafkan saya, Tuan muda,” ucap Eko.
“Hhhmmm... Hal ini jangan sampai terulang lagi, jangan sampai Ashraf melihatnya. Kamu tahu sendiri, betapa berbahayanya jika salah satu dari kami menghirup asap rokok,” terang Abraham.
”Maafkan saya, Tuan muda. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” balas Eko.
“Ya sudah, ayo sarapan bersama!” ajak Abraham.
Asyila mengisi piring putra kecilnya terlebih dahulu dan meletakkan nasi serta lauk pauk yang diinginkan oleh Ashraf. Kemudian, ia mengambil piring lainnya untuk dinikmati oleh ia dan sang suami.
__ADS_1
Abraham 💖 Asyila