
Beberapa hari kemudian.
Abraham tersenyum bersemangat karena pagi itu dirinya sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Tempat yang sering Abraham kunjungi ketika sedang membantu para sahabatnya untuk menangani orang-orang yang bermasalah.
“Mas Abraham kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Asyila terheran-heran yang saat itu tengah membantu suaminya mengancingkan pakaian.
“Suamimu ini sangat senang karena sudah diperbolehkan pulang, 5 hari bagi Mas adalah waktu yang sangat lama,” terang Abraham dengan menampilkan wajah melasnya.
“Iya Asyila tahu kalau Mas tidak nyaman tinggal di rumah sakit. Akan tetapi, ini semua demi kebaikan Mas Abraham dan juga keluarga kita. Jika saja Mas Abraham pulang dengan keadaan lemas, apakah orang rumah tidak khawatir?”
Abraham menghela napasnya dan dengan gemas mengacak-acak rambut istri kecilnya.
“Mas senang ya melihat rambut Asyila berantakan seperti ini?” tanya Asyila kesal.
“Tentu saja, apalagi ketika habis melakukan itu,” jawab Abraham sambil mengedipkan matanya berulang kali.
“Hussshhh... Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Sebelum Mas sembuh, Mas harus berpuasa agar luka di lengan Mas mengering dan sembuh dengan sempurna,” balas Asyila dan kembali mengenakan hijab miliknya yang berwarna hijau lumut.
Abraham menepuk dahinya sendiri dan terpaksa mengiyakan apa yang dikatakan oleh istri tercintanya itu.
Beberapa saat kemudian.
Seorang dokter pria masuk ke dalam ruangan dan segera memeriksa kondisi Abraham sebelum pasiennya itu benar-benar meninggalkan rumah sakit.
Asyila yang semula tak banyak bicara, kini menjadi banyak bicara dan bertanya mengenai kondisi suaminya. Serta menanyakan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi suaminya ketika lukanya belum kering.
Mendengar banyaknya pertanyaan dari sang istri, Abraham hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Terima kasih Pak dokter,” ucap Asyila setelah semua pertanyaannya terjawab.
Dokter itu mengiyakan dan bergegas keluar untuk menangani pasien lainnya.
“Sudah?” tanya Abraham dengan menampilkan ekspresi wajah kecut.
“Belum,” celetuk Asyila dengan wajah serius.
“Apanya yang belum?” tanya Abraham karena merasa bahwa sudah banyak hal yang Asyila tanyakan pada Sang dokter.
“Mas 'kan, belum pulang,” jawab Asyila dengan begitu lembut.
Abraham menghela napasnya dan mengusap-usap kepala istri tercintanya yang tertutup hijab.
“Ya sudah, ayo kita pergi dan rumah sakit ini dan Mas akan membawa Syila ke suatu tempat!” ajak Abraham.
“Ke suatu tempat? Tidak usah, Mas. Sebaiknya kita langsung pulang dan Mas harus banyak istirahat di rumah,” terang Asyila menolak ajakan suaminya karena ingin segera sampai ke rumah.
“Syila akan sangat senang ketika tahu kemana kita akan pergi,” ucap Abraham yang sama sekali tidak ingin memberitahukan lokasi yang ingin dikunjungi oleh Abraham.
“Kemana Mas?” tanya Asyila yang tiba-tiba penasaran dengan tempat yang dimaksud oleh suaminya.
“Kalau itu rahasia,” jawab Abraham singkat, jelas dan padat.
“Tapi, bagaimana dengan kondisi Mas Abraham sekarang?” tanya Asyila.
Abraham tertawa kecil dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
“Ayo kita pergi dari sini!” ajak Abraham.
__ADS_1
Di depan halaman rumah sakit.
Pak Udin telah tiba dan langsung menghampiri tuan mudanya serta istri dari tuan mudanya itu.
“Assalamu’alaikum, apa kabar Tuan Abraham dan juga Nona Asyila?” tanya Pak Udin menyapa sepasang suami istri dihadapannya yang baru saja keluar dari rumah sakit.
“Wa’alaikumsalam, seperti yang Pak Udin lihat! Saya maupun istri saya baik-baik saja,” jawab Abraham ramah.
“Monggo, Tuan Abraham dan Nona Asyila!” Dengan begitu sopan, Pak Udin mempersilakan keduanya untuk masuk ke dalam mobil.
Baru saja masuk ke dalam, Asyila telah disuguhkan oleh sebuah kain berwarna hitam oleh suaminya.
“Mas, ini untuk apa?” tanya Asyila terheran-heran karena kain yang diberikan oleh suaminya bukanlah hijab.
“Sebelum kita pergi menuju tempat yang ingin Mas tunjukkan, Syila haruslah pakai ini!” pinta Abraham.
“Mas ini kenapa? Sebenarnya, apa yang ingin Mas Abraham tunjukkan? Ini bukan saatnya untuk kita bermesraan,” jawab Asyila yang begitu bingung dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Pak Udin yang mendengar perdebatan keduanya hanya bisa diam dan berpura-pura untuk tidak mendengar apa yang sedang mereka perdebatkan.
“Jangan begitu,” ucap Abraham sambil melirik ke arah Pak Udin.
Asyila menghela napasnya dan akhirnya menuruti keinginan suaminya itu.
“Ayo Pak Udin!” perintah Abraham.
Pak Udin mengiyakan dan bergegas menuju tempat yang sebelumnya telah diberitahukan oleh Abraham melalui pesan singkat.
“Mas, kita mau kemana?” tanya Asyila yang matanya sudah ditutup oleh kain pemberian suaminya.
“Sudah jangan banyak tanya, Syila cukup diam dan setelah sampai ke tempat yang Mas maksudnya, insya Allah hati Asyila langsung berbunga-bunga,” jawab Abraham.
Asyila bukannya senang dengan yang ingin diperlihatkan suaminya kepada. Akan tetapi, ia malah takut sekaligus tegang. Asyila berharap bahwa kejutan suaminya bukan tentang wanita bercadar itu, yang jelas-jelas adalah dirinya.
Beberapa jam kemudian.
Asyila tertidur pulas dan dengan hati-hati Abraham membangunkan sang istri.
“Istriku, kita sudah sampai,” bisik Abraham ditelinga sang istri.
“Apa kita sudah sampai?” tanya Asyila yang matanya masih tertutup kain, “Apakah Syila sudah boleh membuka penutup mata ini?” tanya Asyila sambil bersiap-siap untuk membuka kain tersebut.
“Belum boleh,” jawab Abraham.
“Mas kita ini ada dimana? Kenapa seperti berada disekitar masjid?” tanya Asyila ketika mendengar suara orang mengaji dan banyak suara anak-anak kecil yang tengah bergurau.
“Ada di suatu tempat,” jawab Abraham yang semakin membuat Asyila penasaran.
Abraham turun dari mobil dan kemudian menuntun istri kecilnya untuk turun.
“Hati-hati melangkah, banyak genangan air disini,” ucap Asyila berpura-pura bahwa mereka tengah menginjak genangan air.
“Mas, sebenarnya kita ini mau kemana? Kenapa Mas mengajak Asyila ke tempat basah-basahan seperti ini?” tanya Asyila sambil melangkah menjinjit agar sepatu yang ia kenakan tidaklah basah.
Abraham menahan tawanya melihat langkah kaki sang istri yang percaya bahwa mereka tengah berjalan di genangan air.
Dari kejauhan, tampak seorang bocah kecil yang tengah berlari menghampiri Abraham dan Asyila. Melihat hal tersebut, Abraham cepat-cepat memberi isyarat agar bocah kecil itu tak mengeluarkan suara.
__ADS_1
“Aaahhh!” Teriak Asyila terkejut ketika ada yang memeluk setengah tubuhnya dengan begitu erat.
Tanpa pikir panjang lagi, Asyila cepat-cepat membuka penutup kepalanya dan ternyata...
“Arsyad!” teriak Asyila dan memeluk tubuh putra sulungnya dengan sangat erat, “Kesayangan Bunda apa kabar? Bunda kangen, Nak,” ucap Asyila dengan mata berkaca-kaca.
“Arsyad juga kangen Bunda. Bunda jangan nangis!” pinta Arsyad sambil menahan air matanya. Meskipun, saat itu air matanya bersiap-siap ingin jatuh.
“Biarkan saja Bunda menangis, tangisan ini bukan tangisan kesedihan sayang. Ini tangisan kebahagiaan, akhirnya setelah sekian lama Bunda bisa melihat kamu,” terang Asyila yang kini sudah menitikkan air mata kebahagiaan.
Arsyad yang awalnya ingin tak menangis, akhirnya ikut menangis juga.
Abraham yang melihat dua Ibu dan anak itu akhirnya ikut menangis.
“Huhuhu... 😭 Siapa yang meletakkan bawang dimataku?” tanya Pak Udin yang ternyata menangis di dalam mobil menyaksikan keluarga kecil dihadapannya.
Asyila mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar ke arah suaminya.
“Terima kasih, Mas. Ini kejutan yang sangat indah untuk seorang Ibu,” ungkap Asyila dan kembali memeluk buah hati kesayangannya.
“Iya sama-sama, istriku. Sekarang ayo kita pulang!” ajak Abraham.
Mendengar ajakan tersebut, Asyila dengan tegas menolaknya dan mengatakan bahwa dirinya masih ingin bersama dengan Arsyad.
“Kita harus pulang, istriku,” tutur Abraham lagi.
“Tidak. Biarkan kami menghabiskan waktu sebentar lagi disini!” pinta Asyila setengah memohon dan semakin mempererat pelukannya.
Abraham tak bisa membuat sang istri semakin sedih, ia pun mengungkapkan yang sebenarnya.
“Ayo kita pulang bersama Arsyad!” ajak Abraham.
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh suaminya. Asyila langsung terkesiap dan memandangi suaminya dengan sangat serius.
“Ma-maksud Mas Abraham?” tanya Asyila yang belum mengerti maksud dari pria dihadapannya.
”Wanita cantik seperti Syila dilarang menangis,” jawab Abraham sambil menghapus air mata Asyila, “Ayo kita pulang bersama dengan Arsyad. Tiga hari kemudian, Ki akan mengantarkan Arsyad kembali kesini,” terang Abraham.
Asyila terdiam sejenak dan di detik berikutnya ia tersenyum bahagia. Dengan cepat, Asyila membawa masuk Arsyad ke dalam mobil dan melupakan suaminya yang masih berada di luar.
“What? Apakah aku masih pria yang dicintainya?” tanya Abraham terheran-heran karena sang istri dengan cepat melupakan dirinya setelah bertemu dengan putra pertama mereka.
Abraham menghela napasnya dan masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.
“Pak Udin, ayo jalan!” perintah Abraham.
Dua hari sebelumnya, Abraham menghubungi pihak pesantren dan meminta izin mereka agar mengizinkan Arsyad pulang ke rumah selama 3 hari. Dan Alhamdulillah nya, mereka mengizinkan Arsyad pulang ke rumah.
“Sayang, bagaimana sekolahnya?” tanya Asyila penasaran dan ingin mendengarkan cerita dari putra pertamanya itu.
Dengan bangga, Arsyad mengatakan bahwa ia semakin rajin dalam beribadah dan memuji teman-temannya yang baik.
Abraham, Asyila serta Pak Udin terus saja menyimak apa yang dikatakan oleh Arsyad.
“Masya Allah, belajar yang pintar ya sayang. Bunda harap keluarga kita selalu berpegang teguh dengan agama Islam,” terang Asyila.
“Insya Allah, Bunda,” jawab Arsyad.
__ADS_1
Abraham ❤️ Asyila
Mohon berikan like ❤️ komen 😘