
Beberapa hari kemudian.
Abraham dan rekannya yang lainnya berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan keberadaan Asyila kecil.
Abraham bahkan jarang sekali tidur karena berusaha mencari keberadaan Asyila kecil dimana pun.
“Tuan Abraham, tolong beristirahatlah. Sejak bayi Asyila menghilang, anda sangat jarang tidur,” ucap Edi meminta sahabatnya untuk beristirahat dan tidur.
“Bagaimana aku bisa tidur kalau cucuku yang masih sangat kecil ada diluar sana bersama dengan orang-orang sial*n itu. Sampai aku menemukan mereka, akan kupatahkan tulang-tulang mereka dengan tanganku sendiri. Sekalipun mereka memohon belas kasih dariku, aku sama sekali tidak akan memaafkan mereka,” tegas Abraham sampai urat-urat lehernya tercetak jelas.
Salah satu rekan Edi, berlari mendekati mereka dan dengan napas terengah-engah ia memberitahukan bahwa tim yang lain melihat orang-orang yang menculik buah hati Dyah dan Fahmi berkat Cctv yang dilewati oleh kendaraan si pelaku penculikan tersebut.
“Lalu, apakah mereka sudah tertangkap?” tanya Abraham yang tak sabaran.
“Maaf, saya belum bertanya lebih banyak lagi karena saya terlalu senang untuk memberitahukan hal ini kepada anda,” terang Beni.
Abraham pun meminta Beni untuk segera mengantarkan dirinya ke tempat rekan yang lainnya. Beni pun mengiyakan dan mereka bergegas pergi menuju tempat rekan yang lainnya.
Sesampainya di kantor polisi. Abraham langsung menanyakan dimana keberadaan para penculik dan ternyata para penculik sudah berhasil diamankan.
“Sekarang, bawa aku untuk menemui mereka. Aku ingin tahu alasan mereka menculik cucuku, Asyila.”
“Biar aku saja,” ucap Dayat ketika rekan yang lainnya ingin mengantarkan Abraham menemui para penculik.
Dayat mengangguk kecil dan membawa Abraham menemui para pelaku penculik.
Ketika Abraham berhadapan langsung dengan mereka, mereka sudah babak belur karena sebelumnya sudah diintrogasi oleh para polisi yang lain.
“Hahaha.. Kau pasti Abraham 'bukan?” tanya salah satu dari mereka.
Rahang Abraham mengeras dan dengan gerak cepat Abraham membanting pria yang baru saja menanyakannya ke tembok dengan cukup keras.
“Berhentilah bermain-main denganku. Aku sudah tak bisa menahan diri untuk tidak membunuh kalian semua!” teriak Abraham dan dengan brutal Abraham melampiaskan kemarahannya memukuli mereka berempat dengan tangan kosong.
Dayat sama sekali tak melerai apa yang dilakukan oleh Abraham. Jika ia jadi Abraham, ia bahkan sudah menembakkan peluru ke kepala mereka.
__ADS_1
Teriakkan demi teriakkan saling bersahutan manakala Abraham mematahkan pergelangan tangan dan kaki mereka dengan tangannya.
Ketika mereka sudah tak bisa apa-apa. Barulah Abraham berhenti dan menanyakan keberadaan cucu kesayangannya itu.
“Sekarang jawab pertanyaan ku dengan jujur. Dimana cucuku, Asyila berada?” tanya Abraham dengan setengah berteriak.
Abraham menarik rambut salah satu dari mereka dan kembali bertanya mengenai keberadaan cucu kesayangannya itu.
“Jangan kalian menguji kesabaran ku lagi, aku tidak segan-segan membunuh kalian semua ditempat ini. Aku bahkan tak peduli jika harus membusuk dipenjara karena telah membunuh kalian semua!” teriak Abraham.
“Ampun, tolong jangan bunuh kami. Se-sebenarnya kami menaruh bayi itu di depan panti asuhan pelita harapan Bunda,” terang pria yang rambutnya masih dijambak oleh Abraham.
“Lalu, siapa dalang dibalik penculikan ini?” tanya Abraham dengan sangat geram.
“Tidak ada. Ini 100% atas kemauan kami, karena kami sangat dendam dengan anda dan juga dengan polisi-polisi brengs3k ini,” terangnya.
Dayat yang kesal langsung memberikan bogem mentah ke wajah pria yang telah menghina.
“Polisi mana yang kau maksudkan? Kalau saja kalian semua tidak melakukan kesalahan di masa lalu, tidak mungkin kalian menjadi seperti ini,” ucap Dayat yang tak terima dengan perkataan pria tersebut yang menghina dirinya serta polisi-polisi yang lainnya.
“Ayo, kita pergi ke tempat panti asuhan itu!” perintah Abraham pada Dayat.
Abraham, Dayat serta yang dua polisi lainnya termasuk Edi, bergegas pergi menuju panti asuhan pelita harapan Ibu saat itu juga.
Disaat yang bersamaan.
Fahmi tengah menemani istrinya yang tengah sakit di rumah sakit. Kondisi Dyah benar-benar tak memungkinkan. Bahkan, Dyah menolak untuk makan meskipun hanya sedikit.
“Fahmi, kamu pulanglah dulu. Kamu yang sekarang tidak jauh berbeda dengan Dyah,” tutur Yeni, Ibu kandung Dyah.
“Fahmi disini saja, Ma. Menemani Dyah, kasihan Dyah kalau Fahmi tinggal pulang,” jawab Fahmi.
Yeni menunduk sedih karena bingung harus berbicara apalagi. Orang tua mana yang tak sedih, jika buah hatinya menghilang diculik oleh orang yang tak berperasaan.
“Kita duduk diluar saja Ma,” ucap Temmy mengajak istrinya untuk keluar dan membiarkan Fahmi menemani putri mereka yang tengah berbaring.
__ADS_1
Fahmi membelai lembut pipi Dyah yang terlihat mengecil karena hilangnya putri kecil mereka yang usianya baru beberapa hari.
Hanya dalam hitungan hari Dyah masuk rumah sakit, tubuh Dyah sudah kehilangan banyak berat badan dan membuat keluarganya begitu mengkhawatirkan wanita muda itu.
Fahmi menangis melihat air mata istrinya yang mengalir padahal posisi sang istri tengah tak sadarkan diri.
Fahmi menangis dengan tak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia menghapus air mata sang istri yang terus saja mengalir tanpa henti. Baru saja menikah dan baru saja memiliki bayi mungil, keluarganya sudah berkali-kali mendapatkan cobaan.
Berat. Tentu saja sangatlah berat untuk keduanya, ini bukan lagi mengenai fisik. Akan tetapi, sudah mengenai perasaan mereka dan sakitnya tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata.
Tubuh Dyah tiba-tiba mengalami kejang-kejang, Fahmi seketika itu panik dan berteriak memanggil mertuanya.
“Mama! Papa!” teriak Fahmi panik dan berlari keluar ruangan.
“Ada apa, Fahmi?” tanya Temmy yang tak kalah panik.
Fahmi berlari mencari dokter dan meminta dokter untuk segera memeriksa keadaan istrinya. Tak butuh waktu lama, dokter serta kedua perawat memasuki ruangan Dyah dan meminta ketiganya untuk tak masuk ke dalam selama proses pemeriksaan.
“Fahmi, Dyah kenapa?” tanya Temmy yang sebelumnya tidak sempat masuk melihat kondisi putrinya.
“Fahmi, kenapa dengan putri kami?” tanya Yeni dengan mata berkaca-kaca.
“Tadi, Dyah tiba-tiba mengalami kejang-kejang,” jawab Fahmi.
Temmy dan Yeni sangat terkejut mendengar bahwa putri mereka mengalami kejang-kejang.
“Pa, kenapa keadaan Dyah semakin hari semakin parah saja? Seakan Dyah menolak untuk sembuh,” ucap Yeni dan terduduk lemas di lantai dengan air mata yang bercucuran terus-menerus.
Temmy mencoba membantu istrinya bangkit. Akan tetapi, Yeni menolaknya dan terus menangis.
Seakan-akan tengah protes dengan keadaan.
Pikiran Fahmi sudah buyar dan bingung harus apa karena rasanya ia sudah tak bersemangat untuk hidup.
Ya Allah, jangan biarkan kami menyerah dengan cobaan musibah yang Engkau berikan kepada kami.
__ADS_1