
Usai melaksanakan sholat isya berjama'ah, Abraham serta yang lainnya perlahan mengosongkan masjid tersebut.
Setibanya di rumah, Abraham tak langsung masuk ke dalam kamar.
Pria itu lebih dulu memasuki ruang kerja yang sebelumnya menjadi tempat sang istri menyibukkan diri dengan menjahit pakaian muslim.
“Ayah, ayo ke kamar!” ajak Ashraf sambil mengucek matanya, terlihat sekali bahwa Ashraf sangat mengantuk.
Abraham mengusap sekilas rambut Ashraf.
“Ashraf kenapa tadi tidak tidur siang? Apa sekarang, Ashraf mau tidur?” tanya Abraham setengah menunduk.
“Iya Ayah,” jawab Ashraf sambil memeluk tangan Abraham.
Abraham tertawa kecil dan segera menggendong tubuh Ashraf.
“Ya sudah, ayo tidur!” seru Abraham.
Ketika Abraham baru saja keluar dari ruang kerja sang istri, tiba-tiba Yeni dan Temmy muncul.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap keduanya sambil masuk ke dalam rumah dengan tersenyum lebar ke arah Abraham.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mari duduk!”
Abraham mempersilakan keduanya untuk duduk.
“Abang dan Mbak kenapa baru tiba?” tanya Abraham pada keduanya.
“Kami ada urusan mendadak, Oya dimana Dyah dan cucu kami?” tanya Yeni.
Ketika Abraham ingin beranjak dari duduknya, Dyah tiba-tiba datang sambil menggendong bayi mungilnya.
Kemudian, disusul oleh Fahmi sambil membawa bantal mungil untuk bayinya yang menggemaskan.
“Papa, Mama. Kenapa kalian baru datang?” tanya Dyah setengah merengek, “Dyah masih belum berani memandikan Asyila, untungnya ada Nenek Arumi yang memandikan cucu kalian,” terang Dyah sambil memasang wajah kesal.
“Oohh, begitu ternyata. Hmm, jadi kedatangan Mama disini hanya untuk memandikan Lala saja?” tanya Yeni sambil membuang muka.
“Bu-bukan gitu juga maksud Dyah,” balas Dyah dan seketika itu juga memberikan bayi mungilnya kepada Yeni.
Yeni tersenyum lebar dan dengan sangat senang menciumi pipi kemerah-merahan cucu pertamanya.
Bayi mungil itu yang sebelumnya tertidur, tiba-tiba terbangun dan mulutnya bergerak-gerak berusaha mencari put!ing Ibunya.
“Oek.. oek.. oek..” Bayi itu tiba-tiba menangis karena apa yang ia inginkan tak segera diberikan.
Dyah geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar. Kali ini, Yeni mengikuti putrinya masuk ke dalam kamar.
“Ibu Arumi dan Pak Herwan, kemana?” tanya Temmy karena tak melihat kedua mertua Abraham.
“Mereka sedang berada di rumah sakit,” jawab Abraham.
“Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?” tanya Temmy penasaran.
__ADS_1
Abraham sangat malas membahas tentang wanita itu.
Ia pun memilih diam tak menjawab pertanyaan dari kakak sepupunya itu.
Temmy mengernyitkan keningnya dan berganti menoleh ke arah Fahmi.
Fahmi seketika itu tersenyum lebar tanpa mengatakan apapun kepada Ayah mertuanya.
“Kalian ini kenapa malah diam saja?” tanya Temmy setengah mengomel.
Ashraf yang duduk di sebelah Ayahnya berusaha untuk menahan kantuknya. Akan tetapi, ia tidak bisa sehingga ia menjadi rewel.
“Ayah...” Ashraf kembali mengucek matanya dan menggerakkan kakinya berulang kali.
Abraham menepuk dahinya sendiri dan pamit untuk menemani putra kecilnya tidur.
“Istri Pamanmu mana? Kenapa sudah cukup lama tidak pernah kelihatan?” tanya Temmy yang tak tahu apa-apa mengenai kematian Asyila.
Fahmi terdiam dan menunduk sedih. Ia ingin sekali mengatakan mengenai kejadian menyedihkan itu. Akan tetapi, ia sudah berjanji kepada Abraham untuk menutup mulut rapat-rapat.
“Ya sudah kalau kamu juga tidak ingin menjawabnya. Papa akan menanyakan hal ini kepada Pak Herwan saja,” tutur Temmy.
Temmy hanya bisa mengangguk kecil sambil memasang senyumnya.
“Papa mau kopi? Fahmi buatkan ya.”
“Boleh, gulanya satu sendok saja dan kopinya sedikit lebih kental, ok!”
Disaat yang bersamaan, Ashraf masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan Ayahnya.
Sang Ayah, memantaunya di dekat pintu. Sementara Ashraf, tengah menggosok giginya sebelum tidur.
“Yang bersih, itu bagian belakang juga disikat,” perintah Abraham.
Ashraf melirik sekilas ke arah Ayahnya dan menggosok giginya sesuai dengan perintah dari Ayahnya itu.
Setelah selesai menggosok gigi, Ashraf keluar dari kamar mandi bersama dengan Sang Ayah.
“Sekarang naik ke tempat tidur dan jangan lupa berdo'a, agar tidak mimpi buruk,” tutur Abraham yang lagi-lagi mendapat lirikan mata dari buah hatinya.
Abraham berusaha menahan tawanya, putra kecilnya saat itu terlihat sedang menahan kesalnya.
Ashraf menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tersebut, kecuali bagian kepalanya.
Bocah kecil itu mulai membaca do'a sebelum tidur dengan mata sengaja terpejam.
Beberapa saat kemudian.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya Ashraf terlelap juga.
Melihat buah hatinya yang sudah tertidur pulas, Abraham pun bergegas turun untuk menemui kakak sepupunya di ruang keluarga.
“Bagaimana, apakah Ashraf sudah tidur?” tanya Temmy pada Abraham yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa.
__ADS_1
“Alhamdulillah sudah,” jawab Abraham.
Fahmi terlihat lebih rileks ketika Abraham kembali berkumpul dengan mereka. Sebelumnya, ketika hanya berduaan saja dengan Ayah mertuanya, Fahmi banyak diam dan berusaha menjaga ucapannya agar Ayah mertuanya tak lagi membahas masalah keberadaan Asyila.
“Abang untuk sementara ini tinggallah disini,” ucap Abraham meminta Temmy beserta istrinya untuk sementara waktu tinggal dikediaman Abraham Mahesa.
“Kami tidak bisa berlama-lama tinggal disini, lusa kami sudah harus kembali bekerja,” balas Temmy.
“Baiklah, aku mengerti,” balas Abraham.
Perbincangan para pria terus saja berlanjut, sampai mereka tak sadar bahwa saat itu sudah larut malam.
Fahmi yang tak kuat begadang, akhirnya tertidur di sofa.
Karena kasihan, akhirnya Abraham dan Temmy mengakhiri perbincangan mereka.
“Fahmi, ayo bangun. Kita tidur di kamar yang lain saja!” ajak Temmy sambil memapah Fahmi yang terlihat sangat mengantuk.
Sementara itu, Abraham kembali ke kamarnya untuk segera beristirahat.
Keesokan paginya.
Yeni tengah sibuk menyiapkan keperluan mandi cucu pertamanya. Terlihat jelas, bahwa Yeni begitu bahagia karena akan memandikan bayi mungil putrinya.
“Masya Allah, cucu Oma dan opa cantik sekali. Oma mandikan ya Lala,” tutur Yeni sambil melepaskan pakaian bayi mungil itu dengan hati-hati.
Dyah senang, karena bayi mungilnya ada yang memandikan.
Sementara Arumi yang biasa memandikan bayi mungilnya, pagi itu tidak pulang karena Salsa hari itu akan keluar dari rumah sakit.
Dyah berharap, kedatangan Salsa tidak membuat keributan. Karena Dyah sangat ingin sekali menarik keras rambut Salsa yang menurutnya sangat menjijikan.
“Dyah, kenapa kamu malah melamun? Cepat berikan Mama sabun!” pinta Yeni.
Dyah terkesiap dan segera memberikan sabun cair bayi ke telapak tangan Mamanya, Yeni.
Bayi mungil itu terlihat sangat tenang dimandikan oleh Yeni.
Terlihat sangat jelas, bahwa bayi itu menikmati mandi paginya.
“Sudah selesai cucu Oma sayang, sekarang waktunya pakai baju yang cantik,” tutur Yeni dan meletakkan bayi mungilnya itu di karpet bayi dan dengan hati-hati mengeringkan tubuh bayi mungil tersebut dengan handuk.
“Sini biar Dyah saja yang memberikan minyak, Ma,” tutur Dyah dan dengan hati-hati mengoleskan minyak keseluruhan tubuh bayi mungilnya. Kecuali, bagian wajah sang bayi.
“Hhhmmm.. Harum,” ucap Yeni ketika menghirup bau tubuh Asyila kecil.
Usai mengenakan pakaian, Yeni membawa cucunya keluar dari rumah untuk merasakan hangatnya matahari hari.
“Ma, Dyah kangen teman-teman kantor. Kalau saja Dyah masih bekerja,” tutur Dyah.
“Kalau kamu kangen, ya ajak mereka kemari. Kamu pun tidak perlu harus bekerja, toh Nak Fahmi adalah pria berkecukupan,” tutur Yeni pelan-pelan.
“Hehe.. hehe.. Iya juga ya Ma. Kenapa Dyah tidak berpikir sampai kesana?” tanya Dyah.
__ADS_1