Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Terungkap Alasan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


Kelima anak yang salah satu jari mereka dipatahkan oleh Asyila datang berbondong-bondong bersama dengan orang tua mereka. Terlihat sekali, bahwa mereka dan orang tua mereka adalah orang yang sangat sombong serta semena-mena.


“Kalian apakan anak buah ku?” tanya Pak Woto sambil mendelik tajam bergantian menatap Dayat, Edi dan juga Abraham.


Pak Woto sama sekali tidak tahu, bahwa orang yang tengah dihadapinya adalah orang yang bisa memasukannya ke dalam penjara.


“Kamu sudah Nenek peyot, bukannya menyerahkan tanah mu yang busuk ini malah membuat putraku celaka. Dimana wanita kurang ajar itu?” tanyanya sambil berteriak.


Abraham tak bisa tinggal diam, wanita yang dibicarakan oleh Pak Woto tentu saja adalah istri kecil kesayangannya.


“Tutup mulutmu yang tak tahu malu ini, jangan pernah kamu membicarakan istriku dengan kata-kata yang tidak pantas,” tegas Abraham sambil mencengkram erat kerah baju Pak Woto, saking kuatnya Abraham mencengkram sampai-sampai Pak Woto sulit bernapas seperti orang yang tengah tercekik.


“Lepaskan kakak ipar ku!” teriak salah satu pria yang ternyata adalah adik dari Pak Woto.


“Jangan ada yang mendekat!” perintah Abraham sambil menatap satu persatu anak-anak muda yang nakal itu. Kemudian, bergantian menatap tajam ke arah orang tua mereka, “Apakah kalian tidak memiliki hati? Sampai-sampai kalian mengabaikan wanita paruh baya ini? Dimana hati nurani kalian? Apakah hati kalian benar-benar mati?” tanya Abraham.


“Siapa kamu sebenarnya? Berani-beraninya datang ke wilayah kami? Tidak seharusnya orang seperti kalian ini membela wanita bau tanah ini,” hardik Pak Woto.


Dayat refleks menampar mulut Pak Woto yang perkataannya benar-benar menghina.


“Akkhh!” Pak Woto berteriak kesakitan setelah mulutnya ditampar oleh Dayat.


Disaat yang bersamaan, ketua RT datang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


“Ada apa ini, kenapa ribut-ribut?” tanya Pak RT.


Pak Woto yang geram langsung melaporkan apa yang terjadi, akan tetapi di setiap perkataannya banyak kalimat yang dibuat-buat atau dilebih-lebihkan.


Mendengar perkataan Pak Woto, Pak RT langsung marah dan berniat mengusir Abraham serta yang lainnya, termasuk Nek Inem yang menurut Pak RT sudah tidak bisa diterima di kampungnya lagi.


“Kau sudah tua, apakah pantas melakukan kebohongan yang keji seperti ini?” tanya Dayat sambil menahan amarahnya.


Keadaan semakin memanas, ketika anak-anak muda yang nakal itu mengadukan tentang jari-jari tangan mereka yang dipatahkan oleh Asyila.


“Hei kalian berlima!” teriak Edi sambil mendelik tajam ke arah anak-anak muda nakal itu, “Kalian akan menyesal setelah tahu bahwa perbuatan kalian memiliki resiko yang sangat berbahaya,” imbuh Edi.


Edi segera mengeluarkan ponselnya dan meminta rekannya yang bertugas di satuan reserse narkoba untuk segera datang ke lokasi.


Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Edi, seketika itu membuat para anak-anak muda yang nakal itu ketakutan. Yang artinya, bahwa kemungkinan besar mereka adalah pengguna barang haram tersebut.


“Kenapa ekspresi kalian seperti itu?” tanya Edi yang mulai mencurigai kelima anak-anak muda tersebut.


Pak Woto dan para orang tua yang lainnya mencoba memberontak dengan cara mengusir Abraham serta yang lainnya. Akan tetapi, usaha tersebut segera dihentikan karena Pak Woto dan orang yang berniat mengusir mereka ketakutan melihat Dayat mengeluarkan pistol.


“Dor!” Suara tembakan terdengar sangat keras.


Dayat baru saja menembakkan peluru ke udara dan seketika itu membuat mereka ketakutan. Mereka akhirnya tahu bahwa Dayat dan Edi adalah polisi.

__ADS_1


“Siapapun dari kalian yang berniat mengusir kami, jangan salahkan saya jika peluru ini menembus tubuh kalian,” ancam Dayat.


Tentu saja apa yang dikatakan oleh Dayat adalah gertakan saja. Ia tidak mungkin menyalahkan gunakan kewenangannya untuk menembaki mereka.


“Nek Inem, tolong buka pintu rumah ini!” pinta Abraham.


Dengan tangan gemetar, Nek Inem membuka pintu rumahnya. Nek Inem terlihat cukup ketakutan, ia takut jika sewaktu-waktu Pak Woto serta yang lainnya menyerang dirinya.


“Nek Inem tidak perlu takut, kami pastikan bahwa Nek Inem baik-baik saja,” ucap Abraham berusaha menenangkan Nenek Inem.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah. Baru saja melangkah masuk, mereka terkejut mendapati rumah Nek Inem yang sudah dalam kondisi porak-poranda.


Dayat yang kesal segera memanggil Pak RT untuk meminta penjelasan.


“Anda disini adalah orang yang seharusnya mengayomi masyarakat, bagaimana bisa anda membiarkan orang-orang merusak kediaman Nek Inem?” tanya Dayat.


Pak RT langsung bersimpuh di hadapan Dayat serta yang lainnya. Dengan air mata yang terus mengalir, Pak RT menceritakan bahwa alasan yang sebenarnya mengapa ia selalu mengabaikan dan memfitnah Nek Inem adalah karena ia memiliki hutang kepada Pak Woto. Pak RT terpaksa berbuat dzolim kepada Nek Inem, dikarenakan Pak Woto terus mendesaknya membayar hutang. Akan tetapi, uang yang ia dapatkan belum bisa membayar hutang-hutang tersebut. Sehingga, Pak Woto memberikan penawaran kepada Pak RT agar ingin hutangnya cepat lunas, Pak RT harus mengabaikan keluhan-keluhan Nek Inem dan juga masyarakat yang lain.


Ternyata, tidak hanya Nek Inem saja yang diperlakukan tidak adil. Banyak masyarakat lainnya yang juga mengalami hal yang sama. Akan tetapi, tak separah seperti apa yang dialami oleh Nenek Inem.


“Jelaskan alasan yang sebenarnya, mengapa Pak Woto serta yang lainnya sering mengganggu Nek Inem!” perintah Dayat.


“Saya tidak tahu alasannya yang sebenarnya. Tapi, kemungkinan Pak Woto ingin menguasai tanah milik Mbak Inem dan juga tanah-tanah warga yang lainnya,” jelas Pak RT.


Abraham mendekati Pak RT untuk membantunya bangkit.


“Apakah ucapan anda dapat dibuktikan?” tanya Abraham.


Dari apa yang dijelaskan oleh Pak RT, dapat disimpulkan bahwa Pak Woto ingin menguasai tanah-tanah warga, khususnya orang-orang yang sudah berumur.


Beberapa saat kemudian.


Satuan reserse narkoba Polda Jabar datang ke lokasi tersebut.


Dayat, Edi dan juga Abraham segera menyambut kedatangan mereka.


Tak ingin membuang-buang waktu, Dayat meminta para rekannya untuk memeriksa apakah Anak-anak muda dan juga orang tua mereka terbebas dari narkoba tersebut atau tidak.


Pak Woto serta yang lainnya terlihat panik, mereka bersikeras mengatakan bahwa mereka bukanlah pengguna barang haram tersebut. Akan tetapi, usaha mereka menjadi sia-sia.


Satuan reserse narkoba, segera mengeluarkan alat-alat untuk menguji apakah mereka pemakai atau tidak.


Anak-anak muda tersebut menangis ketakutan, rasa sakit dijari mereka tidak seberapa dibandingkan dengan terungkapnya fakta bahwa mereka adalah pengguna narkoba.


“Kalian kenapa menangis?” tanya Pak Woto yang terlihat begitu ketakutan. Pak Woto pun ternyata adalah pengguna barang haram tersebut.


Tidak hanya Pak Woto yang ketakutan, rekannya yang lain termasuk iparnya pun ketakutan dan bingung harus melakukan apalagi untuk bisa kabur.


Pemeriksaan pun berlangsung. Untuk menghindari keributan yang tak di duga, Dayat serta Edi meminta yang lainnya untuk segera pulang ke rumah. Jika tidak, mereka akan mendapatkan sanksi berat.

__ADS_1


Mau tak mau akhirnya warga yang lain kembali ke rumah mereka masing-masing dan mengintip apa yang selanjutnya terjadi dari jendela rumah mereka masing-masing.


“Sampai kalian berani menyentuhku, kalian akan habis,” ancam Pak Woto.


“Memangnya, apa yang ingin anda lakukan?” tanya Abraham menantang Pak Woto sambil mendelik tajam.


Nyali Pak Woto langsung ciut, bagaimana putri malu yang tersentuh oleh angin.


Proses pemeriksaan akhirnya berlangsung, pengguna narkoba pun sebentar lagi akan dapat diketahuinya.


“Usiamu berapa, Anak muda?” tanya Dayat pada salah satu anak muda tersebut.


“18 tahun,” jawabnya.


Dayat tersenyum menyeringai dan sudah dapat dipastikan, hukum pun akan berlaku kepada anak-anak muda tersebut.


“Apakah ada dari kalian yang berusia dibawah 17 tahun?” tanya Dayat memastikan.


Kelimanya dengan kompak menggelengkan kepala, yang artinya usia mereka diatas 17 tahun.


Disaat yang bersamaan, Asyila tengah berdo'a meminta pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Asyila berharap semuanya baik-baik saja dan pulang dengan selamat tanpa ada luka sedikitpun.


“Ya Allah, tolong lindungilah Mas Abraham dan yang lainnya,” tutur Asyila.


Ketika Asyila tengah berdo'a, samar-samar Asyila mendengar suara sahabatnya, Ema.


“Iya, itu adalah suara Ema,” ucap Asyila dan bergegas keluar dari kamar untuk segera menuju lantai dasar.


“Assalamu’alaikum, Asyila!” panggil Ema.


“Wa’alaikumsalam, Ema!” Asyila berlari dan segera memeluk tubuh sahabatnya.


“Kamu kenapa Asyila?” tanya Ema yang tampak mulai khawatir.


“Masuklah, aku akan menceritakannya di dalam!” ajak Asyila.


Ema rupanya datang dengan maksud memberikan bubur kacang hijau buatannya.


“Ini untukmu,” ucap Ema sambil memberikan sebungkus bubur kacang hijau buatannya sendiri.


“Terima kasih, Ema. Apakah kamu yang membuatnya?” tanya Asyila.


“Tentu saja, aku harap kamu menyukainya,” jawab Ema, “Sekarang, kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!” pinta Ema.


Tanpa pikir panjang, Asyila menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, Asyila tidak menceritakan mengenai dirinya yang berhasil mematahkan salah satu jari tangan kelima anak muda yang mengganggu Nenek Inem.


Usai mendengarkan apa yang diceritakan oleh Asyila, Ema nampak sangat terkejut. Iya sangat kasihan dengan Nenek Inem yang tinggal sebatang kara dan malah mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari orang-orang yang seharusnya melindungi seorang wanita tua seperti Nek Inem.

__ADS_1


“Kamu yang tenang ya Asyila. Pak Abraham saat ini pergi tidak sendirian, ada Pak dayat dan Pak Edi juga,” ucap Ema.


“Iya, Ema. Terima kasih karena kamu sudah datang kemari, setidaknya beban pikiran ku berkurang,” balas Asyila.


__ADS_2