
Dyah bangun dari tidurnya ketika mendengar ponsel berbunyi, dengan mata yang masih mengantuk ia meraih ponselnya dan samar-samar melihat nama Kevin.
“Ya ampun, ini masih jam berapa?” tanya Dyah dan dengan terpaksa menerima sambungan telepon dari Kevin yang sudah ia anggap seperti sahabat sendiri.
Dyah menggeser tombol berwarna hijau dengan kesal, “Assalamu'alaikum, ada apa Vin subuh-subuh begini kamu menghubungiku?” tanya Dyah.
“Wa'alaikumsalam, Maaf Dyah. Aku hanya ingin mengatakan nanti aku yang menjemputmu dan mengantarmu bekerja,” ucap Kevin.
Karena sangat mengantuk dan tidak fokus, Dyah pun mengiyakannya saja dan mengakhiri sambungan telepon dari Kevin.
Pagi hari.
Dyah telah bersiap-siap dan ia pun bergegas keluar dari kamarnya untuk menikmati sarapannya bersama kedua orangtuanya.
“Dyah, Mama dan Papa akan pulang malam. Kamu tidak apa-apa 'kan, di rumah sendirian sampai kami pulang ke rumah,” ucap Yeni.
“Tumben pulangnya malam, memang Mama dan Papa ada acara apa?” tanya Dyah penasaran sambil mengoleskan selai kacang ke roti miliknya.
“Mama dan Papa ada urusan di kantor. Insya Allah, besok pagi kita akan ke Jakarta menjenguk Pamanmu,” terang Yeni.
Dyah terkesiap dan tersenyum lebar, “Yang benar, Ma?” tanya Dyah memastikan.
“Insya Allah,” jawab Yeni sambil menoleh ke arah suaminya yang duduk tepat disampingnya.
Dyah mengaminkan dan berharap bisa segera bertemu dengan Pamannya yang sangat ia sayangi.
“Tin.. tin...”
Dyah mengernyitkan keningnya ketika mendengar klakson mobil milik Kevin, Dyah pun berpikir mengapa Kevin sepagi itu datang ke rumah.
“Mobil siapa diluar?” tanya Temmy pada putrinya.
“Kevin,” jawab Ema.
“Kevin?” Yeni dan Temmy kompak terkejut mengetahui bahwa Kevin datang.
“Jangan tanya kenapa, Dyah juga tidak tahu kenapa Kevin datang sepagi ini,” ucap Dyah dan cepat-cepat melahap roti ditangannya.
Usai menghabiskan roti dengan selai kacang, Dyah pun beranjak untuk menemui Kevin.
“Kevin, kamu kenapa kemari sepagi ini? Kenapa tidak beritahu aku sebelumnya?” tanya Dyah.
__ADS_1
“Kamu lupa ya, tadi jam 3 pagi aku menghubungi mu, Dyah,” jawab Kevin sambil tersenyum, “Kamu bahkan mengiyakannya,” imbuh Kevin.
“Mengiyakan? Mengiyakan apa maksudnya?" tanya Dyah was-was dan berharap ia tidak mengiyakan hal yang seharusnya tidak diiyakan oleh Dyah.
“Aku mengatakan akan mengantarkan kamu ke kantor, kamu benar tidak ingat?” tanya Kevin penasaran.
“Oh itu, te-tentu saja aku ingat,” jawab Dyah.
Kalau aku mengatakan tidak ingat, sudah pasti Kevin akan mengatakan juga bahwa aku telah menerima cintanya. Haduh, beginilah kalau punya wajah cantik.
Dyah terlihat percaya diri dengan apa yang baru saja dikatakan di dalam hatinya.
Yeni dan Temmy pun keluar dari rumah untuk bergegas pergi bekerja, Kevin terkesiap dan mencium punggung tangan kedua orang tua Dyah secara bergantian.
“Om dan Tante mau kerja ya,” ucap Kevin basa-basi.
Dyah, Temmy dan Yeni saling tukar pandang ketika mendengar Kevin menyebut “Om dan Tante”
“I-iya, kami ingin berangkat,” jawab Yeni.
Temmy dan Yeni kompak masuk ke dalam mobil untuk bergegas pergi ke kantor mereka.
Dyah menggelengkan kepalanya dan cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
Disaat yang bersamaan, Fahmi datang untuk mengantarkan Dyah ke kantor. Dyah yang melihat Fahmi langsung turun dan mengatakan bahwa dirinya akan pergi bersama Kevin.
Fahmi terlihat sedih karena calon istrinya pergi dengan pria lain. Akan tetapi, belum waktunya bagi Fahmi untuk memperkenalkan dirinya. Ia pun memilih untuk bersabar dan berharap Dyah segera membuka hatinya untuk seorang Muhammad Fahmi.
“Maaf ya Mas,” ucap Dyah meminta maaf kepada Fahmi.
“Tidak apa-apa, kamu hati-hati di jalan,” balas Fahmi dan langsung menoleh ke arah Kevin.
Kevin mengangkat sebelah alisnya dan sambil melipat kedua tangannya ke dada, seakan-akan memberitahukan kepada Fahmi bahwa ia telah menang dalam mendekati Dyah.
Dyah masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Kevin, mobil Kevin pun pergi menuju kantor Dyah.
Ternyata, Fahmi tidak langsung pulang ke perumahan Absyil, justru Fahmi membuntuti mobil Kevin dari belakang. Yaitu, untuk memastikan bahwa calon istrinya sampai ke tempat kerja dengan selamat.
“Kamu dan pria itu apa sudah dekat lama?” tanya Kevin yang mencoba mengorek informasi tentang hubungan Dyah dan juga Fahmi.
Dyah tidak ingin menjawab pertanyaan dari Kevin, ia pun memilih memutar musik dengan volume cukup keras.
__ADS_1
Kevin menghela napasnya dan tahu bahwa Dyah tidak ingin menjawab pertanyaan darinya.
Dyah tak sengaja melihat ke arah spion mobil dan melihat Fahmi yang tengah mengikuti mobil Kevin dari belakang.
Ya ampun, Mas Fahmi sampai segitunya untuk memastikan aku sampai ke kantor dengan selamat. Kalau dipikir-pikir, Mas Fahmi adalah pria baik. Sebelas dua belas sama Paman Abraham. Lucu kali ya, kalau aku dan Mas Fahmi menikah.
Dyah terkekeh geli ketika membayangkan dirinya dan Fahmi menikah. Akan tetapi, Dyah segera membuang pikirannya jauh-jauh karena ia tahu bahwa Fahmi adalah pria yang sangat baik dan Dyah tidak pantas menjadi istri dari seorang Fahmi.
“Dyah, kamu kenapa?” tanya Kevin melihat Dyah yang senyum-senyum sendiri.
Dyah terkesiap dan mengatakan bahwa ia tidak kenapa-kenapa.
“Nanti sore, aku yang akan menjemputmu,” ucap Kevin dan seketika itu membuat Dyah risih.
“Kevin, kamu tidak perlu menjemput aku. Lagipula, sudah ada Mas Fahmi yang menjemput aku,” ucap Dyah mencoba menolak Kevin secara halus.
“Memangnya kenapa kalau aku yang menjemputmu? Bukankah biasanya aku yang menjemputmu,” ucap Kevin yang bersikeras ingin menjemput Dyah.
Belum sempat Dyah menjawab, ternyata ia sudah sampai di kantor tempatnya bekerja. Ia kemudian turun dari mobil dan mengatakan kepada Kevin untuk tidak menjemputnya, Kevin hanya bisa menghela napasnya dan berharap agar Dyah mau menerima cintanya.
Fahmi berhenti tak jauh dari mobil milik Kevin, kemudian ia bergegas pulang ketika Dyah sudah masuk ke dalam.
“Semangat bekerja, calon istriku,” ucap Fahmi dan putar balik untuk segera pulang ke perumahan Absyil.
Di dalam kantor, Dyah tiba-tiba dihampiri oleh salah satu rekan kerjanya.
“Loh, bukannya itu Kevin ya, yang baru saja mengantar kamu! Lalu, dimana Mas Fahmi yang tampan itu?”
Dyah menghela napasnya dan hanya memberikan senyuman ke arah teman kerjanya.
“Ya sudah kalau tidak mau jawab,” celetuknya dan melenggang pergi.
Dyah geleng-geleng kepala dan sudah sangat hafal dengan orang-orang yang bekerja di kantor. Selain bekerja, banyak dari mereka tukang gosip contohnya wanita tadi yang bernama Erika.
“Mas Fahmi ini benar-benar tipikal pria idamanku,” ucap Dyah sambil menyentuh dadanya.
Disaat yang bersamaan, Fahmi tengah mengendarai motor matic miliknya dan berpikir keras untuk menyatakan cintanya kepada Dyah. Akan tetapi, Fahmi masih ragu-ragu karena takut jika Dyah menolak perasaannya.
Ya Allah, semoga saja Dyah menerima perasaan hamba dan kami pun segera membina rumah tangga.
Fahmi sampai sekarang belum berani menyatakan perasaannya kepada Dyah. Hak tersebut dikarenakan, sebelumnya ia tidak pernah memiliki perasaan kepada gadis manapun. Bukan karena dirinya tidak normal, akan tetapi dari dulu yang hanya ia pikirkan adalah sekolah serta karir. Dan kini, ia ingin memiliki seorang istri yaitu, Dyah.
__ADS_1