Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Mengaku Sebagai Wartawan


__ADS_3

Malam hari.


Asyila menatap sedih wajah suaminya, entah kenapa Asyila memiliki firasat yang kurang baik. Ia ingin sekali meminta suaminya untuk tidak pergi malam itu, akan tetapi keputusan Sang suami sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat oleh Asyila.


“Kenapa malah sedih begitu?” tanya Abraham sambil membelai wajah istri kecilnya.


“Mas yakin malam ini mau pergi untuk menyelidiki pria itu? Bagaimana kalau sesuatu hal buruk terjadi kepada Mas?” tanya Asyila khawatir.


“Ssuuuttt... Syila tidak boleh berpikiran buruk seperti itu! Do'akan saja Mas baik-baik saja, kalau begitu Mas pergi sekarang, assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam, Mas. Hati-hati ya Mas!”


Setelah Sang suami benar-benar pergi meninggalkan dirinya seorang diri, Asyila cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia gunakan untuk menyamar. Asyila tidak mungkin membiarkan suaminya pergi seorang diri untuk menyelidiki kasus pembunuhan tersebut.


“Tunggu Asyila, Mas. Asyila tidak akan membiarkan Mas pergi sendirian. Sebagai istri, Asyila harus selalu berada disisi Mas dan tak peduli seberapa bahayanya, Asyila siap menjadi perisai untuk Mas,” ucap Asyila dengan sangat serius sambil mengangkat kedua tangannya tanda semangat.


Usai mengganti pakaiannya, Asyila buru-buru merapikan tempat tidur. Kemudian setelah itu, ia bergegas keluar dari penginapan.


“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah lindungilah kami,” ucap Asyila dan berlari kecil menyusul suaminya.


Disaat yang bersamaan, Yogi keluar dan terkejut melihat seorang wanita berpakaian hitam dan mengenakan cadar berlari kecil entah kemana.


“Siapa wanita itu?” tanya Yogi bermonolog dan sama sekali tak mengenali bahwa wanita itu adalah istri dari sahabatnya, Abraham, “Ah, bukan urusanku siapa wanita itu. Sekarang aku harus mencari susu untuk Ashraf dan Kahfi,” imbuh Yogi dan bergegas menuju toko sekitar pantai barangkali ada yang menjual susu.


Asyila berlari ke arah dimana ia melihat si pria yang mengenakan jas hujan tersebut. Kebetulan malam itu area sekitar pantai tidaklah ramai. Mungkin, karena ada peristiwa menyeramkan sehingga pengunjung tidak terlalu ramai.


Dimana Mas Abraham sekarang. Kenapa cepat sekali?


Abraham berlari secepat mungkin sambil menoleh ke arah sekitarnya, hampir 15 menit ia berkeliling dan belum juga menemukannya.


“Pria itu pasti tinggal disekitar tempat ini, kalau tidak mana mungkin ia mengenakan jas hujan,” ucap Abraham.


Abraham terus saja berlari dan samar-samar ia melihat sebuah warung kopi yang saat itu terlihat cukup ramai. Ia terus mengedarkan pandangannya barangkali salah satu dari pengunjung warung itu adalah orang yang ia lihat tadi pagi.


Mata Abraham terbelalak lebar ketika melihat pria yang mengenakan kaos berwarna hitam dan sedang merokok di atas motor. Yaps, pria itu adalah pria yang hampir saja Abraham tabrak karena ia tiba-tiba muncul dengan begitu saja dan dengan terburu-buru.


Tidak salah lagi. Pria itu adalah pria yang hampir saja aku tabrak tadi pagi.


Karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Abraham pun mendekat dan memutuskan untuk membeli secangkir kopi.


“Bu, kopi hitam satu!”


Pemilik warung mengiyakan dan segera membuatkan kopi yang dipesan oleh Abraham.


Suasana warung itu cukup ramai dan diselingi dengan tawa mereka yang sedang membahas hal-hal lucu. Namun, Abraham tidak mendengarkan pembicaraan mereka, Abraham terlalu fokus dengan pria yang tengah duduk di motor sambil mengisap rokok.


Pria itu menyadari bahwa Abraham terus memperhatikannya, ia pun tak senang dan memutuskan untuk meninggalkan warung dengan berjalan kaki. Tentu saja, motor yang ia naiki bukanlah motornya melainkan, motor salah satu pengunjung warung.


Mau kemana dia? Aku harus mengikutinya.

__ADS_1


Abraham bangkit dan tak lupa membayar kopi pesanannya. Meskipun, kopi itu sama sekali tak disentuhnya.


“Ini belum diminum,” ucap pemilik warung.


“Maaf, Bu. Saya ada urusan penting, ini uangnya,” balas Abraham dan memberikan selembar uang berwarna ungu.


Pemilik warung itu mencoba memanggil Abraham. Akan tetapi, Abraham terlanjur pergi meninggalkan warung.


Disisi lain, Asyila terus mencoba mencari suaminya.


Mas Abraham sebenarnya pergi kemana?


“Mas Abraham.” Asyila dari kejauhan melihat suaminya sedang berlari dengan begitu cepat.


Sepertinya Mas sedang mengejar sesuatu. Aku harus mengikutinya dari belakang, semoga Mas tidak menyadari keberadaanku.


“Berhenti!” teriak Abraham pada pria didepannya yang terus berlari menjauh darinya.


“Berhenti!” teriak Abraham sekali lagi.


Pria itu langsung menghentikan langkah kaki dan berbalik menghadap ke arah Abraham.


“Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu terus saja mengikutiku?” tanya nya.


Abraham tersenyum se-ramah mungkin dan bersalaman dengan pria dihadapannya yang dicurigai oleh Abraham adalah pelaku pembunuhan.


Pria itu tersenyum kaku dan berusaha terlihat tenang.


“Abraham? Sepertinya kamu bukan penduduk sini,” ucapnya yang terlihat tidak senang dengan Abraham.


“Saya salah satu penghuni penginapan didekat pantai, bolehkah saya mewawancarai anda sebentar? Kebetulan saya berprofesi sebagai wartawan dan tugasnya saya adalah mencari informan. Kemudian, setelah saya selesai mewawancarai anda, anda akan mendapatkan uang yang cukup banyak karena telah bekerja sama dengan saya,” jelas Abraham panjang lebar yang tentunya hanya ingin membuat pria dihadapannya percaya dengan ucapan Abraham.


“Seberapa banyak?”


“Kalau jawaban anda cukup meyakinkan, kurang lebih 10 juta anda akan mendapatkan uang nya dan itupun saya akan memberikannya secara tunai,” jawab Abraham yang kembali berbohong.


Pria itu yang awalnya terlihat tak senang langsung berubah seketika itu juga. Senyumnya berseri-seri sambil membayangkan uang 10 juta yang dikatakan oleh Abraham.


“Baik. Saya setuju untuk diwawancarai, apakah malam ini bisa?” tanya si pria itu yang terlihat tak sabaran.


“Sebelumnya, bisakah anda memperkenalkan diri terlebih dahulu!” pinta Abraham.


“Nama saya Arif!”


Abraham mengangguk kecil dan tersenyum tipis. Setidaknya apa yang dilakukan Abraham sudah membuat pria dihadapannya terpancing dan tinggal menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.


“Bagaimana kalau besok sore? Kebetulan Malam ini kaki saya kelelahan karena mengejar Pak Arif,” ucap Abraham berpura-pura lemas.


Arif terlihat tak senang dengan apa yang dikatakan oleh Abraham. Akan tetapi, ia tidak bisa membiarkan Abraham sakit. Lebih lagi, ia harus mendapatkan uang 10 juta itu.

__ADS_1


“Ok, saya setuju. Datang ke rumah saya yang ada pagar bercat hijau menyala,” ucap Arif.


“Apakah anda tinggal bersama keluarga anda?” tanya Abraham.


“Besok kamu datang saja, kebetulan saya tinggal bersama dua istri saya dirumah itu,” terangnya.


Dua istri. Itu artinya dia tidak hanya memiliki satu itu, melainkan dua. Hmmm... Pria ini semakin membuatku penasaran dan aku harap pria ini adalah tersangka kasus pembunuhan itu.


“Bagaimana? Apakah besok kamu bisa datang?” tanya Arif.


“Tentu saja, besok sore saya akan datang ke rumah Pak Arif,” jawab Abraham.


Merekapun berjabat tangan dan berjalan berlawanan arah.


Asyila yang melihat suaminya dari kejauhan dan berjalan ke arah penginapan mereka, terlihat sangat terkejut. Ia pun berlari secepat mungkin agar Sang suami tak melihat dirinya.


Abraham berjalan dengan sangat lamban, pikirannya dipenuhi dengan pria yang bernama Arif. Abraham semakin penasaran dan berharap kediaman Arif ada bukti tentang peristiwa pembunuhan wanita berdarah tersebut.


“Untuk hal ini sebaiknya aku melakukannya seorang diri. Akan sangat rumit jika polisi datang dan membuat semuanya jadi tak berjalan sesuai rencana ku.


Baiklah, demi keluarga aku harus mencari tahu kebenarannya secepat mungkin. Aku tidak ingin bulan maduku bersama istri kecilku terganggu karena masalah ini,” ucap Abraham bermonolog.


Beberapa menit kemudian.


Abraham masuk ke dalam penginapan dan melihat istri kecilnya tengah tertidur. Akan tetapi, Abraham sedikit bingung karena napas istri kecilnya terdengar seperti orang yang kelelahan.


“Syila...” Abraham dengan lembut menyentuh pipi mulus Asyila dan mencium bibirnya.


Asyila terbangun dan berpura-pura seakan dirinya baru saja bangun dari tidur.


“Mas sudah pulang?” tanya Asyila tanpa menatap mata suaminya.


Abraham mengernyitkan keningnya dan menarik tubuh istri kecilnya agar mendekat padanya.


“Katakan yang sejujurnya, Syila habis ngapain?” tanya Abraham.


Asyila terkejut dan berusaha mencari alasan yang tepat agar ia tidak dicurigai oleh suaminya.


“Se-sebenarnya Asyila habis olahraga lompat-lompat, Mas,” jawab Asyila dengan menampilkan tatapan polosnya.


Abraham geleng-geleng kepala dan mencium kening istri kecilnya.


“Ini sudah malam, kenapa malam-malam begini malah main lompat-lompat?” tanya Abraham.


Asyila hanya membalas pertanyaan suaminya dengan senyum manisnya. Ia yakin suaminya akan lulus dan tak jadi bertanya. Ternyata, apa yang dipikirkan Asyila benar. Suaminya akhirnya tak jadi bertanya dan justru memeluk tubuhnya ditempat tidur dengan begitu mesra.


“Mas mencintaimu, istriku. Malam ini Mas ingin kita melakukannya dan segera memberikan Arsyad dan Ashraf seorang adik yang lucu,” ucap Abraham.


Asyila dengan malu-malu mengangguk dan merekapun bersama-sama ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

__ADS_1


Abraham 💖 Asyila


__ADS_2