
“Sayang, sudah jangan dipikirkan lagi. Ularnya sudah pergi,” tutur Asyila sambil menyentuh kedua pipi putra keduanya.
“Bunda, Ashraf mau tidur. Tapi, Bunda harus temani Ashraf,” ucap Ashraf yang masih merasa takut.
“Iya sayang, Bunda pasti akan menemani Ashraf,” balas Asyila sembari menuntun putra keduanya ke kamar.
Di ruang keluarga, Herwan serta yang lainnya terlihat sangat serius memikirkan ular kobra tersebut.
Terutama Herwan yang sebelumnya pernah dipatuk ular kobra dan membuatnya masuk rumah sakit.
Kejadian itu sampai saat ini masih membekas di ingatan Ayah kandung dari Asyila.
“Semoga saja kejadian beberapa tahun yang lalu tidak akan terjadi lagi,” ucap Herwan.
Saat Herwan sedang memikirkan bagaimana nasib keluarganya, tiba-tiba salah satu bodyguard menghampiri mereka dan mengatakan bahwa mereka tak menemukan satupun ular kobra.
Herwan serta yang lain sedikit bernapas lega, meskipun belum bisa sepenuhnya lega.
Arsyad memutuskan untuk pergi ke kamar orangtuanya sekaligus ingin melihat keadaan adiknya yang tentu saja sangat terkejut dengan apa yang telah terjadi.
“Bunda!” panggil Arsyad dari luar pintu.
“Masuk saja, Arsyad sayang!” seru Asyila dari dalam kamar.
Arsyad perlahan membuka pintu kamar dan masuk ke dalam dengan langkah kecil.
“Ashraf sudah tidur, Bunda?” tanya Arsyad lirih dan nyaris tak didengar oleh Asyila.
“Iya sayang, sini naik ke kasur!” panggil Asyila pada Arsyad yang berdiri agak jauh dari tempat tidur.
Arsyad mengiyakan dan perlahan naik ke tempat tidur orangtuanya.
“Bunda, kapan Ayah pulang?” tanya Arsyad karena merasa bahwa kehadiran Ayahnya dapat membuat suasana rumah itu sedikit lebih tenang sekaligus aman.
“Kita do'akan saja ya sayang, semoga Ayah cepat pulang,” balas Asyila sambil menyentuh kepala Arsyad dengan begitu lembut.
“Bunda, Arsyad boleh ya tidur di kamar Ayah dan juga Bunda?” tanya Arsyad yang ingin sekali tidur kamar orangtuanya.
“Boleh dong sayang, Arsyad sekarang tidur di samping adik Ashraf.”
Arsyad melebarkan senyumnya dan perlahan merebahkan tubuhnya di samping Sang adik, Ashraf.
__ADS_1
“Arsyad tidurlah dulu, Bunda mau memeriksa popok adik Akbar,” ujar Asyila dan berjalan mendekati ranjang bayi mungilnya.
Asyila memeriksa popok bayi Akbar dan ternyata sudah penuh.
“Sudah penuh ya sayang? Bunda ganti dulu ya sayang,” tutur Asyila dan dengan hati-hati mengangkat tubuh bayi mungilnya untuk dipindahkan ke tempat tidur agar mempermudah bagi Asyila mengganti popok bayi mungilnya itu.
“Bunda, ini bedak punya adik bayi,” ucap Arsyad dengan sigap memberikan bedak tabur bayi pada Bundanya.
“Terima kasih sayang,” sahut Asyila dengan memberikan senyum terbaiknya kepada putra sulungnya itu.
Malam hari.
Abraham serta para tim cukup kewalahan mengejar para penculik yang sebelumnya terlihat tengah mengincar seorang gadis, untungnya aksi penculikan tersebut digagalkan oleh Abraham. Akan tetapi, Abraham malah kehilangan jejak mereka karena salah satu dari mereka sempat menyemprotkan air cabe ke arah mata Abraham.
“Seharusnya tadi aku lebih cepat menahan mereka, maafkan aku karena kecerobohannya ku ini,” ucap Abraham.
“Tuan Abraham tak pantas berkata kalimat tersebut, bagaimanpun terima kasih karena sudah mengagalkan aksi penculikan tadi,” balas Edi.
Hujan deras tiba-tiba turun bersamaan dengan angin kencang, karena saat itu mereka sedang berada di hutan, Edi serta tim yang lainnya memutuskan untuk kembali ke basecamp karena akan sangat berisiko jika mereka nekad masuk ke dalam hutan untuk mengejar para pelaku penculikan.
Sekarang Syila sedang apa di rumah? Ah, rasanya aku tidak ingin berlama-lama berpisah dengan istri kecilku. Tunggu suamimu ini ya istriku, sebentar lagi suamimu akan kembali.
“Apakah kau juga terpesona dengan wajahku?” tanya Abraham yang tahu bahwa Edi terus saja memperhatikan wajahnya.
Edi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Mungkin,” balas Edi dengan senyum canggung.
Abraham tertawa kecil dan menepuk bahu Edi sebanyak dua kali.
“Aku tahu apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak keberatan. Justru, aku sangat senang bisa membantu kalian. Lagipula, Asyila sama sekali tidak keberatan asal suaminya ini pulang dengan selamat,” terang Abraham.
Edi tersenyum dengan tatapan penuh kekaguman dengan sosok pria yang duduk disampingnya itu.
Setibanya di basecamp, Abraham langsung masuk ke sebuah ruangan untuk beristirahat sekaligus menghubungi istri kecilnya agar istri kecilnya tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, istriku!” sapa Abraham sambil melambaikan tangan pada istri kecilnya lewat sambungan panggilan video.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Suamiku!” Asyila tersenyum dan juga melambaikan tangannya.
“Syila kenapa belum tidur? Bagaimana keadaan anak-anak?” tanya Abraham penasaran sekaligus merindukan keluarga kecilnya yang saat ini tengah berada di Jakarta.
__ADS_1
“Kalau Asyila sudah tidur, Asyila tidak akan mungkin mengangkat panggilan video dari Mas Abraham,” balas Asyila dan terkekeh kecil, “Anak-anak sudah tidur, Mas,” imbuh Asyila dan mengarahkan kamera ponselnya ke arah Arsyad, Ashraf dan juga bayi mungil mereka.
Abraham terkejut mengetahui bahwa Arsyad dan juga Ashraf tidur di kamar kedua orangtuanya, Abraham dan Asyila.
“Masya Allah, mereka tidur di kamar kita,” tutur Abraham dengan tatapan penuh kerinduan.
“Iya, Mas. Arsyad dan Ashraf tidur di kamar kita,” balas Asyila.
“Syila yang sabar ya, do'akan semoga suamimu ini bisa cepat kembali dan kita bisa segera berkumpul. Mas mohon, Asyila harus tambah kuat dengan Mas yang seperti ini, bagaimanapun apa yang Mas lakukan untuk kehidupan kita diakhirat kelak. Selama Mas bisa dan Syila disana bisa, insyaallah semuanya akan dibayar oleh Allah berupa surga Allah,” ungkap Abraham.
Asyila tersenyum dan meneteskan air matanya, bukan karena dirinya sedih, melainkan karena ia begitu bersyukur mendapatkan suami yang baik dan memikirkan akhirat.
“Syila jangan menangis, tersenyumlah!” pinta Abraham pada istri kecilnya.
Abraham tak sanggup bila melihat istri kecilnya meneteskan air mata.
Asyila melebarkan senyumnya dan menyeka air matanya.
“Lihatlah, Asyila tersenyum,” tutur Asyila dengan terus tersenyum lebar.
Perbincangan mereka terus saja berlanjut, sampai akhirnya bayi mungil mereka terbangun dan menangis.
Panggilan video pun terpaksa dihentikan oleh keduanya.
“Maaf ya Mas, bayi kita menangis,” tutur Abraham.
“Mas yang seharusnya minta maaf, Syila fokus ke bayi Akbar dulu dan setelah bayi Akbar kembali tertidur, Syila langsung tidur!”
“Baik, Mas,” balas Asyila.
“Selamanya Mas mencintai Asyila, semangat ya istriku. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
“Asyila juga selamanya mencintai Mas Abraham, semangat juga untuk Mas Abraham dan tim yang lainnya. Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!”
Panggilan video pun berakhir dan saat itu juga Asyila menyusui bayi mungil di sofa.
Setelah menghubungi istri kecilnya, Abraham mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.
Setelah mengganti pakaiannya, Abraham keluar dari ruangan tersebut untuk kembali berkumpul dengan rekan yang lain.
Edi dan rekan tim yang lain, ternyata sedang membahas bagaimana menangkap para pelaku penculikan tersebut. Edi dan yang lain begitu geram dengan orang-orang yang hati serta pikiran kotor tersebut.
__ADS_1