Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Nenek Jatuh Sakit


__ADS_3

Asyila baru saja menjalankan ibadah sholat subuh dan ia terkejut ketika mendengar ponselnya berbunyi.


“Siapa yang menelepon di waktu pagi seperti ini?” tanya Asyila dan bergegas melepaskan mukena yang ia kenakan.


Suara dering telepon Asyila berhenti dan beberapa detik kemudian kembali berbunyi, Asyila cepat-cepat menyelesaikan melipat mukena dan bergegas menerima sambungan telepon yang ternyata dari Nenek Erna.


“Assalamu’alaikum, Nenek kena....”


“Bunda, ini Arsyad. Nek yut pingsan dan sekarang lagi di rumah sakit.” Dari balik telepon terdengar suara Arsyad yang setengah menangis.


Asyila mulai panik dan mencoba menenangkan putra pertamanya yang kini benar-benar menangis.


“Bunda... Bunda cepat kesini!”


Setelah mengatakan hal itu, Arsyad mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Asyila bertambah panik dan dengan cepat ia menyiapkan pakaian untuk segera pergi ke Jakarta.


Kenapa perasaanku tiba-tiba tak enak?


Ya Allah, tolong sembuhkan lah Nenek Erna.


Tanpa sadar, Asyila menitikkan air matanya dan menangis ketakutan. Ia takut jika hal-hal buruk terjadi pada Nenek dari suaminya itu.


“Syila mau kemana?” tanya Abraham yang baru saja tiba dan terkejut mendapati Asyila yang telah menangis.


“Mas, kita harus ke Jakarta sekarang. Tadi Arsyad menghubungi Asyila dan mengatakan bahwa Nenek jatuh sakit,” jelas Asyila yang telah menangis di pelukan Abraham.


Abraham mencoba menenangkan Asyila, meskipun saat itu ia sendiri tidak tenang mendengar bahwa Nenek kesayangannya jatuh sakit.


“Dyah! Dyah!” Abraham memanggil keponakannya dengan suara setengah berteriak.


Dyah yang mendengar panggilan sang Paman bergegas menghampiri Pamannya itu.


“Iya Paman, ada apa?” tanya Dyah terheran-heran.


“Cepat bereskan pakaianmu! sebentar lagi kita akan berangkat menuju Jakarta, Nek Yut saat ini sedang jatuh sakit dan sedang di rawat di rumah sakit.”


Dyah menutup mulutnya mendengar keterangan dari Pamannya. Ia pun ikut menangis ketika melihat Aunty-nya menangis di pelukan Sang Paman.


“Cepat, tunggu apalagi!”


Dyah berlari menuju kamar dengan air mata yang terus mengalir. Ia memasukkan seluruh pakaiannya dengan begitu cepat dan menyuruh Ashraf untuk kembali ke kamar orangtuanya.


Beberapa saat kemudian.


Mobil telah siap, waktunya bagi Abraham dan lainnya pergi ke Jakarta untuk mengunjungi Nenek Erna yang tengah di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


“Tolong lebih cepat, Eko!” perintah Abraham.


“Baik, Tuan muda!”


Untungnya jalan raya tidak terlalu ramai, dikarenakan waktu yang masih gelap dan hanya beberapa kendaraan saja yang lewat.


“Mas, Asyila takut,” ucap Asyila yang terus berada di pelukan Abraham.


“Serahkan semuanya kepada Allah,” jawab bijak Abraham.


Ashraf hanya tahu bahwa Nenek buyutnya sakit dan selebihnya ia tidak mengerti. Ia duduk dipangkuan Dyah yang sedari tadi tak mengajaknya mengobrol seperti biasanya.


Beberapa jam kemudian.


Di rumah sakit.


Abraham dan Asyila berlari kecil menuju ruang rawat Sang Nenek, dari kejauhan sepasang suami istri itu melihat Herwan yang tengah duduk bersama Arsyad, putra pertama Abraham dan Asyila.


Dyah dan Ashraf yang masih tertinggal dibelakang, berlari kecil untuk mengejar Abraham dan Asyila.


“Ayah, bagaimana keadaan Nenek?” tanya Asyila dengan napas terengah-engah. Kemudian, mencium punggung tangan Ayahandanya dan diikuti oleh Abraham.


“Nenek mu belum juga sadar,” balas Herwan.


Dyah dan Ashraf akhirnya tiba, mereka kompak mencium punggung tangan Herwan secara bergantian.


“Kak Arsyad!” Ashraf mendekati Kakaknya dengan begitu bahagia.


Kakak beradik itupun duduk bersebelahan dengan saling memandang seakan-akan pandangan mereka mengatakan bahwa mereka saling merindukan.


“Arsyad!” panggil Asyila karena putra pertamanya belum menyapa dirinya.


“Tunggi disini ya dik, kakak mau menyapa Ayah dan Bunda dulu!”


Arsyad berlari kecil dan bergantian mencium punggung tangan kedua orangtuanya.


“Maaf, Ayah. Maaf, Bunda!” Arsyad yang baru beberapa Minggu berpisah dari orangtuanya nampak sangat sopan.


Abraham dan Asyila sangat bangga dengan perubahan putra pertama mereka yang semakin pintar.


“Arsyad tadi nangis ya?” tanya Asyila.


“Iya, Bunda. Nek yut tadi tiba-tiba jatuh dan tidak bangun-bangun lagi,” jawab Arsyad.


Ceklek!


Seorang dokter perempuan baru saja keluar dari ruangan Erna dengan raut wajah yang tak dapat diartikan oleh Abraham maupun yang lainnya.

__ADS_1


“Dok, bagaimana keadaan Nenek saya?” tanya Abraham.


“Pembuluh darah Nyonya Erna pecah dan kecil kemungkinan untuk selamat. Yang dapat kita lakukan sekarang adalah berdo'a, semoga Allah memberikan mukjizat untuk Nyonya Erna,” terangnya, “Maaf semuanya, saya permisi dulu,” imbuh sang dokter dan bergegas melenggang pergi.


Bruk!


Asyila terjatuh mendengar bahwa Nenek dari suaminya kecil kemungkinan untuk selamat. Hal yang Asyila takutkan semakin besar, air matanya langsung mengalir dan iapun menangis dengan posisi yang masih berada di lantai.


Abraham mencoba menenangkan sang istri yang terus saja menangis. Dyah, Arsyad, Ashraf dan juga Herwan hanya bisa memandangi Asyila yang terus saja menangis.


Arumi baru saja tiba dan terkejut melihat putri kesayangannya menangis di pelukan menantu kesayangannya.


“Ada apa, Mas?” tanya Arumi pada suaminya.


Herwan pun langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mengetahui alasan Asyila menangis, Arumi pun ikut menangis.


Namun, tangisan Arumi tidak sampai mengeluarkan suara seperti Asyila.


“Nenek pasti selamat, 'kan Mas?”


“Kita serahkan semuanya sama Allah ya Syila.”


“Hiks... hiks...” Asyila terus saja menangis ketika membayangkan bagaimana jadinya jika Nenek yang baik nan lembut kepadanya pergi meninggalkan keluarga kecilnya.


Siang hari.


Abraham dan lainnya baru saja melaksanakan sholat Dzuhur di masjid terdekat. Semuanya berdo'a mengharapkan agar Erna segera sadar dan bisa kembali pulang bersama mereka.


Arsyad berkali-kali menyemangati Bundanya dan mengatakan bahwa Nenek buyutnya akan segera sembuh. Dikarenakan, Nenek buyutnya telah berjanji akan membuatkan jus anggur dengan rasa kasih sayang.


“Arsyad anak yang pintar, Ayah dan Bunda bangga dengan Arsyad karena sudah pandai menghibur hati Bunda,” ucap Asyila yang kini mulai tenang melihat wajah putra pertamanya.


“Bunda....” Ashraf mendekat pada Bundanya.


“Iya sayang, Ayah dan Bunda juga bangga dengan Ashraf yang pintar ini,” tutur Asyila.


Abraham mengajak mereka untuk segera kembali ke rumah sakit. Entah kenapa, perasaan Abraham tidak enak dan ingin cepat-cepat kembali ke rumah sakit yang jaraknya hanya sekitar 20 meter.


“Bunda, gendong!" pinta Ashraf manja.


“Jalan kaki saja ya dik,” ucap Arsyad.


Ashraf mengangguk setuju dan berjalan kaki sembari bergandengan tangan dengan sang kakak, Arsyad.


“Mas, tunggu Asyila!” Asyila berjalan dengan langkah terburu-buru untuk menyusul sang suami yang berjalan dengan begitu cepat.


“Maafkan, Mas. Entah kenapa perasaan Mas tidak tenang,” terang Abraham dan memeluk sang istri di depan mertua, kedua putra kecilnya dan di depan Dyah.

__ADS_1


Asyila merasakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Namun, Asyila memilih diam dan memberikan pelukan hangat untuk suaminya.


Abraham 💖 Asyila


__ADS_2