Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Sosok Mbah Tedjo Yang Luar Biasa Baik


__ADS_3

Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam, mereka pun akhirnya sampai di lokasi tersebut.


Asyila terkejut melihat tempat itu yang terlihat sangat kumuh, bahkan rumah-rumah pun banyak yang masih menggunakan kayu.


“Mas, tempatnya memang seperti ini? Terus, mereka mencari pekerjaan dimana? Karena yang Asyila lihat disini tidak ada orang yang memiliki toko besar atau sawah-sawah untuk mereka menanam padi,” tutur Asyila penasaran.


“Kalau yang Mas tahu, para wanita bekerja sebagai wanita penghibur dan para pria lebih ke main judi,” terang Abraham apa adanya.


Asyila mengelus dadanya dengan sangat nelangsa melihat para wanita di hadapan mobil.


“Ayo turun, mereka pasti sudah menunggu kita!” ajak Abraham dan bergegas turun dari mobil.


Menik dan lainnya menyambut kedatangan Abraham yang ternyata datang bersama dengan seorang wanita, siapa lagi kalau bukan Asyila.


“Lihat, itu istri Tuan Abraham. Ya ampun, ternyata istrinya sangat cantik dan terlihat masih muda. Mungkin, baru lulus SMA,” ucap salah satu dari mereka yang mengagumi kecantikan dari istri Abraham Mahesa.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham dan juga Asyila.


“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka kompak dan sangat antusias menyambut kedatangan suami istri itu.


“Baiklah, saya tidak perlu menjelaskan lagi mengenai kedatangan saya kemarin. Oya, sebelum kita membahas topik selanjutnya, saya ingin memperkenalkan wanita disamping saya ini. Wanita ini adalah Asyila, istri saya dan ibu dari keempat buah hati kami,” terang Abraham memperkenalkan istri kecilnya dihadapan Menik serta yang lain.


Para pria penghuni wilayah itu pun perlahan mendekat dan mengucapkan terima kasih atas iktikad Abraham kepada desa mereka yang terpencil dan sangat kumuh itu.


“Baiklah, tanah mana saja yang akan dijual?” tanya Abraham.


Tiba-tiba seorang pria tua datang menghampiri Abraham dan memberitahukan bahwa tanah miliknya lah yang akan dijual.


“Perkenalkan saya Mbak Tedjo, saya lah yang akan menjual tanah tersebut untuk Nak Abraham. Yang saya miliki sekarang hanyalah tanah itu dan uangnya akan saya sumbangkan untuk anak-anak yatim-piatu,” terang Mbah Tedjo.


Mbah Tedjo sendiri adalah orang tertua di desa itu dan bisa dikatakan ia hidup sebatang kara di rumah kecilnya.


Abraham tersenyum lebar dan tanpa pikir panjang menanyakan nilai nominal harga tanah yang akan dijual.


“Soal nominal itu terserah Nak Abraham saja, karena yang saya harapkan uang halal serta berkah dari Nak Abraham,” terangnya.


Abraham terharu mendengar apa yang dikatakan oleh pria tua dihadapannya.


“Mbah Tedjo, tolong tunjukkan tanah yang ingin Mbah Tedjo jual!” pinta Abraham.


Mbah Tedjo mengangguk kecil dan perlahan berjalan menuju tanah miliknya.


5 menit kemudian.


“Tanah yang Mbah Tedjo pijak ini dan sampai pohon mangga di ujung sana adalah milik Mbah Tedjo,” tutur Mbah Tedjo kemudian membuka kancing baju miliknya dan memberikan sebuah sertifikat tanah yang selama ini ia simpan.


Abraham dan Asyila saling tukar pandang melihat Mbah Tedjo mengeluarkan sertifikat tanah di balik baju yang ia kenakan.


“Ini sertifikasi tanah milik Mbah Tedjo dan disitu tertera luas tanah milik Mbah Tedjo,” terangnya.


Abraham terkejut melihat luas tanah milik Mbah Tedjo. Kemudian, Abraham tersenyum lebar.


“Saya akan memberikan uang senilai 2 miliar kepada Mbah Tedjo,” ucap Abraham.


Menik serta yang lainnya terkejut mendengar ucapan Abraham yang menyebutkan angka nominal sangat banyak.


Mbah Tedjo tersenyum dengan penuh kelegaan.


“Baiklah, saya setuju. Tolong bantu Mbah untuk menyumbangkan uang-uang itu kepada anak-anak yatim-piatu piatu, anak-anak panti dan juga keluarga yang tidak mampu. Sekarang, Mbah Tedjo sudah bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang,” ungkapnya.


Asyila terkejut dan menangis dipelukan suaminya, perkataan Mbah Tedjo membuat Asyila terharu dan juga bangga karena bisa bertemu dengan pria tua sebaik Mbah Tedjo yang menyumbangkan seluruh uangnya kepada orang lain.


“Mbah Tedjo tidak ingin mengambil sedikit dari uang itu?” tanya Abraham penasaran.


“Tidak, saya tidak ingin. Dosa saya ketika muda sudah sangat banyak dan ini waktunya bagi saya untuk menebus dosa-dosa di masa lalu saya,” terangnya.


Abraham bertepuk tangan dengan sangat keras, kemudian Asyila ikut bertepuk tangan dan akhirnya semua orang bertepuk tangan untuk sosok Mbah Tedjo yang sangat luar biasa baik dan menginspirasi bagi orang lain untuk berbuat kebaikan.


“Mbah Tedjo, bolehkah saya memeluk anda dan mengucapkan terima kasih?”


Dengan senang Mbah Tedjo mengiyakan dan merekapun berpelukan.


Menik menangis terharu dan memutuskan untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi dari hari itu.


Dayat dan Edi baru saja tiba, mereka terkejut melihat Abraham tengah berpelukan dengan pria tua. Sedangkan Asyila serta yang lainnya menangis.


Bahkan, Pak Udin yang seorang sopir pribadi pun ikut menangis terharu melihat sosok Mbah Tedjo dan juga Majikannya.


“Pak Udin, ini sebenarnya ada apa? Apakah kami melewatkan sesuatu hal yang sangat penting?” tanya Dayat penasaran.


Pak Udin terkejut karena tiba-tiba ada orang yang mencolek lengannya dan ternyata itu adalah sahabat dari majikannya.


“Pak Dayat, Pak Edi,” tutur Pak Udin setengah menunduk.


“Pak Udin kenapa menangis seperti yang lainnya?” tanya Dayat semakin penasaran.


Pak Udin menyeka air matanya dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi dan alasan mengapa mereka menangis.


Dayat dan Edi tertegun mendengar keterangan dari Pak Udin.


“Pantas saja Tuan Abraham memeluk Mbah Tedjo,” tutur Dayat.

__ADS_1


Abraham baru saja menyadari bahwa Dayat dan Edi telah tiba, Abraham pun menggerakkan tangannya memberi isyarat agar mereka berdua segera mendekat.


Karena hari yang semakin panas, Menik pun mengajak Abraham serta yang lainnya berteduh agar tidak kepanasan.


Abraham mengiyakan dan mengajak istri serta yang lain untuk mengikuti Menik.


“Tenang saja, makanan ini adalah makanan dari uang halal,” tutur Menik yang semenjak Abraham datang ke untuk pertama kalinya di desa mereka, Menik memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan haramnya dan memutuskan mencari uang yang halal. Meskipun, uang yang ia dapatkan bisa dikatakan sangat sedikit.


Abraham mengangguk kecil dan mengambil satu potong bolu kemudian menyuapi istri kecilnya.


“Bagaimana, Asyila suka?” tanya Abraham.


“Suka Mas, rasanya tidak tidak terlalu manis,” jawab Asyila dan bergantian menyuapi suaminya bolu.


Menik tersenyum canggung melihat sepasang suami istri dihadapannya yang begitu romantis.


Dari hati kecilnya yang paling dalam, Menik ingin sekali kembali membina rumah tangga. Akan tetapi, ia sadar bahwa dirinya hanyalah wanita kotor yang begitu menjijikan bagi pria yang ingin menjalin hubungan lebih serius dengannya.


Beberapa saat kemudian.


Abraham, Asyila serta yang lainnya pamit untuk pulang.


Menik dan lainnya kembali mengucapkan terima atas kebaikan Abraham, Asyila serta yang lain.


“Insya Allah besok ada orang-orang proyek yang akan mengukur lahan untuk dibangunkan masjid dan sisa tanah yang lainnya akan kami jadi toko-toko untuk membuka usah sekaligus saya ingin menciptakan lapangan pekerjaan untuk anda semua,” tutur Abraham.


Setelah mengatakan hal itu, Abraham mendekat ke arah Mbah Tedjo dan mengucapkan terima kasih atas apa yang Mbah Tedjo lakukan untuk orang lain.


“Semoga kedepannya saya bisa seperti Mbah Tedjo,” tutur Abraham.


Mbah Tedjo tertawa mendengar penuturan dari Abraham.


“Nak Abraham ini selain baik hati, ternyata bisa bercanda,” balas Mbah Tedjo.


“Mbah Tedjo bisa saja,” tutur Abraham sembari tertawa kecil.


Akhirnya Abraham, Asyila serta yang lain bergegas meninggalkan daerah tersebut.


Asyila meneteskan air matanya ketika baru masuk ke dalam mobil.


Mobil pun perlahan pergi dan dengan semangat, para penduduk desa melambaikan tangan ke arah mobil yang perlahan melaju meninggalkan desa mereka.


“Selamanya kita akan berhutang Budi kepada keluarga Tuan Abraham,” tutur Menik.


“Kamu benar Menik, aku pikir di dunia ini sudah tidak ada orang kaya yang peduli dengan orang kecil seperti kita. Bahkan, kebanyakan orang kaya akan jijik mengetahui bahwa kita adalah wanita penghibur,” terang yang lainnya.


Abraham mencium pucuk kepala istri kecilnya dan meminta Sang istri untuk tidak menangis lagi.


“Mas..” Asyila mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya dengan sangat serius.


“Iya Syila, kenapa?” tanya Abraham dan mencubit sekilas hidung mancung Asyila.


“Terima kasih atas semuanya, Asyila sampai kapanpun tidak akan pernah bosan untuk mengatakan terima kasih kepada Mas Abraham,” terang Asyila dan perlahan mencium punggung tangan suaminya.


Abraham tersentuh dengan yang dilakukan oleh istri kecilnya itu.


“Peluk!” pinta Asyila yang sedikit manja.


Abraham tersenyum lebar dan memeluk tubuh istri kecilnya seketika itu juga.


Beberapa jam kemudian.


Mobil perlahan memasuki halaman rumah dan berhenti seketika itu juga.


“Ayah! Bunda!” Dari luar mobil Ashraf terlihat bersemangat menyambut kedua orangtuanya.


Abraham dan Asyila yang masih berada di dalam mobil, seketika itu keluar dari mobil setelah melihat Ashraf yang begitu bersemangat.


“Assalamu’alaikum, Ashraf!”


“Wa’alaikumsalam,” balas Ashraf dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian.


“Masya Allah, Ashraf terlihat sudah sangat sehat,” tutur Asyila sembari menyentuh kening putra kedua mereka yang ternyata memang sudah sembuh.


“Ashraf sudah sembuh Bunda, tadi Ashraf juga menikmati es krim,” ungkapnya dengan penuh semangat.


Abraham terkejut dan dengan gerakan cepat mengangkat tubuh Ashraf ke dalam gendongannya.


“Baru sembuh tidak baik menikmati es krim,” tutur Abraham protes.


“Baik, Ayah,” jawab Ashraf sembari memasang ekspresi sedih.


Arumi dan Herwan muncul dengan senyum yang mengembang sempurna.


“Ibu, Ayah!” Asyila mendekat dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya begitu juga dengan Abraham.


“Sudah malam, ayo masuk!” ajak Arumi.


“Bayi Akbar mana, Ibu?” tanya Asyila.


“Itu di kamar, baru saja tidur,” jawab Arumi.

__ADS_1


“Akbar rewel tidak Bu?”


“Alhamdulillah, cucu kami itu sangat pintar. Hanya saja tadi popoknya penuh jadi sedikit rewel, setelah popoknya di ganti malah langsung tidur lagi,” ungkap Arumi sembari tertawa.


Asyila mengucapkan terima kasih kepada Ayah serta Ibunya, kemudian ia berlari kecil menaiki anak tangga untuk segera memberikan ASI kepada bayi mungilnya.


“Assalamu’alaikum, sayang. Baby Akbar kangen Bunda, tidak?” tanya Asyila yang tak langsung mendekati bayi mungilnya.


Asyila lebih dulu membersihkan diri dan berganti pakaian.


Abraham masuk ke dalam kamar dan tak menemukan istri kecilnya.


“Ternyata sedang mandi,” ucap Abraham bermonolog dan memilih duduk di sofa sembari menunggu istri kecilnya selesai mandi.


Abraham ingin sekali mencium pipi bayi mungilnya. Akan tetapi, dirinya tidak berani karena takut jika nanti ada kuman yang menempel di tubuh mungil bayinya itu.


Beberapa menit kemudian.


Asyila keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar semua ditubuhnya.


“Masya Allah, istriku ini sangat cantik,” puji Abraham pada Asyila yang baru selesai mandi.


“Mas jangan banyak bicara, cepat mandi!”


“Uhhh... Seram,” celetuk Abraham.


Asyila melengos pergi menjauhi suaminya dan bergegas mengenakan piyama miliknya.


Abraham tersenyum dan menyambar handuknya yang tergantung untuk segera membersihkan diri.


Asyila pun selesai mengenakan piyama dan bergegas menghampiri bayi mungilnya di tempat tidur.


“Sayangnya Bunda,” panggil Asyila.


Bayi mungil itu tiba-tiba terbangun setelah mendapat kecupan lembut di kedua pipinya.


“Maaf ya sayang,” tutur Asyila yang memang sengaja membangunkan bayi mungilnya agar segera menyusu.


Dengan cepat, bayi mungil itu meminum ASI.


“Haus ya sayang,” tutur Asyila.


Asyila kembali menitikkan air matanya mengingat sosok Mbah Tedjo.


Ya Allah, semoga Engkau menghaluskan semua dosa-dosa Mbah Tedjo di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.


Asyila menyeka air matanya dan kembali fokus memperhatikan wajah bayi mungilnya.


“Bunda!” panggil Ashraf dari luar pintu tanpa mengetuk pintu kamar orang tuanya.


Asyila perlahan turun dari tempat tidur dan berharap bayi Akbar tidak menangis.


“Iya sayang, ada apa?” tanya Asyila.


“Bunda, ayo makan malam!” ajak Ashraf agar Ayah dan Bundanya segera makan malam bersama.


“Sebentar ya sayang, kalau urusan Ayah dan Bunda sudah selesai, kami akan segera turun.”


“Baik, Bunda. Ashraf ke bawah dulu ya,” tutur Ashraf.


Asyila kembali menutup pintu dan disaat aku yang bersamaan, sepasang tangan melingkar sempurna di perut Asyila.


“Mas Abraham bisa tidak jangan mengejutkan Asyila seperti ini,” tutur Asyila kesal.


“Maafkan Suamimu ini, ya sudah Mas tidak akan melakukannya lagi,” tutur Abraham dan melepaskan pelukannya.


Asyila tertawa kecil dan seketika itu memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.


“Mas marah ya? Asyila tadi hanya bercanda saja,” tutur Asyila dan memberanikan diri mencium pipi suaminya.


Abraham tersipu malu setelah mendapatkan ciuman dari istri kecilnya.


“Sekarang Mas pakai baju, habis itu kita makan malam bersama. Ayah, Ibu dan Ashraf pasti sudah menunggu kita,” tutur Asyila.


Abraham mengiyakan bergegas mengenakan piyama yang senada dengan istri kecilnya.


Setelah semuanya siap, mereka pun turun ke bawah untuk menikmati makan malam bersama keluarga.


“Pak Udin ngapain duduk di luar, ayo masuk kita makan malam bersama!” panggil Abraham.


Sebelumnya Arumi dan Herwan pun telah memanggil Pak Udin untuk makan. Akan tetapi, Pak Udin menolak karena tidak terbiasa makan dengan majikannya.


“Saya makannya nanti saja, Tuan Abraham,” tolak Pak Udin secara halus.


“Pak Udin tidak boleh menolak ajakan saya, sekarang masuk,” tegas Abraham yang tak ingin mendapat penolakan dari Pak Udin.


Pak Udin akhirnya mengiyakan dan masuk ke dalam bersama dengan Tuannya.


Abraham ❤️ Asyila


Like ❤️

__ADS_1


__ADS_2