
Asyila tengah duduk di ruang tamu bersama Ashraf yang saat itu sedang sibuk bermain dengan mainannya. Asyila tidak terlalu fokus pada Ashraf yang mengajaknya bermain, entah apa yang dipikirkan oleh Asyila malam itu.
“Ayah!” teriak Ashraf yang tiba-tiba mendengar suara klakson mobil dan cepat-cepat ia berlari keluar rumah.
“Sayang, hati-hati,” ucap Asyila yang juga bergegas keluar rumah.
Abraham turun dari mobil sementara Eko bergegas pergi membawa mobil Abraham pulang ke rumah Eko, sesuai perintah dari Abraham.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham dengan membawa jas kerja ditangan kirinya dan bungkusan besar berisi buah-buahan ditangan kanannya.
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Asyila dan Ashraf kompak.
Abraham memindahkan bungkusan plastik berisi buah-buahan ke tangan kirinya, agar istri kecilnya serta buah hati mereka bisa mencium punggung tangan Abraham.
“Mas bukannya pulang telat?” tanya Asyila mencium punggung tangan Abraham dan diikuti oleh Ashraf.
“Kebetulan ada Yogi yang membantu Mas mengerjakannya sampai selesai, Apakah Syila sudah merindukan Mas?” tanya Abraham.
“Ya, tentu saja. Merindukan suami sendiri memangnya tidak boleh?”
“Hhmmm... Tentu saja boleh, justru semakin rindu semakin bertambah rasa cintanya,” jelas Abraham.
Ashraf memanyunkan bibirnya dan dengan berani mencubit tangan Ayahnya.
“Awww!” Abraham terkejut merasakan sakit dipunggung tangannya.
Ashraf malah tertawa mendengar suara Ayahnya yang kesakitan.
“Ayo, siapa tadi yang mencubit Ayah?” tanya Abraham dengan posisi berjongkok, menyesuaikan tinggi badan Ashraf.
“Ayah, apa itu?” tanya Ashraf yang penasaran dengan isi di dalam bungkusan plastik berukuran cukup besar.
”Hhmm.. Kita buka di dalam ya!” ajak Abraham.
Ketiganya masuk ke dalam rumah bersama-sama dengan begitu bahagia. Siapa saja yang melihatnya pasti akan iri dengan kebahagiaan keluarga kecil Abraham.
“Mas, apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Asyila diruang keluarga.
“Iya, memangnya kenapa? Mas lihat dari tadi Asyila seperti sedang melamun 'kan, sesuatu yang cukup berat,” tutur Abraham.
Asyila menyembunyikan kesedihannya dengan senyum manis. Ia masih mengingat tentang mimpi buruknya.
“Asyila tidak melamun, Mas. Oya, terima kasih Mas untuk buah-buahan nya,” tutur Asyila sambil mengangkat sebuah apel berwarna hijau.
“Cium dulu dong!” pinta Abraham sambil sedikit mengarahkan pipi kanannya didekat wajah Asyila.
”Muacchhh!” Asyila dengan cepat memberikan kecupan basah di pipi kanan Abraham.
Ashraf sibuk mengunyah buah kiwi ditangannya, senyumnya mengembang sempurna ketika merasakan manis asamnya rasa buah kiwi.
“Mas lelah sekali,” ucap Abraham sembari merenggangkan otot-ototnya.
__ADS_1
“Asyila pijat ya Mas!”
“Boleh,” balas Abraham.
Asyila terlebih dulu memijat pundak suaminya dengan tenaga kecil.
“Masya Allah, pijatan Syila benar-benar mantap,” puji Abraham.
Asyila tersenyum bahagia dan terus memijat kedua pundak suaminya.
“Bunda, cuci tangan,” ucap Ashraf sambil memperlihatkan kedua tangannya yang lengket.
“Sayang, coba belajar cuci tangan sendiri. Disana ada wastafel dan Ashraf tinggal menghidupkannya,” ucap Asyila melatih Ashraf agar mau cuci tangan sendiri.
Ashraf mengiyakan dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Bundanya. Dari kejauhan, Abraham dan Asyila kompak memperhatikan Ashraf yang tengah berjalan mendekati wastafel.
Ashraf bingung karena wastafel tersebut lebih tinggi darinya, ia pun menoleh ke arah kursi plastik dan menariknya. Ia pun dengan hati-hati naik dan setelahnya ia bisa mencuci tangan.
Abraham dan Asyila sangat terkejut sekaligus kagum, kedua kompak bertepuk tangan karena kepintaran Ashraf.
Ashraf menoleh kearah orangtunya, ia pun malu dan berlari kecil menuju kamarnya dilantai atas.
“Lihat, kelakuan Ashraf sama seperti Bundanya,” tutur Abraham dan tertawa kecil.
“Namanya juga kesayangan Asyila,” sahut Asyila sambil memeluk leher suaminya dari belakang.
****
Pijatan tangan Asyila benar-benar ampuh, hingga lelah Abraham langsung hilang.
Asyila mengangguk kecil dengan senyum manisnya.
“Ayo ke kamar! Ashraf sekarang pasti sudah tidur,” ajak Abraham.
“Tahu dari mana kalau Ashraf sudah tidur?” tanya Asyila.
“Ashraf anak yang aktif, kalau belum tidur sudah dari tadi ia sibuk memanggil Ayah dan Bundanya.”
“Mas memang benar, ya sudah ayo ke kamar!” seru Asyila.
Abraham dan Asyila melangkah bersama menuju kamar mereka. Samar-samar Asyila mencium bau parfum wanita dari jas suaminya.
“Mas tadi kemana saja?” tanya Asyila penasaran.
“Dikantor,” jawab Abraham.
“Yakin? Yakin, hanya di kantor saja? Tidak mampir kemana-mana?” tanya Asyila memastikan.
“Hhmmm... Kalau mampir, iya. Ke gerai buah-buahan,” jawab Abraham jujur.
Asyila tersenyum tipis dan sesampainya di dalam kamar, Asyila terkejut ketika jas kerja suaminya sangat menyengat bau parfum wanita.
__ADS_1
“Mas ini apa?” tanya Asyila sambil memberikan jas kerja pada suaminya, ”Coba cium!” pinta Asyila.
Abraham mencium sekilas jas kerja miliknya dan memang bau parfum wanita begitu pekat.
Abraham terkesiap karena tak ingin istri kecilnya salah paham.
“Tolong jangan salah paham kepada Mas, sebenarnya ada wanita yang tak sengaja terjatuh mengenai punggung Mas. Tapi, demi Allah Mas sama sekali tidak menyentuhnya apalagi melihatnya. Kalau Syila ragu, mari Mas antar menemui Yogi!” ajak Abraham yang sangat takut jika istri kecilnya salah paham.
Jika saja Asyila tidak bermimpi buruk, mungkin hal seperti itu dianggap angin lalu untuknya. Akan tetapi, sekarang ceritanya sudah beda. Asyila merasa ketakutan ketika mimpi buruk itu muncul dipikirannya.
Ya Allah, tolonglah hamba serta keluarga kami. Hamba percaya bahwa Engkau adalah satu-satunya penolong kami.
Asyila mencoba untuk tetap tenang dihadapan suaminya. Meskipun saat itu perasaannya begitu takut.
“Tolong percayalah,” ucap Abraham yang terus menatap Asyila dengan tatapan sendu.
“Tentu saja Asyila percaya, lagipula Asyila mengenal Mas tidak setahun, dua tahun. Hanya saja, Asyila takut jika ada wanita lain yang menarik perhatian Mas,” ucap Asyila yang kini memeluk tubuh suaminya dan berusaha untuk tidak menangis.
“Tidak ada yang bisa menarik perhatian Mas kecuali, istri Mas ini. Lain kali, Mas akan lebih hati-hati lagi,” balas Abraham.
Asyila mendongakkan kepalanya dan mencium sekilas bibir suaminya, ”Iya, Mas. Terima kasih,” tutur Asyila.
Abraham membiarkan istri kecilnya sepuasnya memeluk tubuhnya. Abraham berharap agar kedepannya tidak akan terjadi hal-hal serupa seperti itu.
“Sepertinya Mas harus membeli jas kerja yang baru,” ucap Abraham.
“Memangnya kenapa dengan jas kerja Mas yang ini?” tanya Asyila sembari menunjuk ke arah jas kerja yang tergeletak tepat disampingnya.
“Jas kerja yang ini sudah sempit. Karena setiap hari diberikan gizi seimbang dari istri tercinta,” jawab Abraham yang sejujurnya tidak ingin jika istri kecilnya teringat akan baru dari parfum wanita itu.
“Jangan dibuang ya Mas! Sebaiknya disimpan saja, jas kerja ini Asyila dulu yang membelikannya,” terang Asyila.
“Tentu saja,” balas Abraham.
Asyila masih memeluk tubuh suaminya, ia berusaha menenangkan diri dengan memeluk tubuh pria yang sangat ia cintai.
Setelah cukup, Asyila melepaskan pelukannya dan memberikan waktu untuk suaminya membersihkan diri.
Selagi Abraham masih dikamar mandi, Asyila pun memutuskan untuk melihat putra kecilnya di dalam kamar.
Sesampainya didalam kamar buah hatinya, Asyila tersenyum melihat Ashraf menutupi setengah tubuhnya dengan selimut.
“Kesayangan Ayah dan Bunda sudah tidur, mimpi indah ya sayang. Bunda sayang banget sama Kak Arsyad dan juga Ashraf,” ucap Asyila sembari membelai lembut rambut Ashraf.
Cukup lama Asyila berada didalam kamar buah hatinya, sampai akhirnya Asyila tersadar bahwa sang suami telah menunggunya tepat didepan pintu Ashraf.
Abraham menatap Asyila dengan tatapan penuh cinta. Asyila tersenyum malu dan bergegas menghampiri suaminya.
“Kenapa Mas tidak masuk?” tanya Asyila sambil bersandar didada suaminya.
“Kalau Mas masuk, takutnya Ashraf bangun. Ayo tidur!” ajak Abraham.
__ADS_1
Pintu kamar Ashraf pun ditutup dan mereka berdua bergegas kembali ke kamar tidur.
Abraham ❤️ Asyila