Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Penasaran


__ADS_3

Sepulang dari Masjid, Abraham bergegas menuju kamar kamar untuk melihat keadaan Sang istri.


“Mas sudah pulang, apa Mas mau Asyila buatkan sesuatu untuk dimakan?” tanya Asyila yang memang tak kemana-mana dan hanya berdiam diri di dalam kamar, mengikuti perintah dari Abraham.


“Syila mau Mas buatkan apa?” tanya Abraham balik.


“Apakah Mas juga yang akan menyiapkan makanan untuk Asyila?” tanya Asyila dengan memasang ekspresi kecewa. Tentu saja Asyila merasa kecewa, ia kecewa bukan karena suaminya. Akan tetapi, kecewa karena dirinya yang tak bisa apa-apa.


Abraham menyentuh kedua pipi istri kecilnya sambil menekan pelan hingga mulut Asyila setengah terbuka.


“Memangnya menyiapkan makanan untuk istri sendiri dilarang? Mas melakukannya juga bukan karena terpaksa. Justru, Mas ingin melakukannya karena ini salah satu bentuk cinta suami untuk istrinya,” terang Abraham dan langsung membuat Asyila tak bisa berkata-kata lagi.


Abraham memang sangat bisa membuat istri kecilnya terpukau sekaligus kagum dengan apa yang dilakukan oleh Abraham.


“Sekarang katakan kepada Mas, Asyila mau makan apa?”


Asyila tersenyum dan berpikir makanan apa yang ingin ia makan.


Sampai akhirnya Asyila meminta sang suami untuk membuatkannya soto ayam.


“Baiklah, Syila tunggu saja di kamar. Kurang dari 2 jam soto ayam keinginan Asyila siap dinikmati!”


“Terima kasih, suamiku yang sangat baik hati,” tutur Asyila dan mencium sekilas bibir suaminya.


“Curang,” celetuk Abraham.


“Curang? Memangnya apa yang Asyila lakukan?” tanya Asyila terheran-heran.


“Huh... Malam ini seperti hukuman untuk Mas,” balas Abraham.


Mata Asyila terbuka lebar mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Maaf ya Mas,” ucap Asyila sambil senyum-senyum karena mengerti apa yang dimaksud dengan kata “hukuman.” 😂


Abraham segera menepuk jidatnya sendiri, ia pun ingat kalau punggung istri kecilnya masih sakit dan dapat dipastikan ia akan berpuasa dengan kurung waktu yang tidak dapat ditentukan.


Asyila tertawa melihat tingkah suaminya yang menurut Asyila terlihat lucu.


“Boleh Asyila mencubit pipi, Mas?”


Abraham mengangkat kedua alisnya dan mendekatkan wajahnya pada Sang istri.


“Aaww..” Abraham berpura-pura merasakan sakit ketika Asyila mencubit kedua pipinya.


“Asyila terlalu keras ya Mas mencubitnya? Maaf ya Mas!” Asyila segera mengelus kedua pipi suaminya dan merasa bersalah karena telah membuat pipi suaminya sakit.


“Kalau dielus-elus tidak cepat sembuh,” ucap Abraham sambil menahan senyumnya.


“Lalu, apa Mas?” Asyila menatap curiga dengan apa yang dirasakan oleh suaminya. Bagaimana mungkin cubitannya menyebabkan sakit di pipi Abraham.

__ADS_1


Asyila tersadar bahwa suaminya sedang mempermainkan dirinya. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan tak lupa menutup seluruh tubuhnya.


Lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Mas Abraham pasti sedang membohongiku dan meminta agar aku mencium pipi Mas Abraham.


“Syila, pipi Mas ini masih sakit. Berilah ciuman agar kedua pipi Mas cepat sembuh!” pinta Abraham.


Dibalik selimut Asyila tertawa namun tak sampai mengeluarkan suara. Suaminya memang pintar untuk mencari kesempatan dalam kesempitan.


“Ayah! Bunda!”


Abraham menoleh seketika itu juga dan bergegas membuka pintu untuk putra kecilnya, Ashraf.


“Ada apa sayang?” tanya Abraham dan menuntun Ashraf naik ke tempat tidur menemani istri kecilnya.


Ashraf tak menjawab pertanyaan dari Sang Ayah, ia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menyelinap masuk ke dalam selimut yang dikenakan oleh Asyila.


“Ashraf mau tidur disini?” tanya Asyila.


Ashraf mengangguk dan memeluk lengan Bundanya sambil memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama bagi Ashraf untuk tidur, ia pun tertidur dengan sangat pulas.


Adzan berkumandang lagi, sudah waktunya bagi Abraham kembali ke Masjid untuk melaksanakan sholat isya.


Pria itu pun pamit untuk segera berangkat melaksanakan sholat isya.


Ketika Abraham ingin keluar rumah, Dyah menghentikannya.


Abraham berbalik arah menghadap ke arah keponakannya, “Ada apa?” tanya Abraham datar.


“Paman kenal dengan namanya Fahmi?” tanya Dyah penasaran barangkali Pamannya itu mengenali pria pemilik sapu tangan.


Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak mengenali Fahmi.


“Ya sudah kalau begitu,” ujar Dyah yang terlihat lesu dan kembali masuk ke dalam dengan langkah tak berdaya.


Abraham tentu saja mengenal sosok Fahmi. Akan tetapi, Abraham tidak bisa langsung mengiyakan jika dirinya mengenali pria yang baru saja disebutkan oleh Dyah. Abraham ingin tahu seberapa besar rasa penasaran Dyah dan bagaimana perasaan Dyah yang sebenarnya kepada pria muda itu.


Abraham kembali melanjutkan perjalanannya dan tak lupa menutup rapat pintu rumah.


“Eko, ayo berangkat!” ajak Abraham ketika melihat Eko tengah duduk santai.


Eko terkesiap dan mengambil sarung serta sajadah panjang di dalam mobil.


Kini Abraham dan Eko bersama-sama menuju masjid untuk melaksanakan sholat isya.


Malam itu Pak Udin sedang pulang ke rumahnya untuk menghabiskan waktu beberapa hari bersama keluarganya. Sehingga Eko lah yang bertugas untuk menggantikan tugas Pak Udin selama Pak Udin pulang ke rumahnya.


Di dalam kamar, Dyah terlihat tak tenang. Ia masih penasaran dengan nama yang terus mengganggu pikirannya.


“Bagaimana ini? Dua hari lagi aku harus kembali ke Bandung. Akan tetapi, aku belum juga mengembalikan sapu tangan kepada pra itu. Oya, Fahmi. Nama pria sapu tangan itu ternyata bagus juga,” ucap Dyah bermonolog.

__ADS_1


Dyah mengusap kasar wajahnya ketika menyadari sikapnya yang konyol.


“Oh tidak!” teriak Dyah.


Asyila yang sedang berada di dalam kamar terkejut mendengar teriakkan dari Dyah. Tanpa pikir panjang, Asyila bergegas keluar kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


“Dyah kamu kenapa?” tanya Asyila panik.


Dyah yang tengah merebahkan tubuhnya terperanjat melihat Aunty dihadapannya.


“Maaf Aunty, Dyah tadi tak sengaja melihat kecoa,” jawab Dyah berbohong. Mana mungkin ia memberitahukan alasannya berteriak.


“Sekarang mana kecoa nya?” tanya Asyila yang sebenarnya geli dengan kecoa. Akan tetapi, ia juga tak ingin membuat Dyah ketakutan apalagi tak bisa tidur jika kecoa masih berkeliaran di kamar.


“Sudah tidak ada, Aunty. Sekarang lebih baik Aunty masuk ke dalam kamar. Kalau sampai Paman tahu, Dyah pasti yang kena omel.”


“Ya, kamu benar. Aku akan ke kamar sekarang, kalau belum sholat isya cepatlah sholat isya. Ingat sholat tidak baik ditunda-tunda,” ucap Asyila mengingatkan Dyah agar segera melaksanakan sholat.


“Siap Aunty!” seru Dyah.


Asyila pun bergegas kembali ke kamarnya. Langkah Asyila terhenti di depan kamar Almarhumah Sang Nenek, perlahan Asyila membuka pintu kamar dan melihat putra pertamanya yang tengah tertidur pulas.


“Arsyad sangat nyaman tidur di kamar nenek,” ucap Asyila dan dengan hati-hati menutup kembali pintu kamar.


Kemudian, Asyila kembali melanjutkan langkah kakinya untuk segera masuk ke dalam kamar dan menemani Ashraf untuk tidur.


“Bunda dari mana?” tanya Ashraf yang ternyata bangun dari tidurnya.


“Kenapa bangun sayang? Ayo tidur lagi!”


****


Dyah terbangun dari tidurnya dan melihat jam tengah menunjukkan pukul 2 pagi.


Entah kenapa, malam itu ia ingin melaksanakan sholat tahajjud.


Sebelumnya, Dyah sangat susah untuk melaksanakan sholat tahajjud dikarenakan ia pasti telat bangun.


“Ya Allah, kenapa hamba selalu memikirkan si pria pemilik sapu tangan itu? Ya Allah hamba pasti langsung masuk neraka karena memikirkan suami orang,” ucap Dyah dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Dyah yang tergesa-gesa itu pun terjatuh dan kepalanya hampir saja membentur dinding.


“Untung saja,” ucap Dyah dengan jantung berdetak kencang.


Terima kasih atas komentar kalian.


Berhubung banyak yang minta kisah Dyah disini, maka author akan menambahkan kisah Dyah di novel Abraham dan Asyila.


💖👇

__ADS_1


__ADS_2