
2 jam kemudian.
Setelah berkeliling mengisi perut dan mencari makanan keinginan Dyah serta Yogi.
Abraham pun memutuskan untuk kembali ke perumahan Absyil dan setibanya di halaman rumah.
Abraham mengantarkan Kahfi pulang ke rumahnya.
“Terima kasih, Ayah,” ucap Kahfi sambil mengangkat sebuah bungkusan berukuran cukup besar dan juga agak berat ke arah Abraham.
“Sama-sama sayang, ya sudah Kahfi masuk ke dalam rumah ya!” pinta Abraham.
Kahfi mengiyakan dan bergegas masuk ke dalam rumahnya untuk memberikan makanan yang dipesan oleh Yogi.
Tentu saja, Abraham memberikannya secara cuma-cuma alias tidak dipungut biaya sedikitpun.
Saat Abraham dan Ashraf baru saja melewati pagar rumah, tiba-tiba Arumi datang memberitahukan bahwa Salsa sudah kembali dari rumah sakit.
Abraham terlihat tak senang mendengar kabar bahwa Salsa telah kembali dari rumah sakit.
“Pak Abraham!” sapa Salsa dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Abraham.
Abraham mengernyitkan keningnya dan melenggang pergi begitu saja. Sungguh, Abraham sangat jijik dengan tingkah Salsa yang begitu agresif.
“Bu, kenapa Pak Abraham selalu dingin kepada Salsa? Apakah Salsa harus mati dulu?” tanya Salsa sambil bergelayut manja pada Arumi.
“Cukup, Salsa. Kamu akan menjadi istri dari menantu Ibu. Tidak pantas kamu berkata seperti itu, apalagi di depan cucuku,” tegas Arumi.
Ashraf yang masih berada di dekat mereka, seketika itu berlari masuk menyusul Ayahnya yang lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Percakapan Arumi dan juga Salsa belum bisa dipahami oleh Ashraf yang usianya bisa dikatakan masih sangat kecil untuk memahami pelik masalah orang tua.
Dyah yang saat itu tengah berada di ruang keluarga bersama dengan suami serta buah hatinya, terlihat begitu kesal. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita yang baru saja mendapatkan gelar seorang Ibu.
“Ini satenya,” ucap Abraham sambil meletakkan dua bungkus sate keinginan dari Sang Keponakan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Terima kasih,” jawab Dyah yang tak kalah datar, “Paman, bisakah Paman mengusir wanita itu dari rumah ini? Kedatangannya membuat Dyah sangat kesal,” imbuh Dyah.
“Tidak kamu saja, Paman pun sangat kesal. Akan tetapi, Paman ingin Dyah menciptakan sebuah drama yang spektakuler di rumah ini!” pinta Abraham karena akan lebih seru jika Dyah turun tangan langsung untuk membuat Salsa tak nyaman tinggal dikediaman seorang Abraham Mahesa.
“Drama spektakuler? Hmm... Sepertinya itu ide yang bagus. Sudah lama Dyah tidak berakting layaknya artis papan atas,” terang Dyah sambil tersenyum menyeringai.
“Pikirkan semuanya sendirian, bila perlu ajaklah teman untuk melakukan pertunjukkan drama spektakuler tersebut. Paman dan Ashraf masuk ke kamar dulu.”
__ADS_1
“Siap Paman kesayanganku, sebelumnya terima kasih ya Paman atas satenya,” ucap Dyah.
Dyah tersenyum lebar ke arah suaminya dan memberikan buah hatinya kepada sang suami yang saat itu tengah duduk disebelahnya.
“Mas Fahmi gendong Asyila dulu ya, Dyah mau menikmati sate ini. Mas Fahmi mau?” tanya Dyah menawarkan suaminya sate yang dibeli oleh Paman tersayangnya.
“Ya mau dong, kalau dikasih,” jawab Fahmi.
Keesokan paginya.
Dyah sedang berada diluar untuk menjemur buah hatinya bersama dengan Ema.
Kedua wanita muda itu terlihat begitu senang karena bisa bercengkrama satu sama lain.
Akan tetapi, pagi mereka tiba-tiba terusik karena adanya Salsa yang secara tiba-tiba menghampiri mereka.
“Aku boleh ya bergabung!” pinta Salsa yang terlihat tak tahu malu.
“Kamu jangan mencoba untuk dekat-dekat dengan kita. Kehadiranmu saja sudah membuatku sesak,” ungkap Ema yang dengan terbuka menentang keberadaan Salsa.
“Lebih baik, kamu segera pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi. Sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah bisa masuk dalam kehidupan kami. Terlebih lagi kehidupan Paman Abraham,” tegas Dyah.
Salsa tak terima dirinya diremehkan seperti itu oleh Dyah dan juga Ema.
“Kalian berdua terlalu percaya diri. Jelas-jelas Ibu Arumi sudah sangat sayang terhadapku,” balas Salsa dengan rasa bangga.
“Apakah kamu butuh cermin? Bagaimana bisa wanita seperti mu bisa begitu percaya diri. Bahkan, dalam urusan agama pun kamu tidak memilikinya,” ejek Dyah yang sangat gatal ingin terus memojokkan Salsa agar segera pergi meninggalkan perumahan Absyil.
Telinga Salsa mulai panas dan terlihat jelas kalau dirinya sudah terpancing emosi dengan perkataan Dyah maupun Ema.
“Mulut kalian itu benar-benar harus disetrika,” ucap Salsa sambil mengangkat tangannya dan bersiap-siap untuk melayangkan tangannya ke wajah salah satu dari dua wanita yang sudah membuatnya kesal.
“Dyah!” panggil Abraham yang tiba-tiba menghampiri mereka.
Salsa seketika itu berpura-pura terjatuh agar dirinya tak ketahuan oleh Abraham.
“Awww.. sakit,” ucap Salsa sambil berpura-pura kesakitan.
Abraham sama sekali tak peduli dan malah membawa masuk cucu kesayangannya, Asyila.
Melihat sikap Abraham yang sangat dingin seperti itu, Salsa hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat dan akan terus mengejar pria yang dicintainya.
“Sakit ya? Sekalian tiduran di tanah,” ledek Dyah dan mengajak Ema masuk.
__ADS_1
Salsa beranjak dari jatuhnya dan menendang kaki Ema hingga terjatuh.
Ema pun terjatuh dan dengan kesal ia menarik rambut Salsa dengan cukup kuat.
Salsa tak mau kalah, ia pun mencoba menarik hijab yang dikenakan oleh Ema agar terlepas.
“Hei!” teriak Dyah dan ikut menjambak rambut Salsa dengan sangat keras.
Dua banding satu tentu saja yang dua akan menang dan satu akan kalah.
Mendengar ada keributan dari luar rumah, Arumi serta yang lainnya bergegas untuk memeriksakan siapa yang tengah ribut.
“Astaghfirullahaladzim.” Arumi begitu terkejut melihat ketiga wanita yang saling bertengkar satu sama lain.
Arumi mencoba memisahkan ketiganya, sementara Abraham dan Fahmi hanya menonton saja tanpa ada niatan untuk memisahkan mereka.
“Nak Abraham, Fahmi! Ayo bantu pisahkan mereka!” pinta Arumi panik.
Abraham dan Fahmi dengan kompak menggelengkan kepala mereka.
Pertengkaran itu pun akhirnya berakhir, ketika Salsa jatuh tak sadarkan diri.
“Ya Allah, dia malah pingsan,” ucap Dyah terkejut.
Arumi panik dan berusaha untuk menyadarkan Salsa yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.
Melihat Salsa yang pingsan, hati Abraham sama sekali tak goyah. Abraham tahu bahwa Salsa saat itu tengah berakting.
Dyah menoleh ke arah Abraham dan dengan bahasa bibirnya, Abraham menyuruh Dyah untuk menyiram wajah Salsa agar segera sadar.
Dyah tertawa kecil dan tanpa pikir panjang mengambil seember air dan menyiramnya ke seluruh tubuh Salsa.
“Aaakhhh...” Seketika itu Salsa beranjak dan terlihat begitu kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Dyah.
Meskipun begitu, Salsa langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat tenang.
“Maaf kalau kedatangan saya membuat Mbak Ema dan Mbak Dyah kesal,” ucap Salsa yang berakting seperti wanita yang tengah tertindas.
Salsa berlari masuk ke dalam rumah dengan keadaan basah kuyup.
“Wanita itu sangat cocok menjadi pemeran utama yang teraniaya,” ucap Dyah sambil mengangkat sebelah alisnya, “Kemudian, aku yang akan menjadi peran wanita jahat,” imbuh Dyah lagi yang begitu puas menyiramkan air ke tubuh Salsa.
Abraham menyunggingkan senyumnya dan kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, Salsa terlihat begitu dendam dengan Dyah dan juga Ema yang telah mempermalukannya di depan Abraham Mahesa.
“Lihat saja, aku akan membuat perhitungan kepada kalian berdua. Kalian akan ku pastikan mati dengan sangat sia-sia,” ucap Salsa sambil memandangi wajahnya di depan cermin.