
Usai kepergian Rahma, Asyila nampak murung. Kedepannya, ia tidak akan bisa berbincang-bincang dengan wanita yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri.
Abraham mencoba menghibur istri kecilnya yang tengah sedih, akan tetapi usaha Abraham belum juga membuahkan hasil.
“Mas, Syila mau langsung tidur ya. Ini sudah malam dan badan Asyila sangat lelah,” ucap Asyila sambil menarik selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali, wajah.
“Tidurlah, istriku. Ibu hamil juga tidak baik kalau tidur malam-malam,” balas Abraham.
Asyila mulai memejamkan matanya dan berharap besok pagi kondisi tubuhnya membaik.
Abraham malam itu tidak langsung tidur, justru ia sibuk memandangi wajah istri kecilnya yang berusaha menelusuri alam bawah sadarnya.
“Cantik,” puji Abraham dan tersenyum bangga.
Asyila yang belum sepenuhnya tidur, akhirnya membuka matanya dan menggigit sekilas bibir suaminya.
“Awww!” Abraham terkejut dan menyentuh bibirnya yang baru saja digigit oleh sang istri.
“Mas kenapa malah mengganggu Asyila?” tanya Asyila ngambek sambil berusaha menahan tawanya karena reaksi wajah suaminya benar-benar menggemaskan.
“Yang mengganggu Syila siapa? Mas hanya memuji kecantikan istri sendiri, eh malah dapat gigitan,” jawab Abraham kecut.
“Habisnya, istri mau tidur malau digangguin,” celetuk Asyila yang kini tidur dengan posisi memeluk suaminya.
“Alhamdulillah,” ucap Abraham senang karena istri kecilnya akhirnya mau tidur dengan posisi memeluk dirinya.
Perlahan, Asyila akhirnya tertidur dan Abraham pun ikut menyusul sang istri yang lebih dulu tidur.
***
Tengah malam.
Asyila terbangun dari tidurnya dengan wajah kesal, sudah keempat kalinya ia terbangun dari tidurnya.
“Ya Allah, kenapa malam ini rasanya sangat sulit untuk tidur. Izinkan hamba berisitirahat sejenak, Ya Allah,” ucap Asyila sambil menoleh ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 00.23 WIB.
Asyila merasa sangat gelisah dan tak nyenyak tidur. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dengan cepat Asyila mengambilnya karena tak ingin suaminya terbangun.
Wanita muda itu mendapatkan pesan singkat dan mulai membacanya. Ternyata, isi pesan itu berisi ancaman.
“Sebenarnya siapa orang ini? Kenapa isi pesannya sangat mengerikan seperti ini?” tanya Asyila bermonolog dan sambil menyentuh perutnya yang saat itu tengah mengandung.
Kepanikan kembali melanda hati Asyila, bagaimanapun ia tengah berbadan dua dan tak mungkin baginya untuk banyak beraktivitas. Ia takut jika suatu buruk terjadi padanya dan calon buah hatinya bersama sang suami.
“Sebentar lagi, kami akan datang dan membunuhmu.” Pesan singkat itu kembali datang dan semakin membuat Asyila ketakutan.
Abraham terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara tangisan sang istri.
“Syila, kenapa menangis? Katakan bagian mana yang sakit?” tanya Abraham panik.
__ADS_1
Asyila bukannya menjawab, ia malah semakin histeris dan itu membuat Abraham kebingungan tingkat tinggi.
“Mas, telepon dokter Erlin ya? Siapa tahu dokter Erlin bisa datang kemari,” tutur Asyila.
“Ti-tidah usah, Mas. Ini mungkin hormon Ibu hamil, Mas pun tahu kalau Ibu hamil emosinya tidak stabil. Tolong jangan terlalu mengkhawatirkan Asyila ya Mas!”
“Kalau begitu, berhentilah menangis dan lekas lah tidur!” perintah Abraham.
“Ibu hamil jangan terlalu sering pegang ponsel lama-lama, itupun tidak baik,” ucap Abraham ketika melihat ponsel istri kecilnya masih berada digenggaman istri tercintanya itu.
Asyila cepat-cepat meletakkan ponselnya menjauh dan memutuskan untuk membersihkan wajahnya di kamar mandi.
sesampainya di dalam kamar mandi, Asyila kembali menangis ketakutan sembari menyentuh perutnya. Ia merasa sangat tidak aman dan yakin bahwa orang yang mengirim pesan berupa ancaman itu akan datang mencarinya.
Abraham belum juga kembali tidur, pria itu menunggu sang istri keluar dari kamar dan nampak semakin cemas.
Kenapa Syila sangat aneh sekali. Hal sedih apa yang sebenarnya tengah ia pikirkan?.
Asyila keluar dari kamar mandi dengan menampilkan senyum terbaiknya. Ia berusaha untuk menyembunyikan kesedihan dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Mas, boleh Asyila minta tolong!” pinta Asyila.
“Katakan saja, Syila ingin apa?”
Asyila kembali turun dari tempat tidur dan mengambil obat oles.
“Ini, Mas. Tolong olesi ini disekitar luka Asyila dan berikan sedikit pijatan kecil,” terang Asyila.
“Mas, apakah Asyila saat ini terlihat lemah?” tanya Asyila.
“Lemah? Istriku sama sekali tidak terlihat lemah, justru semakin terlihat kuat,” jawab Abraham santai karena tak mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh Asyila.
Asyila berbalik badan menghadap suaminya dan menurunkan kembali pakaiannya.
“Terima kasih, Mas. Maaf karena sering sekali membuat Mas Abraham bangun ditengah malam seperti ini,” tutur Asyila sambil mengambil obat oles yang berada ditangan suaminya.
“Sebenarnya apa yang tengah Syila pikirkan? Mas merasa bahwa Syila sedang menyembunyikan sesuatu, tolong beritahu kepada suamimu ini!” pinta Abraham dan berharap sang istri mau bercerita.
“Asyila tidak memikirkan apa-apa, Mas. Dokter Erlin berkata, kalau hormon Ibu hamil berbeda-beda. Maksudnya, pembawaan Asyila ketika mengandung tidak bisa disamakan dengan Asyila mengandung Arsyad dan juga ashraf.”
“Yakin?” tanya Abraham yang terlihat tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh istri kecilnya.
“Mas, ayo tidur!” ajak Asyila dan kembali merebahkan tubuhnya.
Abraham menelan saliva nya dengan penuh tenaga, ditambah istri kecilnya tidur dengan posisi membelakangi dirinya.
“Syila, tidurlah menghadap ke arah suamimu ini!” pinta Abraham.
Asyila dengan hati-hati berbalik dan kini saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
“Mas, kalau ada apa-apa dengan Asyila tolong jaga anak-anak ya!”
“Maksud Syila? Kenapa akhir-akhir ini Syila juga mengucapkan kata-kata aneh, kenapa istriku?” tanya Abraham.
Ponsel Asyila kembali berbunyi dan dengan cepat Asyila mengambilnya. Lagi-lagi, pesan singkat itu datang dan menggunakan nomor ponsel yang berbeda dari sebelumnya.
Kenapa isi pesan ini berupa ancaman, namun nomor teleponnya berbeda-beda. Sepertinya, orang ini sangat berbahaya dan semakin membuatku ketakutan.
Asyila memahami satu hal, yaitu orang asing yang mengirimkannya pesan ancaman sepertinya adalah orang yang sangat berbahaya dan kemungkinan membenci keluarganya.
Dan lagi, untuk membuat Asyila kebingungan, orang itu sengaja berganti-ganti nomor telepon.
“Syila!” panggil Abraham sambil menepuk pundak istri kecilnya.
Asyila terkesiap dan cepat-cepat meletakkan ponselnya di atas nakas.
“Siapa yang mengirim pesan di waktu tengah malam seperti ini?” tanya Abraham penasaran, “Dan lagi, kenapa Syila melamun?” tanya Abraham semakin penasaran.
Asyila terdiam sejenak sambil memikirkan alasan apa yang harus ia buat agar suaminya berhenti bertanya.
“Biasa Mas, Nomor nyasar yang berisi penipuan. Asyila sudah mengantuk Mas, ayo tidur!” ajak Asyila yang ini telah tidur di atas dada suaminya.
Abraham membelai lembut rambut Asyila dan perlahan ia pun tertidur.
Pagi hari.
Asyila dan Arumi tengah sibuk di dapur, Asyila merasa sedikit lebih tenang ketika Arsyad pagi itu libur sekolah karena guru-guru yang mengajar sedang mengadakan pertemuan penting. Meski libur cuma sehari, setidaknya Arsyad tidak keluar rumah dan aman di dalam rumah.
“Sepertinya calon cucu Ibu nomor tiga ini tidak nakal, bahkan kamu tidak merasa mual-mual ketika berada di dapur,” ucap Arumi sambil menyentuh perut rata putri kesayangannya itu.
“Aamiin, semoga saja ya Ibu!” seru Asyila.
“Yang lainnya apa sudah Asyila beritahu?”
“Beritahu mengenai apa Ibu?” tanya Asyila yang tidak maksud dengan perkataan Ibunya.
“Kehamilan ketiga Asyila, apakah Asyila belum memberitahukan keluarga di Bandung?”
“Oh, itu. Nanti ya Ibu, setelah Asyila dan Mas Abraham mengetahui usia kandungan Asyila, insya Allah kami akan memberitahukan keluarga di Jakarta,” terang Asyila yang saat itu tengah memasak cah kangkung dengan tambahan udang berukuran cukup besar keinginannya.
“Nanti jam 7 Ibu mau ke pasar, kamu mau nitip apa Nak?” tanya Arumi.
“Hhhmmm, sepertinya belum ada yang Asyila inginkan Ibu,” jawab Asyila.
“Bunda, Arsyad mau jus jambu. Buatkan Bunda!” pinta Arsyad yang baru saja bangun dari tidur, bahkan kedua matanya belum terbuka sempurna.
“Arsyad kalau begitu mandi dulu ya sayang, setelah mandi baru minum jus!” perintah Asyila.
Arsyad langsung kembali ke kamarnya dan bergegas menyegarkan diri.
__ADS_1
Sementara Ashraf masih tidur nyenyak di dalam kamar.