Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Menghubungi Para Keluarga Agar Segera Datang


__ADS_3

Keesokan paginya.


Asyila duduk di sofa ruang tamu sembari menyusui bayi mungilnya. Sementara Sang suami, Arsyad dan juga Ashraf masih berada di masjid depan rumah.


Asyila tersenyum lebar ketika membayangkan bagaimana Ema, Dyah serta keluarga yang lainnya mengetahui kepulangannya dalam keadaan yang sangat sehat tak kurang suatu apapun.


Asyila juga sangat merindukan kedua orangtuanya yang pasti sangat senang ketika melihat putrinya kembali bersama cucu tampan mereka.


“Akbar sayang, hari kita akan kedatangan Kakek dan juga Nenek. Tetapi, tidak hanya mereka berdua saja. Akan ada sahabat Bunda serta saudara dari Ayah Abraham. Selama mereka disini, Akbar jangan rewel ya sayang!” pinta Asyila pada Akbar yang saat itu tengah menyusu.


Abraham, Arsyad dan Ashraf yang baru saja tiba setelah melaksanakan sholat subuh di masjid, kompak masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengucapkan salam.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap ketiganya.


Ucapan salam mereka tak dibalas oleh Asyila, dikarenakan Asyila sedang fokus mengajak bayi mungilnya bicara dan televisi yang saat itu juga tengah menyala.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham sekali lagi.


Asyila seketika itu menoleh dan bergegas bangkit untuk menyambut kedatangan Sang Suami serta kedua buah hatinya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Asyila dan tak lupa mencium punggung tangan suaminya.


“Bunda!” Arsyad dan Ashraf dengan semangat mencium punggung tangan Bunda mereka secara bergantian.


“Masya Allah kesayangan Bunda. Sekarang ganti pakaian ya!” perintah Asyila dengan nada lembut.


“Siap, Bunda!” seru mereka dan seketika itu berlari secepat mungkin menaiki anak tangga untuk segera sampai ke dalam kamar mereka.


“Arsyad, Ashraf jangan lari-larian sayang!“ pinta Asyila setengah berteriak karena kalau ia bicara pelan, kedua buah hatinya tidak akan mendengar.


Abraham tertawa kecil dan mencium sekilas kening istrinya.


“Mas kenapa tertawa?” tanya Asyila sambil senyum-senyum.


Bukannya menjawab, Abraham malah memberikan kedipan genitnya ke istri kecilnya.


“Jangan mulai,” celetuk Asyila dan mencubit perut suaminya.


“Enak,” ucap Abraham yang malah senang dengan apa yang dilakukan oleh Sang istri.


Asyila geleng-geleng kepala melihat ekspresi wajah suaminya. Kemudian, kembali melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.


Abraham tersenyum dan mengekori Sang istri.


Setibanya di ruang keluarga, Asyila langsung mendaratkan bokongnya di sofa. Begitu juga dengan Sang suami yang duduk berdekatan dengan Sang istri.


“Mas, apakah Ayah, Ibu dan yang lainnya sudah diberitahu?” tanya Asyila penasaran, “Dan lagi, Ema dan Pak Yogi tidak ada di rumah, ya Mas?” tanya Asyila lagi.


“Kemarin sore, Yogi bilang kalau Ema dan Kahfi sudah pergi ke Jakarta. Setelah pulang dari perusahaan, Yogi pun menyusul istri dan anaknya,” terang Abraham.


“Dyah?”


“Dyah, Fahmi dan juga Asyila dari kemarin tidak berada di rumah,” jawab lagi.


Asyila mengernyitkan keningnya ketika suaminya menyebut nama Asyila.


“Syila disini Mas, tidak ikut Dyah dan juga Fahmi,” sahut Asyila terheran-heran.


Abraham tertawa kecil sembari mengacak-acak rambut istri kecilnya yang tertata rapi.


“Mas jahat, rambut istrinya malah diacak-acak begini,” keluh Asyila.


“Iya, maaf deh. Asyila yang Mas maksud itu adalah Asyila bayi kecil Dyah dan juga Fahmi.”


“Ma-maksudnya Mas, Dyah sudah memiliki bayi dan cucu kita itu bernama Asyila?” tanya Asyila antusias.


“Tentu saja, cucu kita itu sangat cantik. Matanya sipit seperti Dyah dan yang lainnya mirip Fahmi,” jawab Abraham.


“Alasan Dyah memberikan nama putrinya dengan nama Asyila, kenapa Mas?”


Wajah Abraham yang semula sangat bersemangat. Tiba-tiba berubah menjadi sangat serius.


“Karena kesalahan kami yang mengira bahwa Syila telah meninggal dunia,” jawab Abraham sambil menyentuh pipi istrinya, “Ketika tahu Syila meninggal, Dyah tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Bisa dikatakan, kami sangat putus asa mengetahui bahwa Syila yang kami cintai telah tiada dengan sangat mengenaskan,” imbuh Abraham dan seketika itu menundukkan kepalanya. Kemudian, air matanya tiba-tiba menetes dan Asyila bisa melihat tetesan air mata yang jatuh.


Asyila tersenyum dan mengangkat dagu suaminya agar segera melihat kearahnya.


“Asyila sudah disini, kenapa Mas Abraham masih saja sedih? Asyila sekarang sudah tidak apa-apa. Malah, Asyila merasa kalau Asyila semakin sehat. Asyila tidak sabar ingin melihat cucu menggemaskan yang namanya sama seperti nama Asyila. Mas hubungi Dyah sekarang ya! Minta Dyah kesini, tetapi jangan bilang kalau Asyila sudah kembali!” pinta Asyila.


Abraham menyeka air matanya mendengar ucapan istrinya.


“Sebentar, Mas ke kamar dulu mengambil ponsel agar bisa menghubungi Dyah dan memintanya datang kemari bersama kedua orangtuanya juga,” tutur Abraham dan beranjak dari sofa untuk pergi ke kamar mengambil ponsel pintarnya.


Asyila tersenyum sambil terus memperhatikan langkah suaminya yang perlahan tak terlihat lagi.

__ADS_1


Di kamar, Abraham mengambil ponsel miliknya dan tiba-tiba ia teringat sebuah benda kecil yang pernah ia beli untuk istri kecilnya. Namun, belum pernah ia berikan kepada pemilik benda tersebut secara langsung.


Abraham tanpa pikir panjang, mengambil benda kecil tersebut dan berlari secepat mungkin menghampiri sang istri. Disaat yang bersamaan, Arsyad dan Ashraf keluar dari kamar mereka. Melihat Ayah mereka yang tengah berlarian, mereka pun ikut berlari mengejar Sang Ayah.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Asyila terkejut karena tiba-tiba suaminya muncul seperti hantu.


“Maaf, bukan maksud Mas untuk membuat Syila terkejut. Mas hanya ingin memberikan ini!” Dengan semangat, Abraham memperlihatkan sepasang anting berbentuk huruf A dan ada berlian kecil untuk menambah kesan mewah di anting tersebut.


“Ini untuk Asyila, Mas? Masya Allah, cantiknya anting ini,” balas Asyila memuji anting pemberian suaminya.


Arsyad dan Ashraf yang melihat bagaimana Sang Ayah memperlakukan Sang Bunda dengan sangat spesial seketika itu ikut merasakan kebahagiaan.


“Sini Mas coba pasangkan ke telinga Syila!”


Pria itu mendekat dan dengan hati-hati memasangkan anting cantik tersebut ke telinga istri kecilnya.


“Sudah,” ucap Abraham yang telah selesai memasangkan anting tersebut.


“Mas serius? Kenapa tidak sakit sama sekali?” tanya Asyila sambil menyentuh kedua telinganya secara bergantian, “Hehe.. ternyata sudah ya. Terima kasih, Mas,” imbuh Asyila tersenyum bahagia.


Asyila mengangkat kedua bahunya dengan memberikan gestur tubuh tak suka.


“Mas ini masih pagi, bagaimana bisa Mas membual di depan anak-anak?” tanya Asyila terheran-heran dengan ucapan suaminya yang membuat telinganya begitu geli.


“Tapi, Syila suka 'kan?” tanya Abraham narsis.


“Mas, cepat hubungi Dyah dan yang lainnya!” pinta Asyila mengalihkan pembicaraannya.


Hal tersebut, bukan karena Asyila tak suka dengan apa yang suaminya lakukan. Akan tetapi, di ruangan tersebut tidak hanya dirinya dan juga suaminya. Akan tetapi, ada Arsyad dan juga Ashraf yang tengah melihat kedua orangtuanya yang sedikit bar-bar karena kelakuan Ayah mereka.


Abraham tertawa kecil dan di detik berikutnya ia berubah menjadi sangat serius. Kemudian, menghubungi kedua mertuanya terlebih dahulu agar bisa datang ke Bandung hari itu juga.


Arsyad dan Ashraf yang terlihat bersemangat ingin memberitahukan kedatangan Bunda mereka kepada Nenek serta kakeknya, dengan cepat dihalangi oleh Asyila.


“Sssuut... Ini masih rahasia kita. Tunggu sampai yang lainnya kesini,” tutur Asyila berbisik kepada Arsyad dan juga Ashraf.


Keduanya dengan kompak mengiyakan dan seketika itu menutup mulut mereka rapat-rapat.


Asyila tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol tangannya ke arah kedua buah hatinya.


“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar tiba-tiba menangis dan tanpa pikir panjang, Asyila beranjak dari sofa dan memilih untuk pindah tempat duduk.


“Nak Abraham, itu suara bayi siapa?” tanya Arumi ketika samar-samar mendengar suara bayi menangis.


“Su-suara bayi mana, Ibu? Disini tidak ada suara bayi,” jawab Abraham berbohong karena tidak ingin ketahuan.


“Ibu mau bicara dengan Arsyad dan juga Ashraf?” tanya Abraham.


“Iya, Ibu mau bicara sebentar dengan mereka. Oya, Ibu dengar dari Dyah bahwa Nak Abraham memberitahukan kepada anak-anak tentang meninggalnya Bunda mereka? Apakah ini tidak terlalu cepat, Nak Abraham? Saat ini mereka pasti sangat sedih,” tutur Arumi.


Abraham hanya diam tak merespon penuturan dari Ibu mertuanya.


Arumi mengulum bibirnya sendiri dan mengerti bagaimana perasaan menantunya yang sampai saat itu belum bisa menerima kenyataan yang ada.


“Nak Abraham, tolong berikan sambungan telepon ini kepada cucu-cucu Ibu!”


“Baik, Ibu,” balas Abraham dan memberikan ponsel miliknya kepada kedua putranya.


“Assalamu’alaikum, Nenek!” sapa mereka dengan semangat.


Arumi terdiam sejenak dan setengah tak percaya mendengar suara kedua cucunya yang begitu bersemangat.


“Nenek!” panggil Arsyad karena Neneknya tak kunjung merespon salam darinya.


“Wa’alaikumsalam. Arsyad dan Ashraf kenapa kedengarannya bersemangat seperti itu?” tanya Arumi penasaran.


Arsyad dan Ashraf seketika itu menutup mulut mereka. Kemudian, memberikan kembali ponsel itu kepada Ayah mereka.


“Hallo, Arsyad! Ashraf!” panggil Arumi karena tiba-tiba suara menjadi sangat hening.


“Bu, Arsyad dan Ashraf sudah kembali ke kamar mereka. Ibu dan Ayah jangan lupa datang kemari,” tutur Abraham mengingatkan Ibu mertuanya untuk datang ke Bandung.


“Insya Allah jam 8 kami akan berangkat menuju Bandung,” balas Arumi.


Abraham mengucapkan terima kasih dan mengakhiri sambungan telepon.


Selepas menghubungi Ayah dan Ibu mertua, Abraham pun bergegas mencari keberadaan Sang istri yang ternyata tengah sibuk di dapur seorang diri.


“Akbar dimana?” tanya Abraham karena tak melihat bayi mungil mereka.


“Akbar sedang tidur di dalam kamar. Ada Arsyad dan Ashraf yang sedang menjaga adik mereka,” balas Asyila sambil mengiris bawang.


Abraham mengangguk kecil dan mencoba menghubungi Dyah.

__ADS_1


Selama Abraham dan Dyah berbincang-bincang, Asyila menyibukkan dirinya membuat sarapan.


Beberapa saat kemudian.


“Mas sudah selesai? Sudah menghubungi Ema juga?” tanya Asyila memastikan takut jika suaminya lupa.


“Alhamdulillah sudah. Setelah menghubungi Dyah, Mas pun menghubungi Yogi. Insya Allah nanti siang mereka akan kembali ke perumahan Absyil,” balas Abraham dan mendekap tubuh istri kecilnya.


“Mas, hentikan. Nanti kalau Arsyad atau Ashraf yang melihatnya bagaimana?” tanya Asyila mencoba melepaskan dekapan suaminya.


“Kalau mereka akan kemari, pasti mereka lebih dulu memanggil kita. Oya, Syila mau buat sarapan apa?”


“Karena hanya ada bayam dan juga telur, Asyila masak sayur bening dan juga telur ceplok. Bagaimana, Mas?”


“Boleh. Lagipula apapun yang dimasak oleh Syila, Mas akan memakannya,” balas Abraham dan menciumi tengkuk leher sang istri berulang kali, sampai-sampai Asyila menggeliat karena geli.


“Mas, hentikan. Lebih baik bantu Asyila memasak!”


Abraham tertawa kecil dan mencolek perut istrinya.


“Mas ya, kalau tidak genit seperti tidak bisa,” keluh Asyila.


Abraham memanyunkan bibirnya dan menampilkan wajah bersalahnya.


“Hahaha.. Tidak usah seperti itu, Asyila tidak akan terpengaruh,” ledek Asyila.


Abraham tersenyum lebar dan mulai membantu sang istri memasak.


Tak butuh waktu lama, masakan pun siap untuk dinikmati.


“Mas tunggu disini saja. Asyila yang akan menghampiri anak-anak!”


Asyila tersenyum manis sembari melenggang menuju kamar.


“Kesayangan Ayah dan Bunda! Ayo turun ke bawah, Ayah dan Bunda telah membuatkan sarapan!”


Arsyad dan Ashraf seketika itu berlari menuju ruang makan. Sementara Asyila masih berada di dalam kamar untuk membawa bayi mungilnya turun.


“Kesayangan Bunda masih tidur ya? Yuk, ikut Bunda ke bawah!”


45 menit kemudian.


“Mas, sayur di dalam kulkas sudah habis,” ucap Asyila pada suaminya yang tengah duduk tepat disampingnya.


“Kalau begitu, Mas akan pergi ke pasar membeli sayuran, ikan dan juga ayam untuk stok beberapa hari kedepan,” balas Abraham.


“Kan, besok kita mau mengadakan Do'a bersama di rumah. Kenapa tidak sekalian berbelanja untuk besok, maksud Syila agar yang lainnya tidak harus ke pasar lagi. Bagaimana?”


“Setuju!” seru Abraham dan seketika itu mengirim pesan kepada Eko agar secepatnya datang ke perumahan Absyil.


“Ayah, Arsyad ikut ya!” pinta Arsyad yang ingin ikut Sang Ayah pergi ke pasar berbelanja untuk acara besok.


“Ashraf juga ya Ayah!” seru Ashraf sambil memegangi tangan Ayahnya.


“Kalau kalian ikut, siapa yang menemani Bunda di rumah?” tanya Abraham.


Arsyad dan Ashraf seketika itu menoleh ke arah Bunda mereka.


Tanpa pikir panjang, mereka akhirnya tak jadi ikut dan memilih menemani Bunda tercinta mereka.


“Mas kok begitu sama anak-anak? Biarkan saja mereka ikut, lagipula anak-anak pasti akan senang kalau diajak ke pasar,” sahut Asyila.


“Arsyad dan Ashraf ayo ikut Ayah. Bunda dan adik Akbar biar di rumah saja,” ajak Abraham.


“Terus, Bunda bagaimana?” tanya Arsyad.


“Jangan khawatirkan Bunda. Lagipula Bunda aman disini, kalian bersiap-siaplah untuk ikut Ayah ke pasar!”


“Ayo dik, kita ganti baju!” ajak Arsyad dengan menggandeng tangan adiknya untuk segera mengganti pakaian di dalam kamar.


Setelah Arsyad dan Ashraf pergi, Abraham langsung mencium pipi istrinya berulang kali.


“Syila yakin di rumah sendirian?” tanya Abraham memastikan.


“Mas lupa ya? Ini ada bayi mungil kita yang menemani Asyila,” balas Asyila sambil menoleh ke arah bayi mungil mereka yang tengah terlelap.


Abraham tertawa bodoh sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Mas ini ya, lama-lama semakin menggemaskan saja. Dan Asyila, makin tambah cinta,” tutur Asyila dari hatinya yang paling dalam.


“Alhamdulillah, ternyata istri hamba masih mencintai suaminya yang tua ini,” ujar Abraham sambil menoleh ke atas.


“Siapa yang bilang Mas tua? Mas itu kalau Asyila lepas dijalan, para wanita langsung mengerumuni Mas,” terang Asyila.

__ADS_1


Abraham ❤️ Asyila


Like ❤️ komen 👇 Vote ❤️


__ADS_2