
Asyila terbangun dari tidurnya dan tak mendapati Sang suami yang seharusnya tidur disampingnya. Asyila kemudian beranjak dan menoleh ke arah jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 5 pagi.
“Mas Abraham pasti sedang berada di masjid,” ucap Asyila bermonolog dan memutuskan untuk segera membersihkan diri.
Ketika akan memasuki kamar mandi, Asyila tiba-tiba ingat bahwa dirinya belum membeli pembalut.
“Ya ampun, kenapa aku sampai lupa untuk membeli pembalut. Bagaimana ini?”
Asyila pun memilih untuk menemui Dyah, barangkali keponakan dari suaminya memiliki beberapa stok pembalut.
“Mas Abraham,” Asyila terkejut melihat suaminya sudah berdiri di hadapannya.
“Mau kemana sepagi ini?” tanya Abraham dan menuntun Asyila masuk ke dalam.
Asyila berbalik dan mencium punggung tangan suaminya.
“Stok pembalut Asyila ternyata habis, Mas. Asyila mau menemui Dyah, barangkali ia memiliki beberapa stok,” jawab Asyila apa adanya.
Abraham tersenyum dan mengangkat sebelah tangannya yang ternyata membawa kantong plastik berwarna putih.
“Apa ini Mas?” tanya Asyila sambil mengambil kantong plastik ditangan suaminya.
“Bukalah!” perintah Abraham.
Asyila mengangguk kecil dan segera membukanya.
“Masya Allah, terima kasih Mas!” Asyila terlihat sangat senang ketika tahu bahwa suaminya telah membelikannya pembalut.
“Iya, sama-sama. Mas ingat kalau Asyila sedang datang bulan dan kebetulan ketika perjalanan pulang, Mas melihat ada warung yang sudah buka,” terang Abraham, “Sekarang beri Mas pelukan hangat!” pinta Abraham sembari merentangkan kedua tangannya.
Asyila tersenyum sumringah dan memberikan pelukan hangat untuk pria yang sangat pengertian terhadap dirinya.
“Ayah! Bunda!” Ashraf tiba-tiba datang dan masuk ke dalam kamar hotel orang tuanya.
Putra kecil Abraham dan Asyila menangis bahagia mengetahui bahwa orang tuanya ada dihadapannya.
“Huwaaa.... Ayah, Bunda!” Ashraf memeluk keduanya dan terus menangis.
“Sayang, kok malah menangis?” tanya Asyila penasaran.
“Kangen Ayah sama Bunda,” jawab Ashraf dengan sangat polosnya.
“Iya sayang, Ayah dan Bunda juga kangen Ashraf dan Kakak Arsyad,” sahut Asyila dengan belaian lembut.
Arsyad pun datang menyusul dan ikut memeluk kedua orangtuanya.
“Bunda, nanti temani Arsyad jalan-jalan ya!” pinta Arsyad.
Asyila menoleh ke arah suaminya dan Abraham langsung memberikan anggukan kepala kepada Asyila.
“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila dan meminta kedua putra kecilnya untuk segera mandi di kamar sebelah.
Dilain sisi, Dyah terkejut ketika baru saja keluar dari kamar mandi dan tak menemukan kedua adiknya itu.
“Arsyad! Ashraf!” Dyah mencoba memanggil mereka. Akan tetapi, keduanya tak menjawab panggilan darinya.
Dyah cepat-cepat mengenakan hijabnya dan keluar dari kamar hotel dengan sangat panik.
“Ya Allah, mereka pergi kemana?” tanya Dyah yang sangat panik dan lupa bahwa Paman serta Aunty-nya ada di kamar hotel sebelah.
Deg! Deg! Dyah sangat takut jika sesuatu terjadi kepada Arsyad dan Ashraf. Sudah pasti dia yang disalahkan karena kecerobohannya yang tak mengunci pintu kamar.
Ketika Dyah ingin berlari menuju lift, Asyila memanggilnya dan Dyah pun menoleh ke arah wanita yang memanggil.
“Ya Allah!” Dyah terduduk lemas karena baru ingat bahwa Aunty-nya juga tidur di hotel.
Asyila berlari kecil mendekati Dyah yang terduduk dilantai. Untungnya saja, sekitar tempat mereka sepi sehingga Dyah ataupun Asyila tidak menjadi pusat perhatian.
“Kamu kenapa duduk di lantai?” tanya Asyila mencoba membangunkan Dyah.
__ADS_1
“Arsyad dan Ashraf pasti ke kamar Aunty ya?” tanya Dyah balik.
“Iya, mereka ada di dalam kamar bersama Ayahnya. Ashraf pasti datang karena Arsyad yang memberitahunya,” jawab Asyila.
“Huh!” Dyah menghela napasnya.
Abraham keluar dari kamar dengan menggandeng kedua putra kecilnya.
“Dyah, tolong bantu Paman untuk memandikan mereka. Jam 8 nanti kita akan makan diluar!”
Mendengar kata makan membuat perut Dyah bergoyang, ia sangat senang jika membahas makanan.
“Pesan yang banyak boleh ya Paman!”
“Jangan banyak-banyak, Allah tidak suka orang yang makan berlebihan,” jawab Abraham.
Dyah langsung kalah telak dan tak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Pamannya. Ia menurut dengan anggukan kecil.
“Ayo adik-adik!” ajak Dyah dan membawa keduanya masuk ke dalam kamar hotel yang sudah beberapa hari ia tempati bersama kedua adiknya.
Abraham merangkul pinggang Asyila dan membawanya masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Asyila bergegas membersihkan diri agar bisa segera menemani kedua putra kecilnya.
Beberapa saat kemudian.
Dyah berlari kecil menuju lantai dasar, ia sedikit terlambat karena perutnya terasa sakit dan harus buang air besar.
“Kak Dyah lama,” celetuk Ashraf.
“Iya maaf, Kak Dyah tiba-tiba sakit perut,” jawab Dyah dengan suara melembut.
“Sudah-sudah jangan ribut, ayo masuk ke mobil!” perintah Abraham karena Pak Udin sudah menunggu mereka.
Merekapun masuk dan bergegas mencari restoran atau rumah makan terdekat agar bisa segera menikmati sarapan.
“Bunda, nanti malam tidur sama Arsyad ya!” pinta Arsyad membujuk Sang Bunda.
Asyila terdiam sejenak dan menoleh ke arah suaminya.
“Horeeeee!” seru Arsyad.
“Horeeeeee!” seru Ashraf yang juga tak kalah semangat dari Sang kakak, Arsyad.
Arsyad dan Ashraf begitu senang karena Sang Bunda memiliki waktu untuk tidur bersama mereka.
“Uhuk... uhuk..” Dyah terbatuk-batuk dan segera mengeluarkan sapu tangan pemberian dari pria tanpa nama.
“Sapu tangan milik siapa itu Dyah?” tanya Asyila penasaran karena yang Asyila tahu, Dyah tidak pernah memiliki sapu tangan apalagi berniat membelinya.
“Oh, ini... Dyah juga tidak tahu, Aunty. Waktu itu ada seorang pria yang memberikan Dyah sapu tangan ini,” jawab Dyah apa adanya.
“Apakah pria itu masih muda?” tanya Asyila penasaran dan semakin penasaran.
Dyah terdiam sejenak sambil membayangkan wajah pria yang memberikannya sapu tangan.
“Mungkin,” jawab Dyah singkat.
“Kamu tahu namanya siapa?” tanya Asyila lagi.
Abraham yang duduk di kursi depan ikut penasaran dengan apa yang akan dijawab oleh keponakannya. Meskipun Abraham terlihat cuek, tetap saja ia juga harus mengetahui pria mana saja yang mendekati keponakannya, termasuk pria pemilik Sapu tangan tersebut.
“Tidak, hanya saja ada ini!” Dyah melebarkan sapu tangan tersebut dan terlihat jelas bordiran nama “Kikan”
“Kikan? Siapa Kikan?” tanya Asyila.
Dyah mengangkat kedua bahunya tanda bahwa ia juga tak tahu siapa orang yang bernama Kikan itu.
“Mungkin kekasih atau istrinya,” jawab Dyah dengan santai dan memasukkan sapu tangan tersebut ke dalam tas selempang kulit miliknya.
“Aunty mu ini jadi penasaran dengan pemilik Sapu tangan itu, siapa tahu dia suami masa depanmu,” ucap Asyila asal bicara.
__ADS_1
“Aunty ini bicara apa? Bagaimana jika dia sudah memiliki istri?” Ekspresi malu-malu dan rasa kesal di wajah Dyah terlihat jelas. Ada kemungkinan, jika Dyah menyukai pria tersebut. Akan tetapi, Dyah tidak berharap banyak karena takut jika pria itu sudah memiliki istri yang bernama Kikan.
“Sudah jangan bicara lagi!” perintah Abraham.
Keduanya pun mengangguk dan memfokuskan perhatian mereka ke arah jalan raya.
“Dyah, kapan kamu akan kembali ke Bandung?” tanya Abraham tanpa menoleh ke arah Dyah.
“Untuk beberapa hari ke depan Dyah masih ingin disini, Paman,” jawab Dyah.
“Lalu, pekerjaanmu?”
“Kebetulan Dyah bekerja dengan sistem online, Paman,” jawab Dyah jujur.
“Baiklah,” balas Abraham singkat dan padat.
Pak Udin memarkirkan mobil di depan sebuah restoran yang cukup besar. Meskipun masih pagi, restoran itu sudah ramai dikunjungi.
“Ayo sayang kita turun!” ajak Asyila kepada dua putra kecilnya.
Arsyad dan Ashraf segera turun dari mobil. Mereka kompak menggandeng tangan kedua orangtuanya yang sudah beberapa hari terakhir tidak bisa mereka temui.
“Syila mau makan apa?” tanya Abraham dengan tatapan penuh cinta, tatapan yang sedikitpun tak pernah berkurang dan justru tatapan cinta Abraham semakin hari semakin besar untuk Asyila.
“Asyila ikut Mas saja,” jawab Asyila.
Mereka masuk ke dalam dan memilih tempat duduk tak terkecuali Pak Udin.
“Pak Udin silakan pesan makanan apa saja, yabg terpenting jangan sampai berlebihan,” ucap Abraham.
“Terima kasih, Tuan muda,” balas Pak Udin dan mulai memesan makanan.
Arsyad membuka menu makanan dengan semangat, ia tertarik dengan salah satu menu olahan seafood atau makanan laut.
“Bunda, mau yang ini!” Arsyad menunjuk ke sebuah gambar udang goreng krispi.
“Iya sayang,” balas Asyila menuruti keinginan putra pertamanya.
Akhirnya semua telah selesai memesan dan tinggal menunggu pesanan mereka datang.
Dyah tidak sengaja menoleh ke arah luar restoran, terkejut melihat pria yang beberapa waktu lalu memberikannya sapu tangan.
Tanpa pikir panjang, Dyah berlari begitu saja agar bisa segera menghampiri pria tersebut.
Abraham, Asyila dan lainnya menoleh ke arah Dyah yang berlarian.
“Mas, Asyila permisi sebentar,” ucap Asyila dan bergegas menyusul Dyah yang entah akan pergi kemana.
Dyah berlari mengejar dan hasilnya nihil, pria itu tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.
“Kemana dia?” Dyah bertanya-tanya dimanakah pria tersebut dan bagaimana bisa menghilang begitu saja.
“Dyah! Kamu mau kemana?” Asyila datang sambil memegangi tangan keponakan dari suaminya.
“Anu... Anu...”
“Anu-anu apa?” tanya Asyila terheran-heran.
“Tidak ada apa-apa, Aunty. Dyah mungkin salah lihat orang,” jawab Dyah dan berbalik menggandeng tangan Aunty-nya. Kemudian, mengajak Asyila masuk ke dalam restoran.
“Lain kali jangan berlarian seperti tadi, bagaimana jika kamu terjatuh?” tanya Asyila mengkhawatirkan Dyah.
Dyah tersentuh dengan perkataan Asyila dan memeluk sekilas istri dari Pamannya.
“Terima kasih, Aunty. Aunty baik banget,” ucap Dyah dengan senyum manisnya.
“Sipit,” celetuk Asyila karena jika tersenyum atau tertawa, mata Dyah akan menyipit layaknya orang China.
Abraham 💖 Asyila
__ADS_1
Mohon tinggalkan like 💖 komen 👇🙏