
Waktu liburan Dyah di Jakarta akhirnya berakhir, dengan sangat terpaksa ia harus kembali ke Bandung. Ia pulang ke Bandung tentu saja tidak sendirian, ada Fahmi yang ikut bersama dengannya.
“Cie.. Yang mau pulang bareng calon suami,” goda Asyila kepada Dyah yang tengah duduk di kursi teras rumah sembari terus menoleh ke arah gerbang rumah.
“Yang nungguin calon suami memangnya siapa? Dyah disini hanya duduk-duduk saja,” balas Dyah sambil menahan tawanya.
“Kamu tidak perlu bohong begitu, Aunty mu ini dulu juga pernah seperti itu,” terang Asyila.
“Iya deh, apa yang Aunty katakan memanglah benar. Dyah disini sedang menunggu Mas Fahmi,” terang Dyah yang akhirnya jujur.
Asyila mengangkat kedua alisnya ketika melihat Fahmi datang berjalan kaki memasuki halaman rumah.
“Lihat itu, calon suamimu sudah hampir tiba,” goda Asyila lagi dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah agar kedua tak canggung.
Fahmi datang dengan tersenyum canggung, entah kenapa ia merasa gugup dipandangi oleh calon istrinya itu.
“Assalamu'alaikum,” ucap Fahmi yang tengah menggendong tas ransel miliknya.
“Wa'alaikumsalam, Mas Fahmi sudah sarapan belum?” tanya Dyah.
“Alhamdulillah, sudah. Dyah sudah sarapan belum?” tanya Fahmi balik.
“Mas Fahmi sarapan dirumah atau beli diluar?” tanya Dyah penasaran.
“Tadi beli makanan diluar, beli nasi uduk,” balas Fahmi sambil tertawa kecil.
“Kenapa tidak makan disini saja? Nenek Arumi membuat sarapan cukup banyak, atau begini saja, bagaimana kalau Mas Fahmi sarapan lagi?” tanya Dyah menawarkan Fahmi untuk kembali makan.
Fahmi tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
“Kalau Mas makan lagi, nasinya mau taruh dimana? Dyah ini ada-ada saja,” ucap Fahmi.
Arsyad dan Ashraf datang menghampiri mereka untuk mengajak mereka berdua masuk ke dalam terlebih dahulu sebelum berangkat ke Bandung.
“Kak Fahmi, gendong!” pinta Ashraf yang sangat senang jika digendong oleh Fahmi.
Fahmi mengiyakan dan mulai menggendong tubuh Ashraf.
“Nak Fahmi sudah sarapan?” tanya Arumi.
“Alhamdulillah, sudah Nek,” jawab Fahmi sambil mengangguk kecil.
“Kalian duduklah dulu, Aunty ke kamar sebentar,” ucap Asyila dan melenggang pergi menuju kamar.
Asyila masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian suaminya, wanita muda itu sangat telaten dalam merawat sang suami tercinta yang tengah sakit.
“Mas, di depan ada Fahmi. Apa Mas ingin menemuinya atau Fahmi yang kemari?” tanya Asyila sambil mengenakan pakaian suaminya dengan hati-hati.
“Mas ingin menemuinya, bisakah Asyila membantu Mas?” tanya Abraham.
Dengan senang hati Asyila mengangguk setuju, ia pun membantu suaminya untuk beranjak dari tempat tidur menuju kursi roda.
Napas Asyila sedikit terengah-engah ketika membantu suaminya, akan tetapi usaha tidak mengkhianati hasil. Asyila pun berhasil membantu suaminya duduk di kursi roda dan tanpa pikir panjang, Asyila mendorong kursi roda tersebut keluar kamar menuju ruang tamu.
__ADS_1
“Paman!” Dyah dan Fahmi kompak terkesiap ketika melihat Abraham baru saja tiba dengan menggunakan kursi roda.
“Kenapa Paman malah keluar kamar?” tanya Fahmi mendekati Abraham.
“Tidak perlu sungkan, sudah sepatutnya kami menemui tamu spesial,” balas Abraham sambil melirik ke arah Dyah.
“Paman kenapa melirik ke arah Dyah?” tanya Dyah sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Spesial tidak?” tanya Abraham menggoda keponakannya.
“Paman apaan sih?” tanya Dyah sambil menggaruk dahinya sendiri.
Tin! Tin! Tin!
Suara klakson mobil berbunyi, yang artinya Eko telah tiba dan bersiap mengantarkan Dyah serta Fahmi untuk kembali ke Bandung.
“Assalamu'alaikum,” ucap Eko.
“Wa'alaikumsalam!” seru mereka.
Abraham mempersilakan Eko untuk masuk dan dengan cepat Eko masuk sambil menyerahkan paper bag pesanan Abraham.
“Ini untuk Nona Asyila,” ucap Eko dan memberikannya kepada Asyila.
Asyila menerimanya sambil melirik ke arah suaminya.
“Semalam bukannya Syila menginginkan risoles?” tanya Abraham.
Asyila menepuk dahinya dan mengucapkan terima kasih kepada Abraham.
Dyah memanyunkan bibirnya karena Paman hanya membelikan risoles untuk Aunty-nya.
“Sudah jangan kecut seperti itu, risoles yang lainnya ada di dalam mobil. Benar 'kan Eko?” tanya Abraham.
“Benar sekali,” jawab Eko.
“Paman memang yang terbaik,” puji Dyah.
“Kalau ada maunya sok manis begini, dasar keponakan banyak maunya,” celetuk Abraham yang tentunya itu hanya untuk menggoda keponakannya.
Dyah hanya membalas celetuk Pamannya dengan bibir manyun. Dyah tidak sadar kalau sedari tadi Fahmi terus memperhatikan ekspresi wajahnya yang menurut Fahmi sangat menggemaskan serta lucu.
Dyah melirik sekilas ke arah calon suaminya dan ia pun malu karena Fahmi ternyata terus saja memperhatikan dirinya.
Ya ampun, Mas Fahmi dari tadi pasti melihat kearah ku. Haduh, jadi malu aku.
Dyah cepat-cepat pamit dan tak lupa mencium punggung tangan mereka satu-persatu.
“Kami pulang semuanya, Assalamu'alaikum,” ucap Dyah yang telah berada di dalam mobil bersama dengan Eko dan Fahmi.
“Eko, berkendaralah yang baik dan jaga Dyah serta Fahmi!” perintah Abraham.
“Siap, Tuan Muda!” seru Eko dan perlahan meninggalkan halaman kediaman Tuan mudanya.
__ADS_1
Arsyad dan Ashraf terus saja melambaikan tangan mereka, keduanya terlihat sedih karena Dyah dan Fahmi pergi.
“Sudah jangan sedih, kapan-kapan Kak Dyah dan Kak Fahmi akan datang kemari,” ucap Asyila.
Ketika mereka semua ingin masuk ke dalam rumah, sebuah mobil tiba-tiba datang dan Abraham sangat mengenali kendaraan roda empat tersebut.
“Assalamu'alaikum,” ucap Dayat dan Edi ketika baru saja keluar dari mobil.
Keduanya kompak mengangkat sebelah tangan mereka ke arah Abraham.
“Wa'alaikumsalam!” seru Abraham dan yang lainnya.
“Kalian datang kemari kenapa tidak beri kabar?” tanya Abraham.
“Maaf, kami datang kesini hanya ingin pamit untuk kembali ke Bandung. Masih banyak tugas yang harus kami selesaikan dalam beberapa hari ke depan,” terang Dayat.
“Maaf karena Aku belum bisa membantu kali,” ucap Abraham.
“Tuan Abraham tidak perlu sungkan ataupun merasa tidak enakan. Kami yang justru mengatakan maaf karena selama ini telah merepotkan Tuan Abraham serta keluarga Tuan,” balas Edi.
“Kalian berdua sudah seperti keluarga untukku,” tutur Abraham.
Dayat dan Edi pun pamit, mereka datang menemui Abraham hanya untuk pamit.
Setelah keduanya pergi, Abraham dan yang lainnya bergegas masuk ke dalam rumah.
“Bunda, nanti siang beli es krim ya!” pinta Ashraf.
“Iya sayang,” jawab Asyila.
Arumi dan Herwan memilih untuk duduk di ruang tamu, sementara Abraham dan Asyila memilih nonton TV di ruang keluarga.
Arsyad dan Ashraf sibuk dengan mainan mereka, keduanya terlihat sangat bahagia dengan mainan mereka.
Disaat yang bersamaan, Dyah dan Fahmi tak banyak berbicara di dalam mobil. Justru mereka sibuk memperhatikan ke arah luar dan membuat Eko terheran-heran dengan keduanya.
“Ehemm.. Lagi marahan ya?” tanya Eko.
“Tidak,” sahut Dyah dan Fahmi kompak.
Eko terkekeh kecil dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan.
“Mas Fahmi!” Dyah tersenyum tipis dan memberikan risoles kepada Fahmi.
Fahmi mengangguk dan mengambil risoles tersebut.
“Terima kasih,” ucap Fahmi.
Dyah mengiyakan dengan malu-malu. Ia sebenarnya ingin menanyakan kapan pernikahan mereka berlangsung, akan tetapi ia segera mengurungkan niatnya untuk bertanya karena masih ada telinga lainnya yang akan mendengar obrolan privasi mereka berdua.
Eko melirik sekilas ke arah belakang dengan menggunakan kaca mobil. Dalam benak Eko, Eko yakin bahwa keduanya akan menjadi sepasang suami istri yang begitu bahagia.
“Bagaimana? Apakah enak?” tanya Dyah penasaran.
__ADS_1
“Tentu saja enak,” jawab Fahmi dan kembali mengambil risoles tersebut.
Dyah tertawa kecil dan ikut menikmati risoles yang dibeli oleh Eko.