
Beberapa saat kemudian.
Asyila terlihat sangat lemas, sementara Sang suami terus saja memandangi wajah Asyila dengan tatapan sayu.
Ingin rasanya Asyila bertanya mengenai keadaan suami serta yang lainnya. Akan tetapi, mulutnya tak bisa digerakkan.
“Sssuutt, jangan berbicara dulu,” tutur Abraham ketika melihat bibir istri kecilnya terus saja bergerak. Namun, tak mengeluarkan sepatah katapun.
Dyah berdiri di samping kanan Asyila, gadis itu hanya memandangi Asyila dengan tatapan kosong. Meskipun belum menikah dan mengandung, setidaknya Dyah bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan.
Suasana ruangan tersebut sangatlah sunyi, tak ada dari mereka yang berbicara. Sampai akhirnya, ponsel Dyah berbunyi dan membuat Dyah cepat-cepat keluar.
“Hallo, assalamu'alaikum,” ucap Dyah pada Papanya.
“Wa'alaikumsalam, bagaimana keadaan Aunty mu sekarang? Bukankah kamu bilang kalau istri Pamanmu sudah bangun dari komanya?” tanya Temmy.
“Pa, sebenarnya ada yang ingin Dyah sampaikan kepada Papa dan juga Mama,” tutur Dyah dan kembali menangis.
“Kamu kenapa, Nak? Kenapa malah menangis? Bukankah seharusnya kamu senang karena istri Pamanmu sudah siuman.”
“Hiks... hiks...” Dyah tidak sanggup untuk mengatakannya, perasaannya begitu sedih. Sebelumnya, ia sudah sangat gembira mengetahui bahwa dirinya akan memiliki seorang adik yang menggemaskan. Akan tetapi, mimpinya itu seketika sirna setelah Allah mengambil calon adiknya.
“Sayang, kamu kenapa malah menangis? Ada apa? Apa terjadi sesuatu hal yang buruk pada aunty mu?” tanya Yeni yang terdengar sangat panik ketika putri tunggalnya menangis.
“Aunty, Ma...”
“Iya, ada apa dengan Aunty mu sayang? Bukankah Aunty Asyila sudah siuman? Insya Allah besok malam kami sudah tiba di Jakarta,” terang Yeni.
“Aunty Asyila mengalami keguguran, Ma.. Hiks .. hiks...”
“Innalilahi wa innailaihi ra'jiun.” Temmy dan Yeni sangat terkejut mendengar bahwa calon keponakan mereka telah pergi di dalam rahim Asyila.
“Aunty, sangat kasihan Ma. Untuk saat ini, Aunty belum tahu kalau calon bayinya telah tiada, meskipun begitu tak lama lagi Aunty pasti akan tahu tenang kebenaran itu, Ma. Bagaimana ini Ma?” tanya Dyah yang sangat panik.
Dyah tidak ingin melihat Aunty-nya bertambah sedih, jika ditanya siapa orang yang paling menderita, sudah pasti jawabannya adalah Asyila.
Banyak hal yang sudah Asyila korbankan, untuk keluarga dan juga untuk dirinya sendiri.
Gadis bermata sipit itu, sangat berharap bahwa Aunty bisa menerima kenyataan yang ada dan berharap setelah kejadian itu semuanya membaik. Dyah ingin, secepatnya Allah menitipkan kembali janin di perut Aunty-nya.
Temmy dan Yeni bingung harus berkata apa, mereka pun ikut sedih dan memutuskan untuk pergi ke Jakarta saat itu juga.
Dyah mematikan sambungan teleponnya dan kembali masuk ke dalam ruangan Asyila.
__ADS_1
“Mas...” tutur Asyila lirih.
“Iya, istriku. Suamimu disini,” balas Abraham dan menciumi punggung tangan Asyila berulang kali.
Asyila berusaha keras untuk mengeluarkan suara, ia ingin menanyakan keadaan kedua buah hatinya.
“Mas... Arsyad dan Ashraf dimana?” tanya Asyila lirih dan hampir tidak bisa di dengar oleh Abraham.
“Mereka berdua baik-baik saja, di rumah. Untuk sekarang Syila jangan terlalu banyak berpikir, Mas akan menemani Asyila disini,” jawab Abraham.
“A-ayah dan Ibu ba-bagaimana, Mas?”
“Ayah dan Ibu juga baik-baik saja, mereka berdua di rumah menjadi anak-anak kita,” jawab Abraham dan dengan sekuat hati ia menampilkan senyum terbaiknya agar Sang istri tidak kepikiran.
Asyila perlahan menggerakkan tangannya dan meletakkan tangan tepat di atas perutnya.
“Mas, apakah calon buah hati kita baik-baik saja?” tanya Asyila yang juga mengkhawatirkan kondisinya yang tengah berbadan dua.
Deg!!!
Abraham dan Dyah kebingungan mendapatkan pertanyaan dari Asyila. Mereka pun memilih untuk tetap diam dan membuat Asyila penasaran dengan bungkamnya suami serta keponakan dari suaminya itu.
Saat Asyila ingin kembali bertanya, seorang dokter wanita tiba-tiba datang untuk memeriksa kembali kondisi Asyila. Kali ini, Abraham maupun Dyah diperbolehkan untuk tetap berada di samping pasien.
Perkataan dokter wanita itu, membuat Asyila bertanya-tanya dalam hati.
Seakan-akan, ia terlihat menyedihkan dimata sang dokter yang baru saja pergi meninggalkan ruangan yang saat itu tengah ditempati olehnya.
“Mas, ada apa ini? Apakah mereka bertiga berhasil lolos lagi?” tanya Asyila.
Abraham tidak bisa membohongi istri kecilnya, ingin rasanya ia memberitahu kenyataan pahit kepada Sang istri. Akan tetapi, kondisi istri kecilnya itu belum stabil karena baru sadar dari koma.
“Mas, apa ada sesuatu yang sedang Mas sembunyikan?” tanya Asyila dan tersadar ketika melihat kantung mata serta kelopak mata suaminya yang sembab.
Ternyata, tidak hanya Abraham saja, Dyah pun juga terlihat habis menangis sampai-sampai bola matanya tak terlihat jelas.
“Ka-kalian pa-pasti menyembunyikan sesuatu, apapun itu to-tolong beritahukan Asyila, Mas. Asyila akan menerimanya dengan lapang dada,” ucap Asyila yang malah terdengar sangat lemah.
Ketika Abraham ingin membuka mulutnya, disaat yang bersamaan Asyila kembali tak sadarkan diri.
Abraham pun panik dan dengan cepat Dyah berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter atau perawat agar segera memeriksa keadaan Aunty-nya.
Tak butuh waktu lama, seorang dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Asyila. Ternyata, Asyila mengalami syok berat dan harus banyak-banyak istirahat.
__ADS_1
“Dok, tadi istri saya baik-baik saja. Kenapa bisa pingsan?” tanya Abraham.
“Sepertinya karena pikiran yang terlalu banyak, sehingga istri Tuan tak sadarkan diri. Untuk beberapa hari ini, jangan biarkan istri Tuan banyak berpikir. Karena bisa memengaruhi proses kesembuhan,” terang Sang dokter.
Abraham pun bingung, entah ia harus berterus-terang atau diam untuk waktu yang belum ditentukan.
Malam hari.
Asyila sudah mulai membaik, ia sudah bisa makan dan ada hal yang membuatnya merasakan hal aneh di bagian perutnya. Kemudian, saat Asyila menyentuh celana bagian belakang, ia merasa ada sesuatu hal yang berada di dalam ****** ********.
Deg!
Asyila langsung tahu bahwa ia sedang mengenakan pembalut, tanpa pikir panjang Asyila pun bertanya mengenai pembalut yang tengah ia gunakan.
“Mas, Asyila sekarang sedang mengandung. Kenapa harus pakai pembalut seperti orang yang tengah menstruasi?” tanya Asyila.
Deg!!
“Mas, jangan bilang kalau....”
“Tidak!” teriak Asyila dan seketika itu seperti orang yang tengah kerasukan.
Abraham mencoba menenangkan istri kecilnya dibantu oleh keponakannya. Akan tetapi, tenaga Asyila cukup kuat sehingga jarum yang berada ditangannya bergeser dan seketika itu darah mengucur deras di bagian punggung tangan Asyila. Ternyata, tidak hanya di bagian punggung tangan Asyila, bahkan di bagian perut Asyila ikut mengeluarkan darah. Rupanya, luka Asyila kembali robek karena gerakan Asyila yang sangat kuat.
“Syila, berhenti!” teriak Abraham agar istri kecilnya segera berhenti.
Dyah sangat panik, Aunty-nya sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Sementara Pamannya, mulai terbawa suasana.
“Mas, apakah Asyila keguguran? Tidak, Asyila tidak mungkin keguguran. Calon bayi kita adalah anak yang kuat,” tegas Asyila.
“Syila, tolong jangan seperti ini!” pinta Abraham yang sangat memohon agar istri kecilnya tidak melakukan hal diluar batas.
Dyah berteriak meminta pertolongan dan beberapa perawat pun memasuki ruangan tersebut. Ada 4 perawat yang mencoba menenangkan Asyila, akan tetapi Asyila terus memberontak dan akhirnya salah satu perawat terpaksa menyuntikkan obat bius.
Perlahan tapi pasti, Asyila mulai tenang dan kembali tak sadarkan diri. Untuk beberapa jam, Abraham bisa sedikit bernapas lega karena istri kecilnya sedang dalam pengaruh obat bius. Akan tetapi, untuk selanjutnya Abraham bingung melakukan apa. Ia sangat paham betul, bagaimana kehilangan calon buah hati.
“Paman, apakah Aunty Asyila akan melakukan hal seperti tadi lagi?” tanya Dyah ketakutan.
Abraham memilih untuk diam, pikirannya sangat keruh dan berharap bahwa ketika Asyila bangun, Asyila bisa menerima kenyataan yang ada.
Dokter wanita yang menangani Asyila kembali datang, Sang dokter kemudian meminta Abraham, Dyah dan dua perawat lainnya untuk keluar dari ruangan tersebut. Menyisakan Sang dokter dan dua perawat lainnya.
“Sepertinya Nona Asyila terlalu banyak bergerak, kalau terus begini luka di bagian perut ini akan membusuk,” ucap Sang dokter ketika memeriksa bagian luka diperut Asyila yang telah robek karena gerakkan Asyila yang begitu tak karuan.
__ADS_1
Diluar, Abraham terlihat sangat kebingungan. Matanya penuh dengan kepedihan sekaligus kesedihan, ia juga merenungi keadaan yang tengah lumpuh. Entah sampai kapan, ia harus berdiam di kursi roda itu. Abraham ingin cepat-cepat sembuh agar bisa menghibur hati istri kecilnya yang tengah sedih karena kehilangan buah hati ke-tiga mereka.