
Malam hari.
Kondisi Asyila sudah mulai membaik, wajah Asyila pun tak pucat seperti sebelumnya. Ia bahkan, sudah bisa membantu Ema beres-beres setelah acara tahlilan yasinan selesai.
“Asyila, sudah biar aku saja. Kamu saat ini perbanyaklah istirahat, aku malah senang kalau kamu istirahat di rumah dan tidak datang kemari,” ucap Ema yang begitu menyayangi Asyila seperti saudari kandung.
“Astaghfirullahaladzim, Ema. Bagaimana mungkin aku diam di rumah, sementara sahabatku saja sibuk disini. Kamu tidak perlu mencemaskan aku, yang boleh mencemaskan aku hanyalah Mas Abraham,” ungkap Asyila pada sahabatnya sembari tersenyum manis.
Ema tertawa geli mendengar apa yang dikatakan oleh Asyila padanya.
“Kamu ini, lama-lama semakin menggemaskan saja, seperti badut,” ujar Ema dan terkekeh geli melihat wajah menggemaskan Asyila.
“Nak Asyila, ini ada brownies panggang. Bawa pulang ya, untuk Akbar,” tutur Icha memberikan Asyila brownies panggang.
“Terima kasih, Ibu Icha,” balas Asyila sembari menerima brownies panggang pemberian dari Icha, Mami dari Ema.
“Iya, sama-sama Nak Asyila,” sahut Icha yang menatap wajah Asyila dengan penuh kekaguman.
“Asyila, sudah waktunya kamu pulang. Pasti sekarang ini, Akbar sedang menunggu Bundanya di rumah,” ujar Ema yang tidak ingin Asyila pulang sampai larut malam, mengingat kondisi Asyila yang sepenuhnya belum sehat.
Asyila mengucapkan terima kasih atas brownies panggang tersebut, kemudian ia pamit untuk segera pulang.
Saat Asyila baru saja melewati pagar rumah sahabatnya, rupanya Sang suami telah menunggu dirinya di depan pagar keluarga kecil Ema.
“Mas Abraham!” Senyum Asyila mengembang sempurna ketika melihat suaminya sudah berada tepat di hadapannya.
Abraham pun tersenyum dan mengecup sekilas kening Istri kecilnya itu.
“Ayo pulang, dari tadi suamimu ini mengkhawatirkan Asyila,” terang Abraham pada istri kecilnya.
Asyila memeluk lengan suaminya dan mereka berdua berjalan dengan sangat mesra menuju rumah cinta mereka berdua.
“Mas, Asyila tadi sudah menghubungi Mbak Rahma dan ternyata, Mbak Rahma sudah menikah siri dengan orang Arab sana. Apa Asyila harus memberitahukan hal ini kepada Kevin?” tanya Asyila pada Sang suami untuk mendengar pendapat dari suaminya mengenai hubungan Rahma dan juga Kevin.
“Kalau Rahma disana sudah menikah dan bahagia, kita hanya bisa mendo'akan nya saja. Dan untuk urusan Kevin, mungkin saat ini dia butuh berdamai dengan waktu,” terang Abraham.
Mereka berdua akhirnya sampai di rumah dan tak lupa mengucapkan salam sebelum masuk.
Arumi dan Herwan sudah tidur, karena malam itu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
“Syila mau kemana?” tanya Abraham ketika istri kecilnya malah berjalan ke arah lain dan bukan berjalan ke arah kamar.
“Asyila ingin menaruh brownies panggang ini di meja makan, Mas Abraham. Mau mau ikut juga?” tanya Asyila sembari mengangkat kedua alisnya. kemudian, mengedipkan sebelah matanya ke arah Abraham.
Abraham mengangguk dengan tersenyum lebar dan berlari seperti anak kecil yang tengah mengejar induknya.
Usai meletakkan brownies panggang ke meja makan, ke-duanya kembali melangkah menuju kamar untuk segera beristirahat.
Saat Asyila tengah berjalan, ia tak sengaja tersandung oleh kakinya sendiri dan untungnya Abraham dengan sigap menahan tubuh Asyila yang hampir saja jatuh ke lantai.
“Syila, ya ampun. Syila membuat Asyila hampir saja jantungan,” ujar Abraham yang nampak sangat panik.
“Asyila sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Mas,” balas Asyila yang hampir saja jatuh kalau tidak di tahan oleh suaminya tercinta.
“Iya, Mas tahu. Ayo pegang yang erat tangan Mas!” pinta Abraham yang tak ingin kejadian seperti tadi terulang kembali.
Asyila tersenyum manis dan memeluk lengan suaminya dengan erat.
“Mas mencintai Asyila selamanya,” tutur Abraham dengan tatapan penuh cinta.
“Asyila pun mencintai Mas selamanya,” sahut Asyila dengan wajah memerah bak udang rebus.
Keesokan paginya.
Asyila tengah berada di dalam kamar seorang diri sembari melipat pakaian miliknya, suami dan buah hatinya, Akbar.
“Ya ampun, ternyata celana Akbar robek. Sebaiknya, aku langsung menjahit celana ini,” tutur Asyila bermonolog dan beranjak dari duduknya menuju gerai tokonya untuk menjahit celana kesukaan Akbar.
Disaat yang bersamaan, Abraham masuk ke dalam kamar untuk menemui istri kecilnya. Akan tetapi, Sang istri tidak berada di dalam kamar.
“Kemana Asyila? Bukankah tadi Syila ada di kamar?” tanya Abraham terheran-heran.
Melihat pakaian yang belum dilipat, seketika itu juga Abraham memutuskan untuk melipat pakaian tersebut, sekaligus membantu istri kecilnya.
“Nona Asyila, biar saya saja yang menjahit,” ucap salah satu karyawati Asyila.
__ADS_1
“Tidak usah, biar saya saja,” jawab Asyila dan mulai menjahit celana Akbar menggunakan mesin jahit.
Setelah itu, Asyila bergegas kembali ke kamarnya untuk melanjutkan aktivitasnya yang belum selesai.
“Mas Abraham!” Asyila terkejut melihat pakaian yang sudah dilipat oleh suaminya. “Kenapa Mas yang melipatnya?” tanya Asyila dengan ekspresi sedih.
“Ekspresi Syila jangan sedih begitu dong. Mas melakukannya karena ingin, sini duduk di dekat Mas!” panggil Abraham sembari menggerakkan tangannya agar Asyila segera duduk disampingnya.
“Ya seharusnya, biar Asyila saja Mas. Soalnya, Asyila bingung kalau hanya bersantai-santai saja tanpa bergerak melakukan aktivitas,” terang Asyila sembari mendaratkan bokongnya di sofa.
Saat Abraham ingin mencium pipi istri kecilnya, tiba-tiba ponsel berbunyi dan membuat keduanya terkejut.
“Siapa, Mas yang menelepon sepagi ini?” tanya Asyila penasaran.
Abraham mengangkat kedua bahunya dan buru-buru mengambil ponselnya untuk melihat siapa orang yang sedang mencoba menghubungi dirinya.
Abraham mendelik tajam dan cepat-cepat menerima sambungan telepon dari sahabatnya, Edi.
“Hallo, Assalamu'alaikum,” ujar Abraham.
Abraham mengernyitkan keningnya dan terkejut mendengar penjelasan dari Edi. Setelah itu, Abraham mengiyakan dan akan segera menyusul menemui tim yang lain.
“Mas, ada apa? Kenapa wajah Mas berubah menjadi panik seperti ini?” tanya Asyila mendekat ke arah suaminya.
“Salah satu tim, meninggal dunia karena keracunan makanan dan beberapa yang lain sedang di rawat di rumah sakit. Sepertinya, ada yang sengaja ingin mencelakakan para polisi,” ungkap Abraham sembari melepaskan pakaiannya untuk segera mengganti pakaiannya yang lain.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun, ya Allah. Kalau seperti itu, tidak menutup kemungkinan akan ada banyak korban Mas. Sekarang Mas pergilah,” ujar Asyila pada suaminya.
“Selama Mas tidak berada di rumah, Asyila harus jaga kesehatan dan jangan lupa makan tepat waktu,” tegas Abraham.
“Mas tidak usah pikirkan Asyila, Asyila akan menjaga kesehatan Asyila,” jawab Asyila sembari membantu suaminya mengenakan dasi.
Asyila memeluk suaminya dengan erat dan berharap suaminya kembali dengan keadaan baik-baik saja.
Abraham membalas pelukan istri kecilnya dan saat itu juga, Abraham berjalan keluar untuk segera pergi.
“Ayah!” Akbar berlari menghampiri Ayahnya yang jelas sekali bahwa Ayahnya itu ingin pergi. “Ayah mau kemana?” tanya Akbar.
Abraham berjongkok dan mencium pipi putra kecilnya, Akbar.
“Baik, Ayah!” seru Akbar dengan patuh.
Arumi dan Herwan pun datang menghampiri Abraham.
“Nak Abraham mau kemana sepagi ini?” tanya Arumi penasaran, karena tidak biasanya menantunya itu berangkat sebelum jam 7 pagi.
“Ayah, Ibu. Abraham ada urusan penting di kantor, tolong jangan Asyila dan juga Akbar,” ucap Abraham yang berkata bohong karena tak ingin, bila mertuanya khawatir terhadap dirinya.
Abraham akhirnya pamit dan melenggang pergi untuk segera masuk ke dalam mobil.
“Eko, cepat jalan!” perintah Abraham.
Eko tahu bahwa Tuannya saat itu tengah terburu-buru, ia dengan cepat tancap gas meninggalkan Perumahan Absyil.
“Kita kemana, Tuan Abraham?” tanya Eko pada Tuannya.
“Basecamp!” perintah Abraham.
Mendengar kata basecamp, Eko sudah paham dan bergegas menuju ke lokasi tersebut.
Entah kenapa, Abraham merasa bahwa para penjahat kali ini terlalu berani dan terang-terangan. Membuat Abraham khawatir, dengan keselamatan keluarganya yang ada di rumah.
Asyila menggigit bibirnya dan terlihat bahwa wanita itu terlihat begitu tak tenang.
“Aneh sekali, kenapa bisa mereka keracunan dan sampai memakan korban jiwa? Apa aku juga harus turun tangan? Lagipula, punggungku sudah tidak sakit semakin yang kemarin. Akan tetapi, bagaimana jika aku sampai ketahuan oleh Mas Abraham?” tanya Asyila bermonolog.
Asyila berjalan wara-wiri di dalam kamarnya, ia tidak tenang sampai pelaku yang menaruh racun ke dalam makanan tersebut berhasil di tangkap dan diberikan hukuman seberat-beratnya karena telah sengaja menghilangkan nyawa manusia.
“Bunda kenapa? Bunda sakit perut ya?” tanya Akbar mengiranya bahwa Bundanya tengah sakit perut.
“Oh, tidak Akbar sayang.
Bunda hanya sedang bergerak-gerak saja. Akbar mau ngapain masuk ke dalam kamar?” tanya Asyila pada putra kecilnya, Akbar Mahesa.
“Tidak mau ngapa-ngapain, Bunda. Bunda, Akbar mau salad buah yang dulu pernah Bunda buatkan!” pinta Akbar yang sangat ingin menikmati salad buah yang dulu sering dibuat oleh Sang Bunda tercinta.
__ADS_1
“Akbar mau makan salad buah? Ya sudah, ayo kita ke dapur. Kita buat salad buah bersama-sama!” ajak Asyila sembari menggandeng tangan Akbar.
Asyila dan Akbar telah sampai di dapur, Asyila kemudian meminta Akbar untuk mengambil buah-buahan di dalam kulkas.
Akbar dengan semangat berjalan menuju kulkas dan membukanya.
“Bunda, ini semuanya dikeluarkan?” tanya Akbar.
Melihat buah-buahan yang begitu banyak dan tidak mungkin diangkat sekaligus oleh tangan kecil Akbar, Asyila pun berjalan mendekat.
“Biar Bunda saja, Akbar duduk saja di kursi, mengerti!” pinta Asyila.
“Baik, Bunda,” jawab Akbar yang sangat penurut dengan apa yang dikatakan oleh Bundanya itu.
Asyila mengeluarkan satu-persatu buah-buahan tersebut, kemudian ia mencucinya sampai bersih sebelum dipotong-potong.
“Bunda, Kak Bela kapan kesini?” tanya Akbar penasaran sembari memakan buah kelengkeng yang rasanya tentu sangat manis.
“Kalau itu, Bunda juga tidak tahu. Mungkin beberapa hari lagi, Kak Bela kesini,” jawab Asyila yang tengah memotong buah mangga.
Disaat yang bersamaan, Abraham masih dalam perjalanan dan beberapa menit yang lalu, dirinya menerima telepon dari Edi dan Edi memberitahukan bahwa sudah bertambah satu anggota polisi yang meninggal dunia karena keracunan.
Akbar benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa mereka kecolongan seperti itu. Apalagi, ini menyangkut makanan.
Ya Allah, semoga tidak ada lagi yang kehilangan nyawanya karena makanan yang telah diracuni itu.
Eko yang sedang mengemudikan mobil, nampak ikut panik mendengar bahwa telah ada yang meninggal karena keracunan makanan. Eko sendiri, tahu bahwa Tuannya itu seringkali menghadapi masalah yang tidak sepele dan bahkan, salah sedikit saja nyawa taruhannya.
Kembali lagi dengan Asyila dan Akbar yang masih sibuk membuat salad buah.
“Bunda, mau buah kiwi!” pinta Akbar menunjuk ke arah buah kiwi yang masih utuh dengan kulitnya.
“Akbar mau? Sebentar, Bunda belah terlebih dahulu,” tutur Asyila dan memotong buah tersebut menjadi dua, kemudian memberikan Akbar sendok untuk menikmati buah kiwi tersebut.
“Terima kasih, Bunda,” ucap Akbar dan perlahan menikmati buah kiwi yang sangat bocah kecil itu inginkan.
Arumi datang ketika samar-samar ia mendengar perbincangan antara putri kesayangannya dan juga cucu kesayangannya.
“Asyila sayang, mau bikin apa?” tanya Arumi dan mencium pipi Akbar yang saat itu tengah fokus menikmati buah kiwi.
“Ini, Ibu! Asyila sedang membuat salad buah, kebetulan Akbar ingin menikmati salad buah yang Bundanya buat,” terang Asyila pada Ibunya.
“Wah, salad buah? Kalau begitu, Ibu juga mau,” sahut Arumi yang juga ingin menikmati salad buah buatan putri tunggal kesayangannya.
Asyila terkekeh kecil mendengar Ibunya yang juga ingin menikmati salad buah buatannya.
“Ibu tenang saja, Asyila membuat salad buah dengan porsi besar. Bahkan, kalaupun Dyah kemari dengan Fahmi dan juga Asyila, tentu saja salad buah ini akan sisa banyak,” jelas Asyila dengan senyum manisnya.
“Syukurlah, Ibu ke depan dulu ya mencari angin di teras depan,” tutur Arumi.
“Iya, Ibu. Kalau salad buahnya sudah jadi, Asyila akan memberitahu Ibu dan juga Ayah!”
Arumi mengangguk kecil dan perlahan berjalan menuju teras depan.
Asyila menatap punggung Ibunya dengan cukup lama, Asyila menyadari bahwa Ibunya sudah semakin tua. Bahkan, untuk berjalan saja sudah tidak bisa secepat dulu.
“Bunda, Akbar ke ruang keluarga ya,” ujar Akbar yang tiba-tiba mengantuk dan ingin sekali tidur di sofa ruang keluarga.
Asyila tak bertanya dan dengan senyum manisnya, ia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Akbar.
Kini, Asyila berada di dapur seorang diri. Tiba-tiba ia menitikkan air matanya dan berharap agar suaminya bisa segera kembali.
“Kalau dalam dua hari, Mas Abraham tidak pulang, maka Asyila akan pergi menyusul Mas Abraham. Asyila sendiri yang akan memberikan mereka pelajaran,” tutur Asyila bermonolog dan cepat-cepat menyeka air matanya.
Arumi sedang duduk bersantai di teras depan rumah sembari ditemani oleh suaminya, Herwan.
“Mas, akhir-akhir ini Nak Abraham sangat sibuk di kantornya,” tutur Arumi pada suaminya.
“Ya namanya juga bos, pemimpin perusahaan. Lagipula, perusahaan itu juga milik menantu kita,” balas Herwan dengan sangat santai sembari memperhatikan burung yang hinggap di pohon mangga tepat dihadapannya.
“Ya meskipun begitu, ini terlalu sering. Kasihan juga Asyila dan Akbar yang sering ditinggal kerja,” tutur Arumi dan menghela napasnya secara perlahan.
“Kalau pekerjaan Nak Abraham sudah selesai, pasti Nak Abraham tidak sesibuk ini,” sahut Herwan.
“Iya juga ya Mas, kenapa tidak kepikiran,” balas Arumi dan ikut memperhatikan burung yang sedang hinggap di pohon mangga tersebut.
__ADS_1