Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Karena Ingin Balas Dendam


__ADS_3

Suara gerbang rumah terdengar itu artinya Arumi dan lainnya telah sampai. Malam itu, Herwan belum bisa pulang dan akan boleh pulang setelah 3 hari kemudian dengan kondisi yang tentu saja membaik.


“Assalamu’alaikum!” ucap Arumi dan yang lainnya.


“Wa’alaikumsalam!” seru Abraham dan Asyila.


Asyila langsung membawa tas yang berada di tangan Ibunya, sedikit rasa sedih karena Sang Ayah belum boleh pulang dan harus istirahat beberapa hari lagi di rumah sakit.


Khusus malam itu, semuanya pulang termasuk Arumi dan membiarkan Herwan di rumah sakit seorang diri.


Tentu saja di rumah sakit ada yang mengawasi kesehatan Herwan yaitu para perawat dan juga dokter yang akan mengontrol kesehatan Herwan setiap saat.


“Hhmmm... Harum sekali masakan Bunda,” ucap Arsyad sambil mengendus-endus mencium aroma masakan dari Asyila.


“Kesayangan Bunda lapar ya?” tanya Asyila sambil mencolek hidung kecil Arsyad.


“Ashraf juga lapar Bunda,” sahut Ashraf yang juga ingin diperhatikan oleh Asyila.


Asyila tertawa kecil begitupun dengan Abraham yang gemas dengan kecemburuan Ashraf.


“Ibu, Asyila sudah masak makanan kesukaan Ibu. Selain kesukaan Ibu, Asyila juga memasak kesukaan anak-anak, Mas Abraham dan juga Dyah,” jelas Asyila.


Sebelumnya ketersediaan makanan di dalam kulkas hanya sedikit. Akan tetapi, Abraham menawarkan diri pergi ke market untuk membeli bahan makanan.


Abraham selalu ingin membahagiakan istri kecilnya dan membuat Sang istri bangga mendapatkan dirinya.


“Aunty serius memasak makanan kesukaan Dyah?” tanya Dyah yang begitu bersemangat.


“Tentu saja, ayo kita makan malam bersama!” ajak Asyila.


“Horeeee!” Arsyad dan Ashraf berlari menuju ruang makan dengan penuh semangat.


Pagi hari.


Asyila sedang menatap dirinya di cermin. Beberapa kali ia harus mengatur napasnya yang setengah memburu.


“Sudah siap, Istriku?” tanya Abraham dan memeluk tubuh Asyila dari belakang. Abraham tersenyum sambil menatap wajah cantik Sang istri dari cermin.


“Insya Allah,” jawab Asyila dan membalas senyuman Abraham.


Abraham melepaskan pelukannya dan menuntun Asyila keluar kamar. Pria tampan itu terlihat tak sabaran karena ingin segera menemui si pelaku teror yang menyebabkan Ayah mertuanya terluka dan masih berada di rumah sakit.


“Kalian ingin berangkat sekarang?” tanya Arumi ketika melihat Abraham dan Asyila baru keluar dari kamar.


“Iya, Ibu. Kami ingin berangkat sekarang,” jawab Abraham.


“Hati-hati ya Nak Abraham, Ibu merasa tidak tenang memikirkan kalian bertemu dengan si pelaku,” tutur Arumi yang terlihat tak tenang.


Asyila segera menyentuh kedua tangan Arumi dengan senyum manisnya.


“Ibu tenang saja, disana banyak polisi yang berjaga. Kalau mereka macam-macam, Pak polisi pasti langsung menembak mereka,” ucap Asyila.


Arumi bergidik ngeri ketika membayangkan si pelaku di tembak oleh Polisi.


“Serem,” celetuk Arumi sambil setengah menggoyangkan tubuhnya.


“Ibu!" Asyila geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ibunya dan tiba-tiba teringat dengan sosok wanita tua yang selalu membuat suasana rumah menjadi ramai.


Asyila meneteskan air matanya begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Abraham dan Arumi terheran-heran dengan Asyila yang tiba-tiba menangis.


“Ibu salah bicara ya sayang?” tanya Arumi kebingungan sekaligus keheranan.


Asyila menggelengkan kepalanya dan menangis di dada suaminya.


“Syila kenapa tiba-tiba menangis? Coba cerita sama Mas!”


“Asyila tiba-tiba rindu dengan Nenek,” jawab Asyila.


Abraham dan Arumi saling memandang ketika mendengar jawaban dari Asyila yang ternyata merindukan sosok hangat dan usil Almarhumah Nenek Erna.


“Sebelum ke kantor polisi, Ayo kita berkunjung ke pemakaman Nenek!”


Asyila mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya dan perlahan ia tersenyum.


“Terima kasih, Mas.”


Keduanya pun kembali melanjutkan langkah mereka menuju teras depan dan ternyata sudah ada Eko yang siap untuk mengantarkan Tuan muda dan Nona nya pergi kemanapun mereka mau.


“Apa kabar Pak Eko!” sapa Asyila karena sudah cukup lama tidak bertemu.


“Alhamdulillah saya baik, Nona Asyila apa kabar?” tanya Eko.

__ADS_1


“Alhamdulillah saya juga baik, Pak,” jawab Asyila.


Abraham menatap tajam ke arah sopir pribadinya itu.


Mendapat tatapan tajam dari Tuan mudanya, Eko langsung menciut dan segera membuka pintu mobil untuk Asyila.


“Ayah sama Bunda mau kemana?” tanya Arsyad dengan napas terengah-engah karena ingin segera menemui kedua orangtuanya yang ingin pergi.


“Ayah dan Bunda ingin pergi ke kantor pulang, Nak. Arsyad dan Ashraf di rumah saja ya!” Abraham mencoba membujuk Arsyad agar tak ikut pergi ke kantor polisi.


“Iya Ayah,” balas Arsyad dan mencium punggung tangan orang tuanya secara bergantian.


“Ashraf mana, nak?” tanya Abraham lagi yang tak melihat putra kecilnya yang lain.


“Lagi main sama Kak Dyah di belakang rumah,” jawab Arsyad.


Asyila tersenyum dengan penuh keibuan dan membelai lembut rambut putra pertamanya.


“Jangan nakal ya sayang selama Ayah dan Bunda tidak di rumah!” pinta Asyila.


“Baik Bunda!” seru Arsyad.


Abraham dan Asyila pun masuk ke dalam mobil untuk segera pergi.


Melihat kedua orangtuanya sudah masuk mobil dan bersiap-siap pergi, Arsyad pun melambaikan tangan ke arah kedua orangtuanya.


Kemudian, bergegas kembali bermain dengan Dyah dan juga adiknya.


Jarak menuju tempat pemakaman umum tidak jauh, hanya 2 menit saja menggunakan mobil mereka sudah sampai.


Asyila terlihat tak sabaran ingin segera sampai di peristirahatan terakhir Sang Nenek.


“Assalamu’alaikum, Nenek apa kabar disana?”


Pertama-tama Asyila mencium papan nama nisan Sang nenek, tak butuh waktu lama Asyila kembali menangis ketika mengingat kenangan-kenangan indah dan kenangan-kenangan penuh usil Sang Nenek.


“Lihatlah, nek! Syila sangat cengeng, bukan?”


Asyila memanyunkan bibirnya dan mencubit sekilas lengan suaminya itu.


“Biarin,” celetuk Asyila.


Abraham tertawa melihat ekspresi lucu di wajah cantik Sang istri.


Abraham dan Asyila sama-sama berdo'a untuk Sang Nenek yang telah berada disisi Allah Subhanahu wa ta'ala.


Usai berdo'a, keduanya bergegas melanjutkan perjalanan mereka menuju kantor polisi.


****


Kantor Polisi.


Pria dengan nama dada Hedy Baskoro menyambut kedatangan Abraham dan Asyila. Pria itu salah satu polisi yang datang untuk membawa para penjahat.


“Apakah Nona wanita yang kemarin?” tanya Hedy karena sebelumnya wanita yang menangkap dua pelaku teror mengenakan cadar.


“Iya, saya yang kemarin,” jawab Asyila.


Hedy langsung menoleh ke arah belakang Asyila yang ternyata adalah Abraham, pria yang dikenalinya.


“Tuan Abraham, bukan?” tanya Hedy memastikan.


“Iya benar, saya sendiri,” jawab Abraham.


Hedy tersenyum lebar dan berjabat tangan dengan Abraham.


“Saya banyak mendengar tentang Tuan Abraham dari Dayat dan Edi,” jelas Hedy.


Seorang pria berseragam mendekati Abraham dan langsung memeluknya.


“Apa kabar Tuan Abraham?” tanya Dicky yang sudah cukup lama mengenal Abraham.


“Alhamdulillah aku baik, bagaimana denganmu?” tanya Abraham.


“Alhamdulillah saya baik,” jawab Dicky.


“Berbicaralah yang santai denganku, jangan seperti Dayat dan Edi yang terlalu formal,” tutur Abraham.


“Saya lebih suka berbicara seperti ini, mari masuk!” ajak Dicky mempersilakan Abraham dan Asyila masuk ke ruangan.


Dicky meminta Hedy untuk membawa dua orang peneror kehadapan Abraham dan Asyila untuk diinterogasi.


Disaat yang bersamaan, Asyila benar-benar gugup dan sangat khawatir jika keahliannya dalam ilmu beladiri terbongkar dihadapan Sang suami tercinta.

__ADS_1


Tentu saja, jika Abraham sampai mengetahui. Abraham pasti akan memarahi ataupun melarang Asyila untuk tidak melakukan hal berbahaya.


“Jadi kalian yang telah membuat keluargaku ketakutan,” ucap Abraham yang terlihat sangat marah. Namun, Abraham berusaha untuk tidak main tangan.


“Kalau bukan karena wanita itu, sudah pasti kalian mati,” ucap salah satu pelaku teror.


Salah satu dari pelaku teror mengenali Asyila yang tidak mengenakkan cadar. Pria itu pun berdiri dan mengarahkan tangannya ke pipi Asyila. Akan tetapi, belum sampai menampar Asyila, Abraham sudah menangkisnya dan mendorong kuat pria itu.


“Jangan pernah menyentuh istriku!” tegas Abraham dengan tatapan penuh amarah.


Asyila bisa merasakan bahwa suaminya itu benar-benar marah dengan apa yang ingin dilakukan oleh si pria peneror itu kepada dirinya.


“Syila, tolong tunggu Mas diluar. Mas tidak akan lama disini!” perintah Abraham pada Sang istri.


Abraham tidak ingin jika Sang istri melihatnya memukul mereka. Dan juga Abraham tidak ingin sesuatu hal terjadi kepada Sang istri mengingat pelaku dihadapannya mencoba untuk melukai Istrinya itu.


“Baik, Mas Abraham,” balas Asyila dan mengikuti perintah suaminya untuk menunggu diluar.


Setelah Asyila keluar dari ruangan, Abraham langsung menarik kerah baju pria yang ingin menampar Sang istri.


“Cepat katakan yang sebenarnya sekarang juga! Sebenarnya apa motif kalian?” tanya Abraham sambil terus menarik kerah baju si pelaku teror.


Dicky dan Hedy berdiri tepat di samping kedua pelaku teror. Mereka pun penasaran dengan motif di pelaku teror yang sebenarnya.


Sebelumnya, mereka sudah mencoba mengintrogasi mereka berdua. Akan tetapi, si pelaku teror memutuskan untuk bungkam.


“Hahaha... hahaha!” Pria yang ditarik kerah bajunya oleh Abraham tertawa mengejek. Seakan tak takut dengan seorang Abraham Mahesa yang terkenal dengan keberaniannya.


Berbeda dengan pelaku yang satunya, pria itu terlihat menciut seperti sudah mengenali Abraham sebelumnya. Atau mungkin, memang Abraham sudah mengetahui siapa orang tersebut.


“Tunggu sebentar, sepertinya aku ingat siapa dirimu,” ucap Abraham dan fokus kepada si pelaku lainnya, “Bukankah si pria pengedar narkoba di daerah Banten?”


Pria itu terkejut dan mundur selangkah ketika Abraham mengungkap identitas.


“Ternyata benar, itu adalah kamu. Apakah kurungan penjara masih tidak membuatmu kapok?” tanya Abraham.


Dicky dan Hedy ikut terkejut karena Abraham bisa mengingat hal-hal yang terjadi dalam waktu yang cukup lama.


Sungguh, ingatan Abraham benar-benar bagus.


“Ya. Kami memiliki dendam yang sangat mendalam terutama dengan kamu!” teriak si pelaku yang dari tadi terlihat sangat berani kepada Abraham, “Seharusnya hari itu kami meletakkan 100 ekor ular kobra agar kalian semuanya mati,” imbuhnya.


Dicky dan Hedy yang sudah sangat geram dengan pria itu langsung memukulinya.


“Berhenti!” pinta Abraham agar Dicky dan Hedy tak memukul si pelaku teror.


Dicky dan Hedy seketika itu berhenti memukul.


“Seperti yang kalian dengar, pria ini telah menjelaskan kalau dia memiliki dendam kepadaku. Tolong urus mereka dan aku permisi, Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumsalam,” balas Dicky dan Hedy.


Ketika Abraham ingin melewati pintu, Abraham berbalik dan melayangkan tinju di wajah mereka secara bergantian.


“Aku harap kalian tidak pernah muncul lagi di hadapanku! Bersenang-senanglah di dalam penjara untuk waktu yang sangat lama,” ucap Abraham dan melenggang pergi.


Asyila duduk sendirian di kursi sambil menatap ke arah taman.


Semoga Mas Abraham tidak marah terhadap ku setelah mengetahui keahlian ku.


“Syila.” Abraham datang dan langsung duduk di samping Asyila.


“Ba-bagaimana Mas?” tanya Asyila gugup.


“Bagaimana apanya?” tanya Abraham balik.


“Mereka berbicara apa saja Mas?”


“Sudah jangan dipikirkan mengenai dua orang itu. Tidak seharusnya mereka melakukan hal keji seperti itu kepada keluarga kita. Seharusnya dulu mereka bertobat dan bukan malah semakin menjadi seperti ini,” ucap Abraham.


“Maksudnya Mas?”


“Intinya mereka memiliki ingin balas dendam kepada Mas. Entah berapa banyak musuh-musuh suamimu ini,” tutur Abraham dan menggandeng tangan Asyila menuju mobil.


Asyila berjalan sambil terus memperhatikan wajah suaminya yang menatap lurus ke depan.


Keinginan Asyila untuk membantu suaminya semakin hari semakin besar. Dan Asyila sama sekali tidak takut dengan apa yang akan ia hadapi di kemudian hari.


Asyila pun akan berusaha menjaga keluarga kecil kita, Mas. 💖


Abraham 💖 Asyila


Terima kasih atas kunjungan Anda 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2