
Seminggu kemudian.
Asyila masih berada di rumah sakit dan pagi itu dirinya tengah merencanakan untuk membuat acara amal di rumah sakit.
Acara amal tersebut adalah acara yang di khususkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Contohnya saja, seperti Ibu melahirkan dan orang-orang yang kekurangan biaya rumah sakit.
Asyila berharap dengan acara amal seperti ini, suaminya bisa segera sadar dan bisa kembali berkumpul.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Asyila kepada Ema.
“Semuanya sudah siap, diluar sudah ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang akan membantu kita melaksanakan acara amal,” terang Ema.
“Mas, Asyila dan lainnya akan membuat acara amal. Do'akan kami ya Mas semoga acara amal kami berjalan dengan lancar,” ucap Asyila dan tak lupa mencium punggung tangan suaminya.
Asyila, Ema dan lainnya pun bergegas pergi meninggalkan rumah sakit. Sebelumnya, Asyila telah memberitahukan kepada Eko dan Pak Udin untuk mencari lokasi strategis.
“Untuk semuanya, terima kasih karena telah bergabung dengan acara amal ini. Semoga niat baik kita berjalan dengan lancar,” ucap Asyila.
“Aamin,” balas mereka semua.
Pak Udin datang dengan membawa mobil, Asyila dan yang lainnya masuk ke dalam mobil. Beberapa dari mereka menggunakan kendaraan pribadi sendiri menuju lokasi yang telah ditentukan.
“Pak Udin, bagaimana keadaan disana?” tanya Asyila menanyakan lokasi acara amal yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari rumah sakit.
“Alhamdulillah, disana sudah mulai ramai dan juga ada beberapa orang yang terketuk hatinya berinisiatif menyediakan makanan ringan.
“Alhamdulillah,” ucap Asyila.
Sesampainya di lokasi acara amal, Asyila terkejut melihat orang-orang yang cukup ramai sedang mengantri memberikan sumbangan seikhlasnya. Pekerjaan tersebut menjadi lebih mudah karena ada mahasiswa dan mahasiswi yang turun tangan menyapa orang-orang yang memberikan sumbangan seikhlasnya.
Orang-orang yang memberikan sumbangan tersebut, tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka pulang dengan membawa sebuah gantung kunci dan ucapan terima kasih karena kebaikan mereka peduli antar sesama manusia.
“Terima kasih,” ucap Asyila sambil terus memberikan senyum terbaiknya kepada orang-orang berhati malaikat.
Ternyata, tidak hanya uang saja yang mereka berikan. Mereka pun memberi aneka kebutuhan seperti susu formula, pakaian bayi, pakaian anak kecil, popok, alat mandi bayi dll.
“Dihari yang seperti ini, kenapa kamu malah menangis?” tanya Ema pada sahabatnya yang tiba-tiba menitikkan air mata.
“Aku menangis bukan karena sedih, Ema. Aku menangis karena terharu melihat banyaknya orang-orang yang peduli antar sesama,” jelas Asyila sambil menghapus air matanya.
“Sini peluk aku,” ucap Ema dan memeluk sekilas tubuh sahabatnya.
Tanpa diketahui oleh Asyila, sebenarnya para mahasiswa terkagum-kagum dengan sosok Asyila dan tak sedikit dari mereka yang menaruh hati kepada wanita muda bernama Asyila.
Akan tetapi, perasaan mereka langsung mereka kubur dalam-dalam karena Asyila telah bersuami.
“Ema, aku tiba-tiba lapar dan ingin makan pecel,” ucap Asyila sambil menyentuh perutnya.
“Pecel? Sekarang juga?” tanya Ema memastikan.
“Tentu saja,” jawab Asyila.
Ema berpikir sejenak sambil mengingat-ingat lokasi tempat penjual pecel dan ternyata jaraknya cukup jauh dari tempat acara amal.
“Kamu mau kemana?” tanya Asyila pada sahabatnya.
“Mau pergi membeli pecel untukmu,” balas Ema.
__ADS_1
“Sendirian? Aku tidak boleh ikut?” tanya Asyila sambil memasang wajah sedih.
Ema melihat ke arah sekitar dan ia pun mengangguk setuju.
“Ayo kalau begitu!” ajak Ema dan menggandeng tangan sahabatnya.
Awalnya Ema ingin memakai jasa mobil online. Akan tetapi, Asyila segera menolaknya dan meminta tolong kepada Eko untuk mengantarkan mereka pergi mencari warung atau rumah makan yang menjual pecel keinginan Asyila.
Eko mengiyakan dan ia pun mengantarkan istri kecil Tuan mudanya ke tempat penjual pecel.
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Asyila pada sahabatnya yang terus tersenyum sembari menoleh ke arahnya.
“Aku senang karena akhirnya kamu mau makan, meskipun kamu maunya pecel dan bukan nasi,” jawab Ema.
Asyila menunduk sedih karena tiba-tiba teringat dengan suaminya yang masih belum sadarkan diri.
“Perkataan aku salah ya Asyila?” tanya Ema.
“Tidak, kamu memang salah apa? Aku tiba-tiba merindukan Mas Abraham, sudah seminggu aku di rumah sakit. Akan tetapi, Mas Abraham belum juga sadar dan itu membuatku sangat sedih,” terang Asyila.
Eko dan Ema seketika itu juga ikut sedih ketika mendengar keterangan dari Asyila.
“Ema, Pak Eko! Minta do'anya buat kesembuhan Mas Abraham!” pinta Asyila sambil menahan air matanya.
“Nona Asyila tidak perlu memintanya, karena saya pasti akan terus mendo'akan kesembuhan Tuan Abraham,” ucap Eko.
“Iya, Asyila. Kita semua selalu berdo'a untuk kesembuhan Pak Abraham, pokoknya kamu harus yakin bahwa Pak Abraham akan segera sadar dan kamu akan kembali tersenyum lepas,” sahut Ema.
Ya Allah, tolong kabulkan lah do'a-do'a kami ini. Aamiin Allahumma Aamiin.
****
Asyila dan Ema pun turun untuk segera masuk ke dalam warung tersebut.
“Pak Eko!” panggil Asyila sambil menggerakkan tangannya bermaksud agar sopir pribadinya suaminya segera turun dari mobil dan ikut menikmati pecel.
Eko tersenyum lebar dan turun dari mobil.
“Pak Eko kenapa tadi di dalam? Ayo masuk!” ajak Asyila dengan sangat ramah.
Merekapun masuk dan wanita muda yang cukup cantik mendatangi mereka bertiga.
“Mau pesan apa Neng geulis dan akang kasep?” tanya wanita muda tersebut.
“Teteh, saya pesan pecel lontong satu,” ucap Asyila.
“Saya juga,” ucap Ema.
“Sama, saya juga,” tutur Eko.
“Minumnya?” tanya si pemilik warung.
Ketiganya dengan kompak memesan teh hangat dan si pemilik warung tersebut bergegas membuatkan pecel lontong pesanan mereka bertiga.
Beberapa saat kemudian.
Asyila dan lainnya langsung kembali ke tempat acara amal setelah mengisi perut, tak lupa Asyila mengucapkan terima kasih atas pecel lontong yang menurut Asyila sangat enak.
__ADS_1
“Kita mau kemana lagi, Nona Asyila?” tanya Eko.
“Langsung ke tempat acara amal, Pak Eko,” jawab Asyila.
Sepanjang perjalanan, Asyila terus saja menoleh ke arah luar jendela mobil dengan maksud mengingat kembali waktu dimana ia dan Sang suami melewati jalan tersebut.
“Apa ada yang sedang kamu pikirkan Asyila?” tanya Ema penasaran.
“Separuh hidupku adalah milik Mas Abraham, entah kenapa melewati jalan ini aku teringat dimana aku dan Mas Abraham bersama,” jawab Asyila dan tersenyum tipis, “Aku rindu semuanya yang berurusan dengan suamiku,” imbuh Asyila.
Ema menyentuh tangan sahabatnya dan memberikan semangat untuk sahabatnya itu.
“Kita harus yakin, Pak Abraham segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya,” ucap Ema dan bersorak semangat.
Asyila tertawa kecil dan tak terasa merasa sudah berhenti tepat di area parkir tempat acara amal.
“Sepertinya sudah mulai sepi,” ucap Ema karena para mahasiswa dan mahasiswi sudah duduk santai.
“Ayo kesana!” ajak Asyila dan kedua pun berjalan ke arah para mahasiswa serta mahasiswi yang telah membantu berlangsungnya acara amal tersebut.
Semuanya tersenyum ramah kepada Asyila dan juga Ema yang datang menghampiri mereka.
“Assalamu'alaikum, selamat pagi menjelang siang,” ucap Asyila menyapa mereka.
“Wa'alaikumsalam, selamat pagi menjelang siang juga!” seru mereka.
“Alhamdulillah, berkat kalian acara amal kita berjalan dengan lancar. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih dan saya ada tanda terima kasih untuk kalian, semoga kalian suka,” ucap Asyila dan memberi isyarat kepada Pak Udin agar membawa tanda terima kasih yang dimaksud oleh Asyila.
Dari kejauhan, Pak Udin mengangguk dan bergegas mengambil sebuah kardus yang berisi baju kaos dengan bertuliskan “Kami Peduli Antar Sesama”
Tentu saja, baju kaos tersebut Asyila pesan dengan sangat mendadak dan untungnya kaos tersebut jadi tepat waktu.
“Didalamnya ada baju kaos dan itu untuk kalian,” ucap Asyila.
Mereka mengucapkan terima kasih karena kebaikan Asyila membuat mereka mengerti apa artinya dari peduli antar sesama.
Karena cuaca sudah mulai panas, Asyila dan lainnya berpisah.
Disaat yang bersamaan, seorang Dokter sekaligus Direktur rumah sakit datang untuk bertemu langsung dengan Asyila serta yang lainnya.
“Assalamu'alaikum, apakah anda adalah istri dari Tuan Abraham Mahesa?” tanya dokter pria tersebut.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Asyila.
Asyila mengangguk kecil sambil mengernyitkan keningnya. Wajah pria dihadapannya terlihat tidak asing, akan tetapi Asyila lupa kapan dan dimana bertemu dengan pria tersebut.
“Perkenalkan saya adalah Dokter Bima sekaligus Direktur rumah sakit tempat dimana suami Nona Asyila di rawat,” terangnya sambil memberikan kartu nama.
Asyila dan yang lainnya terkejut sekaligus senang karena Direktur rumah sakit secara langsung mendatangi mereka.
Tak ingin membuang kesempatan yang ada, Asyila langsung meminta salah satu mahasiswi mengambil uang dan memberikannya kepada Dokter Bima.
Dokter Bima menerimanya dan mengucapkan terima kasih karena kepedulian Asyila serta yang lainnya terhadap sesama.
“Uang sudah berada ditangan saya, tolong dijelaskan uang ini akan diberikan kepada siapa!” pinta Dokter Bima.
Asyila menjelaskannya secara detail tentang masalah yang tersebut dan Dokter Bima pun mengangguk mengerti.
__ADS_1
“Masya Allah, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua,” ucap Dokter Bima.